Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

banner 400x130

Juventus Masih Lapar, 2 Bintang Premier League Selangkah Lagi Datang

Juventus terus memperkuat tim untuk musim 2026-2027. Mereka selangkah lagi akan kedatangan dua bintang Premier League.

Kedua pemain tersebut memiliki posisi yang sama, striker. Mereka adalah Nick Woltemade dan Joshua Zirkzee.

Woltemade dan Zirkzee akan datang dengan skema berbeda. Bomber Newcastle United kemungkinan digaet dengan status pinjaman dan opsi pembelian di akhir musim.

Sementara penyerang Manchester United secara permanen. Sky Sport Italia melaporkan Juventus sudah menaikkan tawaran kepada MU menjadi 30 juta euro.

Angka ini diyakini akan membuat Setan Merah melunak. Apalagi Zirkzee sudah tidak masuk dalam skema Michael Carrick.

Kembali ke Serie A tentu menyenangkan untuk pemain asal Belanda. Sebab namanya mulai berkibar ketika berkiprah di Italia, terutama saat memperkuat Bologna.

Pengalaman ini pula yang membuat Zirkzee tidak berpikir dua kali ketika tawaran dari Juve datang. Ditambah lagi Si Nyonya Tua krisis striker karena masih belum punya pengganti Dusan Vlahovic yang hengkang ke Besiktas.

Juventus Awalnya Jadikan Woltemade Opsi Kedua

Terkait dua pemain yang disebutkan, Juventus awalnya hanya menginginkan Joshua Zirkzee. Namun, kemunculan Fiorentina sebagai pesaing membuat manajemen memikirkan opsi lain.

Situasi inilah yang memunculkan nama Nick Woltemade. Penyerang timnas Jerman disiapkan sebagai opsi kedua jika upaya menggaet Zirkzee gagal.

Akan tetapi, situasi terakhir memungkinkan klub menggaet keduanya. Penyebabnya adalah kepergian Jonathan David yang segera dipinjamkan ke Atletico Madrid.

Jika David pergi, Juventus hanya punya Randal Kolo Muani di depan. Kondisi ini tentu riskan untuk tim yang tengah berupaya bangkit musim ini.

Belum lagi kondisi terkini Kenan Yildiz yang masih cedera. Mau tidak mau pasukan Luciano Spalletti harus menambah pemain berkualitas di lini depan.

 

Akhir Prematur Rafael Leao di AC Milan

Rafael Leao dan AC Milan akhirnya berpisah. Setelah tarik ulur negosiasi, sang winger benar-benar memutuskan pergi musim ini.

Rafael Leao sudah sepakat ke Galatasaray. Transfer ini membuat raksasa Turki harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta euro. Angka tersebut belum termasuk bonus 2 juta euro yang harus dibayarkan pada akhir musim.

Kepindahan ini bisa dibilang menguntungkan semua pihak. AC Milan mendapat dana segar, apalagi dalam klausul tercantum mereka akan mendapatkan sekitar 20 persen dari hasil penjualan Leao di masa depan.

Bagi Galatasaray tentu ini menambah kekuatan lini serang. Mereka kian bertabur bintang karena sebelumnya sudah memiliki Victor Osimhen dan Leroy Sane. Pun untuk Leao, kepindahan ini membuat pundi-pundinya makin tebal.

Menurut laporan di Italia, ia mendapat gaji seebsar 12 juta euro permusim. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari yang didapatkan bersama Milan selama ini.

Leao pergi dari Milan sebenarnya tinggal menunggu waktu. Masa depannya sudah jadi tanda tanya sejak paruh kedua dua musim lalu.

Rafael Leao Korban Perubahan Sistem Bermain

Saat itu ia tidak nyaman dengan perubahan peran yang diminta Sergio Conceicao, pelatih kala itu. Eks Sporting Lisbon diminta untuk bermain lebih dalam dan turun ke bawah membantu pertahanan.

Pada akhir musim ia sudah mempertimbangkan hengkang. Terlebih muncul tawaran menggiurkan dari Chelsea.

