Empat wakil Italia di Liga Champions kalah semua. Kini mereka berharap pada dua wakil lain di Eropa. Ada AC Milan dan Juventus yang akan berlaga dinihari nanti.
Matchday kedua Liga Chmapions jadi kuburan untuk klub Italia. Setelah di laga pembuka cuma Como yang menang, kali ini semuanya kompak menelan kekalahan.
Inter Milan dan Napoli kalah di waktu bersamaan. I Nerazzurri paling memalukan karena takluk di kandang dari klub Belgia, Club Brugge, dengan skor 3-4.
Adapun Napoli pulang dari Spanyol dengan kepala tertunduk. Mereka kalah 1-3 dari Villarreal dan hasil tersebut melahirkan friksi baru antara Massimiliano Allegri dengan beberapa pemain.
Dinihari tadi AS Roma nyaris menyelamatkan wajah Italia. Donyell Malen dkk unggul 3-1 sebelum akhirnya kalah 3-4 di masa injury time.
Kekalahan Roma mungkin bisa sedikit dimaklumi. Lawan yang dihadapi adalah Real Madrid, raja Eropa spesialis remontada. Pelatihnya pun Jose Mourinho, yang dalam satu hari bisa bermulut manis, di banyak hari lain senantiasa menebar kebencian.
Como si penebar harap dan masa depan Calcio juga tak berkutik di Belanda. Perlawanan sengit mereka harus berakhir dengan kekalahan 2-3 dari Feyenoord.
Hasil empat klub itu ancaman nyata untuk sepak bola Italia yang memang sudah terancam. Untungnya, kompetisi Eropa tak hanya Liga Champion. Masih ada Liga Europa, ajang kelas dua yang mengundang rasa penasaran AC Milan dan Juventus untuk menaklukkannya.
AC Milan Incar Kemenangan Perdana, Juventus Berharap Sempurna
Sebagai liganya orang tua, digilai oleh kita-kita pula yang rata-rata berumur kepala tiga, empat, dan lima, ada baiknya harapan kita panjatkan kepada mereka yang punya nama besar, yang senantiasa menopang timnas dalam segala kesuksesan. Mereka lah AC Milan dan Juventus
Milan akan tandang ke Austria, ditunggu RB Salzburg yang siap memberi pelajaran. Bagaimana pun tuan rumah lebih berpengalaman di Liga Europa.
Apalagi mereka catatkan kemenangan di matchday pertama. Namun, I Rossoneri tetap berpeluang curi tiga poin.
Pelan tapi pasti mereka mulai mencapai level yang dibutuhkan kompetisi kasta kedua ini. Pelatih muda kepala batu, pemain mahal tapi kualitas rata-rata.
Apalagi kali ini AC Milan mengemban misi mulia. Mempertaruhkan gengsi dan nama besar Italia di panggung Eropa. Inilah tanggung jawab yang harus ditanggung gara-gara empat rekan lain memalukan di kasta tertinggi.
Harapan ini harus diakui berat. Adrien Rabiot dkk masih mencari bentuk prmainan terbaik. Terlebih mereka kalah di laga pertama dari Benfica.
Jika Setan Merah cabang Milano tak bisa diandalkan, ada Juventus yang senantiasa menjadi juru selamat. Peluang Juve menang lebih besar karena lawannya adalah Celta Vigo.
Juventus seolah sudah terbiasa, atau jangan-jangan akan membiasakan diri, berkompetisi di UEL. Terbukti laga pertama langsung dimenangkan dengan skor telak 5-0 atas NEC Nijmegen.
Kualitas pemain tak perlu diragukan. Randal Kolo Muani mulai menemukan ketajaman dengan gol yang dibuat ke gawang Cagliari akhir pekan lalu.
Si Nyonya Tua juga punya beberapa pemain yang sudah menamatkan Liga Europa. Seperti Zeki Celik yang nyaris juara bareng AS Roma, serta Guglielmo Vicario dan Pape Meta Sarr yang sukses angkat piala bareng Tottenham Hotspur.
Jadi tidak salah rasanya jika kita, seluruh Italia, beserta isinya kembali berdoa untuk AC Milan maupun Juventus. Karena bagaimana pun, ini soal harga diri negara di mata asing.













