Ruben Amorim Makin ke Sini Makin Omon-Omon?

Setelah tak terkalahkan di Serie A, AC Milan harus merasakan hasil negatifnya di Europa League. Anak asuh Ruben Amorim dipermalukan Benfica 0-2  di San Siro.

Datang dengan lima kemenangan jadi bukti bahwa Benfica bukan lawan sepele. Ruben Amorim yang secara historis lebih mengenal mereka pun tak sanggup melawan determinasi klub asal Portugal tersebut.

Hasil tersebut memunculkan pertanyaan, apakah eks Sporting Lisbon tahu bagaimana harus memperlakukan Milan? Karena pada saat ini ia baru mendapatkan dua kemenangan dua imbang, dan satu kekalahan.

Bahkan dua hasil imbang itu terjadi pada laga besar. Walau kala melawan Juventus, upaya mengambil poin penuh harus sirna gara-gara gol injury time Federico Gatti.

Tidak lupa juga ketika kontra Lazio di Olimpico. Pada babak pertama AC Milan hanya bisa terdiam oleh dua gol dari Matteo Cancellieri dan Tijjani Noslin.

Meski pada akhirnya respon cepat ditunjukkan di babak kedua. Pergantian pemain jitu dilakukan, alhasil mereka menyamakan kedudukan melalui brace Diego Moreira.

Konsistensi serta kolektivitas ala Amorim mulai perlu dipertanyakan setelah tiga pertandingan terakhir. Apakah Milan asuhannya saat ini penantang serius di Serie A? Atau malah sekadar omon omon belaka?

Bukan tanpa sebab anggapan omon-omon muncul. Sang pelatih kerap membicarakan niatnya mengubah Milan menjadi tim yang lebih dominan terutama dalam fase menyerang.  Yang mana itu bukan gaya yang biasa diterapkan oleh pelatih Italia kebanyakan.

Kinerja Ruben Amorim akan Dievaluasi 

Bahkan menurut informasi yang diungkap oleh Jurnalis Italia, Nico Schira, bahwa hasil yang kurang memuaskan AC Milan berpotensi akan diadakannya pertemuan antara pelatih dan Gerry Cardinale sang pemilik klub.

“Diperkirakan akan ada panggilan telepon hari ini antara pemilik Gerry Cardinale dan pelatih Ruben Amorim untuk menganalisis dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah AC Milan serta mengatasi kesulitan-kesulitan yang terungkap dalam pertandingan-pertandingan terbaru”,” demikian laporan Nico Schira.

Ruben Amorim di AC Milan
sumber foto: acmilan/Instagram

Kabar  ini menjadi pertanyaan di lingkup Milanello. Karena Cardinale lah sosok paling dekat dan lantang akan mendukung penuh arah serta ide Milan kedepan di bawah arahan eks pelatih Manchester United tersebut.

Kebingungan saat ini kembali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Sergio Conceicao. Saat ditanya mengenai masa-masa ia menakhodai I Rossoneri serta tanggapan tentang Amorim.

“Saya berada di Milan selama enam bulan dan segalanya berjalan. Saya tidak akan mengatakan dengan baik, tetapi kami berhasil memenangkan Piala Super dan mencapai final Coppa Italia.” kenang Conceicao kepada DAZN beberapa waktu lalu.

“Amorim baru-baru ini menyebutkan bahwa Milan telah memenangkan dua gelar liga dalam 20 tahun dan itu benar. Salah satu dari dua trofi terbaru mereka adalah milik saya [merujuk pada Supercoppa Italiana].” ia menambahkan.

“Dan sudah dipastikan bahwa pelatih bukanlah masalahnya. Jelas, saya juga bertanggung jawab dan saya tidak ingin menghindar dari tanggung jawab saya, tetapi kita sekarang telah melihat Allegri dan seluruh tim manajemen jatuh.” tambahnya lagi.

Lalu dengan segelintir kritik dan tanda tanya di dalam klub, apakah Amorim masih bisa mengelola AC Milan sesuai dengan gaya dan kata-katanya? Atau hanya seperti kisah-kisah pelatih lama yang banyak bercerita ketimbang hasil nyata?

 

Aspirasi Tifosi by Mr Sam

banner 400x130

Juventus dan Problematikanya: Dulu Koleksi Striker Ganas, Kini…

Juventus telan kekalahan pertama musim ini. Tandang ke markas Sassuolo mereka harus tunduk secara dramatis dengan skor 2-3.

