Pilih Italia atau Jerman, Keputusan Nicolo Tresoldi akan Mengecewakan

Nicolo Tresoldi masih bimbang. Dia belum memutuskan negara mana yang akan dipilih antara Italia atau Jerman.

Dua negara itu sangat memungkinkan untuk dibela Nicolo Tresoldi. Ia lahir di Italia tapi besar dan memulai karier di sepak bola di Jerman.

Kedua orang tuanya memang Italia. Namun, pekerjaan sang ibu di perusahaan penerbangan sipil membuat mereka kerap berpindah-pindah negara.

Saat ini Tresoldi masih tercatat sebagai penggawa timnas U-21 Jerman. Dengan kata lain, ia masih bisa ganti tim nasional. Soal ini sang ayah, Emmanuele, tidak berani menjamin apa pun.

Ia menyerahkan semua itu kepada Nicolo. Yang jelas, apa pun keputusan anaknya bisa menimbulkan rasa kecewa untuk beberapa pihak.

Jika memilih Jerman, Emmanuele sebagai orang Italia akan kecewa. Jika pilihan Nicolo membawanya pulang ke tanah kelahiran, banyak rekan dan fan Der Panzer yang merasakan hal sama.

“Kecewa adalah kata yang kuat. Tentu saja saya orang Italia, Nicolo juga baik dari segi kelahiran maupun keluarga,” ujar Emmanuele Tresoldi.

“Tapi ada ikatan rasa terima kasih yang tak mungkin diabaikan. Dia dibesarkan di Jerman, berbicara empat bahasa. Bagaimana pun dia akan mengecewakan banyak orang, tapi itu harus dihormati,” ia menambahkan.

Nicolo Tresoldi Sering Diskusi dengan Sang Ayah

Pilihan antara Italia dan Jerman benar-benar menguras tenaga Nicolo Tresoldi. Sampai-sampai ia harus menolak panggilan Roberto Mancini untuk menyelesaikan tugas timnas U-21 Jerman di Piala Eropa.

Selain itu, Juergen Klopp sebagai nakhoda tim senior Der Panzer sudah terang-terangan menginginkan bomber 22 tahun. Kondisi ini makin membingungkan untuknya.

“Kami sudah banyak membicarakannya tapi Nicolo akan memutuskan apa yang terbaik,” sambung Emmanuele.

“Dia pasti akan memilih dengan hatinya, bukan berdasarkan peluang teknis. Dia harus mengelola situasi yang lebih besar dari dirinya sendiri,” tutup ayah Nicolo Tresoldi.

banner 400x130

Nico Paz: Antara Kebebasan dan Pengaruh Besar Fabregas

Nico Paz kini jadi salah satu talenta paling berharga di Serie A. Sejak datang ke Como 2024 lalu performanya terus menanjak.

Ia datang dari Real Madrid dengan harga fantastis. Untuk pemain yang baru berumur 20 tahun dirinya sudah dibanderol 60 juta euro.

Como sebagai klub yang baru promosi kala itu sangat berani merogoh kocek dalam. Bagaimana pun kualitas sang wonderkid belum teruji.

Ia memang menjanjikan di akademi Real Madrid. Namun, Nico Paz gagal menembus tim utama dengan hanya bermain beberapa kali sebagai pengganti.

Akan tetapi, dengan analisis rinci, Como tak berpikir dua kali.  Era baru klub bermula sejak dia menginjakkan kaki di Sinigaglia.

Datang membawa mimpi, pemuda Argentina ingin membuktikan diri layak menjadi pilihan utama di level tertinggi.

Mimpi itu sudah jadi kenyataan. Bahkan bisa dibilang lebih cepat dari apa yang dia bayangkan. Karena dalam sekejap Paz memukau banyak pihak.

Penampilannya terus menuai decak kagum dari hari ke hari, dari musim ke musim. Dan menurutnya, ini semua berkat Cesc Fabregas.

Sebab Fabregas yang meluluhkan hatinya untuk meninggalkan kenyamanan di Real Madrid demi tantangan besar bernama Como.

“Fabregas mengajari saya hampir semuanya. Saya datang ke sini sebagai pemain muda dari Castilla,” ungkap Nico Paz.

“Saya pernah bermain beberapa kali untuk Real Madrid, tapi pada akhirnya menjadi pemain tim cadangan di divisi lebih rendah,” ia menambahkan.

“Datang ke sini dan bermain di Serie A, kasta tertinggi, memungkinkan saya berkembang dan meningkatkan diri sebagai pemain dan pribadi,” imbuhnya.

