Lazio Batalkan Transfer Mauro Icardi, Gennaro Gattuso Ungkap Penyebabnya

Lazio nyaris menggaet Mauro Icardi di bursa transfer musim panas. Namun, pelatih Gennaro Gattuso membatalkan niat itu karena alasan yang kuat.

Sebelumnya, Lazio melakukan pendekatan intensif dengan Mauro Icardi. Negosiasi dengan sang pemain pun berlangsung baik.

Peluang terjalinnya kesepakatan terbuka lebar. Apalagi Icardi berstatus tanpa klub usai kontrak di Galatasaray habis Juni lalu.

Akan tetapi, dengan beberapa pertimbangan, klub ibu kota mengurungkan niat itu. Dan pada akhirnya mereka menggaet dua bomber lain sekaligus.

Yaitu Andrea Pinamonti dari Sassuolo dan Albert Gudmundsson asal Fiorentina. Gattuso mengungkapkan ini keputusan terbaik yang dibuat manajemen.

“Mari kita selesaikan seluruh kekacauan soal Icardi ini. Dia telah mencetak 250 gol dalam kariernya dan tidak ada yang mempertanyakan kemampuannya,” ujar Gennaro Gattuso kepada Calcio Mercato.

“Kami telah membuat pilihan dan kami mengontrak Pinamonti serta Gudmundsson. Ketika Anda memberi janji kepada pemain Anda tak bisa mengingkarinya,” ia menambahkan.

“Dengan segala hormat kepada Icardi, saya telah membahasnya dengan presiden dan direktur. Tepat untuk kami berpegang pada apa yang telah disepakati,” tambah legenda AC Milan.

Lazio Jalani Awal Musim yang Nyaris Sempurna

Musim ini Lazio mendatangkan banyak pemain baru. Beberapa di antaranya sudah malang-melintang di Serie A seperti Andrea Pinamonti, Albert Gudmundsson, dan Davide Frattesi.

Ketiganya pun sudah berkontribusi makismal dengan masing-masing gol yang sudah dicetak. Terutama Frattesi yang kini jadi top skorer klub dengan tiga gol.

Optimalnya peran pemain anyar sejalan dengan meroketnya hasil yang didapat Lazio. Tidak ada yang menyangka mereka belum terkalahkan sampai pekan keempat Serie A.

Apalagi penunjukan Gennaro Gattuso sebagai pelatih menuai prokontra. Karier melatih legenda timnas Italia terbilang mengecewakan, terlebih usai gagal membawa Gli Azzurri ke Piala Dunia 2024.

I Biancoceleste kini mencatatkan tiga kemenangan dan sekali imbang. Lewat hasil positif tersebut anak asuhu Gennaro Gattuso nyaman di posisi keempat dengan 10 poin.

Malam nanti Lazio berpeluang memperpanjang peluang belum kalah di Serie A. Adam Marusic dkk akan tandang ke tim promosi, Venezia, yang baru saja memecat Giovanni Stroppa.

banner 400x130

Bisa Apa Aston Villa dan Crystal Palace Setelah Digembosi?

Bagaimana nasib Aston Villa dan Crystal Palace di Premier League musim ini? Terutama setelah kedua klub kehilangan banyak pemain vital.

Apa yang dialami Aston Villa bisa dibilang nahas. Sukses juara Liga Europa harusnya menjadi gerbang daya tarik pemain-pemain bintang datang. Atau setidaknya jaminan pemain pentingnya tidak hengkang.

Kenyataannya malah terbalik. The Villans kehilangan banyak sosok penting. Dua motor serangan, Morgan Rogers dan Ollie Watkins pergi. Satu ke Chelsea satu lagi menyeberang ke Arab Saudi.

Belum lagi nama-nama lain seperti Ezri Konsa, Youri Tielemans, Lucas Digne, hingga kiper andalan, Emi Martinez. Mereka-mereka yang pergi memang sudah ada pengganti.

Namun, tetap saja bukan perkara mudah membuat tim tetap stabil ketika kehilangan pemain sebanyak itu. Dengan kata lain Aston Villa melakukan perjudian besar.

Setali tiga uang dengan Villa, Crystal Palace pun bernasib sama. Duo pelari di sisi kanan dan kiri permainan, Maxence Lacroix dan Daniel Munoz membelot ke Chelsea serta Nottingham Forest.

Pun dengan Brennan Johnson dan Borna Sosa. Lebih parah lagi, Palace tak cuma ditinggal pemain andalan. Pelatihnya, Oliver Glasner, lebih dulu pergi setelah melakoni dua tahun penuh sukses dengan torehan tiga piala.

Aston Villa dan Crystal Palace Awali Kompetisi dengan Buruk

Pemain-pemain tersebut tak hanya menghasilkan konsistensi untuk Aston Villa maupun Crystal Palace. Mereka juga melahirkan trofi.

