Liga Champions: Como Membanggakan, AS Roma Malu-Malu, 2 Lainnya Begitu

Liga Champions matchday pertama sudah digelar. Bagi wakil Serie A, kompetisi tertinggi Eropa berjalan menyulitkan. Terbukti, Como saja yang meraih kemenangan.

Como, si anak baru Liga Champions justru menunjukkan kelas dan kualitas. Mereka seakan mengajarkan abang-abangan seperti Inter Milan, AS Roma, dan Napoli caranya menang di laga pembuka.

Menjamu RB Leipzig di stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil percaya diri. Pengalaman pertama sepanjang sejarah baik untuk pemain dan penggemar tidak membuat ciut nyali.

Memang, para pemain sedikit demam panggung di awal. Namun, sejak gol pertama Martin Baturina lahir, semua berjalan lancar.

Atau dalam bahasa sesepuh kami, Como bermain dengan nyaman,  menang dengan nyaman. RB Leipzig yang lebih berpengalaman di Liga Champions dibuat kalang-kabut.

Mereka hanya menyerang di awal dan pertengahan babak pertama. Tapi lini belakang tuan rumah masih kokoh, pun Jean Butez yang tampil bagus di bawah mistar.

Setelah Baturina, Anastasios Douvikas turut mencatatkan nama dalam buku sejarah sebagai pemain kedua I Lariani yang cetak gol di Eropa. Dua gol di babak pertama dilengkapi dengan dua gol lain di babak kedua.

Cesc Fabregas menggilir pemainnya untuk mencetak gol. Kali ini giliran Assane Diao dan Maximo Perrone menyempurnakan pesta setelah di awal babak kedua Andrija Maksimovic memperkecil angka.

Inter Milan dan Napoli Tak Berdaya di Liga Champions

Pada hari pertama, Inter Milan mengawali perjalanan tim Serie A di Liga Champions. Lawannya tidak main-main, Real Madrid si raja Eropa.

Christian Chivu yang masih bau kencur menerapkan penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki, pergerakan bola cepat dengan pergerakan pemain yang dinamis memang memanjakan mata. Seolah-olah gol hanya perkara waktu.

Yang jadi masalah, Real Madrid punya Jose Mourinho, sang master mind dengan dua gelar Liga Champions dan permainan logika seperti Rocky Gerung. Model permainan yang tampak sempurna Inter itu yang justru jadi santapan empuk Mou.

“Semakin sering memegang bola, semakin besar peluang membuat kesalahan,” filosofi ini masih dipertahankan Mourinho sampai sekarang. Terbukti, ketika Inter tengah asyik menguasai bola, Real Madrid tiba-tiba mencetak gol.

Kesalahan Curtis Jones yang dilengkapi Yann Bisseck langsung dihukum Kylian Mbappe menjadi gol. Hal serupa kembali terjadi pada gol kedua.

Kini giliran kiper Josep Martinez. Penampilan luar biasanya sepanjang 90 menit tak mampu menutup dosa yang dibuat menit ke-23.

Maksud hati menggocek Federico Valverde, Martinez justru tergocek masa lalu Ionut Radu. Bola berhasil direbut Valverde yang tanpa daya upaya menggandakan keunggulan tuan rumah.

Sebenarnya Inter Milan tidak fakir peluang. Hanya saja tembok kokoh Real Madrid sebesar Thibaut Courtois.

Free kick Hakan Calhanoglu ditahan, sontekan Lautaro Martinez ditepis, upaya Marcus Thuram digagalkan, hingga peluang bunuh diri Ibrahima Konate juga terhenti di tangan Courtois.

Meski pada akhirnya kiper kebanggaan Belgia dibuat tak berkutik oleh Carlos Augusto. Yang lucunya, tak lama setelah itu Augusto ditarik keluar.

Dari Selatan Italia, Napoli dipaksa bertahan oleh Arsenal. Tak berniat mengembangkan permainan, Massimiliano Allegri yang baru menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Menyerang ala Allegri” akhirnya harus melihat timnya kebobolan saat laga tersisa 15 menit.

Martin Odegaard memecah kebuntuan. Gol yang sudah cukup membuat finalis musim lalu mencuri tiga poin dari Napoli.

