Luciano Spalletti sudah lama meninggalkan Napoli. Walau begitu perpisahan tersebut masih meninggalkan luka bagi presiden klub, Aurelio De Laurentiis.
Luciano Spalletti melatih Napoli selama dua tahun. Pada 2023 ia sukses mempersembahkan scudetto pertama klub setelah tiga dekade. Itu sekaligus gelar Serie A pertama sang nakhoda selama berkarier.
Di tengah euforia dan suka cita, sang pelatih mengambil keputusan mengejutkan. Ia mundur dari kursi pelatih, lalu tak lama setelah itu menerima pinangan timnas Italia.
Situasi ini rupanya tidak bisa diterima. Aurelio De Laurentiis merasa dikhianati dan tak mau lagi membahas apa pun tentang pria yang kini menukangi Juventus.
“Jangan suruh saya bicara soal Spalletti,” De Laurentiis menegaskan seperti dikutip Ngalcio dari Football Italia.
“Pelatih harus paham bahwa mereka adalah kolaborator yang dipanggil untuk mengarahkan orkestra yang dibentuk pemain. Mereka hanya karyawan,” ia menambahkan.
“Terkadang mereka cenderung melupakan hal itu. Apakah sudah cukup jelas?,” sambung presiden Napoli dengan nada tinggi.
Presiden Napoli Klaim Sukses tanpa Curang
Bagaimana pun, sukses Napoli 10 tahun terakhir tak lepas dari andil Luciano Spalletti. Ia yang membawa pulang scudetto setelah terakhir kali dilakukan Diego Maradona.
Tidak ada yang membantah fakta itu. Bahkan tifosi I Partinopei masih menganggap Spalletti sebagai pahlawan klub.
Sementara itu, Aurelio De Laurentiis mengaku bangga dengan apa yang sudah dilakukan. Sebagai informasi, ia adalah sosok fundamental yang telah membangkitkan klub dari kebangkrutan.
“Saya terjun langsung ke sepak bola, memenangkan dua scudetto dan lima gelar lain dalam 22 tahun,” ia mengisahkan.
“Mengembalikan antusiasme masyarakat dan menjadi tim yang terus bermain di Eropa secara beruntun,” lanjutnya.
“Saya bahkan melewati Calciopoli dan meraih sukses tanpa pernah melakukan kecurangan, itu merupakan hal mendasar bagi saya,” tutup presiden Napoli.
Pemandangan menarik terjadi pada konferensi pers jelang pertandingan AC Milan vs Lecce. Ruben Amorim terlibat perdebatan sengit dengan jurnalis setempat.
Jalannya konferensi pers awalnya seperti biasa. Namun, tensi sedikit meninggi ketika salah satu jurnalis mempertanyakan pakem starting 11 AC Milan.
Sebagai informasi, Ruben Amorim selalu mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Meski formasinya cenderung sama, 3-4-2-1, selalu ada setidaknya dua pemain yang berganti peran tiap pekan.
Bagi salah satu wartawan, keputusan itu menjadi penyebab performa Milan menurun belakangan. Maka dari itu ia bertanya kepada sang pelatih siapa starting 11 terbaik.
Jawaban Amorim justru membuat sesi konferensi pers menjadi menarik dan sedikit meninggi. Alih-alih menjawab dengan gamblang atau sekadar normatif, ia bertanya balik ke awak media.
“Susunan pemain inti terbaik itu seperti apa? Bagaimana menurut Anda?,” tanya peramu taktik I Rossoneri kepada wartawan tersebut.
Bukannya ciut, sang wartawan benar-benar memberi jawaban dan pandangannya. Dari lini belakang sampai ujung tombak.
“Gila, De Winter atau Gabbia dan Pavlovic di belakang. Rabiot, Modric, Chukwueze dan Moreira di lini tengah. Pulisic, Cisse, dan Ramos di depan,” jawab wartawan itu.
Ruben Amorim Skakmat Wartawan
Adu pintar keduanya berlanjut. Pelatih asal Portugal mulai mengorek sejauh mana sang pewarta memahami strategi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.