Niat itu kemudian diurungkan seiring dipecatnya Conceicao dan masuknya Massimiliano Allegri selaku pengganti. Situasi sempat membaik, Leoa kembali jadi tumpuan di sisi kiri serangan.

Namun, situasi berubah lagi perlahan. Pemain Portugal beberapa kali dicadangkan, belum lagi muncul kritikan datang dari beberapa legenda, Roberto Donadoni salah satunya.

Donadoni menuntut Rafael Leao mengubah perangainya dan lebih adaptif dengan strategi pelatih. Kata Roberto Donadoni, itu satu-satunya cara agar Leao bertahan dan bangkit bersama Milan.

Apa daya, situasinya tidak sesimpel sebelumnya, Leao kadung putus asa dengan berbagai perubahan yang sangat cepat dalam tim. Sehingga keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama.

Rafael Leao Ucapkan Salam Perpisahan untuk AC Milan

“Saya mengucapkan selamat tinggal kepada rekan setim setelah tujuh tahun bersama. Klub selalu membantu, membuat mengerti apa artinya berada di level tertinggi,” ucap Rafael Leao kepada Sky Sport Italia.

“Saya memilih penghormatan yang berbeda, untuk mengucapkan selamat tinggal di lapangan sekali lagi di depan tifosi, mereka yang telah membantu saya, terutama di momen tidak baik,” ia menambahkan.

“Saya akan tercatat dalam sejarah klub, karena saya tahu apa yang sudah kami raih di sini. Milan akan selalu tersimpan dalam hati, yang bisa saya lakukan hanyalah berterima kasih,” imbuhnya.

Selama berseragam I Rossoneri, pemain 27 tahun bagian penting dari sukses klub merengkuh scudetto musim 2021-2022 dan Supercoppa Italia dua tahun kemudian. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri akhir cerita sang bintang terbilang prematur.

Performanya menurun, peran di lapangan berkurang, kepercayaan pelatih sempat menghilang, dan dapat kritik tajam dari legenda.

Rafael Leao juga tidak pindah ke klub raksasa Eropa seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Tapi setidaknya, winger murah senyum ini tidak nyasar sampai Saudi Arabia.

Kerinduan pada Serie A Kembali Dijawab ANTV

Ada era ketika menonton Serie A kita tidak membutuhkan paket berbayar atau koneksi internet yang harus stabil sampai peluit panjang berbunyi. Kita cukup menyalakan televisi, pasang antena, dan secangkir kopi untuk menunggu malam berganti dinihari.

Ini bukan tulisan berbayar, bukan pula titipan. Ini hanya wujud syukur ketika Serie A yang dianggap meredup sinarnya tapi tetap menjadi daya tarik televisi, dengan ANTV sebagai aktor utamanya.

Sudah dua musim terakhir ANTV menyiarkan Serie A. Bedanya, musim lalu start mereka sedikit terlambat. Kompetisi sudah berjalan 13 giornata barulah ANTV menyiarkan liga Italia. AC Milan vs Lazio jadi laga pertama yang disiarkan TV nasional setelah sekian lama.

Musim ini, kompetisi baru melalui satu giornata, TV yang bermarkas di Kuningan, Jakarta Selatan, sudah membuat pengumuman. Memang, sampai tulisan ini terbit, belum jelas pertandingan apa yang akan debut di ANTV.

Yang pasti, keputusan ANTV adalah sedikit bukti bahwa Serie A tak pernah mati. Pamor yang kian tergerus zaman, level kompetisi yang stagnan, nyatanya tidak melunturkan kecintaan para tifosi. Kesetiaan ini yang bisa jadi penyebab TV tetap memandang Liga Italia lebih dari sekadar sepak bola.

Serie A, Masa Lalu, dan Masa Kini

Ada nilai historis, ada kenangan masa kecil, dan ada harapan untuk kembali seperti dulu. Inilah yang terus dijaga lewat pertandingan-pertandingan tiap pekannya.