Liga Champions: AS Roma Tertahan di Comebacknya

Dari Turki, cerita sedikit berbeda di alami AS Roma. Tim ibu kota Italia tertahan di ibu kota Turki usai melakoni perlawanan alot dari Fenerbahce dan fansnya.

Comeback setelah lama menepi dari Liga Champions membuat Roma masih malu-malu kucing. Para pemain seperti sungkan untuk langsung tancap gas.

Liga Champions: AS Roma Malu-Malu
sumber foto: asroma.com

Apalagi Turki bukan tanah yang nyaman untuk tetamu. Bayangkan saja, setiap Brian Cristante dan kolega menguasai bola, siulan fan berdengung kencang di seisi Sukru Saracoglu.

Demi mengurangi perasaan tak enak itu, GOD nya lini tengah Roma, pemain yang akan mengawali kebangkitan Italia era Roberto Mancini, metronom dalam arti sesungguhnya, Brian Cristante, muncul dari sudut tak terduga.

Tendangan terukurnya menusuk sudut kanan gawang Fenerbahce kawalan Ederson. Cara Cristante mencetak gol efeknya tidak main-main untuk kehidupan, bikin frekuensi bumi jadi kacau.

Bagi tim, gol ini melahirkan ketenangan dalam permainan. Tapi sepertinya mereka masih pikir-pikir untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan segala kerendahan hati para pemain mencoba menjadi tamu yang baik sebagaimana ajaran nabi, sembari menguji mentalitas Mile Sivlar di bawah mistar.

Dasarnya orang baik tidak selalu mendapat perlakuan baik, itulah yang dialami Roma. Di awal babak kedua mereka kebobolan oleh mantan calon pemain AC Milan, Archie Brown.

Sebagaimana Paolo Maldini yang tertipu dengan pergerakan Brown di bursa transfer, Gianluca Mancini pun terkecoh di lapangan. Archie Brown mampu melepaskan diri sebelum dengan ketenangan tinggi menceploskan bola ke gawang.

Skor 1-1 membuat laga Fenerbahce vs AS Roma kembali hidup. Disaat bersamaan, tekanan fans tuan rumah terhadap tim tamu semakin menjadi.

Beruntung jantung pertahanan masih sangat kokoh. Terutama Svilar yang berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas mantan bomber Lazio, Vedat Muriqi.

Adapun AC Milan dan Juventus belum bertanding.

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Chivu Curi 3 poin di Bernabeu?

Dini hari nanti pukul 02.00 WIB akan ada big match Liga Champions yang mempertemukan Real Madrid vs Inter Milan di Santiago Bernabéu. Pada laga perdana musim ini akan tersaji duel menarik, pasalnya pertemuan ini bukan hanya sekedar gengsi tapi nostalgia guru dan murid.

Jose Mourinho yang kembali ke Real Madrid akan bertarung dengan mantan anak asuhnya, Cristian Chivu, yang kini menukangi Inter Milan. Keduanya pernah bekerjasama di I Nerazzurri pada periode 2008/2010 silam.

Pertemuan Real Madrid vs Inter Milan ini menjadi spesial mengingat keduanya meraih treble winner  kala berjumpa Bayern Munich di Santiago Bernabeu 2010 silam.

Head to Head Real Madrid vs Inter Milan

Terakhir kali Real Madrid vs Inter Milan bertemu terjadi pada tahun 2021 di fase grup D. Saat itu El Real asuhan Carlo Ancelotti sukses menghantam lawannya yang masih diasuh Simone Inzaghi dengan skor 2-0.

Dua gol dicetak oleh Toni Kroos dan Marco Asensio. Pengalaman kurang baik itu jelas menjadi motivasi lebih bagi Nerazzurri juga sang pelatih Chivu untuk mengalahkan guru dan Madrid itu sendiri.

sumber foto: fotmob

Dalam lima pertemuan terakhir Inter tak sekali pun merasakan kemenangan. El Real berhasil mengunci 5 kemenangan serta empat clean sheet. Namun, kini kedua klub datang dengan situasi yang berbeda.

Los Blancos harus berdiri tegak karena hasil di LaLiga mengecewakan. Anak asuh Jose Mourinho harus tunduk dari Real Betis lewat skor tipis 1-0. Pelajaran besar bagi Mou dan kini mereka harus mempersiapkan diri jumpa I Nerazzurri.

