Pidato ala Christian Chivu di Balik Kebangkitan Inter Milan di Markas AS Roma

Laju kemenangan Inter Milan terhenti di ibu kota. Anak asuh Christian Chivu harus puas berbagi angka 2-2 dengan AS Roma, Sabtu (19/9).

Kendati gagal mempertahankan rekor 100 persen menang di Serie A, satu poin La Beneamata tetap patut disyukuri. Apalagi jika melihat performa pasukan Christian Chivu di babak pertama.

Sang pelatih mengaku anak asuhnya tampil lesu.  Ia melihat para pemain terlalu gampang kehilangan bola dan membiarkan tuan rumah menikmati permainan.

Ini pula yang dibenahi di babak kedua. Meski belum sesuai ekspektasinya, namun apa yang dilakukan Yann Bisseck dkk sudah membuatnya senang.

“Sodara-sodaara Saya sudah sampaikan apa yang saya pikirkan pada pemain saat jeda. Tapi secara keseluruhan itu akan menjadi rahasia kami,” ucap Christian Chivu seperti dilansir dari Football Italia.

“Saya fokus pada babak kedua yang dalam hal sikap, ketangguhan, dan karakter sangat luar biasa. Karena di babak pertama kami sangat lambat,” ucapnya lagi.

“Kami harus membangun momentum dari itu. Saya ulangi, beberapa hal masih rahasia antara saya dan pemain. Tapi ini adalah satu poin yang bagus di tempat yang sulit,” ia menambahkan.

“Semua orang tahu apa yang tidak kami lakukan di babak pertama. Selalu ada dua fase, dengan dan tanpa bola dan kami harus bermain lebih baik tanpa bola,” lanjut eks pemain AS Roma.

Christian Chivu Tak Terkalahkan di Olimpico

Laga di Olimpico berjalan sulit untuk Inter Milan. AS Roma langsung mengambil inisiatif serangan. Hasil langsung terlihat saat laga baru berjalan enam menit.

Adalah Manu Kone yang membuat seisi stadion bergetar lewat tendangan kerasnya. Tak cukup satu gol, sang gelandang kembali mencatatkan nama di papan skor.

Kemelut di depan gawang Inter dimaksimalkan Kone untuk menggandakan keunggulan. Dua gol ini membuat namanya kini masuk buku sejarah klub.

Ia sejajar dengan Francesco Totti dan Abel Balbo yang mampu mencetak brace ke gawang Inter Milan.

Memasuki babak kedua situasi berubah. Tuan rumah memang tidak kehilangan kendali, tapi Inter Milan mulai menemukan cara terbaik.

Perubahan yang dilakukan Christian Chivu langsung membuahkan hasil. Crossing Marcus Thuram disempurnakan Lautaro Martinez menjadi gol.

Lautaro pula yang kemudian menghindari I Nerazzurri dari kekalahan lewat sontekannya 10 menit jelang laga usai. Imbang 2-2 sudah cukup untuk Christian Chivu mempertahankan rekor apik di Olimpico.

Ya, nakhoda Inter tak terkalahkan tiap tandang ke ibu kota. Baik ketika bersua AS Roma maupun Lazio, ia selalu membawa pulang poin. Dengan rincian dua kemenangan dan dua kali imbang.

 

Jelang AS Roma vs Inter Milan, Mile Svilar Akui Kemungkinan Scudetto

Grande partita tersaji di pekan kelima Serie A. Ada AS Roma vs Inter Milan yang tersaji di stadion Olimpico, Sabtu (19/9).

Laga AS Roma vs Inter Milan akan sangat menarik. Keduanya menjadi tim yang masih sapu bersih kemenangan di empat laga awal Serie A musim ini.

Dengan kata lain, duel keduanya akan memastikan dua hal. Salah satu di antaranya akan menelan kekalahan perdana atau laju kemenangan keduanya terhenti.

