Aura Francesco Totti! Saat Kesetiaan Diuji oleh Teman Sendiri

Francesco Totti sudah lama pensiun. Namun, legenda hidup AS Roma tetap tidak kekurangan peminat sekali pun tak lagi bermain bola.

Francesco Totti gantung sepatu 2017 silam. Seluruh karier ia habiskan bersama Roma dengan catatan 786 penampilan dan torehan 307 gol.

Ia turut memenangkan scudetto terakhir klub musim 2000-2001, dua Supercoppa, dan dua Coppa Italia. Namanya juga abadi sebagai pemenang Piala Dunia bareng Italia 2006.

Dengan rentetan prestasi, ditambah gaya main flamboyan, nama besar, dan aura yang selalu ditunjukkan di lapangan, Totti selalu menjadi daya tarik. Termasuk pada masa pensiunnya.

Bagaimana tidak, ia masih menarik minat klub-klub Serie A tujuh tahun setelah memutuskan gantung sepatu. Ya, di usia 48 tahun ia dirayu Genoa dan Como.

Bukan sebagai direktur klub, tidak juga untuk posisi pelatih atau pun asisten. Melainkan menjadi pemain seperti yang selama puluhan tahun dilakukan.

“Saya menolak Genoa dan Como ketika berusia 48 tahun,” kata legenda berjuluk Il Curpone kepada Sky Sport Italia.

“Gilardino adalah pelatih Genoa, juara Piala Dunia sama saya. Cesc Fabregas sudah di Como, dia salah satu nama besar dalam sejarah sepak bola,” ia menambahkan.

“Gilardino berumur 42 tahun, Fabregas 37 tahun. Jadi saya masing-masing enam tahun dan 11 tahun lebih tua. Ini bukan cerita urban, ini nyata. Benar-benar gila,” sambung Francesco Totti.

Francesco Totti Tak Sanggup Main untuk Selain AS Roma

Pendekatan dan kedekatan personal yang dilakukan Genoa membuat Francesco Totti berpikir keras. Merumput lagi benar-benar ia pertimbangkan.

Apalagi Alberto Gilardino setiap hari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih tidak merayu legenda Roma sendirian. Para direktur Genoa juga rajin melakukan pendekatan.

Mulai dari menghubungi melalui telepon, bertemu langsung, hingga mengajaknya ke stadion. Cara ini membuat top skorer sepanjang masa Roma makin tergoda.

Faktor lain yang membuat sosok nomor 10 ini kepincut adalah Marassi. Ia jatuh cinta dengan stadion Luigi Ferraris yang menurutnya punya gaya Inggris klasik dengan jarak tribun dan lapangan sangat dekat.

Apa boleh buat, pada akhirnya semua kemungkinan dan pertimbangan itu sampai pada sebuah kesimpulan paling mendasar. Kesimpulan yang menggambarkan betapa besar namanya.

Kesimpulan yang membuat kita semua paham kenapa keputusan 2017 diambil dan seisi stadion menangis. Kesimpulan yang mengartikan betapa sakral lambang Serigala di dada.

“Apakah kamu ingin mengambil tanggung jawab baru atau tidak? Mereka bertanya serius. Saya butuh waktu mengambil keputusan dan saya mulai bekerja keras, sangat keras sebelum memberi jawaban,” kenangnya.

“Saya suka Marassi. Ini stadion bergaya Inggris klasik yang indah dengan fan yang penuh semangat dengan melihat pertandingan dari dekat. Anda bisa merasakan napas mereka di leher,” jawabnya lagi.

“Gilardino sering mengirimi pesan kepada saya ‘jadi?’. Pikiran saya mengatakan saya bisa menerimanya, tapi hati saya berkata tidak. Pada akhirnya saya selalu sampai pada kesimpulan yang sama, mengajukan satu pertanyaan pada diri sendiri ‘Bisakah kamu benar-benar bisa bermain untuk tim selain Roma?’,” tutup Francesco Totti.

Pidato ala Christian Chivu di Balik Kebangkitan Inter Milan di Markas AS Roma

Laju kemenangan Inter Milan terhenti di ibu kota. Anak asuh Christian Chivu harus puas berbagi angka 2-2 dengan AS Roma, Sabtu (19/9).

Kendati gagal mempertahankan rekor 100 persen menang di Serie A, satu poin La Beneamata tetap patut disyukuri. Apalagi jika melihat performa pasukan Christian Chivu di babak pertama.