Meski begitu secara keseluruhan tiga laga dilewati Madrid masih terbilang wajar. Los Blancos perlu waktu untuk menyatukan semua pemain menjadi satu core tim. Terlebih mereka belanja pemain dengan jumlah yang banyak.

Sepertinya melihat kondisi klub Mou lebih memilih untuk menyatukan chemistry terlebih dahulu sebelum masuk ke aspek teknis. Kekacauan pada musim lalu sangat berdampak pada mood pemain, hal itulah yang tengah dibenahi.

“Bagaimana kondisi para pemain setelah pertandingan melawan Betis? Mereka kelelahan setelah pertandingan, tetapi sudah cukup pulih dalam latihan hari Minggu, dan hari ini kondisinya sudah normal,” kata Jose Mourinho.

“Setelah menganalisis performa, kami semakin yakin akan bermain  baik, bermain sebagai sebuah tim, dan yang dilewati saat ini hanyalah sebuah anomali. Kami berada dalam kondisi yang bagus,” ia menambahkan.

Sumber foto: Managing Madrid

Tak lupa ia juga menanggapi kisah masa lalu dengan Cristian Chivu. “Apakah saya sangat antusias menghadapi Inter? Saat ini, bagi saya ini bukan pertandingan yang spesial. Setelah pertandingan, baru akan terasa spesial,” sambungnya lagi.

“Tapi selama pertandingan, tidak. Saya rasa tidak ada yang akan membicarakan siapa yang berada di bangku cadangan Madrid saat pertandingan berlangsung,” lanjut nakhoda asal Portugal.

Ia menegaskan tidak ada waktu memikirkan nostalgia saat Real Madrid vs Inter Milan berjalan. Walau pada dasarnya sulit bagi dia melupakan atau mengesampingkan sukses tersebut.

“Selama pertandingan, saya tidak akan memikirkannya. Chivu akan selalu menjadi bagian dari orang-orang saya. Saya sangat bahagia untuknya dan atas apa yang sedang dia capai. Saya akan menyapanya sebelum dan sesudah pertandingan.” tutup Mou.

Perkiraan starting line up Real Madrid vs Inter Milan

Bergeser ke modal tim tamu jelang Real Madrid vs Inter Milan, Chivu tahu betul siapa lawan yang dihadapi nanti. Pemegang 15 gelar Liga Champions tak pernah bisa dianggap remeh walau hasil minor sedang mereka rasakan.

Nerazzurri datang bermodalkan tiga laga Serie A secara perkasa. Menyapu sembilan poin penuh dalam tiga laga awal dengan 8 gol bersarang di gawang lawan.

Satu diantaranya diraih dengan hasil clean sheet ketika bertemu Cagliari. Bahkan dalam situasi saat ini Inter bisa saja diunggulkan, pasalnya hasil akhir pekan berhasil menunjukan mentalitas besar ketika bertemu Napoli.

Meski sempat tertinggal 0-2 dari I Partenopei, Nerazzurri berhasil bangkit lewat dua gol Lautaro Martinez dan Marcus Thuram. Ini menjadi poin penting secara moral guna menjaga asa untuk bersaing dan meraih hasil maksimal di Santiago Bernabeu.

Mengutip laporan dari Sky Sport, Real Madrid vs Inter Milan akan menurunkan pemain terbaik mereka sejak menit pertama. Menariknya pada line up ini Madrid akan menempatkan Trent Alexander Arnold ditengah menemani Federico Valverde.

Sumber foto: Yahoosport

Di Sisi kanan Madrid sendiri ada nama familiar bagi Nerazzurri yakni Denzel Dumfries yang akan bertemu dengan mantan rekan setim. Hal ini bisa menjadi plus minus bagi kedua tim, karena opsi dan antisipasi permainan bisa saja tak terhindarkan.

Sementara itu Inter Milan juga akan menurunkan pemain terbaik mereka, hanya saja satu pelengkap mereka akan absen akibat cedera yakni Federico Dimarco. Posisi kiri yang menjadi vital dan ditinggal oleh Dimarco akan diisi oleh Carlos Augusto.

Sempat turun dari bench, kini Chivu akan langsung menurunkan Hakan Calhanoglu bersama Nicolo Barella serta Curtis Jones. Gelandang Inggris itu tampil cukup solid ketika melawan Napoli.