Melihat laju kencang Roma dan Inter musim ini, tak pelak pertemuan mereka di Olimpico dianggap penentu awal perebutan gelar. Anggapan ini memang tidak dibantah Mile Svilar.

Kiper AS Roma menilai capaian kedua tim luar biasa. Terutama I Nerazzurri yang tampil dominan dan selalu menjadi penantang scudetto beberapa musim terakhir.

“Ini pertandingan hebat yang sangat kami nantikan untuk bersaing melawan tim terkuat di liga, tim yang telah berada di puncak dalam beberapa tahun terakhir,” kata Mile Svilar.

“Laga penentu scudetto? Itu membuat saya tersenyum. Kami harus seimbang dan stabil, tapi kami tahu dari mana kami berasal dan tahu ke mana kami ingin pergi,” ia menambahkan.

“Ini tidak seperti musim lalu ketika kami memulai liga dengan mengatakan ‘kami ingin finis ketiga’. Sekarang, di sini, kami akan mencari tahu apakah kami benar-benar berpeluang meraih scudetto,” sambungnya.

AS Roma vs Inter Milan: Menguji Dominasi I Nerazzurri

Sama-sama meraih poin sempurna 12, head to head AS Roma vs Inter Milan tetap menunjukkan dominasi I Nerazzurri. Bagaimana tidak, dari 10 pertemuan terakhir I Nerazzurri mencatatkan delapan kemenangan.

Termasuk lima kemenangan beruntun di Olimpico. Tak hanya itu, dengan jumlah pertandingan yang sama Inter juga catatkan empat cleansheet.

Sebaliknya, AS Roma sudah terlalu lama puasa kemenangan di kandang atas La Beneamata. Terakhir kali laga dimenangkan tuan rumah terjadi 10 tahun silam.

Situasi inilah yang ingin diubah Svilar. Menurutnya, dengan kondisi tim yang tengah menanjak, ini waktu yang tepat untuk Il Lupi membalikkan momentum.

“Di kota ini kami bermain dua atau tiga kali. Kami bermain dan merasa bersemangat,” tutup penjaga gawang terbaik Serie A musim lalu.

4 Giornata Serie A tanpa Skor 0-0, Sejarah pun Tercipta

Serie A giornata keempat sudah tuntas terlaksana. Ada satu kesamaan yang terjadi dari pekan ini dengan sebelumnya, yaitu tidak ada laga yang berakhir 0-0.

Pekan keempat Serie A dibuka Venezia vs Fiorentina. Enam gol tercipta di Pier Luigi Penzo untuk kemenangan perdana La Viola 4-2.

Laga penutup pun berkesudahan dengan banjir gol. Sempat tertinggal 0-2 dari Udinese, Inter Milan berbalik menang 5-3 di Giuseppe Meazza.

Bukan hanya Venezia vs Fiorentina dan Inter Milan vs Udinese yang menghasilkan banyak gol. Laga lain seperti Lecce vs Monza (3-2), Lazio vs AC Milan (2-2), dan Sassuolo vs Juventus (3-2) juga demikian.

Jika ditotal, dari 10 pertandingan giornata keempat melahirkan 39 gol. Produktivitas merata dari setiap tim juga memunculkan satu fakta menarik.

Seperti yang disebut di atas, tidak ada satu pertandingan pun yang berakhir tanpa gol. Hebatnya lagi, ini berlangsung dari pekan pembuka sampai sekarang.

Fakta ini sekaligus menjadi sejarah. Untuk pertama kalinya empat giornata awal Serie A tidak ada pertandingan yang berkesudahan 0-0.

Baik Serie A dan Serie B Beda dengan Premier League dan LaLiga

Gol demi gol yang tercipta di Serie A menunjukkan beberapa hal. Salah satunya soal permainan terbuka nan menghibur yang mulai diperagakan. Juga anggapan Catenaccio yang mulai tidak relevan.

Apalagi bukan hanya kasta tertinggi yang selalu menghadirkan gol. Empat giornata Serie B yang sudah berjalan pun demikian.

