Alphadjo Cisse: Rising Star AC MIlan dengan Segala Kisahnya

Mencetak gol pertama di debut bisa jadi kebetulan. Tapi membobol jala Juventus adalah mentalitas. Itulah yang dimiliki Alphadjo Cisse, wonderkid AC Milan yang baru.

Nama Alphadjo Cisse masih asing terdengar. Maklum saja, ini perdana dia menembus tim utama.

Uniknya, kesuksesan Cisse menembus skuat AC Milan tak lepas dari unsur kesengajaan. Pelatih Ruben Amorim sedang bereksperimen untuk mempersiapkan tim menuju musim baru.

Semua pemain dicoba, beberapa dari primavera dipanggil. Rising star 19 tahun termasuk yang konsisten diberi kesempatan selama pramusim.

Banyak yang berpikir, mungkin Cisse juga berpikir, kesempatannya hanya selama pramusim. Namun, Amorim melihatnya lebih dalam lagi.

Dengan segala pertimbangan dan keterbatasan skuat, Amorim tetap menyertakan Cisse. Apa yang kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan.

Giornata satu Serie A musim 2026-2027, tandang ke Torino, Alphadjo Cisse langsung mengisi starting 11. Serentak semua orang bertanya-tanya “siapa anak ini? Bisa apa dia?”..

Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu wajar terjadi. Di Italia, memberi kepercayaan kepada pemain muda di laga pembuka adalah hal tak biasa. Butuh kualitas dan mentalitas pemain serta keberanian pelatih.

Alphadjo Cisse: Asal Guinea Lahir di Treviso

Berasal dari Guinea, ia lahir di Treviso, Italia. Tepatnya di San Liberale, sebuah tempat pinggiran kota yang dibangun pada tahun 1858 untuk menumbuhkan rasa reinkarnasi dan menawarkan perlindungan kepada mereka yang kehilangan rumah selama perang.

Ia tak sekadar lahir di sini. Dia juga hidup dan menjadi titik awal ceritanya di sepak bola dengan Polisportiva Indomita 21 sebagai klub pertama. Lalu pindah ke Castelfranco Veneto, klub yang sama tempat Yunus Musah bermain ketika kecil dulu.

Alphadjo Cisse kecil sudah menjadi daya tarik. Bayangkan saja, umur 11 tahun dia mampu mencetak gol langsung dari tendangan sudut.

Alphadjo Cisse rising star AC Milan
sumber foto: gazzetta.it

Berawal dari momen itu, Cisse kecil jadi magnet dalam tim. Pemain dan pelatih butuh magisnya, butuh gol-gol yang bisa datang dari sudut mana pun.

“Dalam satu pertandingan, pelatih bilang padanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Kemudian dia bikin tiga gol secara akrobatik,” kenang Marco Pinzi, presiden Indomita 21.

Menjadi mutiara sedari kecil seperti sudah takdir untuk pemain bernomor 70. Ia bukan sekadar bermain, bukan hanya ingin menjadi hebat di masa depan.

Lebih dari itu, Cisse ingin mengubah hidupnya dan keluarga, membalas jasa kedua orang tua. Ceritanya di Italia berawal dari keputusan orang tuanya meninggalkan Guinea.

Saloussy Cisse, sang ayah, melihat kehidupan di Guinea tidak baik. Tidak bisa baginya mempertaruhkan masa depan keluarga jika tetap bertahan di tanah kelahiran.

Keputusan berani diambil. Ia pindah ke Italia, dari satu kota ke kota lainnya sebelum menetap di Treviso hingga hari ini. Untuk menghidupi keluarga, Saloussy bekerja sebagai buruh pabrik dari jam 4 pagi sampai 5 sore.

Saloussy tak langsung pulang setelah jam 5. Ada kewajiban lain yang harus ditunaikan, yaitu mengantar Alphadjo Cisse main bola. Sementara sang ibu, Habibatou, bekerja sebagai pelayan hotel.

“Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia. Mencoba berbagai kota sebelum menetap di Treviso, tempat saya lahir,” ucap Cisse kepada Gazzetta dello Sport.

“Saya biasa pergi kelapangan bersama ayah naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri,” sambungnya.

Debut Alphajdo Cisse tanpa Kehadiran Orang Tua

Alphadjo Cisse kemudian menemukan klub lebih mapan. Ia menembus tim primavera Verona 2020 lalu. Sempat dipinjamkan ke Catanzaro, ia kembali ke Marc Antonio Bentegodi sebelum menjadi milik AC Milan seutuhnya Februari 2026.

Karier yang baru dia jalani berasal dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Gol ke gawang Torino adalah hasil dari keringat dan doa-doa orang tersayang, meski momen sakral itu tak pernah masuk dalam mimpinya.

“Saya mungkin tak pernah membayangkan bisa debut untuk Milan dan mencetak gol, bahkan dalam mimpi sekali pun,” ujar sang rising star waktu itu.