Lini depan jelas menjadi milik Lautaro Martinez dan Marcus Thuram akan berduet sebagai kreator gol bagi Il Nerazzurri. Jadi apakah match ini akan menjadi duel sengit antara kedua klub? Atau hanya menjadi pertandingan berat sebelah karena melihat kualitas pemain antara kedua tim?.

 

Aspirasi Tifosi by Mr Sam

Alphadjo Cisse: Rising Star AC MIlan dengan Segala Kisahnya

Mencetak gol pertama di debut bisa jadi kebetulan. Tapi membobol jala Juventus adalah mentalitas. Itulah yang dimiliki Alphadjo Cisse, wonderkid AC Milan yang baru.

Nama Alphadjo Cisse masih asing terdengar. Maklum saja, ini perdana dia menembus tim utama.

Uniknya, kesuksesan Cisse menembus skuat AC Milan tak lepas dari unsur kesengajaan. Pelatih Ruben Amorim sedang bereksperimen untuk mempersiapkan tim menuju musim baru.

Semua pemain dicoba, beberapa dari primavera dipanggil. Rising star 19 tahun termasuk yang konsisten diberi kesempatan selama pramusim.

Banyak yang berpikir, mungkin Cisse juga berpikir, kesempatannya hanya selama pramusim. Namun, Amorim melihatnya lebih dalam lagi.

Dengan segala pertimbangan dan keterbatasan skuat, Amorim tetap menyertakan Cisse. Apa yang kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan.

Giornata satu Serie A musim 2026-2027, tandang ke Torino, Alphadjo Cisse langsung mengisi starting 11. Serentak semua orang bertanya-tanya “siapa anak ini? Bisa apa dia?”..

Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu wajar terjadi. Di Italia, memberi kepercayaan kepada pemain muda di laga pembuka adalah hal tak biasa. Butuh kualitas dan mentalitas pemain serta keberanian pelatih.

Alphadjo Cisse: Asal Guinea Lahir di Treviso

Berasal dari Guinea, ia lahir di Treviso, Italia. Tepatnya di San Liberale, sebuah tempat pinggiran kota yang dibangun pada tahun 1858 untuk menumbuhkan rasa reinkarnasi dan menawarkan perlindungan kepada mereka yang kehilangan rumah selama perang.

Ia tak sekadar lahir di sini. Dia juga hidup dan menjadi titik awal ceritanya di sepak bola dengan Polisportiva Indomita 21 sebagai klub pertama. Lalu pindah ke Castelfranco Veneto, klub yang sama tempat Yunus Musah bermain ketika kecil dulu.

Alphadjo Cisse kecil sudah menjadi daya tarik. Bayangkan saja, umur 11 tahun dia mampu mencetak gol langsung dari tendangan sudut.

sumber foto: gazzetta.it

Berawal dari momen itu, Cisse kecil jadi magnet dalam tim. Pemain dan pelatih butuh magisnya, butuh gol-gol yang bisa datang dari sudut mana pun.

“Dalam satu pertandingan, pelatih bilang padanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Kemudian dia bikin tiga gol secara akrobatik,” kenang Marco Pinzi, presiden Indomita 21.

Menjadi mutiara sedari kecil seperti sudah takdir untuk pemain bernomor 70. Ia bukan sekadar bermain, bukan hanya ingin menjadi hebat di masa depan.

Lebih dari itu, Cisse ingin mengubah hidupnya dan keluarga, membalas jasa kedua orang tua. Ceritanya di Italia berawal dari keputusan orang tuanya meninggalkan Guinea.

Saloussy Cisse, sang ayah, melihat kehidupan di Guinea tidak baik. Tidak bisa baginya mempertaruhkan masa depan keluarga jika tetap bertahan di tanah kelahiran.

Keputusan berani diambil. Ia pindah ke Italia, dari satu kota ke kota lainnya sebelum menetap di Treviso hingga hari ini. Untuk menghidupi keluarga, Saloussy bekerja sebagai buruh pabrik dari jam 4 pagi sampai 5 sore.

Saloussy tak langsung pulang setelah jam 5. Ada kewajiban lain yang harus ditunaikan, yaitu mengantar Alphadjo Cisse main bola. Sementara sang ibu, Habibatou, bekerja sebagai pelayan hotel.

“Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia. Mencoba berbagai kota sebelum menetap di Treviso, tempat saya lahir,” ucap Cisse kepada Gazzetta dello Sport.