Sang pelatih mengaku anak asuhnya tampil lesu.  Ia melihat para pemain terlalu gampang kehilangan bola dan membiarkan tuan rumah menikmati permainan.

Ini pula yang dibenahi di babak kedua. Meski belum sesuai ekspektasinya, namun apa yang dilakukan Yann Bisseck dkk sudah membuatnya senang.

“Sodara-sodaara Saya sudah sampaikan apa yang saya pikirkan pada pemain saat jeda. Tapi secara keseluruhan itu akan menjadi rahasia kami,” ucap Christian Chivu seperti dilansir dari Football Italia.

“Saya fokus pada babak kedua yang dalam hal sikap, ketangguhan, dan karakter sangat luar biasa. Karena di babak pertama kami sangat lambat,” ucapnya lagi.

“Kami harus membangun momentum dari itu. Saya ulangi, beberapa hal masih rahasia antara saya dan pemain. Tapi ini adalah satu poin yang bagus di tempat yang sulit,” ia menambahkan.

“Semua orang tahu apa yang tidak kami lakukan di babak pertama. Selalu ada dua fase, dengan dan tanpa bola dan kami harus bermain lebih baik tanpa bola,” lanjut eks pemain AS Roma.

Christian Chivu Tak Terkalahkan di Olimpico

Laga di Olimpico berjalan sulit untuk Inter Milan. AS Roma langsung mengambil inisiatif serangan. Hasil langsung terlihat saat laga baru berjalan enam menit.

Adalah Manu Kone yang membuat seisi stadion bergetar lewat tendangan kerasnya. Tak cukup satu gol, sang gelandang kembali mencatatkan nama di papan skor.

Kemelut di depan gawang Inter dimaksimalkan Kone untuk menggandakan keunggulan. Dua gol ini membuat namanya kini masuk buku sejarah klub.

Ia sejajar dengan Francesco Totti dan Abel Balbo yang mampu mencetak brace ke gawang Inter Milan.

Memasuki babak kedua situasi berubah. Tuan rumah memang tidak kehilangan kendali, tapi Inter Milan mulai menemukan cara terbaik.

Perubahan yang dilakukan Christian Chivu langsung membuahkan hasil. Crossing Marcus Thuram disempurnakan Lautaro Martinez menjadi gol.

Lautaro pula yang kemudian menghindari I Nerazzurri dari kekalahan lewat sontekannya 10 menit jelang laga usai. Imbang 2-2 sudah cukup untuk Christian Chivu mempertahankan rekor apik di Olimpico.

Ya, nakhoda Inter tak terkalahkan tiap tandang ke ibu kota. Baik ketika bersua AS Roma maupun Lazio, ia selalu membawa pulang poin. Dengan rincian dua kemenangan dan dua kali imbang.

 

Jelang AS Roma vs Inter Milan, Mile Svilar Akui Kemungkinan Scudetto

Grande partita tersaji di pekan kelima Serie A. Ada AS Roma vs Inter Milan yang tersaji di stadion Olimpico, Sabtu (19/9).

Laga AS Roma vs Inter Milan akan sangat menarik. Keduanya menjadi tim yang masih sapu bersih kemenangan di empat laga awal Serie A musim ini.

Dengan kata lain, duel keduanya akan memastikan dua hal. Salah satu di antaranya akan menelan kekalahan perdana atau laju kemenangan keduanya terhenti.

Melihat laju kencang Roma dan Inter musim ini, tak pelak pertemuan mereka di Olimpico dianggap penentu awal perebutan gelar. Anggapan ini memang tidak dibantah Mile Svilar.

Kiper AS Roma menilai capaian kedua tim luar biasa. Terutama I Nerazzurri yang tampil dominan dan selalu menjadi penantang scudetto beberapa musim terakhir.

“Ini pertandingan hebat yang sangat kami nantikan untuk bersaing melawan tim terkuat di liga, tim yang telah berada di puncak dalam beberapa tahun terakhir,” kata Mile Svilar.

“Laga penentu scudetto? Itu membuat saya tersenyum. Kami harus seimbang dan stabil, tapi kami tahu dari mana kami berasal dan tahu ke mana kami ingin pergi,” ia menambahkan.

“Ini tidak seperti musim lalu ketika kami memulai liga dengan mengatakan ‘kami ingin finis ketiga’. Sekarang, di sini, kami akan mencari tahu apakah kami benar-benar berpeluang meraih scudetto,” sambungnya.