“Bagaimana menurutmu di kiri?,” tanya Ruben Amorim. “Moreira,” jawab pewarta berita itu. Sang pelatih bertanya lagi “Jika Chukwueze bermain tiga pertandingan, jika dia mengalami masalah, siapa yang akan kami tempatkan di sana?,” jurnalis itu menjawab Saelemaekers.
Amorim meneruskan, “Lini tengah bagaimana,”. “Rabiot dan Modric,” jawab sang pewarta. Dari sini mantan penggawa timnas Portugal secara tidak langsung menjawab alasan dirinya kerap gonta-ganti komposisi pemain.
“Apa yang kalian katakan tentang Modric minggu lalu? Saya membela dia di sini. Kalian membicarakan kecepatannya. Kalian melihat bahwa setiap minggu kalian punya susunan pemain inti yang berbeda,” ia menjelaskan.
“Kemudian kalian harus mengatur tiga pertandingan perminggu. Dan pergantian pemain. Sekarang apa yang kalian lakukan?,” tegasnya.
“Saya tahu ini bukan tugas kalian. Tapi yang ingin saya jelaskan adalah pendapat kalian akan berubah karena Musah bermain sangat bagus. Kita bisa membahas ini sepanjang hari,” tutup Ruben Amorim.
AC Milan melakoni tiga pertandingan terakhir tanpa kemenangan. Bahkan di laga terakhir mereka menelan kekalahan 0-2 dari Benfica di Liga Europa.
Dinihari nanti melawan Lecce adalah kesempatan terbaik I Rossoneri kembali torehkan tiga angka. Mereka bertindak sebagai tuan rumah dan Lecce selalu kalah di markas lawan musim ini.
Laju kemenangan Inter Milan terhenti di ibu kota. Anak asuh Christian Chivu harus puas berbagi angka 2-2 dengan AS Roma, Sabtu (19/9).
Kendati gagal mempertahankan rekor 100 persen menang di Serie A, satu poin La Beneamata tetap patut disyukuri. Apalagi jika melihat performa pasukan Christian Chivu di babak pertama.
Sang pelatih mengaku anak asuhnya tampil lesu. Ia melihat para pemain terlalu gampang kehilangan bola dan membiarkan tuan rumah menikmati permainan.
Ini pula yang dibenahi di babak kedua. Meski belum sesuai ekspektasinya, namun apa yang dilakukan Yann Bisseck dkk sudah membuatnya senang.
“Sodara-sodaara Saya sudah sampaikan apa yang saya pikirkan pada pemain saat jeda. Tapi secara keseluruhan itu akan menjadi rahasia kami,” ucap Christian Chivu seperti dilansir dari Football Italia.
“Saya fokus pada babak kedua yang dalam hal sikap, ketangguhan, dan karakter sangat luar biasa. Karena di babak pertama kami sangat lambat,” ucapnya lagi.
“Kami harus membangun momentum dari itu. Saya ulangi, beberapa hal masih rahasia antara saya dan pemain. Tapi ini adalah satu poin yang bagus di tempat yang sulit,” ia menambahkan.
“Semua orang tahu apa yang tidak kami lakukan di babak pertama. Selalu ada dua fase, dengan dan tanpa bola dan kami harus bermain lebih baik tanpa bola,” lanjut eks pemain AS Roma.
Christian Chivu Tak Terkalahkan di Olimpico
Laga di Olimpico berjalan sulit untuk Inter Milan. AS Roma langsung mengambil inisiatif serangan. Hasil langsung terlihat saat laga baru berjalan enam menit.
Adalah Manu Kone yang membuat seisi stadion bergetar lewat tendangan kerasnya. Tak cukup satu gol, sang gelandang kembali mencatatkan nama di papan skor.
Kemelut di depan gawang Inter dimaksimalkan Kone untuk menggandakan keunggulan. Dua gol ini membuat namanya kini masuk buku sejarah klub.
Ia sejajar dengan Francesco Totti dan Abel Balbo yang mampu mencetak brace ke gawang Inter Milan.
Memasuki babak kedua situasi berubah. Tuan rumah memang tidak kehilangan kendali, tapi Inter Milan mulai menemukan cara terbaik.
