Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.
Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.
Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.
Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.
Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.
Como Akhirnya Gaet Pemain Italia
Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.
Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.
Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.
Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.
Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.
Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.
Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.
Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.
Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.
Como Siap Meledak di Liga Champions
Berawal dari niat sederhana untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.
Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.
Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.
Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.
Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.
Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.
Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.
Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.