Bersama nama-nama di atas The Villans dua kali menembus Liga Champions. Hingga puncaknya musim lalu ketika mengangkat trofi Liga Europa.

Palace bersama Munoz dan Lacroix di bawah tangan dingin Glasner sampai menjadi mimpi buruk Liverpool tiap musimnya. Sampai akhirnya mereka melenggang ke singgasana juara FA Cup, Community Shield, dan Conference League.

Jika ditarik sedikit ke belakang, baik Unai Emery maupun Oliver Glasner butuh kerja keras dan kontinuitas dalam melambungkan klub. Artinya, sukses Villa dan Palace bukan urusan membalikkan telapak tangan.

Emery dengan pengalamannya butuh waktu menjadikan Rogers dan Watkins berada di level berbeda. Glasner perlu kerja keras membuat Palace yang sekadar jadi pelengkap tim ibu kota sampai menjadi penantang serius, bahkan di level Eropa.

Dengan apa yang sudah dibangun dan sukses yang didapat, Unai Emery harus mereset ulang Aston Villa. Nama-nama baru yang datang belum menjamin apa-apa di awal.

Terbukti di dua laga pertama Premier League Villa terpuruk. Mereka selalu kalah tanpa sekali pun mencetak gol.

Yang terjadi di Crystal Palace lebih sulit. Pelatih baru, Pierre Sage, belum bisa menjanjikan apa pun. Ia bahkan masih meraba-raba mengingat ini pertama kali dirinya berkarier di Premier League.

Alhasil Palace menelan dua kekalahan di dua pertandingan. Kehilangan Munoz dan Lacroix juga menyisakan lubang besar di belakang dengan enam kebobolan sebagai buktinya.

Maka, menarik ditunggu apakah dongeng Aston Villa dan Crystal Palace akan berakhir musim ini. Atau secara perlahan mereka bisa bangkit seiring musim berjalan.

Napoli Menghilang dari Hiruk-Pikuk Jendela Transfer, Allegri Penyebabnya?

Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.

Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.

Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.

Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.

Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.

Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya.  Tapi musim ini tak ada pengeluaran.

Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.

Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri

Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.

Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.

I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.

Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.

Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.

Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.

Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.

Tapi  Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,

 

 

7 Pemain Baru Como, Jaminan Kejutkan Liga Champions?

Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.

Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.

Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.

Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.

Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.

Como Akhirnya Gaet Pemain Italia

Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.

Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.

Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.

Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.

Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.

Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.

Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.

Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.

Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.

Como Siap Meledak di Liga Champions

Berawal dari niat sederhana  untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.

Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.

Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.

Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.

Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.

Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.

Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.

Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

Juventus Masih Lapar, 2 Bintang Premier League Selangkah Lagi Datang

Juventus terus memperkuat tim untuk musim 2026-2027. Mereka selangkah lagi akan kedatangan dua bintang Premier League.

Kedua pemain tersebut memiliki posisi yang sama, striker. Mereka adalah Nick Woltemade dan Joshua Zirkzee.

Woltemade dan Zirkzee akan datang dengan skema berbeda. Bomber Newcastle United kemungkinan digaet dengan status pinjaman dan opsi pembelian di akhir musim.

Sementara penyerang Manchester United secara permanen. Sky Sport Italia melaporkan Juventus sudah menaikkan tawaran kepada MU menjadi 30 juta euro.

Angka ini diyakini akan membuat Setan Merah melunak. Apalagi Zirkzee sudah tidak masuk dalam skema Michael Carrick.

Kembali ke Serie A tentu menyenangkan untuk pemain asal Belanda. Sebab namanya mulai berkibar ketika berkiprah di Italia, terutama saat memperkuat Bologna.

Pengalaman ini pula yang membuat Zirkzee tidak berpikir dua kali ketika tawaran dari Juve datang. Ditambah lagi Si Nyonya Tua krisis striker karena masih belum punya pengganti Dusan Vlahovic yang hengkang ke Besiktas.

Juventus Awalnya Jadikan Woltemade Opsi Kedua

Terkait dua pemain yang disebutkan, Juventus awalnya hanya menginginkan Joshua Zirkzee. Namun, kemunculan Fiorentina sebagai pesaing membuat manajemen memikirkan opsi lain.

Situasi inilah yang memunculkan nama Nick Woltemade. Penyerang timnas Jerman disiapkan sebagai opsi kedua jika upaya menggaet Zirkzee gagal.

Akan tetapi, situasi terakhir memungkinkan klub menggaet keduanya. Penyebabnya adalah kepergian Jonathan David yang segera dipinjamkan ke Atletico Madrid.

Jika David pergi, Juventus hanya punya Randal Kolo Muani di depan. Kondisi ini tentu riskan untuk tim yang tengah berupaya bangkit musim ini.