Apalagi ANTV bukan pemain baru dalam menayangkan Liga Italia. Mereka sudah menemani kita sedari kecil ketika Chiesa masih Enrico dan Thuram masih berwujud Lilian.

Atau saat calcio masih terpandang, masih di atas liga-liga lainnya secara pamor dan kualitas. Mungkin itulah alasan kembalinya Serie A ke layak kaca lebih dari sekadar hak siar.

Ia selayaknya pertemuan antara dua waktu. Waktu dulu ketika kita masih belia dan Serie A seperti pusat semesta sepak bola. Dan waktu sekarang saat kita tua pelan-pelan, punya pekerjaan dan Liga Italia, dengan sisa-sisa kejayaannya, seperti lahir kembali di layar kaca.

Tentu saja kita berharap ada perbaikan kualitas dari pihak TV. Dari siaran musim lalu, harus diakui ada hal kecil yang sedikit mengganggu. Salah satunya suara dan vibes pertandingan yang cukup minim terdengar.

Padahal atmosfer stadion dan gemuruh tifosi bagian penting dari sepak bola, terutama bagi kita penonton layar kaca. Musim ini semoga saja atmosfer stadion nyaring terdengar.

Semoga saja ANTV tetap mempertahankan, setidaknya tiga pertandingan dalam sepekan. Baik itu Grande Partita atau tidak itu bukan soal. Setidaknya, keanggunan Bryan Cristante tetap bisa kita lihat tiap Senin dinihari.

 

 

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

Bentornato Serie A: Giornata Pembuka, Awal dari Semua Cerita

Tiga bulan lamanya sejak musim 2025-2026 berakhir, Serie A kembali menyapa. Ia datang untuk memulai musim baru, musim yang diharapkan lebih menarik dan menegangkan dari sebelumnya.

Musim lalu Inter Milan hampir tanpa perlawanan. Mereka sudah memastikan scudetto beberapa pekan sebelum giornata pamungkas digelar. Tapi bukan berarti musim lalu Serie A kurang persaingan.

Demi mengisi spot Liga Champions, banyak klub saling sikut Pada akhirnya nama besar AC Milan dan Juventus takluk dari rasa lapar AS Roma serta modernisasi yang diusung Como.

Bagi AS Roma, sukses kembali ke Liga Champions adalah jawaban dari doa-doa di sepertiga malam yang dipanjatkan Gianluca Mancini.

Sementara untuk Como ini awal baru. Mereka adalah bukti meski pemiliknya orang Indonesia, tapi bisa berkibar dengan cara dan tata kelola yang sangat tidak Indonesia.

Serie A Menunggu Konsistensi Como

Hanya saja, biasanya klub-klub kejutan seperti Como punya musuh besar, yaitu konsistensi. Sudah banyak korban dari konsistensi itu yang menghancurkan para kuda hitam di musim selanjutnya.

Di Premier League ada Leicester City yang babak belur usai juara. LaLiga punya Girona yang nyaris degradasi usai sebelumnya menembus empat besar.

Serie A sebenarnya bisa jadi berbeda. Karena contoh yang paling dekat adalah Atalanta. Mereka kuda hitam yang konsisten, sejak tembus Liga Champions untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu, La Dea tak pernah absen dari kompetisi Eropa.

Apalagi Como menatap musim ini dengan sangat serius. Ikut Liga Champions membuat manajemen sedikit mengubah penilaian dalam meminang pemain.

Jika selama ini mereka mencari pemain-pemain muda belum matang atau yang sudah melewati masa emas, Como sekarang lebih selektif. Klub tak mau cuma numpang lewat di Eropa dan jatuh lebih cepat di Serie A.

Untuk itu, Trevoh Chalobah yang sudah mapan bersama Chelsea didatangkan. Pun Yan Couto yang terbiasa main di Liga Champions bareng Borussia Dortmund.

Upaya AC Milan dan Juventus Kembali Bersaing di Serie A

Yang jadi pertanyaan, apakah napas baru yang dihadirkan Como atau rasa lapar AS Roma bisa menenggelamkan AC Milan dan Juventus? Jawabannya belum tentu.