Beberapa beranggapan bahwa fenomena ini muncul karena perubahan pendekatan yang dilakukan wasit. Seperti membiarkan permainan mengalir lebih cepat, tidak gampang meniup peluit yang menghambat jalannya laga, hingga minimnya penggunaan VAR.

Menurut catatan, tidak ada peninjauan ulang VAR dalam 31 pertandingan Serie A sejauh ini. Tak heran, perubahan ini membuat kasta tertinggi Italia sudah menghasilkan 121 gol sampai laga Inter Milan vs Udinese.

Yang terjadi di Italia berbeda jauh dengan Premier League maupun La Liga. Sama-sama sudah  berjalan empat pekan, Liga Inggris sudah menghasilkan empat pertandingan 0-0, adapun Liga Spanyol tiga kali.

 

 

Liga Champions: Como Membanggakan, AS Roma Malu-Malu, 2 Lainnya Begitu

Liga Champions matchday pertama sudah digelar. Bagi wakil Serie A, kompetisi tertinggi Eropa berjalan menyulitkan. Terbukti, Como saja yang meraih kemenangan.

Como, si anak baru Liga Champions justru menunjukkan kelas dan kualitas. Mereka seakan mengajarkan abang-abangan seperti Inter Milan, AS Roma, dan Napoli caranya menang di laga pembuka.

Menjamu RB Leipzig di stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil percaya diri. Pengalaman pertama sepanjang sejarah baik untuk pemain dan penggemar tidak membuat ciut nyali.

Memang, para pemain sedikit demam panggung di awal. Namun, sejak gol pertama Martin Baturina lahir, semua berjalan lancar.

Atau dalam bahasa sesepuh kami, Como bermain dengan nyaman,  menang dengan nyaman. RB Leipzig yang lebih berpengalaman di Liga Champions dibuat kalang-kabut.

Mereka hanya menyerang di awal dan pertengahan babak pertama. Tapi lini belakang tuan rumah masih kokoh, pun Jean Butez yang tampil bagus di bawah mistar.

Setelah Baturina, Anastasios Douvikas turut mencatatkan nama dalam buku sejarah sebagai pemain kedua I Lariani yang cetak gol di Eropa. Dua gol di babak pertama dilengkapi dengan dua gol lain di babak kedua.

Cesc Fabregas menggilir pemainnya untuk mencetak gol. Kali ini giliran Assane Diao dan Maximo Perrone menyempurnakan pesta setelah di awal babak kedua Andrija Maksimovic memperkecil angka.

Inter Milan dan Napoli Tak Berdaya di Liga Champions

Pada hari pertama, Inter Milan mengawali perjalanan tim Serie A di Liga Champions. Lawannya tidak main-main, Real Madrid si raja Eropa.

Christian Chivu yang masih bau kencur menerapkan penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki, pergerakan bola cepat dengan pergerakan pemain yang dinamis memang memanjakan mata. Seolah-olah gol hanya perkara waktu.

Yang jadi masalah, Real Madrid punya Jose Mourinho, sang master mind dengan dua gelar Liga Champions dan permainan logika seperti Rocky Gerung. Model permainan yang tampak sempurna Inter itu yang justru jadi santapan empuk Mou.

“Semakin sering memegang bola, semakin besar peluang membuat kesalahan,” filosofi ini masih dipertahankan Mourinho sampai sekarang. Terbukti, ketika Inter tengah asyik menguasai bola, Real Madrid tiba-tiba mencetak gol.

Kesalahan Curtis Jones yang dilengkapi Yann Bisseck langsung dihukum Kylian Mbappe menjadi gol. Hal serupa kembali terjadi pada gol kedua.

Kini giliran kiper Josep Martinez. Penampilan luar biasanya sepanjang 90 menit tak mampu menutup dosa yang dibuat menit ke-23.

Maksud hati menggocek Federico Valverde, Martinez justru tergocek masa lalu Ionut Radu. Bola berhasil direbut Valverde yang tanpa daya upaya menggandakan keunggulan tuan rumah.