Belum lagi kondisi terkini Kenan Yildiz yang masih cedera. Mau tidak mau pasukan Luciano Spalletti harus menambah pemain berkualitas di lini depan.

 

Akhir Prematur Rafael Leao di AC Milan

Rafael Leao dan AC Milan akhirnya berpisah. Setelah tarik ulur negosiasi, sang winger benar-benar memutuskan pergi musim ini.

Rafael Leao sudah sepakat ke Galatasaray. Transfer ini membuat raksasa Turki harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta euro. Angka tersebut belum termasuk bonus 2 juta euro yang harus dibayarkan pada akhir musim.

Kepindahan ini bisa dibilang menguntungkan semua pihak. AC Milan mendapat dana segar, apalagi dalam klausul tercantum mereka akan mendapatkan sekitar 20 persen dari hasil penjualan Leao di masa depan.

Bagi Galatasaray tentu ini menambah kekuatan lini serang. Mereka kian bertabur bintang karena sebelumnya sudah memiliki Victor Osimhen dan Leroy Sane. Pun untuk Leao, kepindahan ini membuat pundi-pundinya makin tebal.

Menurut laporan di Italia, ia mendapat gaji seebsar 12 juta euro permusim. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari yang didapatkan bersama Milan selama ini.

Leao pergi dari Milan sebenarnya tinggal menunggu waktu. Masa depannya sudah jadi tanda tanya sejak paruh kedua dua musim lalu.

Rafael Leao Korban Perubahan Sistem Bermain

Saat itu ia tidak nyaman dengan perubahan peran yang diminta Sergio Conceicao, pelatih kala itu. Eks Sporting Lisbon diminta untuk bermain lebih dalam dan turun ke bawah membantu pertahanan.

Pada akhir musim ia sudah mempertimbangkan hengkang. Terlebih muncul tawaran menggiurkan dari Chelsea.

Niat itu kemudian diurungkan seiring dipecatnya Conceicao dan masuknya Massimiliano Allegri selaku pengganti. Situasi sempat membaik, Leoa kembali jadi tumpuan di sisi kiri serangan.

Namun, situasi berubah lagi perlahan. Pemain Portugal beberapa kali dicadangkan, belum lagi muncul kritikan datang dari beberapa legenda, Roberto Donadoni salah satunya.

Donadoni menuntut Rafael Leao mengubah perangainya dan lebih adaptif dengan strategi pelatih. Kata Roberto Donadoni, itu satu-satunya cara agar Leao bertahan dan bangkit bersama Milan.

Apa daya, situasinya tidak sesimpel sebelumnya, Leao kadung putus asa dengan berbagai perubahan yang sangat cepat dalam tim. Sehingga keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama.

Rafael Leao Ucapkan Salam Perpisahan untuk AC Milan

“Saya mengucapkan selamat tinggal kepada rekan setim setelah tujuh tahun bersama. Klub selalu membantu, membuat mengerti apa artinya berada di level tertinggi,” ucap Rafael Leao kepada Sky Sport Italia.

“Saya memilih penghormatan yang berbeda, untuk mengucapkan selamat tinggal di lapangan sekali lagi di depan tifosi, mereka yang telah membantu saya, terutama di momen tidak baik,” ia menambahkan.

“Saya akan tercatat dalam sejarah klub, karena saya tahu apa yang sudah kami raih di sini. Milan akan selalu tersimpan dalam hati, yang bisa saya lakukan hanyalah berterima kasih,” imbuhnya.

Selama berseragam I Rossoneri, pemain 27 tahun bagian penting dari sukses klub merengkuh scudetto musim 2021-2022 dan Supercoppa Italia dua tahun kemudian. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri akhir cerita sang bintang terbilang prematur.

Performanya menurun, peran di lapangan berkurang, kepercayaan pelatih sempat menghilang, dan dapat kritik tajam dari legenda.

Rafael Leao juga tidak pindah ke klub raksasa Eropa seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Tapi setidaknya, winger murah senyum ini tidak nyasar sampai Saudi Arabia.

,

Inter Milan Ukir Sejarah di Bursa Transfer

Inter Milan tancap gas untuk memperkuat tim jelang musim 2026-2027 bergulir. Mereka cukup aktif di bursa transfer lewat pergerakan-pergerakan tepat sasaran.

Cepatnya langkah yang diambil tak lepas dari beberapa pemain yang pergi. Ya, Inter Milan ditinggal salah satu bintangnya, Denzel Dumfries, yang tak kuasa menahan godaan bernama Real Madrid.

Dumfries bukan satu-satunya bek yang angkat kaki. Dua veteran kenyang asam garam, sama-sama datang dari Lazio, Stefan de Vrij dan Francesco Acerbi juga keluar. Kontrak habis yang dibarengi usia mendekati kepala empat membuat kerja sama tak mungkin diperbaharui.