Perubahan yang dilakukan Christian Chivu langsung membuahkan hasil. Crossing Marcus Thuram disempurnakan Lautaro Martinez menjadi gol.
Lautaro pula yang kemudian menghindari I Nerazzurri dari kekalahan lewat sontekannya 10 menit jelang laga usai. Imbang 2-2 sudah cukup untuk Christian Chivu mempertahankan rekor apik di Olimpico.
Ya, nakhoda Inter tak terkalahkan tiap tandang ke ibu kota. Baik ketika bersua AS Roma maupun Lazio, ia selalu membawa pulang poin. Dengan rincian dua kemenangan dan dua kali imbang.
Grande partita tersaji di pekan kelima Serie A. Ada AS Roma vs Inter Milan yang tersaji di stadion Olimpico, Sabtu (19/9).
Laga AS Roma vs Inter Milan akan sangat menarik. Keduanya menjadi tim yang masih sapu bersih kemenangan di empat laga awal Serie A musim ini.
Dengan kata lain, duel keduanya akan memastikan dua hal. Salah satu di antaranya akan menelan kekalahan perdana atau laju kemenangan keduanya terhenti.
Melihat laju kencang Roma dan Inter musim ini, tak pelak pertemuan mereka di Olimpico dianggap penentu awal perebutan gelar. Anggapan ini memang tidak dibantah Mile Svilar.
Kiper AS Roma menilai capaian kedua tim luar biasa. Terutama I Nerazzurri yang tampil dominan dan selalu menjadi penantang scudetto beberapa musim terakhir.
“Ini pertandingan hebat yang sangat kami nantikan untuk bersaing melawan tim terkuat di liga, tim yang telah berada di puncak dalam beberapa tahun terakhir,” kata Mile Svilar.
“Laga penentu scudetto? Itu membuat saya tersenyum. Kami harus seimbang dan stabil, tapi kami tahu dari mana kami berasal dan tahu ke mana kami ingin pergi,” ia menambahkan.
“Ini tidak seperti musim lalu ketika kami memulai liga dengan mengatakan ‘kami ingin finis ketiga’. Sekarang, di sini, kami akan mencari tahu apakah kami benar-benar berpeluang meraih scudetto,” sambungnya.
AS Roma vs Inter Milan: Menguji Dominasi I Nerazzurri
Sama-sama meraih poin sempurna 12, head to head AS Roma vs Inter Milan tetap menunjukkan dominasi I Nerazzurri. Bagaimana tidak, dari 10 pertemuan terakhir I Nerazzurri mencatatkan delapan kemenangan.
Termasuk lima kemenangan beruntun di Olimpico. Tak hanya itu, dengan jumlah pertandingan yang sama Inter juga catatkan empat cleansheet.
Sebaliknya, AS Roma sudah terlalu lama puasa kemenangan di kandang atas La Beneamata. Terakhir kali laga dimenangkan tuan rumah terjadi 10 tahun silam.
Situasi inilah yang ingin diubah Svilar. Menurutnya, dengan kondisi tim yang tengah menanjak, ini waktu yang tepat untuk Il Lupi membalikkan momentum.
“Di kota ini kami bermain dua atau tiga kali. Kami bermain dan merasa bersemangat,” tutup penjaga gawang terbaik Serie A musim lalu.
Setelah tak terkalahkan di Serie A, AC Milan harus merasakan hasil negatifnya di Europa League. Anak asuh Ruben Amorim dipermalukan Benfica 0-2 di San Siro.
Datang dengan lima kemenangan jadi bukti bahwa Benfica bukan lawan sepele. Ruben Amorim yang secara historis lebih mengenal mereka pun tak sanggup melawan determinasi klub asal Portugal tersebut.
Hasil tersebut memunculkan pertanyaan, apakah eks Sporting Lisbon tahu bagaimana harus memperlakukan Milan? Karena pada saat ini ia baru mendapatkan dua kemenangan dua imbang, dan satu kekalahan.
Bahkan dua hasil imbang itu terjadi pada laga besar. Walau kala melawan Juventus, upaya mengambil poin penuh harus sirna gara-gara gol injury time Federico Gatti.