Nico Paz Diberi Kebebasan oleh Fabregas

Soal pengaruh vital dan konsistensi yang didapat bersama Como, Nico Paz menegaskan itu semua berkat Cesc Fabregas. Menurutnya sang pelatih tak hanya tahu apa yang dibutuhkan pemain.

Lebih dari itu, Fabregas memberi kebebasan dan kepercayaan. Ia selalu membebaskan Paz di lapangan, baik soal posisi maupun peran.

Kebebasan yang diberi tak lepas dari kepercayaan yang didapat. Sejak hari pertama, sang pelatih sudah berbicara banyak hal soal filosofi bermainnya dan apa yang dia butuhkan.

Dengan kata lain, mendatangkan Paz memang sudah masuk dalam rancangan besar Fabregas soal seperti apa permainan Como dan pemain macam apa yang bisa mewujudkan rencana itu.

“Semua berkat Cesc yang percaya pada saya dan membawa saya ke sini. Dia membiarkan saya bermain sesuai keinginan dan memberi saya banyak kebebasan,” pungkasnya.

“Dia mengajari saya banyak hal. Dan saya pikir pemain seperti saya bisa seperti sekarang berkat dia. Kami adalah tim yang ambisius dan ingin terus berkembang,” tutup Nico Paz.

Preview Inter Milan dan Napoli di Matchday 2 Liga Champions

Dinihari nanti dua wakli Italia kembali melanjutkan perjalanan di Liga Champions. Inter Milan kedatangan Club Brugge dari Belgia dan Napoli melawat ke Spanyol untuk bersua Villarreal.

Baik bagi Inter Milan dan Napoli, laga kedua Liga Champions sama beratnya. Apalagi mereka sama-sama menelan kekalahan pada matchday satu melawan Real Madrid dan Arsenal.

Kendati demikian, keduanya menatap lawan kali ini dengan percaya diri. Inter baru mengalahkan Parma dan Serie A dan mempertahankan posisi puncak klasemen.

Dari sisi skuat juga mendukung. Beberapa pemain yang sempat cedera sudah sembuh. Federico Dimarco dan Hakan Calhanoglu siap dimainkan sejak awal.

Pun dengan Djed Spence yang baru saja melakoni debut untuk I Nerazzurri. Dengan kata lain, Christian Chivu punya hampir semua pemain yang dibutuhkan untuk menang.

Selain itu, Inter punya catatan sempurna di Giuseppe Meazza. Sejak 1979 mereka selalu menang tiap mejamu klub asal Belgia. Tapi uniknya ini pertama kalinya La Beneamata bertemu Club Brugge.

Dari sisi pengalaman dan nama besar, tuan rumah patut jemawa. Mereka tiga kali juara Liga Champions dan selalu dihuni pemain-pemain top dunia.

Sebaliknya, Club Brugge selayaknya wakil Belgia lain di Liga Champions, hanya dijadikan lumbung gol oleh lawan-lawannya. Capaian terbaik mereka juga hanya 16 besar dua musim terakhir.

Upaya Napoli di Liga Champions Sedikit Lebih Berat

Napoli menatap laga melawan Villarreal dengan percaya diri. Mereka menang lagi di Serie A, yang mana itu memperbaiki posisi klub di klasemen.

Sayang, muncul masalah lain dalam persiapan laga di Villarreal. Klub asal Naples tak bisa menurunkan beberapa pemain terbaik.

Massimiliano Allegri masih kehilangan Frank Zambo Anguissa maupun Alison Santos. Scott McTominay pun belum bisa dijamin sebagai starter.

McTominay memang sudah dimainkan lagi sebagai pengganti akhir pekan kemarin. Namun, untuk turun sebagai starter di Liga Champions masih cukup berisiko.

Sementara itu, dari head to head pertemuan Villarreal vs Napoli berimbang. Dari enam laga mereka sama-sama catatkan dua kemenangan. Walau lawatan terakhir I Partinopei di El Madrigal berakhir kekalahan.

Setidaknya upaya pasukan wakil Italia mencuri poin tetap terbuka. Lagi pula Villarreal mengawali musim cukup mengecewakan dengan hanya meraih dua kemenangan dan kini tertahan di peringkat ke-11 LaLiga.

Diego Simeone Kesampingkan Puasa Kemenangan Manchester United

Atletico Madrid akan menjamu Manchester United di matchday kedua Liga Champions, Rabu (14/10) dinihari WIB. Bagi Diego Simeone laga ini akan berlangsung sengit.