Sepak bola Italia selalu tentang sejarah, tentang apa yang diagungkan di masa lalu, tentang kelas yang tak pernah berubah. Ini pula yang membuat haram hukumnya mencoret Milan maupun Juve dari persaingan.

Lagi pula kedua klub sudah berbenah, terutama I Rossoneri yang kembali melakukan pergantian pelatih. Secara sadar dan berani mereka menunjuk Ruben Amorim, pelatih muda yang kadung dicap gagal dan keras kepala di Manchester United.

Masalahnya Amorim berasal dari Portugal. Dan AC Milan tidah hanya gagal bersama dua allenatore Portugal sebelumnya, Paulo Fonseca dan Sergio Conceicao. Kerja sama mereka selalu berakhir problematik.

Adapun Juventus rupanya masih percaya pada Luciano Spalletti. Manajemen sempat diisukan akan membawa pulang Antonio Conte.

Nyatanya Spalletti masih di balik kemudi. Selain pelatih, yang cukup menjadi pertanyaan adalah keseriusan manajemen dalam mengembalikan kejayaan klub, dilihat dari aktivitas transfer.

Randal Kolo Muani yang sempat dibuang ke Tottenham kembali didatangkan. Jhon Lucumi juga digaet serta dua bintang muda yang belum teruji betul kualitasnya, Kerim Alajbegovic dan Jeff Ekhator.

Yang terbilang oke adalah memboyong Guglielmo Vicario untuk menggantikan Michele Di Gregorio. Lalu membajak Zeki Celik dari AS Roma untuk menenangkan hati para penggemar.

Serie A  Masih Terapkan Arisan Pelatih

Serie A musim 2026-2027 kembali menghadirkan pelatih-pelatih baru. Tercatat ada sembilan klub ditangani nakhoda anyar,

Yang perlu dicatat, dalam konteks Serie A, biasanya pelatih-pelatih barunya “Dia lagi, dia lagi”. Sebab allenatore Italia hanya berputar di situ-situ saja.

Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya arisan pelatih. Setiap klub seperti sudah digilir. Seperti Atalanta yang kini mendapat giliran ditukangi Maurizio Sarri.

Napoli yang akhirnya merasakan ilmu hitam nan terlarang milik Massimiliano Allegri, Lazio kepincut Gennaro Gattuso, sampai masih ada klub yang percaya dengan Ivan Juric, itulah Monza.

Namun, tak semua mengikuti tren arisan pelatih. Ada juga yang memilih cara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Seperti Torino dan Sassuolo. Mereka mengikat Ignazio Abate maupun Alberto Aquilani yang masih muda.

Kemudian Bologna. Mereka membawa pulang Domenico Tedesco ke tanah kelahiran usai separuh hidup dihabiskan di tanah perantauan.

Apa pun itu, Liga Italia akan kick off nanti malam, menghadirkan empat pertandingan. Di awali Udinese vs Como dan Inter Milan vs Monza yang main barengan.

Semoga saja Serie A musim ini berjalan menarik, baik persaingan papan atas maupun papan bawah. Malam ini cerita baru akan dimulai, malam-malam menegangkan kembali menemani, dan kita siap menjadi saksi.

 

,

Inter Milan Ukir Sejarah di Bursa Transfer

Inter Milan tancap gas untuk memperkuat tim jelang musim 2026-2027 bergulir. Mereka cukup aktif di bursa transfer lewat pergerakan-pergerakan tepat sasaran.

Cepatnya langkah yang diambil tak lepas dari beberapa pemain yang pergi. Ya, Inter Milan ditinggal salah satu bintangnya, Denzel Dumfries, yang tak kuasa menahan godaan bernama Real Madrid.

Dumfries bukan satu-satunya bek yang angkat kaki. Dua veteran kenyang asam garam, sama-sama datang dari Lazio, Stefan de Vrij dan Francesco Acerbi juga keluar. Kontrak habis yang dibarengi usia mendekati kepala empat membuat kerja sama tak mungkin diperbaharui.