Tidak lupa juga ketika kontra Lazio di Olimpico. Pada babak pertama AC Milan hanya bisa terdiam oleh dua gol dari Matteo Cancellieri dan Tijjani Noslin.
Meski pada akhirnya respon cepat ditunjukkan di babak kedua. Pergantian pemain jitu dilakukan, alhasil mereka menyamakan kedudukan melalui brace Diego Moreira.
Konsistensi serta kolektivitas ala Amorim mulai perlu dipertanyakan setelah tiga pertandingan terakhir. Apakah Milan asuhannya saat ini penantang serius di Serie A? Atau malah sekadar omon omon belaka?
Bukan tanpa sebab anggapan omon-omon muncul. Sang pelatih kerap membicarakan niatnya mengubah Milan menjadi tim yang lebih dominan terutama dalam fase menyerang. Yang mana itu bukan gaya yang biasa diterapkan oleh pelatih Italia kebanyakan.
Kinerja Ruben Amorim akan Dievaluasi
Bahkan menurut informasi yang diungkap oleh Jurnalis Italia, Nico Schira, bahwa hasil yang kurang memuaskan AC Milan berpotensi akan diadakannya pertemuan antara pelatih dan Gerry Cardinale sang pemilik klub.
“Diperkirakan akan ada panggilan telepon hari ini antara pemilik Gerry Cardinale dan pelatih Ruben Amorim untuk menganalisis dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah AC Milan serta mengatasi kesulitan-kesulitan yang terungkap dalam pertandingan-pertandingan terbaru”,” demikian laporan Nico Schira.
sumber foto: acmilan/Instagram
Kabar ini menjadi pertanyaan di lingkup Milanello. Karena Cardinale lah sosok paling dekat dan lantang akan mendukung penuh arah serta ide Milan kedepan di bawah arahan eks pelatih Manchester United tersebut.
Kebingungan saat ini kembali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Sergio Conceicao. Saat ditanya mengenai masa-masa ia menakhodai I Rossoneri serta tanggapan tentang Amorim.
“Saya berada di Milan selama enam bulan dan segalanya berjalan. Saya tidak akan mengatakan dengan baik, tetapi kami berhasil memenangkan Piala Super dan mencapai final Coppa Italia.” kenang Conceicao kepada DAZN beberapa waktu lalu.
“Amorim baru-baru ini menyebutkan bahwa Milan telah memenangkan dua gelar liga dalam 20 tahun dan itu benar. Salah satu dari dua trofi terbaru mereka adalah milik saya [merujuk pada Supercoppa Italiana].” ia menambahkan.
“Dan sudah dipastikan bahwa pelatih bukanlah masalahnya. Jelas, saya juga bertanggung jawab dan saya tidak ingin menghindar dari tanggung jawab saya, tetapi kita sekarang telah melihat Allegri dan seluruh tim manajemen jatuh.” tambahnya lagi.
Lalu dengan segelintir kritik dan tanda tanya di dalam klub, apakah Amorim masih bisa mengelola AC Milan sesuai dengan gaya dan kata-katanya? Atau hanya seperti kisah-kisah pelatih lama yang banyak bercerita ketimbang hasil nyata?
Serie A giornata keempat sudah tuntas terlaksana. Ada satu kesamaan yang terjadi dari pekan ini dengan sebelumnya, yaitu tidak ada laga yang berakhir 0-0.
Pekan keempat Serie A dibuka Venezia vs Fiorentina. Enam gol tercipta di Pier Luigi Penzo untuk kemenangan perdana La Viola 4-2.
Laga penutup pun berkesudahan dengan banjir gol. Sempat tertinggal 0-2 dari Udinese, Inter Milan berbalik menang 5-3 di Giuseppe Meazza.
Bukan hanya Venezia vs Fiorentina dan Inter Milan vs Udinese yang menghasilkan banyak gol. Laga lain seperti Lecce vs Monza (3-2), Lazio vs AC Milan (2-2), dan Sassuolo vs Juventus (3-2) juga demikian.