Palang pintu terakhir I Nerazzurri tak mau ketinggalan. Yann Sommer yang dianggap mulai melambat refleksnya  dilepas. Mereka pergi secara permanen, kecuali Davide Frattesi yang dipinjam ke Lazio dengan opsi tebus di akhir musim.

Hampir semua bangku kosong yang ditinggal sudah terisi. Inter meneruskan romantisme dengan Lazio di jendela transfer lewat suksesor Yann Sommer bernama Ivan Provedel. Sebuah langkah yang dianggap banyak pihak jitu mengingat Provedel membuktikan konsistensinya (di luar cedera yang beberapa kali diderita).

Inter Milan Boyong 3 Pemain Inggris

Yang menarik adalah pengganti Dumfries, Acerbi, dan Frattesi. Untuk tiga pengganti, radar sang juara bertahan tertuju pada satu negara. Baik Djed Spence, John Stones, maupun Curtis Jones sama-sama dari Inggris.

Demi menggaet Spence, klub hanya nge-spend dana tak kurang dari 30 juta euro. Angka yang murah untuk pemain Inggris, apalagi berlabel timnas dan tampil gemilang di Piala Dunia 2026. Mungkin jika yang membeli Spence masih klub Premier League, Tottenham Hotspur akan membanderolnya sekitar 60 juta euro.

Sang bek kanan juga tak perlu waktu lama untuk beradaptasi di Italia. Ia pernah merasakan ringkihnya Serie A ketika dipinjamkan ke Genoa dua tahun lalu dan mencicipi 16 laga.

Sempat kesulitan mencari pengganti Maicon, scouting Inter Milan kini jitu mencari calon bek kanan hebat. Denzel Dumfries memberi gaya baru dalam sesi bertahan dan menyerang tim sepeninggal Achraf Hakimi yang eksplosif. Dengan kualitas dan atribut permainan yang hampir sama, Djed Spence punya peluang untuk mengulang sukses itu.

Lalu ada John Stones, bek tangguh yang sudah menang segalanya bersama Manchester City. Termasuk trofi Liga Champions saat mengalahkan Inter di Istanbul.

Masalahnya, manajemen sepertinya hanya punya proyek jangka pendek untuk bek tengah. Bagaimana tidak, mereka mengganti Acerbi yang sudah uzur dengan Stones yang kepala tiga.

Usianya sudah 32 tahun, tempat utamanya di Manchester City juga mulai tergusur musim lalu. Walau begitu, banyak yang percaya Stones tetap bisa memberi dampak untuk klub.

Inter Milan Berjodoh dengan Jebolan Premier League

Di pramusim dirinya sudah menyumbang satu gol, apalagi beberapa transfer terakhir La Beneamata dari Premier League selalu berakhir manis. Seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Manuel Akanji, hingga Christian Eriksen.

Faktor itu mungkin membuat manajemen menutup mata soal menit bermain John Stones musim lalu. Sejarah sudah mencatat dan bek 32 tahun sudah teruji secara kualitas dan pengalaman.

Paling anyar muncul nama Curtis Jones. Isu gelandang Liverpool menguat pertama kali sejak dirinya dan Alessandro Bastoni saling follow di Instagram beberapa hari lalu. Tak lama setelah itu, Fabrizio Romano dengan mantranya mengucap “Here We Go”.

Sekarang Jones sudah resmi berbaju I Nerazzurri dengan mahar 30 juta euro. Sukses menggaet Jones cukup mengejutkan sebab latar belakang sang gelandang yang akamsi Liverpool.

Darah The Reds sudah mengalir deras dalam tubuhnya sejak lahir. Kendati tidak selalu jadi pilihan utama dan cenderung mendapat cemooh dari fan Liverpool di tanah air, tidak ada tanda-tanda kuat dia akan pergi.

Hingga akhirnya Inter Milan yang butuh pengganti Frattesi dan meminimalisir kerja Henrikh Mkhitaryan yang akan berusia 150 tahun perlu mengambil langkah bijak. Datangkan Curtis Jones sekarang. Atau tidak selamanya.

Apa pun itu, bagaimana pun kiprah Djed Spence, John Stones, dan Curtis Jones musim ini, tetap saja kehadiran mereka menjadi sejarah baru. Karena untuk pertama kalinya di era modern ada klub Serie A yang menggaet tiga pemain Inggris sekaligus dalam satu jendela transfer.

Sebelumnya paling banyak dua pemain Inggris yang datang dalam satu jendela transfer. Itu pun terjadi era 80-an silam ketika AC Milan meminang Mark Hateley dan Ray Wilkins 1984 silam.

 

 

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.