Palang pintu terakhir I Nerazzurri tak mau ketinggalan. Yann Sommer yang dianggap mulai melambat refleksnya  dilepas. Mereka pergi secara permanen, kecuali Davide Frattesi yang dipinjam ke Lazio dengan opsi tebus di akhir musim.

Hampir semua bangku kosong yang ditinggal sudah terisi. Inter meneruskan romantisme dengan Lazio di jendela transfer lewat suksesor Yann Sommer bernama Ivan Provedel. Sebuah langkah yang dianggap banyak pihak jitu mengingat Provedel membuktikan konsistensinya (di luar cedera yang beberapa kali diderita).

Inter Milan Boyong 3 Pemain Inggris

Yang menarik adalah pengganti Dumfries, Acerbi, dan Frattesi. Untuk tiga pengganti, radar sang juara bertahan tertuju pada satu negara. Baik Djed Spence, John Stones, maupun Curtis Jones sama-sama dari Inggris.

Demi menggaet Spence, klub hanya nge-spend dana tak kurang dari 30 juta euro. Angka yang murah untuk pemain Inggris, apalagi berlabel timnas dan tampil gemilang di Piala Dunia 2026. Mungkin jika yang membeli Spence masih klub Premier League, Tottenham Hotspur akan membanderolnya sekitar 60 juta euro.

Sang bek kanan juga tak perlu waktu lama untuk beradaptasi di Italia. Ia pernah merasakan ringkihnya Serie A ketika dipinjamkan ke Genoa dua tahun lalu dan mencicipi 16 laga.

Sempat kesulitan mencari pengganti Maicon, scouting Inter Milan kini jitu mencari calon bek kanan hebat. Denzel Dumfries memberi gaya baru dalam sesi bertahan dan menyerang tim sepeninggal Achraf Hakimi yang eksplosif. Dengan kualitas dan atribut permainan yang hampir sama, Djed Spence punya peluang untuk mengulang sukses itu.

Lalu ada John Stones, bek tangguh yang sudah menang segalanya bersama Manchester City. Termasuk trofi Liga Champions saat mengalahkan Inter di Istanbul.

Masalahnya, manajemen sepertinya hanya punya proyek jangka pendek untuk bek tengah. Bagaimana tidak, mereka mengganti Acerbi yang sudah uzur dengan Stones yang kepala tiga.

Usianya sudah 32 tahun, tempat utamanya di Manchester City juga mulai tergusur musim lalu. Walau begitu, banyak yang percaya Stones tetap bisa memberi dampak untuk klub.

Inter Milan Berjodoh dengan Jebolan Premier League

Di pramusim dirinya sudah menyumbang satu gol, apalagi beberapa transfer terakhir La Beneamata dari Premier League selalu berakhir manis. Seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Manuel Akanji, hingga Christian Eriksen.

Faktor itu mungkin membuat manajemen menutup mata soal menit bermain John Stones musim lalu. Sejarah sudah mencatat dan bek 32 tahun sudah teruji secara kualitas dan pengalaman.

Paling anyar muncul nama Curtis Jones. Isu gelandang Liverpool menguat pertama kali sejak dirinya dan Alessandro Bastoni saling follow di Instagram beberapa hari lalu. Tak lama setelah itu, Fabrizio Romano dengan mantranya mengucap “Here We Go”.

Sekarang Jones sudah resmi berbaju I Nerazzurri dengan mahar 30 juta euro. Sukses menggaet Jones cukup mengejutkan sebab latar belakang sang gelandang yang akamsi Liverpool.

Darah The Reds sudah mengalir deras dalam tubuhnya sejak lahir. Kendati tidak selalu jadi pilihan utama dan cenderung mendapat cemooh dari fan Liverpool di tanah air, tidak ada tanda-tanda kuat dia akan pergi.