Sebenarnya Inter Milan tidak fakir peluang. Hanya saja tembok kokoh Real Madrid sebesar Thibaut Courtois.

Free kick Hakan Calhanoglu ditahan, sontekan Lautaro Martinez ditepis, upaya Marcus Thuram digagalkan, hingga peluang bunuh diri Ibrahima Konate juga terhenti di tangan Courtois.

Meski pada akhirnya kiper kebanggaan Belgia dibuat tak berkutik oleh Carlos Augusto. Yang lucunya, tak lama setelah itu Augusto ditarik keluar.

Dari Selatan Italia, Napoli dipaksa bertahan oleh Arsenal. Tak berniat mengembangkan permainan, Massimiliano Allegri yang baru menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Menyerang ala Allegri” akhirnya harus melihat timnya kebobolan saat laga tersisa 15 menit.

Martin Odegaard memecah kebuntuan. Gol yang sudah cukup membuat finalis musim lalu mencuri tiga poin dari Napoli.

Liga Champions: AS Roma Tertahan di Comebacknya

Dari Turki, cerita sedikit berbeda di alami AS Roma. Tim ibu kota Italia tertahan di ibu kota Turki usai melakoni perlawanan alot dari Fenerbahce dan fansnya.

Comeback setelah lama menepi dari Liga Champions membuat Roma masih malu-malu kucing. Para pemain seperti sungkan untuk langsung tancap gas.

sumber foto: asroma.com

Apalagi Turki bukan tanah yang nyaman untuk tetamu. Bayangkan saja, setiap Brian Cristante dan kolega menguasai bola, siulan fan berdengung kencang di seisi Sukru Saracoglu.

Demi mengurangi perasaan tak enak itu, GOD nya lini tengah Roma, pemain yang akan mengawali kebangkitan Italia era Roberto Mancini, metronom dalam arti sesungguhnya, Brian Cristante, muncul dari sudut tak terduga.

Tendangan terukurnya menusuk sudut kanan gawang Fenerbahce kawalan Ederson. Cara Cristante mencetak gol efeknya tidak main-main untuk kehidupan, bikin frekuensi bumi jadi kacau.

Bagi tim, gol ini melahirkan ketenangan dalam permainan. Tapi sepertinya mereka masih pikir-pikir untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan segala kerendahan hati para pemain mencoba menjadi tamu yang baik sebagaimana ajaran nabi, sembari menguji mentalitas Mile Sivlar di bawah mistar.

Dasarnya orang baik tidak selalu mendapat perlakuan baik, itulah yang dialami Roma. Di awal babak kedua mereka kebobolan oleh mantan calon pemain AC Milan, Archie Brown.

Sebagaimana Paolo Maldini yang tertipu dengan pergerakan Brown di bursa transfer, Gianluca Mancini pun terkecoh di lapangan. Archie Brown mampu melepaskan diri sebelum dengan ketenangan tinggi menceploskan bola ke gawang.

Skor 1-1 membuat laga Fenerbahce vs AS Roma kembali hidup. Disaat bersamaan, tekanan fans tuan rumah terhadap tim tamu semakin menjadi.

Beruntung jantung pertahanan masih sangat kokoh. Terutama Svilar yang berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas mantan bomber Lazio, Vedat Muriqi.

Adapun AC Milan dan Juventus belum bertanding.

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Chivu Curi 3 poin di Bernabeu?

Dini hari nanti pukul 02.00 WIB akan ada big match Liga Champions yang mempertemukan Real Madrid vs Inter Milan di Santiago Bernabéu. Pada laga perdana musim ini akan tersaji duel menarik, pasalnya pertemuan ini bukan hanya sekedar gengsi tapi nostalgia guru dan murid.

Jose Mourinho yang kembali ke Real Madrid akan bertarung dengan mantan anak asuhnya, Cristian Chivu, yang kini menukangi Inter Milan. Keduanya pernah bekerjasama di I Nerazzurri pada periode 2008/2010 silam.