Sudah menancapkan tinta emas di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cisse dan keluarga tetap sosok bersahaja. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba berubah, tidak ada keistimewaan, bahkan pada hari spesial itu tidak ada saksi mata atas sejarah yang dia buat.

Faktor jarak, kewajiban terhadap perusahaan memaksa ayah, ibu, beserta kakak dan adik Cisse tak bisa hadir di stadion Olimpico Torino. Sebagai informasi, Treviso-Turin berjarak 420 km, menempuh waktu kurang lebih lima jam perjalanan.

adapun laga Torino vs AC Milan berlangsung malam hari. Dengan kata lain, mustahil bagi Saloussy dan Habibatou datang langsung karena harus bekerja pukul 4 pagi.

Kendati begitu, Cisse tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur dan penuh bangga menunjukkan gol itu kepada keluarga.

Lagi pula ini baru awal, awal dari perjalanan panjang. Awal dari mimpi besar mengubah kehidupan keluarga dan membalas jasa orang tua.

“Saya ingin membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya harap secepat mungkin punya kemampuan untuk membuat ayah dan ibu berhenti bekerja,” tutur Alphadjo Cisse.

banner 400x130

Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan: Duel Pelatih Muda dan Tua

Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.

Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.

Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.

Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.

Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.

Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.

Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.

Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.

Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.

Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei  tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.

Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan

Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.

Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.

Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.

Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.

Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol.  Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.

Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.

Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.

Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.

Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.

Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.

Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.

 

 

Napoli Menghilang dari Hiruk-Pikuk Jendela Transfer, Allegri Penyebabnya?

Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.

Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.

Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.

Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.

Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.

Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya.  Tapi musim ini tak ada pengeluaran.

Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.

Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri

Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.

Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.

I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.

Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.

Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.

Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.

Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.

Tapi  Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,

 

 

7 Pemain Baru Como, Jaminan Kejutkan Liga Champions?

Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.

Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.

Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.

Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.

Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.

Como Akhirnya Gaet Pemain Italia

Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.

Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.

Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.

Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.

Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.

Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.

Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.

Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.

Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.

Como Siap Meledak di Liga Champions

Berawal dari niat sederhana  untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.

Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.

Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.

Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.

Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.

Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.

Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.

Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

Juventus Masih Lapar, 2 Bintang Premier League Selangkah Lagi Datang

Juventus terus memperkuat tim untuk musim 2026-2027. Mereka selangkah lagi akan kedatangan dua bintang Premier League.

Kedua pemain tersebut memiliki posisi yang sama, striker. Mereka adalah Nick Woltemade dan Joshua Zirkzee.

Woltemade dan Zirkzee akan datang dengan skema berbeda. Bomber Newcastle United kemungkinan digaet dengan status pinjaman dan opsi pembelian di akhir musim.

Sementara penyerang Manchester United secara permanen. Sky Sport Italia melaporkan Juventus sudah menaikkan tawaran kepada MU menjadi 30 juta euro.

Angka ini diyakini akan membuat Setan Merah melunak. Apalagi Zirkzee sudah tidak masuk dalam skema Michael Carrick.

Kembali ke Serie A tentu menyenangkan untuk pemain asal Belanda. Sebab namanya mulai berkibar ketika berkiprah di Italia, terutama saat memperkuat Bologna.

Pengalaman ini pula yang membuat Zirkzee tidak berpikir dua kali ketika tawaran dari Juve datang. Ditambah lagi Si Nyonya Tua krisis striker karena masih belum punya pengganti Dusan Vlahovic yang hengkang ke Besiktas.

Juventus Awalnya Jadikan Woltemade Opsi Kedua

Terkait dua pemain yang disebutkan, Juventus awalnya hanya menginginkan Joshua Zirkzee. Namun, kemunculan Fiorentina sebagai pesaing membuat manajemen memikirkan opsi lain.

Situasi inilah yang memunculkan nama Nick Woltemade. Penyerang timnas Jerman disiapkan sebagai opsi kedua jika upaya menggaet Zirkzee gagal.

Akan tetapi, situasi terakhir memungkinkan klub menggaet keduanya. Penyebabnya adalah kepergian Jonathan David yang segera dipinjamkan ke Atletico Madrid.

Jika David pergi, Juventus hanya punya Randal Kolo Muani di depan. Kondisi ini tentu riskan untuk tim yang tengah berupaya bangkit musim ini.

Belum lagi kondisi terkini Kenan Yildiz yang masih cedera. Mau tidak mau pasukan Luciano Spalletti harus menambah pemain berkualitas di lini depan.

 

Akhir Prematur Rafael Leao di AC Milan

Rafael Leao dan AC Milan akhirnya berpisah. Setelah tarik ulur negosiasi, sang winger benar-benar memutuskan pergi musim ini.

Rafael Leao sudah sepakat ke Galatasaray. Transfer ini membuat raksasa Turki harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta euro. Angka tersebut belum termasuk bonus 2 juta euro yang harus dibayarkan pada akhir musim.