Di luar itu, satu hal positif yang bisa dilihat dari Juventus musim ini adalah keberhasilan selalu mencetak gol. Termasuk dinihari kemarin saat dua kali membobol jala Sassuolo di babak kedua lewat kaki Edon Zhegova.

Sayangnya, di balik produktivitas musim ini, tak satu pun berasal dari striker. Laga pembuka melawan Frosinone gol Juve malah berkat bek andalannya, Gleison Bremer.

Pun saat ditahan AC Milan di stadion Allianz. Tuan rumah butuh Federico Gatti untuk menyelamatkan diri dari kekalahan. Sedangkan kemenangan 2-0 atas Parma dipersembahkan dua gelandangnya, Nico Gonzalez dan Teun Koopmeiners.

Fakta ini tentu ironis. Ketika dua bek sudah mencatatkan nama di papan skor, para bomber masih belum mampu berbuat apa-apa.

Padahal Si Nyonya Tua sudah menggaet dua striker baru. Nick Woltemade dari Newcastle United dan Randal Kolo Muani si anak  hilang. Belum lagi sosok ghaib, Arkadiusz Milik, yang namanya baru masuk line up tiap pramusim datang atau ketika kompetisi tersisa satu pertandingan.

Dari ketiga nama yang ada, Randal Kolo Muani paling memalukan. Didatangkan kembali setelah musim lalu dipinjamkan ke Tottenham, catatannya 0 besar. Bagaimana tidak, sebelum kekalahan dari Sassuolo, ia pemilik 0 gol, 0 assist, bahkan 0 peluang.

Kekalahan pertama musim ini juga berawal dari kesalahannya. Maksud hati ingin melepas tendangan, bola di kaki Randal Kolo Muani direbut Nemanja Matic yang langsung mengumpan ke arah Armand Lauriente dan dituntaskan Vasille Adzic menjadi gol.

Juventus Dulu Sampai Punya Ronaldo

Selain itu, untuk klub sebesar Juventus, menggaet Woltemade juga patut dipertanyakan. Bagaimana bisa tim yang dituntut bangkit dari keterpurukan, dengan lini depan yang menjadi masalah utama, justru mendatangkan striker cadangan Newcastle United.

Dengan kata lain, bukan hanya produktivitas para striker yang dipertanyakan, melainkan soal kualitas. Musim lalu pun ceritanya sama ketika klub menggaet Lois Openda dan Jonathan David.

Alhasil sekarang baik Openda dan David dibuang ke Prancis dan Spanyol. Apa yang dialami Juve hari ini bisa dibilang sebagai titik mundur klub.

Sebab selama ini klub asal Turin dikenal tempatnya para bomber ganas beraksi. Tak perlu jauh-jauh ke era 90-an apalagi sebelumnya, sejak 2000-an saja mereka punya Filippo Inzaghi, David Trezeguet, Zlatan Ibrahimovic, Vincenzo Iaquinta, Carlos Tevez, Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain, dan tentu Cristiano Ronaldo.

Mereka-mereka ini bukan cuma menawarkan kualitas dan nama besar. Ada konsistensi yang diberikan, ada gol yang dijanjikan tiap pertandingan, ada trofi yang sudah siap digenggam.

Kini, insting itu hilang. Sebenarnya, harapan meneruskan tren sempat berlanjut pada tahun-tahun pertama kehadiran Dusan Vlahovic.

Masalahnya, situasi Vlahovic menjaga konsistensi juga sulit. Prestasi menurun membuat manajemen mulai kerap gonta-ganti pelatih. Cara ini mau tak mau membuat gaya bermain  berubah dan turut memengaruhi peran sang bomber.

Yang terjadi dua musim terakhir adalah bukti. Di mana Vlahovic lebih sering mengawali laga dari bangku cadangan dibanding mencetak gol.

Sekarang saat bomber Serbia hengkang dari Turin, seketika keganasan di depan gawang kembali. Empat gol sukses dibukukan dari tiga laga bareng Besiktas.

Kembalinya produktivitas Dusan Vlahovic menunjukkan satu hal. Jika dulu siapa pun striker yang datang bisa otomatis sukses di Juventus, kini sebaliknya.