Pertemuan Real Madrid vs Inter Milan ini menjadi spesial mengingat keduanya meraih treble winner  kala berjumpa Bayern Munich di Santiago Bernabeu 2010 silam.

Head to Head Real Madrid vs Inter Milan

Terakhir kali Real Madrid vs Inter Milan bertemu terjadi pada tahun 2021 di fase grup D. Saat itu El Real asuhan Carlo Ancelotti sukses menghantam lawannya yang masih diasuh Simone Inzaghi dengan skor 2-0.

Dua gol dicetak oleh Toni Kroos dan Marco Asensio. Pengalaman kurang baik itu jelas menjadi motivasi lebih bagi Nerazzurri juga sang pelatih Chivu untuk mengalahkan guru dan Madrid itu sendiri.

sumber foto: fotmob

Dalam lima pertemuan terakhir Inter tak sekali pun merasakan kemenangan. El Real berhasil mengunci 5 kemenangan serta empat clean sheet. Namun, kini kedua klub datang dengan situasi yang berbeda.

Los Blancos harus berdiri tegak karena hasil di LaLiga mengecewakan. Anak asuh Jose Mourinho harus tunduk dari Real Betis lewat skor tipis 1-0. Pelajaran besar bagi Mou dan kini mereka harus mempersiapkan diri jumpa I Nerazzurri.

Meski begitu secara keseluruhan tiga laga dilewati Madrid masih terbilang wajar. Los Blancos perlu waktu untuk menyatukan semua pemain menjadi satu core tim. Terlebih mereka belanja pemain dengan jumlah yang banyak.

Sepertinya melihat kondisi klub Mou lebih memilih untuk menyatukan chemistry terlebih dahulu sebelum masuk ke aspek teknis. Kekacauan pada musim lalu sangat berdampak pada mood pemain, hal itulah yang tengah dibenahi.

“Bagaimana kondisi para pemain setelah pertandingan melawan Betis? Mereka kelelahan setelah pertandingan, tetapi sudah cukup pulih dalam latihan hari Minggu, dan hari ini kondisinya sudah normal,” kata Jose Mourinho.

“Setelah menganalisis performa, kami semakin yakin akan bermain  baik, bermain sebagai sebuah tim, dan yang dilewati saat ini hanyalah sebuah anomali. Kami berada dalam kondisi yang bagus,” ia menambahkan.

Sumber foto: Managing Madrid

Tak lupa ia juga menanggapi kisah masa lalu dengan Cristian Chivu. “Apakah saya sangat antusias menghadapi Inter? Saat ini, bagi saya ini bukan pertandingan yang spesial. Setelah pertandingan, baru akan terasa spesial,” sambungnya lagi.

“Tapi selama pertandingan, tidak. Saya rasa tidak ada yang akan membicarakan siapa yang berada di bangku cadangan Madrid saat pertandingan berlangsung,” lanjut nakhoda asal Portugal.

Ia menegaskan tidak ada waktu memikirkan nostalgia saat Real Madrid vs Inter Milan berjalan. Walau pada dasarnya sulit bagi dia melupakan atau mengesampingkan sukses tersebut.

“Selama pertandingan, saya tidak akan memikirkannya. Chivu akan selalu menjadi bagian dari orang-orang saya. Saya sangat bahagia untuknya dan atas apa yang sedang dia capai. Saya akan menyapanya sebelum dan sesudah pertandingan.” tutup Mou.

Perkiraan starting line up Real Madrid vs Inter Milan

Bergeser ke modal tim tamu jelang Real Madrid vs Inter Milan, Chivu tahu betul siapa lawan yang dihadapi nanti. Pemegang 15 gelar Liga Champions tak pernah bisa dianggap remeh walau hasil minor sedang mereka rasakan.