“Saya biasa pergi kelapangan bersama ayah naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri,” sambungnya.

Debut Alphajdo Cisse tanpa Kehadiran Orang Tua

Alphadjo Cisse kemudian menemukan klub lebih mapan. Ia menembus tim primavera Verona 2020 lalu. Sempat dipinjamkan ke Catanzaro, ia kembali ke Marc Antonio Bentegodi sebelum menjadi milik AC Milan seutuhnya Februari 2026.

Karier yang baru dia jalani berasal dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Gol ke gawang Torino adalah hasil dari keringat dan doa-doa orang tersayang, meski momen sakral itu tak pernah masuk dalam mimpinya.

“Saya mungkin tak pernah membayangkan bisa debut untuk Milan dan mencetak gol, bahkan dalam mimpi sekali pun,” ujar sang rising star waktu itu.

Sudah menancapkan tinta emas di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cisse dan keluarga tetap sosok bersahaja. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba berubah, tidak ada keistimewaan, bahkan pada hari spesial itu tidak ada saksi mata atas sejarah yang dia buat.

Faktor jarak, kewajiban terhadap perusahaan memaksa ayah, ibu, beserta kakak dan adik Cisse tak bisa hadir di stadion Olimpico Torino. Sebagai informasi, Treviso-Turin berjarak 420 km, menempuh waktu kurang lebih lima jam perjalanan.

adapun laga Torino vs AC Milan berlangsung malam hari. Dengan kata lain, mustahil bagi Saloussy dan Habibatou datang langsung karena harus bekerja pukul 4 pagi.

Kendati begitu, Cisse tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur dan penuh bangga menunjukkan gol itu kepada keluarga.

Lagi pula ini baru awal, awal dari perjalanan panjang. Awal dari mimpi besar mengubah kehidupan keluarga dan membalas jasa orang tua.

“Saya ingin membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya harap secepat mungkin punya kemampuan untuk membuat ayah dan ibu berhenti bekerja,” tutur Alphadjo Cisse.

Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan: Duel Pelatih Muda dan Tua

Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.

Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.

Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.

Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.

Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.

Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.

Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.

Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.

Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.

Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei  tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.

Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan

Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.

Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.

Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.

Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.

Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol.  Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.

Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.

Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.

Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.

Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.

Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.

Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.

 

 

Bisa Apa Aston Villa dan Crystal Palace Setelah Digembosi?

Bagaimana nasib Aston Villa dan Crystal Palace di Premier League musim ini? Terutama setelah kedua klub kehilangan banyak pemain vital.

Apa yang dialami Aston Villa bisa dibilang nahas. Sukses juara Liga Europa harusnya menjadi gerbang daya tarik pemain-pemain bintang datang. Atau setidaknya jaminan pemain pentingnya tidak hengkang.

Kenyataannya malah terbalik. The Villans kehilangan banyak sosok penting. Dua motor serangan, Morgan Rogers dan Ollie Watkins pergi. Satu ke Chelsea satu lagi menyeberang ke Arab Saudi.

Belum lagi nama-nama lain seperti Ezri Konsa, Youri Tielemans, Lucas Digne, hingga kiper andalan, Emi Martinez. Mereka-mereka yang pergi memang sudah ada pengganti.

Namun, tetap saja bukan perkara mudah membuat tim tetap stabil ketika kehilangan pemain sebanyak itu. Dengan kata lain Aston Villa melakukan perjudian besar.

Setali tiga uang dengan Villa, Crystal Palace pun bernasib sama. Duo pelari di sisi kanan dan kiri permainan, Maxence Lacroix dan Daniel Munoz membelot ke Chelsea serta Nottingham Forest.

Pun dengan Brennan Johnson dan Borna Sosa. Lebih parah lagi, Palace tak cuma ditinggal pemain andalan. Pelatihnya, Oliver Glasner, lebih dulu pergi setelah melakoni dua tahun penuh sukses dengan torehan tiga piala.

Aston Villa dan Crystal Palace Awali Kompetisi dengan Buruk

Pemain-pemain tersebut tak hanya menghasilkan konsistensi untuk Aston Villa maupun Crystal Palace. Mereka juga melahirkan trofi.

Bersama nama-nama di atas The Villans dua kali menembus Liga Champions. Hingga puncaknya musim lalu ketika mengangkat trofi Liga Europa.