 

Preview Real Madrid vs Inter Milan: Chivu Curi 3 poin di Bernabeu?

Dini hari nanti pukul 02.00 WIB akan ada big match Liga Champions yang mempertemukan Real Madrid vs Inter Milan di Santiago Bernabéu. Pada laga perdana musim ini akan tersaji duel menarik, pasalnya pertemuan ini bukan hanya sekedar gengsi tapi nostalgia guru dan murid.

Jose Mourinho yang kembali ke Real Madrid akan bertarung dengan mantan anak asuhnya, Cristian Chivu, yang kini menukangi Inter Milan. Keduanya pernah bekerjasama di I Nerazzurri pada periode 2008/2010 silam.

Pertemuan Real Madrid vs Inter Milan ini menjadi spesial mengingat keduanya meraih treble winner  kala berjumpa Bayern Munich di Santiago Bernabeu 2010 silam.

Head to Head Real Madrid vs Inter Milan

Terakhir kali Real Madrid vs Inter Milan bertemu terjadi pada tahun 2021 di fase grup D. Saat itu El Real asuhan Carlo Ancelotti sukses menghantam lawannya yang masih diasuh Simone Inzaghi dengan skor 2-0.

Dua gol dicetak oleh Toni Kroos dan Marco Asensio. Pengalaman kurang baik itu jelas menjadi motivasi lebih bagi Nerazzurri juga sang pelatih Chivu untuk mengalahkan guru dan Madrid itu sendiri.

preview Real Madrid vs Inter Milan
sumber foto: fotmob

Dalam lima pertemuan terakhir Inter tak sekali pun merasakan kemenangan. El Real berhasil mengunci 5 kemenangan serta empat clean sheet. Namun, kini kedua klub datang dengan situasi yang berbeda.

Los Blancos harus berdiri tegak karena hasil di LaLiga mengecewakan. Anak asuh Jose Mourinho harus tunduk dari Real Betis lewat skor tipis 1-0. Pelajaran besar bagi Mou dan kini mereka harus mempersiapkan diri jumpa I Nerazzurri.

Meski begitu secara keseluruhan tiga laga dilewati Madrid masih terbilang wajar. Los Blancos perlu waktu untuk menyatukan semua pemain menjadi satu core tim. Terlebih mereka belanja pemain dengan jumlah yang banyak.

Sepertinya melihat kondisi klub Mou lebih memilih untuk menyatukan chemistry terlebih dahulu sebelum masuk ke aspek teknis. Kekacauan pada musim lalu sangat berdampak pada mood pemain, hal itulah yang tengah dibenahi.

“Bagaimana kondisi para pemain setelah pertandingan melawan Betis? Mereka kelelahan setelah pertandingan, tetapi sudah cukup pulih dalam latihan hari Minggu, dan hari ini kondisinya sudah normal,” kata Jose Mourinho.

“Setelah menganalisis performa, kami semakin yakin akan bermain  baik, bermain sebagai sebuah tim, dan yang dilewati saat ini hanyalah sebuah anomali. Kami berada dalam kondisi yang bagus,” ia menambahkan.

Real Madrid vs Inter Milan - Jose Mourinho
Sumber foto: Managing Madrid

Tak lupa ia juga menanggapi kisah masa lalu dengan Cristian Chivu. “Apakah saya sangat antusias menghadapi Inter? Saat ini, bagi saya ini bukan pertandingan yang spesial. Setelah pertandingan, baru akan terasa spesial,” sambungnya lagi.

“Tapi selama pertandingan, tidak. Saya rasa tidak ada yang akan membicarakan siapa yang berada di bangku cadangan Madrid saat pertandingan berlangsung,” lanjut nakhoda asal Portugal.

Ia menegaskan tidak ada waktu memikirkan nostalgia saat Real Madrid vs Inter Milan berjalan. Walau pada dasarnya sulit bagi dia melupakan atau mengesampingkan sukses tersebut.

“Selama pertandingan, saya tidak akan memikirkannya. Chivu akan selalu menjadi bagian dari orang-orang saya. Saya sangat bahagia untuknya dan atas apa yang sedang dia capai. Saya akan menyapanya sebelum dan sesudah pertandingan.” tutup Mou.