Jika ditotal, dari 10 pertandingan giornata keempat melahirkan 39 gol. Produktivitas merata dari setiap tim juga memunculkan satu fakta menarik.
Seperti yang disebut di atas, tidak ada satu pertandingan pun yang berakhir tanpa gol. Hebatnya lagi, ini berlangsung dari pekan pembuka sampai sekarang.
Fakta ini sekaligus menjadi sejarah. Untuk pertama kalinya empat giornata awal Serie A tidak ada pertandingan yang berkesudahan 0-0.
Baik Serie A dan Serie B Beda dengan Premier League dan LaLiga
Gol demi gol yang tercipta di Serie A menunjukkan beberapa hal. Salah satunya soal permainan terbuka nan menghibur yang mulai diperagakan. Juga anggapan Catenaccio yang mulai tidak relevan.
Apalagi bukan hanya kasta tertinggi yang selalu menghadirkan gol. Empat giornata Serie B yang sudah berjalan pun demikian.
Beberapa beranggapan bahwa fenomena ini muncul karena perubahan pendekatan yang dilakukan wasit. Seperti membiarkan permainan mengalir lebih cepat, tidak gampang meniup peluit yang menghambat jalannya laga, hingga minimnya penggunaan VAR.
Menurut catatan, tidak ada peninjauan ulang VAR dalam 31 pertandingan Serie A sejauh ini. Tak heran, perubahan ini membuat kasta tertinggi Italia sudah menghasilkan 121 gol sampai laga Inter Milan vs Udinese.
Yang terjadi di Italia berbeda jauh dengan Premier League maupun La Liga. Sama-sama sudah berjalan empat pekan, Liga Inggris sudah menghasilkan empat pertandingan 0-0, adapun Liga Spanyol tiga kali.
Juventus telan kekalahan pertama musim ini. Tandang ke markas Sassuolo mereka harus tunduk secara dramatis dengan skor 2-3.
Di luar itu, satu hal positif yang bisa dilihat dari Juventus musim ini adalah keberhasilan selalu mencetak gol. Termasuk dinihari kemarin saat dua kali membobol jala Sassuolo di babak kedua lewat kaki Edon Zhegova.
Sayangnya, di balik produktivitas musim ini, tak satu pun berasal dari striker. Laga pembuka melawan Frosinone gol Juve malah berkat bek andalannya, Gleison Bremer.
Pun saat ditahan AC Milan di stadion Allianz. Tuan rumah butuh Federico Gatti untuk menyelamatkan diri dari kekalahan. Sedangkan kemenangan 2-0 atas Parma dipersembahkan dua gelandangnya, Nico Gonzalez dan Teun Koopmeiners.
Fakta ini tentu ironis. Ketika dua bek sudah mencatatkan nama di papan skor, para bomber masih belum mampu berbuat apa-apa.
Padahal Si Nyonya Tua sudah menggaet dua striker baru. Nick Woltemade dari Newcastle United dan Randal Kolo Muani si anak hilang. Belum lagi sosok ghaib, Arkadiusz Milik, yang namanya baru masuk line up tiap pramusim datang atau ketika kompetisi tersisa satu pertandingan.
Dari ketiga nama yang ada, Randal Kolo Muani paling memalukan. Didatangkan kembali setelah musim lalu dipinjamkan ke Tottenham, catatannya 0 besar. Bagaimana tidak, sebelum kekalahan dari Sassuolo, ia pemilik 0 gol, 0 assist, bahkan 0 peluang.
Kekalahan pertama musim ini juga berawal dari kesalahannya. Maksud hati ingin melepas tendangan, bola di kaki Randal Kolo Muani direbut Nemanja Matic yang langsung mengumpan ke arah Armand Lauriente dan dituntaskan Vasille Adzic menjadi gol.
Juventus Dulu Sampai Punya Ronaldo
Selain itu, untuk klub sebesar Juventus, menggaet Woltemade juga patut dipertanyakan. Bagaimana bisa tim yang dituntut bangkit dari keterpurukan, dengan lini depan yang menjadi masalah utama, justru mendatangkan striker cadangan Newcastle United.