Atletico Madrid menyambut Liga Champions dengan percaya diri tinggi. Bagaimana tidak, mereka sapu bersih empat laga terakhir dengan kemenangan.

Hasil sebaliknya didapat Manchester United. Setan Merah tak pernah menang dalam empat laga terakhir.

Kendati demikian, bagi Diego Simeone catatan itu tak bisa dijadikan patokan. Ia tetap melihat sang lawan sebagai ancaman serius.

“Mereka tetaplah Manchester United. Terlepas dari hasil yang diraih mereka adalah tim yang sangat kuat,” ucap pelatih asal Argentina.

“Kami akan menghadapi tim yang sangat bagus, melakukan pressing terhadap lawan, pergerakan tanpa bola dan pandai mengatur waktu saat melakukan tekanan,” imbuhnya.

Diego Simeone Belum Puas dengan Ademola Lookman

Jelang laga Atletico Madrid vs Manchester United, Diego Simeone juga mengonfirmasi kondisi Ademola Lookman. Menurutnya sang pemain siap tempur di Wanda Metropolitano.

Lebih lanjut, ia menegaskan apa yang ditunjukkan Lookman selama ini belum membuatnya puas. Sang pelatih percaya bintang barunya tersebut bisa meningkatkan level dalam waktu dekat.

“Ademola belum berada di level yang dia dan kami inginkan, tapi dia bekerja keras setiap hari,” ia menambahkan.

“Dia suka dribel dan dia perlu kehilangan bola sesekali. Yang jelas saya percaya padanya,” tutup Diego Simeone.

Sejauh ini Lookman belum menjadi pilihan utama di Atletico Madrid. Ia lebih sering berperan sebagai pemain pengganti dari delapan pertandingan yang sudah dijalani.

 

Christian Chivu Jelang Liga Champions: Mimpi Tak Melulu Harus Dicapai

Inter Milan kembali bersiap untuk Liga Champions. Anak asuh Christian Chivu kali ini akan menjamu Club Brugge di San Siro, Rabu (14/10) dinihari WIB.

Christian Chivu dalam tekanan di Liga Champions. Inter Milan kini di papan bawah usai kalah dari Real Madrid di matchday pertama.

Tak pelak laga melawan Club Brugge wajib dimenangkan untuk membuka peluang lolos ke babak berikutnya. Apalagi Chivu ingin Inter memperbaiki capaian musim lalu.

Musim lalu laju Inter Milan terhenti di 16 besar. Dengan dua final yang dilalui klub dalam enam musim terakhir tentu apa yang diraih musim lalu mengecewakan.

Kendati demikian, Christian Chivu tak mau muluk-muluk. Ia enggan berpikir akan membawa I Nerazzurri ke final Liga Champions.

Memang, itu mimpi besarnya. Namun, yang terpenting bagi sang pelatih adalah memberikan yang terbaik dan yang jelas lebih baik dari apa yang mereka lakukan musim lalu.

“Jika bicara tentang mimpi, Anda tidak harus selalu mencapainya. Tapi Anda harus berusaha sebaik mungkin,” ujar Chivu seperti dilansir Football Italia.

“Berbicara tentang mimpi bukan berarti kita bicara soal memenangkan semuanya. Tapi bagian dari tanggung jawab kita untuk mencoba mencapainya,” ia menambahkan.

Christian Chivu: LIga Champions Tak Bisa Dibeli

Naik turun performa Inter Milan di Liga Champions adalah bukti bahwa ajang tertinggi Eropa sulit ditaklukkan. Padahal di Serie A sendiri I Nerazzurri selalu juara.

Christian Chivu menilai Liga Champions memang ajang tersulit. Semua bisa terjadi dan hanya kerja keras serta kesempurnaan yang bisa membuat klub meraih Si Kuping Besar.

“Uang tidak bisa membeli Liga Champions. Tidak ada pemain atau pelatih yang memberi Anda jaminan itu,” ujar nakhoda asal Rumania.

“Anda perlu memiliki keberanian tapi kerja keras yang Anda lakukan adalah hal yang terpenting. Kami masih memiliki ruang untuk melakukan perbaikan,” tutup Christian Chivu.

Siap-Siap Interisti, Inter Milan vs Parma Jadi Debut Djed Spence

Laga Inter Milan vs Parma terasa spesial. Pertandingan di Giuseppe Meazza malam nanti akan jadi debut untuk Djed Spence.