AS Roma vs Inter Milan: Menguji Dominasi I Nerazzurri

Sama-sama meraih poin sempurna 12, head to head AS Roma vs Inter Milan tetap menunjukkan dominasi I Nerazzurri. Bagaimana tidak, dari 10 pertemuan terakhir I Nerazzurri mencatatkan delapan kemenangan.

Termasuk lima kemenangan beruntun di Olimpico. Tak hanya itu, dengan jumlah pertandingan yang sama Inter juga catatkan empat cleansheet.

Sebaliknya, AS Roma sudah terlalu lama puasa kemenangan di kandang atas La Beneamata. Terakhir kali laga dimenangkan tuan rumah terjadi 10 tahun silam.

Situasi inilah yang ingin diubah Svilar. Menurutnya, dengan kondisi tim yang tengah menanjak, ini waktu yang tepat untuk Il Lupi membalikkan momentum.

“Di kota ini kami bermain dua atau tiga kali. Kami bermain dan merasa bersemangat,” tutup penjaga gawang terbaik Serie A musim lalu.

Liga Champions: Como Membanggakan, AS Roma Malu-Malu, 2 Lainnya Begitu

Liga Champions matchday pertama sudah digelar. Bagi wakil Serie A, kompetisi tertinggi Eropa berjalan menyulitkan. Terbukti, Como saja yang meraih kemenangan.

Como, si anak baru Liga Champions justru menunjukkan kelas dan kualitas. Mereka seakan mengajarkan abang-abangan seperti Inter Milan, AS Roma, dan Napoli caranya menang di laga pembuka.

Menjamu RB Leipzig di stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil percaya diri. Pengalaman pertama sepanjang sejarah baik untuk pemain dan penggemar tidak membuat ciut nyali.

Memang, para pemain sedikit demam panggung di awal. Namun, sejak gol pertama Martin Baturina lahir, semua berjalan lancar.

Atau dalam bahasa sesepuh kami, Como bermain dengan nyaman,  menang dengan nyaman. RB Leipzig yang lebih berpengalaman di Liga Champions dibuat kalang-kabut.

Mereka hanya menyerang di awal dan pertengahan babak pertama. Tapi lini belakang tuan rumah masih kokoh, pun Jean Butez yang tampil bagus di bawah mistar.

Setelah Baturina, Anastasios Douvikas turut mencatatkan nama dalam buku sejarah sebagai pemain kedua I Lariani yang cetak gol di Eropa. Dua gol di babak pertama dilengkapi dengan dua gol lain di babak kedua.

Cesc Fabregas menggilir pemainnya untuk mencetak gol. Kali ini giliran Assane Diao dan Maximo Perrone menyempurnakan pesta setelah di awal babak kedua Andrija Maksimovic memperkecil angka.

Inter Milan dan Napoli Tak Berdaya di Liga Champions

Pada hari pertama, Inter Milan mengawali perjalanan tim Serie A di Liga Champions. Lawannya tidak main-main, Real Madrid si raja Eropa.

Christian Chivu yang masih bau kencur menerapkan penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki, pergerakan bola cepat dengan pergerakan pemain yang dinamis memang memanjakan mata. Seolah-olah gol hanya perkara waktu.

Yang jadi masalah, Real Madrid punya Jose Mourinho, sang master mind dengan dua gelar Liga Champions dan permainan logika seperti Rocky Gerung. Model permainan yang tampak sempurna Inter itu yang justru jadi santapan empuk Mou.

“Semakin sering memegang bola, semakin besar peluang membuat kesalahan,” filosofi ini masih dipertahankan Mourinho sampai sekarang. Terbukti, ketika Inter tengah asyik menguasai bola, Real Madrid tiba-tiba mencetak gol.

Kesalahan Curtis Jones yang dilengkapi Yann Bisseck langsung dihukum Kylian Mbappe menjadi gol. Hal serupa kembali terjadi pada gol kedua.

Kini giliran kiper Josep Martinez. Penampilan luar biasanya sepanjang 90 menit tak mampu menutup dosa yang dibuat menit ke-23.

Maksud hati menggocek Federico Valverde, Martinez justru tergocek masa lalu Ionut Radu. Bola berhasil direbut Valverde yang tanpa daya upaya menggandakan keunggulan tuan rumah.

Sebenarnya Inter Milan tidak fakir peluang. Hanya saja tembok kokoh Real Madrid sebesar Thibaut Courtois.

