Alphadjo Cisse: Rising Star AC MIlan dengan Segala Kisahnya

Mencetak gol pertama di debut bisa jadi kebetulan. Tapi membobol jala Juventus adalah mentalitas. Itulah yang dimiliki Alphadjo Cisse, wonderkid AC Milan yang baru.

Nama Alphadjo Cisse masih asing terdengar. Maklum saja, ini perdana dia menembus tim utama.

Uniknya, kesuksesan Cisse menembus skuat AC Milan tak lepas dari unsur kesengajaan. Pelatih Ruben Amorim sedang bereksperimen untuk mempersiapkan tim menuju musim baru.

Semua pemain dicoba, beberapa dari primavera dipanggil. Rising star 19 tahun termasuk yang konsisten diberi kesempatan selama pramusim.

Banyak yang berpikir, mungkin Cisse juga berpikir, kesempatannya hanya selama pramusim. Namun, Amorim melihatnya lebih dalam lagi.

Dengan segala pertimbangan dan keterbatasan skuat, Amorim tetap menyertakan Cisse. Apa yang kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan.

Giornata satu Serie A musim 2026-2027, tandang ke Torino, Alphadjo Cisse langsung mengisi starting 11. Serentak semua orang bertanya-tanya “siapa anak ini? Bisa apa dia?”..

Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu wajar terjadi. Di Italia, memberi kepercayaan kepada pemain muda di laga pembuka adalah hal tak biasa. Butuh kualitas dan mentalitas pemain serta keberanian pelatih.

Alphadjo Cisse: Asal Guinea Lahir di Treviso

Berasal dari Guinea, ia lahir di Treviso, Italia. Tepatnya di San Liberale, sebuah tempat pinggiran kota yang dibangun pada tahun 1858 untuk menumbuhkan rasa reinkarnasi dan menawarkan perlindungan kepada mereka yang kehilangan rumah selama perang.

Ia tak sekadar lahir di sini. Dia juga hidup dan menjadi titik awal ceritanya di sepak bola dengan Polisportiva Indomita 21 sebagai klub pertama. Lalu pindah ke Castelfranco Veneto, klub yang sama tempat Yunus Musah bermain ketika kecil dulu.

Alphadjo Cisse kecil sudah menjadi daya tarik. Bayangkan saja, umur 11 tahun dia mampu mencetak gol langsung dari tendangan sudut.

Alphadjo Cisse rising star AC Milan
sumber foto: gazzetta.it

Berawal dari momen itu, Cisse kecil jadi magnet dalam tim. Pemain dan pelatih butuh magisnya, butuh gol-gol yang bisa datang dari sudut mana pun.

“Dalam satu pertandingan, pelatih bilang padanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Kemudian dia bikin tiga gol secara akrobatik,” kenang Marco Pinzi, presiden Indomita 21.

Menjadi mutiara sedari kecil seperti sudah takdir untuk pemain bernomor 70. Ia bukan sekadar bermain, bukan hanya ingin menjadi hebat di masa depan.

Lebih dari itu, Cisse ingin mengubah hidupnya dan keluarga, membalas jasa kedua orang tua. Ceritanya di Italia berawal dari keputusan orang tuanya meninggalkan Guinea.

Saloussy Cisse, sang ayah, melihat kehidupan di Guinea tidak baik. Tidak bisa baginya mempertaruhkan masa depan keluarga jika tetap bertahan di tanah kelahiran.

Keputusan berani diambil. Ia pindah ke Italia, dari satu kota ke kota lainnya sebelum menetap di Treviso hingga hari ini. Untuk menghidupi keluarga, Saloussy bekerja sebagai buruh pabrik dari jam 4 pagi sampai 5 sore.

Saloussy tak langsung pulang setelah jam 5. Ada kewajiban lain yang harus ditunaikan, yaitu mengantar Alphadjo Cisse main bola. Sementara sang ibu, Habibatou, bekerja sebagai pelayan hotel.

“Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia. Mencoba berbagai kota sebelum menetap di Treviso, tempat saya lahir,” ucap Cisse kepada Gazzetta dello Sport.

“Saya biasa pergi kelapangan bersama ayah naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri,” sambungnya.

Debut Alphajdo Cisse tanpa Kehadiran Orang Tua

Alphadjo Cisse kemudian menemukan klub lebih mapan. Ia menembus tim primavera Verona 2020 lalu. Sempat dipinjamkan ke Catanzaro, ia kembali ke Marc Antonio Bentegodi sebelum menjadi milik AC Milan seutuhnya Februari 2026.

Karier yang baru dia jalani berasal dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Gol ke gawang Torino adalah hasil dari keringat dan doa-doa orang tersayang, meski momen sakral itu tak pernah masuk dalam mimpinya.

“Saya mungkin tak pernah membayangkan bisa debut untuk Milan dan mencetak gol, bahkan dalam mimpi sekali pun,” ujar sang rising star waktu itu.

Sudah menancapkan tinta emas di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cisse dan keluarga tetap sosok bersahaja. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba berubah, tidak ada keistimewaan, bahkan pada hari spesial itu tidak ada saksi mata atas sejarah yang dia buat.

Faktor jarak, kewajiban terhadap perusahaan memaksa ayah, ibu, beserta kakak dan adik Cisse tak bisa hadir di stadion Olimpico Torino. Sebagai informasi, Treviso-Turin berjarak 420 km, menempuh waktu kurang lebih lima jam perjalanan.

adapun laga Torino vs AC Milan berlangsung malam hari. Dengan kata lain, mustahil bagi Saloussy dan Habibatou datang langsung karena harus bekerja pukul 4 pagi.

Kendati begitu, Cisse tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur dan penuh bangga menunjukkan gol itu kepada keluarga.

Lagi pula ini baru awal, awal dari perjalanan panjang. Awal dari mimpi besar mengubah kehidupan keluarga dan membalas jasa orang tua.

“Saya ingin membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya harap secepat mungkin punya kemampuan untuk membuat ayah dan ibu berhenti bekerja,” tutur Alphadjo Cisse.