Perkiraan starting line up Real Madrid vs Inter Milan

Bergeser ke modal tim tamu jelang Real Madrid vs Inter Milan, Chivu tahu betul siapa lawan yang dihadapi nanti. Pemegang 15 gelar Liga Champions tak pernah bisa dianggap remeh walau hasil minor sedang mereka rasakan.

Nerazzurri datang bermodalkan tiga laga Serie A secara perkasa. Menyapu sembilan poin penuh dalam tiga laga awal dengan 8 gol bersarang di gawang lawan.

Satu diantaranya diraih dengan hasil clean sheet ketika bertemu Cagliari. Bahkan dalam situasi saat ini Inter bisa saja diunggulkan, pasalnya hasil akhir pekan berhasil menunjukan mentalitas besar ketika bertemu Napoli.

Meski sempat tertinggal 0-2 dari I Partenopei, Nerazzurri berhasil bangkit lewat dua gol Lautaro Martinez dan Marcus Thuram. Ini menjadi poin penting secara moral guna menjaga asa untuk bersaing dan meraih hasil maksimal di Santiago Bernabeu.

Mengutip laporan dari Sky Sport, Real Madrid vs Inter Milan akan menurunkan pemain terbaik mereka sejak menit pertama. Menariknya pada line up ini Madrid akan menempatkan Trent Alexander Arnold ditengah menemani Federico Valverde.

Real Madrid vs Inter Milan - Denzel Dumfries
Sumber foto: Yahoosport

Di Sisi kanan Madrid sendiri ada nama familiar bagi Nerazzurri yakni Denzel Dumfries yang akan bertemu dengan mantan rekan setim. Hal ini bisa menjadi plus minus bagi kedua tim, karena opsi dan antisipasi permainan bisa saja tak terhindarkan.

Sementara itu Inter Milan juga akan menurunkan pemain terbaik mereka, hanya saja satu pelengkap mereka akan absen akibat cedera yakni Federico Dimarco. Posisi kiri yang menjadi vital dan ditinggal oleh Dimarco akan diisi oleh Carlos Augusto.

Sempat turun dari bench, kini Chivu akan langsung menurunkan Hakan Calhanoglu bersama Nicolo Barella serta Curtis Jones. Gelandang Inggris itu tampil cukup solid ketika melawan Napoli.

Lini depan jelas menjadi milik Lautaro Martinez dan Marcus Thuram akan berduet sebagai kreator gol bagi Il Nerazzurri. Jadi apakah match ini akan menjadi duel sengit antara kedua klub? Atau hanya menjadi pertandingan berat sebelah karena melihat kualitas pemain antara kedua tim?.

 

Aspirasi Tifosi by Mr Sam

Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan: Duel Pelatih Muda dan Tua

Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.

Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.

Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.

Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.

Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.

Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.

Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.

Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.

Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.

Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei  tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.

Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan

Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.

Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.

Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.

Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.

Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol.  Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.

Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.

Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.

Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.

Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.

Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.

Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.

 

 

Napoli Menghilang dari Hiruk-Pikuk Jendela Transfer, Allegri Penyebabnya?

Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.

Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.

Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.

Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.

Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.

Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya.  Tapi musim ini tak ada pengeluaran.

Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.

Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri

Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.

Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.

I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.

Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.

Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.

Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.

Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.

Tapi  Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,

 

 

7 Pemain Baru Como, Jaminan Kejutkan Liga Champions?

Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.

Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.

Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.

Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.

Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.

Como Akhirnya Gaet Pemain Italia

Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.

Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.

Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.

Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.

Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.

Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.

Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.

Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.

Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.

Como Siap Meledak di Liga Champions

Berawal dari niat sederhana  untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.

Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.

Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.

Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.

Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.

Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.

Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.

Pidato Kenegaraan Bapak Bangsa Ngalcio

Saudara-saudara tifosi sebangsa dan setanah air,
Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga bintang-bintang sepakbola di seluruh dunia meningkat pasca Piala Dunia.

Suku bunga global tinggi bisa naik. Nilai tukar berbagai negara tertekan dan ketegangan geopolitik mengganggu bursa transfer apalagi setelah sang jenderal Kylian Mbappe bersitegang dengan Senator Paraguay Celeste Amarilla. Namun, di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur karena Italia tidak terlibat.

Di tengah kondisi ekonomi tim-tim Serie A yang tidak baik-baik saja dalam 13 tahun terakhir, inflasi masih tetap terkendali. Dukungan tifosi tetap kuat.