Free kick Hakan Calhanoglu ditahan, sontekan Lautaro Martinez ditepis, upaya Marcus Thuram digagalkan, hingga peluang bunuh diri Ibrahima Konate juga terhenti di tangan Courtois.

Meski pada akhirnya kiper kebanggaan Belgia dibuat tak berkutik oleh Carlos Augusto. Yang lucunya, tak lama setelah itu Augusto ditarik keluar.

Dari Selatan Italia, Napoli dipaksa bertahan oleh Arsenal. Tak berniat mengembangkan permainan, Massimiliano Allegri yang baru menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Menyerang ala Allegri” akhirnya harus melihat timnya kebobolan saat laga tersisa 15 menit.

Martin Odegaard memecah kebuntuan. Gol yang sudah cukup membuat finalis musim lalu mencuri tiga poin dari Napoli.

Liga Champions: AS Roma Tertahan di Comebacknya

Dari Turki, cerita sedikit berbeda di alami AS Roma. Tim ibu kota Italia tertahan di ibu kota Turki usai melakoni perlawanan alot dari Fenerbahce dan fansnya.

Comeback setelah lama menepi dari Liga Champions membuat Roma masih malu-malu kucing. Para pemain seperti sungkan untuk langsung tancap gas.

sumber foto: asroma.com

Apalagi Turki bukan tanah yang nyaman untuk tetamu. Bayangkan saja, setiap Brian Cristante dan kolega menguasai bola, siulan fan berdengung kencang di seisi Sukru Saracoglu.

Demi mengurangi perasaan tak enak itu, GOD nya lini tengah Roma, pemain yang akan mengawali kebangkitan Italia era Roberto Mancini, metronom dalam arti sesungguhnya, Brian Cristante, muncul dari sudut tak terduga.

Tendangan terukurnya menusuk sudut kanan gawang Fenerbahce kawalan Ederson. Cara Cristante mencetak gol efeknya tidak main-main untuk kehidupan, bikin frekuensi bumi jadi kacau.

Bagi tim, gol ini melahirkan ketenangan dalam permainan. Tapi sepertinya mereka masih pikir-pikir untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan segala kerendahan hati para pemain mencoba menjadi tamu yang baik sebagaimana ajaran nabi, sembari menguji mentalitas Mile Sivlar di bawah mistar.

Dasarnya orang baik tidak selalu mendapat perlakuan baik, itulah yang dialami Roma. Di awal babak kedua mereka kebobolan oleh mantan calon pemain AC Milan, Archie Brown.

Sebagaimana Paolo Maldini yang tertipu dengan pergerakan Brown di bursa transfer, Gianluca Mancini pun terkecoh di lapangan. Archie Brown mampu melepaskan diri sebelum dengan ketenangan tinggi menceploskan bola ke gawang.

Skor 1-1 membuat laga Fenerbahce vs AS Roma kembali hidup. Disaat bersamaan, tekanan fans tuan rumah terhadap tim tamu semakin menjadi.

Beruntung jantung pertahanan masih sangat kokoh. Terutama Svilar yang berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas mantan bomber Lazio, Vedat Muriqi.

Adapun AC Milan dan Juventus belum bertanding.

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

Bentornato Serie A: Giornata Pembuka, Awal dari Semua Cerita

Tiga bulan lamanya sejak musim 2025-2026 berakhir, Serie A kembali menyapa. Ia datang untuk memulai musim baru, musim yang diharapkan lebih menarik dan menegangkan dari sebelumnya.

Musim lalu Inter Milan hampir tanpa perlawanan. Mereka sudah memastikan scudetto beberapa pekan sebelum giornata pamungkas digelar. Tapi bukan berarti musim lalu Serie A kurang persaingan.

Demi mengisi spot Liga Champions, banyak klub saling sikut Pada akhirnya nama besar AC Milan dan Juventus takluk dari rasa lapar AS Roma serta modernisasi yang diusung Como.

Bagi AS Roma, sukses kembali ke Liga Champions adalah jawaban dari doa-doa di sepertiga malam yang dipanjatkan Gianluca Mancini.

Sementara untuk Como ini awal baru. Mereka adalah bukti meski pemiliknya orang Indonesia, tapi bisa berkibar dengan cara dan tata kelola yang sangat tidak Indonesia.

Serie A Menunggu Konsistensi Como

Hanya saja, biasanya klub-klub kejutan seperti Como punya musuh besar, yaitu konsistensi. Sudah banyak korban dari konsistensi itu yang menghancurkan para kuda hitam di musim selanjutnya.