Palace bersama Munoz dan Lacroix di bawah tangan dingin Glasner sampai menjadi mimpi buruk Liverpool tiap musimnya. Sampai akhirnya mereka melenggang ke singgasana juara FA Cup, Community Shield, dan Conference League.

Jika ditarik sedikit ke belakang, baik Unai Emery maupun Oliver Glasner butuh kerja keras dan kontinuitas dalam melambungkan klub. Artinya, sukses Villa dan Palace bukan urusan membalikkan telapak tangan.

Emery dengan pengalamannya butuh waktu menjadikan Rogers dan Watkins berada di level berbeda. Glasner perlu kerja keras membuat Palace yang sekadar jadi pelengkap tim ibu kota sampai menjadi penantang serius, bahkan di level Eropa.

Dengan apa yang sudah dibangun dan sukses yang didapat, Unai Emery harus mereset ulang Aston Villa. Nama-nama baru yang datang belum menjamin apa-apa di awal.

Terbukti di dua laga pertama Premier League Villa terpuruk. Mereka selalu kalah tanpa sekali pun mencetak gol.

Yang terjadi di Crystal Palace lebih sulit. Pelatih baru, Pierre Sage, belum bisa menjanjikan apa pun. Ia bahkan masih meraba-raba mengingat ini pertama kali dirinya berkarier di Premier League.

Alhasil Palace menelan dua kekalahan di dua pertandingan. Kehilangan Munoz dan Lacroix juga menyisakan lubang besar di belakang dengan enam kebobolan sebagai buktinya.

Maka, menarik ditunggu apakah dongeng Aston Villa dan Crystal Palace akan berakhir musim ini. Atau secara perlahan mereka bisa bangkit seiring musim berjalan.

Napoli Menghilang dari Hiruk-Pikuk Jendela Transfer, Allegri Penyebabnya?

Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.

Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.

Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.

Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.

Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.

Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya.  Tapi musim ini tak ada pengeluaran.

Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.

Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri

Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.

Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.

I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.

Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.

Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.

Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.

Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.

Tapi  Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,

 

 

7 Pemain Baru Como, Jaminan Kejutkan Liga Champions?

Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.

Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.

Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.

Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.

Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.

Como Akhirnya Gaet Pemain Italia

Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.

Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.

Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.

Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.

Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.

Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.

Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.

Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.

Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.

Como Siap Meledak di Liga Champions

Berawal dari niat sederhana  untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.

Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.

Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.

Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.

Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.

Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.

Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.

Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

Juventus Masih Lapar, 2 Bintang Premier League Selangkah Lagi Datang

Juventus terus memperkuat tim untuk musim 2026-2027. Mereka selangkah lagi akan kedatangan dua bintang Premier League.

Kedua pemain tersebut memiliki posisi yang sama, striker. Mereka adalah Nick Woltemade dan Joshua Zirkzee.

Woltemade dan Zirkzee akan datang dengan skema berbeda. Bomber Newcastle United kemungkinan digaet dengan status pinjaman dan opsi pembelian di akhir musim.

Sementara penyerang Manchester United secara permanen. Sky Sport Italia melaporkan Juventus sudah menaikkan tawaran kepada MU menjadi 30 juta euro.

Angka ini diyakini akan membuat Setan Merah melunak. Apalagi Zirkzee sudah tidak masuk dalam skema Michael Carrick.

Kembali ke Serie A tentu menyenangkan untuk pemain asal Belanda. Sebab namanya mulai berkibar ketika berkiprah di Italia, terutama saat memperkuat Bologna.

Pengalaman ini pula yang membuat Zirkzee tidak berpikir dua kali ketika tawaran dari Juve datang. Ditambah lagi Si Nyonya Tua krisis striker karena masih belum punya pengganti Dusan Vlahovic yang hengkang ke Besiktas.

Juventus Awalnya Jadikan Woltemade Opsi Kedua

Terkait dua pemain yang disebutkan, Juventus awalnya hanya menginginkan Joshua Zirkzee. Namun, kemunculan Fiorentina sebagai pesaing membuat manajemen memikirkan opsi lain.

Situasi inilah yang memunculkan nama Nick Woltemade. Penyerang timnas Jerman disiapkan sebagai opsi kedua jika upaya menggaet Zirkzee gagal.