Yang lebih penting, Federasi kita bekerja optimal. Hingga akhir Juli 2026, gelar Piala Dunia kita masih terbanyak dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Ini suatu kebanggaan.

Belanja kita arahkan untuk menjaga persaingan di turnamen, memperkuat kedalaman skuad, dan menggerakkan ekonomi. Walau belanja klub tumbuh, aturan FFP tetap terjaga. Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada tifosi dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal.

Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian, kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara belanja pemain dan menjaga anggaran, kita melakukan kedua-duanya. Membeli Goncalo Ramos dengan harga 70 juta Euro adalah buktinya.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliaken, dunia melihat dan memantau sikap kita. Pada tanggal 11 Juli 2026, salah satu legenda kita yang kesohor, Paolo Maldini, kami tunjuk sebagai direktur Teknik untuk memimpin proyek kebangkitan timnas kita.

Ini menjadi sorotan dunia terhadap suatu tindakan federasi untuk memperbaiki struktur manajemen timnas. Dunia bahkan menilai Italia memiliki prospek menjelang Piala Dunia berikutnya, padahal turnamen tahun ini saja belum selesai (ketika teks pidato ini diketik) itu penilaian mereka terhadap kita.

Mereka juga menilai bahwa upaya federasi memusatkan pengelolaan sumber daya pemain muda kita dan menutup kebocoran di sektor sumber daya dan mineral dapat meningkatkan penerimaan negara serta devisa ekspor.

Mereka secara khusus menilai positif peran Danantara dan potensi PT Danantara Sumberdaya Italia (DSI) dalam memberantas praktik-praktik under-invoicing dan transfer pricing yang sesungguhnya adalah praktik penipuan. Itu dari pandangan pengamat-pengamat, pakar-pakar dari Barat.

Pidato Program Unggulan

Sidang yang terhormat,
Kita menerima penilaian-penilaian ini sebagai pengingat bahwa kredibilitas dibangun oleh konsistensi, kerja keras, dan kesungguhan. Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan, dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliakan,
Capaian semester pertama tahun 2026 adalah pijakan kita dalam menyusun RAPBN tahun 2027.

Untuk itu, arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja sinergis dan semakin solid.

Transformasi ekonomi pada aktivitas didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat.

Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja semakin solid. Transformasi ekonomi pada aktivitas ekonomi yang bernilai tambah tinggi harus terus diperkuat.

Program-program unggulan harus berjalan efektif, program perlindungan sosial harus andal, pemberdayaan bagi UMKM harus terus digairahkan. Dukungan untuk petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja yang rentan juga harus diperkuat.

RAPBN tahun 2027 kita fokuskan untuk delapan Program Kerja Prioritas Nasional atau PKPN, yaitu: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, industrialisasi, infrastruktur, perumahan, ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.

Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi. Untuk menjalankan seluruh agenda tersebut, belanja negara tahun 2027 direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%. Inflasi akan kita jaga pada kisaran 2,5%. Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%.

Pidato Pengakuan Terhadap Como

[batuk sambil melirik Buna]

Mohon izin.

Rasio Gini kita targetkan membaik menjadi 0,362 sampai 0,367 dari target tahun ini 0,377 sampai 0,380, dan Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575. Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten.

Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan, perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan.

Saudara-saudara sekalian,
Angka-angka APBN kita sangat bergantung dengan angka-angka makroekonomi kita. Angka-angka makroekonomi kita sangat bergantung dari kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik kita.

Saya mendapat laporan sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita.

Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026 yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa-desa kita, perlu kita pastikan berhasil. Saya minta agar saudara sekalian, wakil rakyat, dan seluruh elemen masyarakat yang sedang mendengarken pidato saya saat ini tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya.

Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan. Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran.

Sebagaimana fokus di atas dan setelah semua yang saya sampaiken terkait kondisi negara, kita bisa jadikan capaian Como musim 2025-2026 adalah pijakan kita dalam menyusun rencana untuk Serie A di musim 2026-2027. Untuk itu, arsitektur tim-tim Serie A didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong prestasi di Eropa.

Kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan manajemen harus bekerja sinergis dan semakin solid. Kita contoh bagaimana dari sebatang Djarum Super yang dihisap seorang mandor di negara yang konon sering disebut bangsa yang besar itu bisa memberikan dampak bagi kemajuan sebuah klub di negara yang juga konon sebagai bangsa yang besar di sepakbola.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.