Hingga akhirnya Inter Milan yang butuh pengganti Frattesi dan meminimalisir kerja Henrikh Mkhitaryan yang akan berusia 150 tahun perlu mengambil langkah bijak. Datangkan Curtis Jones sekarang. Atau tidak selamanya.

Apa pun itu, bagaimana pun kiprah Djed Spence, John Stones, dan Curtis Jones musim ini, tetap saja kehadiran mereka menjadi sejarah baru. Karena untuk pertama kalinya di era modern ada klub Serie A yang menggaet tiga pemain Inggris sekaligus dalam satu jendela transfer.

Sebelumnya paling banyak dua pemain Inggris yang datang dalam satu jendela transfer. Itu pun terjadi era 80-an silam ketika AC Milan meminang Mark Hateley dan Ray Wilkins 1984 silam.

 

 

Manuver Tunggal Giovanni Malago dan Polemik Berkelanjutan Italia

Polemik belum menjauh dari timnas Italia. Seperti sebelumnya, aktor utama tetap sama, yaitu presiden FIGC, Giovanni Malago.

Giovanni Malago yang baru ditunjuk sebagai presiden FIGC sebelumnya membuat keputusan kontroversial. Dia memveto penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih Italia.

Sang presiden tidak terima Pirlo sebagai representatif perusahaan judi asal Rusia. Alasan ini membuat FIGC yang masih berbulan madu bareng Paolo Maldini dan Leonardo Araujo harus pisah jalan. Maldini selaku Direktur Teknis dan berwenang penuh dalam penunjukan pelatih baru merasa tak dihargai.

Alhasil, dia langsung ankat kaki dari federasi usai hanya 17 hari bertugas. Keputusan ini diikuti oleh koleganya, Leonardo. Huru-hara ini rupanya tidak membuat Malago kapok.

Lagi-lagi, tanpa peduli pendapat orang-orang berkepentingan di federasi, tak memikirkan baik-buruk dan citra Italia di mata dunia ia mengangkat Diana Bianchedi sebagai Ketua Delegasi timnas Italia. Bianchedi menggantikan posisi Gianluigi Buffon yang mengundurkan diri beberapa waktu lalu.

Awalnya, keputusan ini seakan menuju perubahan besar. Sebab Bianchedi bukan dari kalangan sepak bola. Ia adalah mantan atlet Anggar, peraih dua medali emas Olimpiade dan kini berstatus Wakil Ketua CONI (Komite Olimpiade Italia).

Banyak yang berharap Gli Azzurri bisa bangkit dari keterpurukan. Apalagi selama di CONI Bianchedi membuat beberapa gebrakan, salah satunya dengan terpilihnya Milan sebagai tuan rumah Olimpiade musim dingin baru-baru ini.

Dengan kata lain, wanita yang juga sarjana kedokteran ini memiliki konsep dan target. Tak lama kemudian, publik dikejutkan oleh fakta mencengangkan di balik terpilihnya Diana Bianchedi.

Corriere della Sera melaporkan bahwa Malago tidak melibatkan Roberto Mancini selaku pelatih baru Gli Azzurri dan Claudio Ranieri sebagai Direktur Teknik yang baru. Selain itu, dirinya juga tidak berkonsultasi lebih dulu dengan CONI.

Kegilaan suksesor Gabriele Gravina tak sampai di situ. Diana Bianchedi sendiri bahkan tidak tahu menahu soal penunjukan tersebut.

pengumuman Bianchedi dilakukan Malago pada Minggu (9/8) siang. Calon suksesor Buffon baru dihubungi pada pagi hari yang sama. Sore nya, CONI yang juga baru mengetahui peresmian ini langsung bereaksi keras.

Presiden CONI, Luciano Buonfiglio tidak merestui keputusan sepihak Giovanni Malago. Alasannya jelas, Bianchedi masih menjabat sebagai wakilnya dan menurut peraturan pejabat CONI dilarang rangkap jabatan.

Sampai hari ini belum ada kejelasan soal ini. Yang jelas Bianchedi belum menandatangani kontrak apa pun dengan FIGC dan Malago sedang berlibur.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.