Dengan kata lain, bukan hanya produktivitas para striker yang dipertanyakan, melainkan soal kualitas. Musim lalu pun ceritanya sama ketika klub menggaet Lois Openda dan Jonathan David.
Alhasil sekarang baik Openda dan David dibuang ke Prancis dan Spanyol. Apa yang dialami Juve hari ini bisa dibilang sebagai titik mundur klub.
Sebab selama ini klub asal Turin dikenal tempatnya para bomber ganas beraksi. Tak perlu jauh-jauh ke era 90-an apalagi sebelumnya, sejak 2000-an saja mereka punya Filippo Inzaghi, David Trezeguet, Zlatan Ibrahimovic, Vincenzo Iaquinta, Carlos Tevez, Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain, dan tentu Cristiano Ronaldo.
Mereka-mereka ini bukan cuma menawarkan kualitas dan nama besar. Ada konsistensi yang diberikan, ada gol yang dijanjikan tiap pertandingan, ada trofi yang sudah siap digenggam.
Kini, insting itu hilang. Sebenarnya, harapan meneruskan tren sempat berlanjut pada tahun-tahun pertama kehadiran Dusan Vlahovic.
Masalahnya, situasi Vlahovic menjaga konsistensi juga sulit. Prestasi menurun membuat manajemen mulai kerap gonta-ganti pelatih. Cara ini mau tak mau membuat gaya bermain berubah dan turut memengaruhi peran sang bomber.
Yang terjadi dua musim terakhir adalah bukti. Di mana Vlahovic lebih sering mengawali laga dari bangku cadangan dibanding mencetak gol.
Sekarang saat bomber Serbia hengkang dari Turin, seketika keganasan di depan gawang kembali. Empat gol sukses dibukukan dari tiga laga bareng Besiktas.
Kembalinya produktivitas Dusan Vlahovic menunjukkan satu hal. Jika dulu siapa pun striker yang datang bisa otomatis sukses di Juventus, kini sebaliknya.
Mencetak gol pertama di debut bisa jadi kebetulan. Tapi membobol jala Juventus adalah mentalitas. Itulah yang dimiliki Alphadjo Cisse, wonderkid AC Milan yang baru.
Nama Alphadjo Cisse masih asing terdengar. Maklum saja, ini perdana dia menembus tim utama.
Uniknya, kesuksesan Cisse menembus skuat AC Milan tak lepas dari unsur kesengajaan. Pelatih Ruben Amorim sedang bereksperimen untuk mempersiapkan tim menuju musim baru.
Semua pemain dicoba, beberapa dari primavera dipanggil. Rising star 19 tahun termasuk yang konsisten diberi kesempatan selama pramusim.
Banyak yang berpikir, mungkin Cisse juga berpikir, kesempatannya hanya selama pramusim. Namun, Amorim melihatnya lebih dalam lagi.
Dengan segala pertimbangan dan keterbatasan skuat, Amorim tetap menyertakan Cisse. Apa yang kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan.
Giornata satu Serie A musim 2026-2027, tandang ke Torino, Alphadjo Cisse langsung mengisi starting 11. Serentak semua orang bertanya-tanya “siapa anak ini? Bisa apa dia?”..
Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu wajar terjadi. Di Italia, memberi kepercayaan kepada pemain muda di laga pembuka adalah hal tak biasa. Butuh kualitas dan mentalitas pemain serta keberanian pelatih.
Alphadjo Cisse: Asal Guinea Lahir di Treviso
Berasal dari Guinea, ia lahir di Treviso, Italia. Tepatnya di San Liberale, sebuah tempat pinggiran kota yang dibangun pada tahun 1858 untuk menumbuhkan rasa reinkarnasi dan menawarkan perlindungan kepada mereka yang kehilangan rumah selama perang.
Ia tak sekadar lahir di sini. Dia juga hidup dan menjadi titik awal ceritanya di sepak bola dengan Polisportiva Indomita 21 sebagai klub pertama. Lalu pindah ke Castelfranco Veneto, klub yang sama tempat Yunus Musah bermain ketika kecil dulu.