Sejak datang musim panas kemarin, Djed Spence belum pernah bermain. Ia mengalami cedera saat membela Inggris di Piala Dunia 2026.

Padahal dua rekan lain dari Inggris yang didatangkan Inter Milan seperti Curtis Jones dan John Stones sudah dimainkan. Curtis bahkan jadi starter di dua laga terakhir.

Setelah melalui masa pemulihan dan rehabilitasi, Spence akhirnya tersedia pekan ini. Namun, belum diketahui apakah dia akan langsung starter atau main sebagai pengganti pada laga Inter Milan vs Parma.

“Dia sudah berlatih bersama kami selama seminggu. Kami tidak boleh lupa masa rehabilitasnya,” ujar Christian Chivu seperti dilansir Football Italia.

“Jika saya hitung semua dia telah melewatkan dua bulan latihan di lapangan. Sekarang dia siap dan akan dipanggil melawan Parma,” sambung nakhoda Inter.

Inter Milan vs Parma: Peluang Puncaki Serie A

Kehadiran Djed Spence membuat Chivu semakin leluasa menentukan pilihan. Sang bek dikenal sebagai pemain serba bisa.

Ia mampu memerankan posisi bek kanan maupun bek kiri dengan sama baiknya. Hal ini jelas berita bagus di tengah kondisi Federico Dimarco yang belum fit 100 persen.

Di sisi lain, laga Inter Milan vs Parma harus dimenangkan tuan rumah. Peluang meraup tiga poin terbuka lebar.

I Nerazzurri masih tak terkalahkan. Sementara Parma baru ditinggal pelatihnya karena selisih paham dengan pemilik klub.

Dari sisi head to head, Inter patut jemawa. Dari 10 pertemuan terakhir Inter Milan vs Parma, Lautaro Martinez dan kolega tak pernah kalah.

Tujuh di antaranya sukses dimenangkan. Dengan kata lain pertemuan ini adalah kesempatan bagus tuan rumah memuncaki klasemen Serie A.

Liverpool Krisis Penyerang, Andoni Iraola akan Paksakan Federico Chiesa

Jeda internasional kembali memakan korban. Kali ini Liverpool kehilangan dua pemain depannya sekaligus dalam dua pekan terakhir.

Alexander Isak dan Cody Gakpo mengalami cedera saat membela Swedia dan Belanda di UEFA Nations League. Kondisi ini memperparah krisis pemain di lini depan.

Sebelumnya Liverpool sudah ditinggal Hugo Ekitike yang menepi sejak awal musim. Dengan kata lain Andoni Iraola tak punya striker saat menjamu Manchester City pekan ini.

Situasi ini jelas membuat Iraola pusing bukan main. Dia hanya memiliki dua stok pemain, yaitu Federico Chiesa, itu pun posisinya bukan striker. Serta Lewis Koumas yang masih terlalu muda.

Mau tidak mau, pelatih asal Spanyol akan memaksakan Chiesa. Hanya saja dia masih pikir-pikir apa akan langsung memainkannya sejak menit pertama atau sebagai pengganti.

“Sebelum Isak dan Cakpo cedera kami tidak memiliki Hugo Ekitika, penyerang lain yang saya harapkan main. Sekarang kami tidak memiliki dia dan Isak,” ujar Andoni Iraola.

“Mungkin Federico Chiesa akan kembali bermain. Tapi dia belum main satu menit pun karena masih dalam pemulihan. Namun dia melakukan pekerjaan yang baik selama jeda dan telah berlatih intensif,” ia menambahkan.

Liverpool Belum Pernah Mainkan Chiesa Musim Ini

Federico Chiesa memang kesulitan sejak didatangkan Liverpool dua musim lalu. Ia kalah bersaing dengan Mohamed Salah maupun Cody Gakpo.

Ditambah sekarang muncul wonderkid bernama Ryo Ngumoha dan pemain anyar Victor Munoz. Masalah kebugaran jadi faktor lain Chiesa jarang diberi kesempatan.

Termasuk musim ini. Kala namanya tak sekali pun dimainkan Andoni Iraola kendati sempat dimainkan beberapa kali selama pramusim.

Dengan fisik yang belum 100 persen, Chiesa masih diraugukan. Namun, kondisi skuat Liverpool yang sangat terbatas sangat memungkinkan untuk eks Juventus akan dipaksakan main pekan ini.