Akan tetapi, situasi terakhir memungkinkan klub menggaet keduanya. Penyebabnya adalah kepergian Jonathan David yang segera dipinjamkan ke Atletico Madrid.

Jika David pergi, Juventus hanya punya Randal Kolo Muani di depan. Kondisi ini tentu riskan untuk tim yang tengah berupaya bangkit musim ini.

Belum lagi kondisi terkini Kenan Yildiz yang masih cedera. Mau tidak mau pasukan Luciano Spalletti harus menambah pemain berkualitas di lini depan.

 

Akhir Prematur Rafael Leao di AC Milan

Rafael Leao dan AC Milan akhirnya berpisah. Setelah tarik ulur negosiasi, sang winger benar-benar memutuskan pergi musim ini.

Rafael Leao sudah sepakat ke Galatasaray. Transfer ini membuat raksasa Turki harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta euro. Angka tersebut belum termasuk bonus 2 juta euro yang harus dibayarkan pada akhir musim.

Kepindahan ini bisa dibilang menguntungkan semua pihak. AC Milan mendapat dana segar, apalagi dalam klausul tercantum mereka akan mendapatkan sekitar 20 persen dari hasil penjualan Leao di masa depan.

Bagi Galatasaray tentu ini menambah kekuatan lini serang. Mereka kian bertabur bintang karena sebelumnya sudah memiliki Victor Osimhen dan Leroy Sane. Pun untuk Leao, kepindahan ini membuat pundi-pundinya makin tebal.

Menurut laporan di Italia, ia mendapat gaji seebsar 12 juta euro permusim. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari yang didapatkan bersama Milan selama ini.

Leao pergi dari Milan sebenarnya tinggal menunggu waktu. Masa depannya sudah jadi tanda tanya sejak paruh kedua dua musim lalu.

Rafael Leao Korban Perubahan Sistem Bermain

Saat itu ia tidak nyaman dengan perubahan peran yang diminta Sergio Conceicao, pelatih kala itu. Eks Sporting Lisbon diminta untuk bermain lebih dalam dan turun ke bawah membantu pertahanan.

Pada akhir musim ia sudah mempertimbangkan hengkang. Terlebih muncul tawaran menggiurkan dari Chelsea.

Niat itu kemudian diurungkan seiring dipecatnya Conceicao dan masuknya Massimiliano Allegri selaku pengganti. Situasi sempat membaik, Leoa kembali jadi tumpuan di sisi kiri serangan.

Namun, situasi berubah lagi perlahan. Pemain Portugal beberapa kali dicadangkan, belum lagi muncul kritikan datang dari beberapa legenda, Roberto Donadoni salah satunya.

Donadoni menuntut Rafael Leao mengubah perangainya dan lebih adaptif dengan strategi pelatih. Kata Roberto Donadoni, itu satu-satunya cara agar Leao bertahan dan bangkit bersama Milan.

Apa daya, situasinya tidak sesimpel sebelumnya, Leao kadung putus asa dengan berbagai perubahan yang sangat cepat dalam tim. Sehingga keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama.

Rafael Leao Ucapkan Salam Perpisahan untuk AC Milan

“Saya mengucapkan selamat tinggal kepada rekan setim setelah tujuh tahun bersama. Klub selalu membantu, membuat mengerti apa artinya berada di level tertinggi,” ucap Rafael Leao kepada Sky Sport Italia.

“Saya memilih penghormatan yang berbeda, untuk mengucapkan selamat tinggal di lapangan sekali lagi di depan tifosi, mereka yang telah membantu saya, terutama di momen tidak baik,” ia menambahkan.

“Saya akan tercatat dalam sejarah klub, karena saya tahu apa yang sudah kami raih di sini. Milan akan selalu tersimpan dalam hati, yang bisa saya lakukan hanyalah berterima kasih,” imbuhnya.

Selama berseragam I Rossoneri, pemain 27 tahun bagian penting dari sukses klub merengkuh scudetto musim 2021-2022 dan Supercoppa Italia dua tahun kemudian. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri akhir cerita sang bintang terbilang prematur.

Performanya menurun, peran di lapangan berkurang, kepercayaan pelatih sempat menghilang, dan dapat kritik tajam dari legenda.

Rafael Leao juga tidak pindah ke klub raksasa Eropa seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Tapi setidaknya, winger murah senyum ini tidak nyasar sampai Saudi Arabia.