Alphadjo Cisse kecil sudah menjadi daya tarik. Bayangkan saja, umur 11 tahun dia mampu mencetak gol langsung dari tendangan sudut.
sumber foto: gazzetta.it
Berawal dari momen itu, Cisse kecil jadi magnet dalam tim. Pemain dan pelatih butuh magisnya, butuh gol-gol yang bisa datang dari sudut mana pun.
“Dalam satu pertandingan, pelatih bilang padanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Kemudian dia bikin tiga gol secara akrobatik,” kenang Marco Pinzi, presiden Indomita 21.
Menjadi mutiara sedari kecil seperti sudah takdir untuk pemain bernomor 70. Ia bukan sekadar bermain, bukan hanya ingin menjadi hebat di masa depan.
Lebih dari itu, Cisse ingin mengubah hidupnya dan keluarga, membalas jasa kedua orang tua. Ceritanya di Italia berawal dari keputusan orang tuanya meninggalkan Guinea.
Saloussy Cisse, sang ayah, melihat kehidupan di Guinea tidak baik. Tidak bisa baginya mempertaruhkan masa depan keluarga jika tetap bertahan di tanah kelahiran.
Keputusan berani diambil. Ia pindah ke Italia, dari satu kota ke kota lainnya sebelum menetap di Treviso hingga hari ini. Untuk menghidupi keluarga, Saloussy bekerja sebagai buruh pabrik dari jam 4 pagi sampai 5 sore.
Saloussy tak langsung pulang setelah jam 5. Ada kewajiban lain yang harus ditunaikan, yaitu mengantar Alphadjo Cisse main bola. Sementara sang ibu, Habibatou, bekerja sebagai pelayan hotel.
“Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia. Mencoba berbagai kota sebelum menetap di Treviso, tempat saya lahir,” ucap Cisse kepada Gazzetta dello Sport.
“Saya biasa pergi kelapangan bersama ayah naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri,” sambungnya.
Debut Alphajdo Cisse tanpa Kehadiran Orang Tua
Alphadjo Cisse kemudian menemukan klub lebih mapan. Ia menembus tim primavera Verona 2020 lalu. Sempat dipinjamkan ke Catanzaro, ia kembali ke Marc Antonio Bentegodi sebelum menjadi milik AC Milan seutuhnya Februari 2026.
Karier yang baru dia jalani berasal dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Gol ke gawang Torino adalah hasil dari keringat dan doa-doa orang tersayang, meski momen sakral itu tak pernah masuk dalam mimpinya.
“Saya mungkin tak pernah membayangkan bisa debut untuk Milan dan mencetak gol, bahkan dalam mimpi sekali pun,” ujar sang rising star waktu itu.
Sudah menancapkan tinta emas di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cisse dan keluarga tetap sosok bersahaja. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba berubah, tidak ada keistimewaan, bahkan pada hari spesial itu tidak ada saksi mata atas sejarah yang dia buat.
Faktor jarak, kewajiban terhadap perusahaan memaksa ayah, ibu, beserta kakak dan adik Cisse tak bisa hadir di stadion Olimpico Torino. Sebagai informasi, Treviso-Turin berjarak 420 km, menempuh waktu kurang lebih lima jam perjalanan.
adapun laga Torino vs AC Milan berlangsung malam hari. Dengan kata lain, mustahil bagi Saloussy dan Habibatou datang langsung karena harus bekerja pukul 4 pagi.
Kendati begitu, Cisse tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur dan penuh bangga menunjukkan gol itu kepada keluarga.
Lagi pula ini baru awal, awal dari perjalanan panjang. Awal dari mimpi besar mengubah kehidupan keluarga dan membalas jasa orang tua.
“Saya ingin membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya harap secepat mungkin punya kemampuan untuk membuat ayah dan ibu berhenti bekerja,” tutur Alphadjo Cisse.
Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.
Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.
Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.
Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.
Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.
Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.
Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.
Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.
Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.
Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.
Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan
Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.
Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.
Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.
Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.
Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol. Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.
Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.
Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.
Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.
Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.
Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.
Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.
Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.
Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.
Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.
Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.
Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.
Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya. Tapi musim ini tak ada pengeluaran.
Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.
Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri
Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.
Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.
I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.
Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.
Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.
Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.
Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.
Tapi Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,