Catat! Jadwal Serie A: AC Milan Lawan Kryptonitenya, Juventus Uji Kelayakan Cagliari

Dua minggu tanpa Serie A, akhir pekan kita kali ini akan kembali berwarna. Liga yang hampir punah memasuki giornata keenam yang akan dimulai nanti malam.

Untuk membuka Serie A, laga Genoa vs Fiorentina hadir lebih dulu. Bisa dibilang ini pertandingan dua tim pesakitan.

Genoa masih di zona degradasi. Sementara Fiorentina yang sudah ganti pelatih dari Fabio Grosso ke Paolo Vanoli mulai bangkit dengan keluar dari zona merah.

Laga menarik sejatinya baru berlangsung Minggu. Dua tim dalam tren menanjak, Como dan AS Roma akan saling sikut di Giuseppe Sinigaglia.

Bisa dibilang laga tersebut sebagai pemanasan untuk keduanya jelang bertemu lawan raksasa di Liga Champions. Como kedatangan Manchester United dan Roma menjamu Real Madrid.

Yang tak kalah menarik adalah pertemuan Sassuolo vs AC Milan. Banyak yang mennganggap tuan rumah akan kesulitan musim ini ketika ditinggal Fabio Grosso.

Apalagi Alberto Aquilani sebagai pengganti belum pengalaman di Serie A. Namun, sejauh ini Sassuolo tetap stabil di 10 besar.

Sementara AC Milan datang dengan status tak terkalahkan musim ini. Para pemain juga mulai memahami keinginan Ruben Amorim, yang apa pun ceritanya, lagi kalah, menang, skuat tidak memungkinkan, main tiga bek wajib hukumnya.

Pertemuan Sassuolo vs AC Milan juga memunculkan satu fakta menarik. Bahwa Il Neroverdi kryptonitenya I Rossoneri.

Ya, Milan sering kesulitan tiap melawan Sassuolo. Musim lalu saja mereka gagal mengalahkan tuan rumah, dengan rincian sekali kalah dan imbang.

Bahkan dalam 10 pertemuan terakhir Christian Pulisic dkk cuma menang tiga kali. Yang paling memalukan tentu saja kekalahan 2-5 di San Siro yang terjadi 2023 lalu.

Serie A Giornata 6: Juventus Tandang ke Cagliari

Usai AC Milan bertemu kryptonitenya, laga Cagliari vs Juventus akan memanaskan dinihari Anda. Kali ini, pertemuan keduanya patut dinanti.

Sebab Cagliari tengah jadi sorotan. Mereka bertengger di papan atas, tiga tingkat di atas Juventus. Ini sekaligus jadi capaian tertinggi dalam sejarah klub.

Untuk pertama kalinya tim Sardinia bertengger di urutan keempat Serie A dengan 12 poin. Tertinggal satu angka saja dari AS Roma si pemuncak klasemen.

Adapun Juve yang masih mencari bentuk permainan terbaik mulai bangkit dengan memenangkan dua laga terakhir. Karena kedua tim beda kelas, tak perlu lah kita spill head to head keduanya.

Menarik dinanti, apakah Juve akan mengembalikan Cagliari ke tempatnya di papan bawah, atau justru tuan rumah melanjutkan kejutan dan membuat situasi Luciano Spalletti kian terjepit.

Jadwal Lengkap Serie A Giornata 6:

Sabtu 10 Oktober
Genoa vs Fiorentina (20.00 WIB)
Inter Milan vs Parma (23.00 WIB)

Minggu 11 Oktober
Napoli vs Frosinone (01.45 Dinihari WIB)
Como vs AS Roma (17.30 WIB)
Lazio vs Monza (20.00 WIB)
Lecce vs Bologna (20.00 WIB)
Sassuolo vs AC Milan (23.00 WIB)

Senin 12 Oktober
Cagliari vs Juventus (01.45 Dinihari WIB)
Atalanta vs Venezia (23.30 WIB)

Selasa 13 Oktober
Torino vs Udinese (01.45 Dinihari WIB)

AS Roma Sudah Ditargetkan Scudetto dalam 3 Tahun, tapi…

Capaian AS Roma menanjak sejak Gian Piero Gasperini datang sebagai pelatiih. Mereka kembali ke Liga Champions setelah absen beberapa tahun.

Musim ini AS Roma mengawali Serie A dengan luar biasa. Bersama Inter Milan mereka jadi klub yang cuma sekali gagal menang, itu pun saat keduanya bertemu di giornata kelima.