Nerazzurri datang bermodalkan tiga laga Serie A secara perkasa. Menyapu sembilan poin penuh dalam tiga laga awal dengan 8 gol bersarang di gawang lawan.

Satu diantaranya diraih dengan hasil clean sheet ketika bertemu Cagliari. Bahkan dalam situasi saat ini Inter bisa saja diunggulkan, pasalnya hasil akhir pekan berhasil menunjukan mentalitas besar ketika bertemu Napoli.

Meski sempat tertinggal 0-2 dari I Partenopei, Nerazzurri berhasil bangkit lewat dua gol Lautaro Martinez dan Marcus Thuram. Ini menjadi poin penting secara moral guna menjaga asa untuk bersaing dan meraih hasil maksimal di Santiago Bernabeu.

Mengutip laporan dari Sky Sport, Real Madrid vs Inter Milan akan menurunkan pemain terbaik mereka sejak menit pertama. Menariknya pada line up ini Madrid akan menempatkan Trent Alexander Arnold ditengah menemani Federico Valverde.

Sumber foto: Yahoosport

Di Sisi kanan Madrid sendiri ada nama familiar bagi Nerazzurri yakni Denzel Dumfries yang akan bertemu dengan mantan rekan setim. Hal ini bisa menjadi plus minus bagi kedua tim, karena opsi dan antisipasi permainan bisa saja tak terhindarkan.

Sementara itu Inter Milan juga akan menurunkan pemain terbaik mereka, hanya saja satu pelengkap mereka akan absen akibat cedera yakni Federico Dimarco. Posisi kiri yang menjadi vital dan ditinggal oleh Dimarco akan diisi oleh Carlos Augusto.

Sempat turun dari bench, kini Chivu akan langsung menurunkan Hakan Calhanoglu bersama Nicolo Barella serta Curtis Jones. Gelandang Inggris itu tampil cukup solid ketika melawan Napoli.

Lini depan jelas menjadi milik Lautaro Martinez dan Marcus Thuram akan berduet sebagai kreator gol bagi Il Nerazzurri. Jadi apakah match ini akan menjadi duel sengit antara kedua klub? Atau hanya menjadi pertandingan berat sebelah karena melihat kualitas pemain antara kedua tim?.

 

Aspirasi Tifosi by Mr Sam

Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan: Duel Pelatih Muda dan Tua

Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.

Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.

Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.

Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.

Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.

Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.

Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.

Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.

Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.

Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei  tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.

Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan

Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.

Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.

Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.

Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.

Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol.  Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.

Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.

Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.

Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.

Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.

Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.

Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.

 

 

Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

,

Inter Milan Ukir Sejarah di Bursa Transfer

Inter Milan tancap gas untuk memperkuat tim jelang musim 2026-2027 bergulir. Mereka cukup aktif di bursa transfer lewat pergerakan-pergerakan tepat sasaran.

Cepatnya langkah yang diambil tak lepas dari beberapa pemain yang pergi. Ya, Inter Milan ditinggal salah satu bintangnya, Denzel Dumfries, yang tak kuasa menahan godaan bernama Real Madrid.

Dumfries bukan satu-satunya bek yang angkat kaki. Dua veteran kenyang asam garam, sama-sama datang dari Lazio, Stefan de Vrij dan Francesco Acerbi juga keluar. Kontrak habis yang dibarengi usia mendekati kepala empat membuat kerja sama tak mungkin diperbaharui.

Palang pintu terakhir I Nerazzurri tak mau ketinggalan. Yann Sommer yang dianggap mulai melambat refleksnya  dilepas. Mereka pergi secara permanen, kecuali Davide Frattesi yang dipinjam ke Lazio dengan opsi tebus di akhir musim.

Hampir semua bangku kosong yang ditinggal sudah terisi. Inter meneruskan romantisme dengan Lazio di jendela transfer lewat suksesor Yann Sommer bernama Ivan Provedel. Sebuah langkah yang dianggap banyak pihak jitu mengingat Provedel membuktikan konsistensinya (di luar cedera yang beberapa kali diderita).