Di Premier League ada Leicester City yang babak belur usai juara. LaLiga punya Girona yang nyaris degradasi usai sebelumnya menembus empat besar.

Serie A sebenarnya bisa jadi berbeda. Karena contoh yang paling dekat adalah Atalanta. Mereka kuda hitam yang konsisten, sejak tembus Liga Champions untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu, La Dea tak pernah absen dari kompetisi Eropa.

Apalagi Como menatap musim ini dengan sangat serius. Ikut Liga Champions membuat manajemen sedikit mengubah penilaian dalam meminang pemain.

Jika selama ini mereka mencari pemain-pemain muda belum matang atau yang sudah melewati masa emas, Como sekarang lebih selektif. Klub tak mau cuma numpang lewat di Eropa dan jatuh lebih cepat di Serie A.

Untuk itu, Trevoh Chalobah yang sudah mapan bersama Chelsea didatangkan. Pun Yan Couto yang terbiasa main di Liga Champions bareng Borussia Dortmund.

Upaya AC Milan dan Juventus Kembali Bersaing di Serie A

Yang jadi pertanyaan, apakah napas baru yang dihadirkan Como atau rasa lapar AS Roma bisa menenggelamkan AC Milan dan Juventus? Jawabannya belum tentu.

Sepak bola Italia selalu tentang sejarah, tentang apa yang diagungkan di masa lalu, tentang kelas yang tak pernah berubah. Ini pula yang membuat haram hukumnya mencoret Milan maupun Juve dari persaingan.

Lagi pula kedua klub sudah berbenah, terutama I Rossoneri yang kembali melakukan pergantian pelatih. Secara sadar dan berani mereka menunjuk Ruben Amorim, pelatih muda yang kadung dicap gagal dan keras kepala di Manchester United.

Masalahnya Amorim berasal dari Portugal. Dan AC Milan tidah hanya gagal bersama dua allenatore Portugal sebelumnya, Paulo Fonseca dan Sergio Conceicao. Kerja sama mereka selalu berakhir problematik.

Adapun Juventus rupanya masih percaya pada Luciano Spalletti. Manajemen sempat diisukan akan membawa pulang Antonio Conte.

Nyatanya Spalletti masih di balik kemudi. Selain pelatih, yang cukup menjadi pertanyaan adalah keseriusan manajemen dalam mengembalikan kejayaan klub, dilihat dari aktivitas transfer.

Randal Kolo Muani yang sempat dibuang ke Tottenham kembali didatangkan. Jhon Lucumi juga digaet serta dua bintang muda yang belum teruji betul kualitasnya, Kerim Alajbegovic dan Jeff Ekhator.

Yang terbilang oke adalah memboyong Guglielmo Vicario untuk menggantikan Michele Di Gregorio. Lalu membajak Zeki Celik dari AS Roma untuk menenangkan hati para penggemar.

Serie A  Masih Terapkan Arisan Pelatih

Serie A musim 2026-2027 kembali menghadirkan pelatih-pelatih baru. Tercatat ada sembilan klub ditangani nakhoda anyar,

Yang perlu dicatat, dalam konteks Serie A, biasanya pelatih-pelatih barunya “Dia lagi, dia lagi”. Sebab allenatore Italia hanya berputar di situ-situ saja.

Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya arisan pelatih. Setiap klub seperti sudah digilir. Seperti Atalanta yang kini mendapat giliran ditukangi Maurizio Sarri.

Napoli yang akhirnya merasakan ilmu hitam nan terlarang milik Massimiliano Allegri, Lazio kepincut Gennaro Gattuso, sampai masih ada klub yang percaya dengan Ivan Juric, itulah Monza.

Namun, tak semua mengikuti tren arisan pelatih. Ada juga yang memilih cara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Seperti Torino dan Sassuolo. Mereka mengikat Ignazio Abate maupun Alberto Aquilani yang masih muda.

Kemudian Bologna. Mereka membawa pulang Domenico Tedesco ke tanah kelahiran usai separuh hidup dihabiskan di tanah perantauan.

Apa pun itu, Liga Italia akan kick off nanti malam, menghadirkan empat pertandingan. Di awali Udinese vs Como dan Inter Milan vs Monza yang main barengan.

Semoga saja Serie A musim ini berjalan menarik, baik persaingan papan atas maupun papan bawah. Malam ini cerita baru akan dimulai, malam-malam menegangkan kembali menemani, dan kita siap menjadi saksi.