Pasukan Gasperini kini memuncaki klasemen Liga Italia dengan 13 poin. Unggul selisih gol saja dengan sang juara bertahan dan rival sekotanya, Lazio.

Artinya, Il Lupi punya peluang meraih scudetto musim ini. Kendati perjalanan menuju juara masih jauh, Gasperini tidak menampik kemungkinkan itu.

Apalagi dia sudah mencanangkan target tinggi. Yakni scudetto dalam tiga tahun sejak dirinya ambil alih tim.

“Rencana kami adalah mencapai scudetto dalam tiga tahun. Kami tidak masalah jika bisa meraihnya lebih cepat, tapi saya sadar jalannya masih panjang,” ucap allenatore AS Roma.

“Dalam sepak bola tidak ada jalan lurus atau jalur yang jelas. Akan ada pasang surut dan jika kami mampu mengatasinya, siapa tahu,” ia menambahkan.

AS Roma Puasa Gelar Sejak 2001

Kendati berstatus tim ibu kota, prestasi AS Roma tidak terlalu menonjol. Cuma tiga kali mereka juara Serie A dan terakhir dimenangkan 2001 silam.

Sudah terlalu lama I Giallorossi tak juara liga. Tapi bukan berarti dari 2001 mereka tak memenangkan apa pun.

Ada lima gelar yang diraih Roma. Dua Coppa Italia, dua Supercoppa, dan satu Conference League, yang sekaligus jadi gelar terakhir yang masuk ke lemari klub.

Kini bersama Gian Piero Gasperini AS Roma siap mengulang sukses 25 tahun silam. Mereka sudah memiliki modal bagus, start nyaris sempurna dan kedalaman skuat yang mumpuni.

Jose Mourinho Kenang Final Terakhir AS Roma dan Drama di Parkiran

Jose Mourinho punya kenangan buruk selama melatih AS Roma. Salah satunya ketika timnya kalah dari Sevilla di final Liga Europa 2023 lalu.

Laga di Budapest kala itu berlangsung sengit. AS Roma yang sempat unggul gagal mempertahankan kemenangan. Pemenang akhirnya ditentukan lewat adu penalti.

Di sinilah Il Lupi harus mengakui keunggulan Sevilla. Yang menarik, final saat itu bukan hanya soal pertandingan dan kekalahan klub ibu kota.

Lebih dari itu, muncul drama yang terjadi setelah laga. Jose Mourinho tidak senang dengan kepemimpinan wasit asal Inggris, Anthony Taylor.

Menurutnya ada beberapa keputusan yang merugikan Roma. Protes yang dilancarkan sepanjang pertandingan pun tak digubris oleh sang pengadil.

Merasa tidak puas dan dipermainkan, nakhoda asal Portugal menunggu Taylor di parkiran stadion untuk melampiaskan amarah.

Keesokan harinya, Anthony Taylor sudah ditunggu ribuan fan di bandara. Sang wasit dihina, bahkan sampai ada ancaman soal keselamatannya.

Bagi Mourinho itu dua kejadian berbeda. Apa yang terjadi di parkiran sepenuhnya tanggung jawabnya. Tapi kejadian di bandara di luar kendalinya.

“Apa yang terjadi di bandara bukanlah tanggung jawab saya. Saya bertanggung jawab atas penghinaan yang saya berikan kepada wasit di parkiran dan saya menanggung akibatnya,” ucap Jose Mourinho.

“Saya harusnya tidak menanggung akibat dari apa yang terjadi di bandara karena itu bukan kesalahan saya dan itu merusak hubungan kami dengan pemilik klub. Karena setelah itu hubungan kami berbeda,” ia menambahkan.

Jose Mourinho akan Sambut Hangat Pemilik Roma

Di sisi lain, tengah pekan nanti akan terasa spesial untuk Jose Mourinho. Ia akan kembali ke Olimpico untuk pertama kalinya setelah dipecat Januari 2024.

Kali ini The Special One datang sebagai musuh. Ia kini menangani Real Madrid yang akan melawan AS Roma di matchday dua Liga Champions.

Dengan kata lain, ada sisi emosional yang akan dia rasakan. Bertemu lagi dengan para tifosi yang pernah menyanjungnya dan juga pemilik klub yang selalu mendukung kinerjanya.

“Saya tidak pernah secara terbuka membahas hubungan dengan keluarga Friedkin,” jelas pria asal Portugal.

“Saat kembali ke Roma dan bertemu mereka di lorong setelah laga, saya akan menyapa dengan hangat,” tutup Jose Mourinho.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.