Inter Milan Boyong 3 Pemain Inggris

Yang menarik adalah pengganti Dumfries, Acerbi, dan Frattesi. Untuk tiga pengganti, radar sang juara bertahan tertuju pada satu negara. Baik Djed Spence, John Stones, maupun Curtis Jones sama-sama dari Inggris.

Demi menggaet Spence, klub hanya nge-spend dana tak kurang dari 30 juta euro. Angka yang murah untuk pemain Inggris, apalagi berlabel timnas dan tampil gemilang di Piala Dunia 2026. Mungkin jika yang membeli Spence masih klub Premier League, Tottenham Hotspur akan membanderolnya sekitar 60 juta euro.

Sang bek kanan juga tak perlu waktu lama untuk beradaptasi di Italia. Ia pernah merasakan ringkihnya Serie A ketika dipinjamkan ke Genoa dua tahun lalu dan mencicipi 16 laga.

Sempat kesulitan mencari pengganti Maicon, scouting Inter Milan kini jitu mencari calon bek kanan hebat. Denzel Dumfries memberi gaya baru dalam sesi bertahan dan menyerang tim sepeninggal Achraf Hakimi yang eksplosif. Dengan kualitas dan atribut permainan yang hampir sama, Djed Spence punya peluang untuk mengulang sukses itu.

Lalu ada John Stones, bek tangguh yang sudah menang segalanya bersama Manchester City. Termasuk trofi Liga Champions saat mengalahkan Inter di Istanbul.

Masalahnya, manajemen sepertinya hanya punya proyek jangka pendek untuk bek tengah. Bagaimana tidak, mereka mengganti Acerbi yang sudah uzur dengan Stones yang kepala tiga.

Usianya sudah 32 tahun, tempat utamanya di Manchester City juga mulai tergusur musim lalu. Walau begitu, banyak yang percaya Stones tetap bisa memberi dampak untuk klub.

Inter Milan Berjodoh dengan Jebolan Premier League

Di pramusim dirinya sudah menyumbang satu gol, apalagi beberapa transfer terakhir La Beneamata dari Premier League selalu berakhir manis. Seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Manuel Akanji, hingga Christian Eriksen.

Faktor itu mungkin membuat manajemen menutup mata soal menit bermain John Stones musim lalu. Sejarah sudah mencatat dan bek 32 tahun sudah teruji secara kualitas dan pengalaman.

Paling anyar muncul nama Curtis Jones. Isu gelandang Liverpool menguat pertama kali sejak dirinya dan Alessandro Bastoni saling follow di Instagram beberapa hari lalu. Tak lama setelah itu, Fabrizio Romano dengan mantranya mengucap “Here We Go”.

Sekarang Jones sudah resmi berbaju I Nerazzurri dengan mahar 30 juta euro. Sukses menggaet Jones cukup mengejutkan sebab latar belakang sang gelandang yang akamsi Liverpool.

Darah The Reds sudah mengalir deras dalam tubuhnya sejak lahir. Kendati tidak selalu jadi pilihan utama dan cenderung mendapat cemooh dari fan Liverpool di tanah air, tidak ada tanda-tanda kuat dia akan pergi.

Hingga akhirnya Inter Milan yang butuh pengganti Frattesi dan meminimalisir kerja Henrikh Mkhitaryan yang akan berusia 150 tahun perlu mengambil langkah bijak. Datangkan Curtis Jones sekarang. Atau tidak selamanya.

Apa pun itu, bagaimana pun kiprah Djed Spence, John Stones, dan Curtis Jones musim ini, tetap saja kehadiran mereka menjadi sejarah baru. Karena untuk pertama kalinya di era modern ada klub Serie A yang menggaet tiga pemain Inggris sekaligus dalam satu jendela transfer.

Sebelumnya paling banyak dua pemain Inggris yang datang dalam satu jendela transfer. Itu pun terjadi era 80-an silam ketika AC Milan meminang Mark Hateley dan Ray Wilkins 1984 silam.