Kepindahan ini bisa dibilang menguntungkan semua pihak. AC Milan mendapat dana segar, apalagi dalam klausul tercantum mereka akan mendapatkan sekitar 20 persen dari hasil penjualan Leao di masa depan.

Bagi Galatasaray tentu ini menambah kekuatan lini serang. Mereka kian bertabur bintang karena sebelumnya sudah memiliki Victor Osimhen dan Leroy Sane. Pun untuk Leao, kepindahan ini membuat pundi-pundinya makin tebal.

Menurut laporan di Italia, ia mendapat gaji seebsar 12 juta euro permusim. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari yang didapatkan bersama Milan selama ini.

Leao pergi dari Milan sebenarnya tinggal menunggu waktu. Masa depannya sudah jadi tanda tanya sejak paruh kedua dua musim lalu.

Rafael Leao Korban Perubahan Sistem Bermain

Saat itu ia tidak nyaman dengan perubahan peran yang diminta Sergio Conceicao, pelatih kala itu. Eks Sporting Lisbon diminta untuk bermain lebih dalam dan turun ke bawah membantu pertahanan.

Pada akhir musim ia sudah mempertimbangkan hengkang. Terlebih muncul tawaran menggiurkan dari Chelsea.

Niat itu kemudian diurungkan seiring dipecatnya Conceicao dan masuknya Massimiliano Allegri selaku pengganti. Situasi sempat membaik, Leoa kembali jadi tumpuan di sisi kiri serangan.

Namun, situasi berubah lagi perlahan. Pemain Portugal beberapa kali dicadangkan, belum lagi muncul kritikan datang dari beberapa legenda, Roberto Donadoni salah satunya.

Donadoni menuntut Rafael Leao mengubah perangainya dan lebih adaptif dengan strategi pelatih. Kata Roberto Donadoni, itu satu-satunya cara agar Leao bertahan dan bangkit bersama Milan.

Apa daya, situasinya tidak sesimpel sebelumnya, Leao kadung putus asa dengan berbagai perubahan yang sangat cepat dalam tim. Sehingga keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama.

Rafael Leao Ucapkan Salam Perpisahan untuk AC Milan

“Saya mengucapkan selamat tinggal kepada rekan setim setelah tujuh tahun bersama. Klub selalu membantu, membuat mengerti apa artinya berada di level tertinggi,” ucap Rafael Leao kepada Sky Sport Italia.

“Saya memilih penghormatan yang berbeda, untuk mengucapkan selamat tinggal di lapangan sekali lagi di depan tifosi, mereka yang telah membantu saya, terutama di momen tidak baik,” ia menambahkan.

“Saya akan tercatat dalam sejarah klub, karena saya tahu apa yang sudah kami raih di sini. Milan akan selalu tersimpan dalam hati, yang bisa saya lakukan hanyalah berterima kasih,” imbuhnya.

Selama berseragam I Rossoneri, pemain 27 tahun bagian penting dari sukses klub merengkuh scudetto musim 2021-2022 dan Supercoppa Italia dua tahun kemudian. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri akhir cerita sang bintang terbilang prematur.

Performanya menurun, peran di lapangan berkurang, kepercayaan pelatih sempat menghilang, dan dapat kritik tajam dari legenda.

Rafael Leao juga tidak pindah ke klub raksasa Eropa seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Tapi setidaknya, winger murah senyum ini tidak nyasar sampai Saudi Arabia.

Kerinduan pada Serie A Kembali Dijawab ANTV

Ada era ketika menonton Serie A kita tidak membutuhkan paket berbayar atau koneksi internet yang harus stabil sampai peluit panjang berbunyi. Kita cukup menyalakan televisi, pasang antena, dan secangkir kopi untuk menunggu malam berganti dinihari.

Ini bukan tulisan berbayar, bukan pula titipan. Ini hanya wujud syukur ketika Serie A yang dianggap meredup sinarnya tapi tetap menjadi daya tarik televisi, dengan ANTV sebagai aktor utamanya.

Sudah dua musim terakhir ANTV menyiarkan Serie A. Bedanya, musim lalu start mereka sedikit terlambat. Kompetisi sudah berjalan 13 giornata barulah ANTV menyiarkan liga Italia. AC Milan vs Lazio jadi laga pertama yang disiarkan TV nasional setelah sekian lama.

Musim ini, kompetisi baru melalui satu giornata, TV yang bermarkas di Kuningan, Jakarta Selatan, sudah membuat pengumuman. Memang, sampai tulisan ini terbit, belum jelas pertandingan apa yang akan debut di ANTV.

Yang pasti, keputusan ANTV adalah sedikit bukti bahwa Serie A tak pernah mati. Pamor yang kian tergerus zaman, level kompetisi yang stagnan, nyatanya tidak melunturkan kecintaan para tifosi. Kesetiaan ini yang bisa jadi penyebab TV tetap memandang Liga Italia lebih dari sekadar sepak bola.

Serie A, Masa Lalu, dan Masa Kini

Ada nilai historis, ada kenangan masa kecil, dan ada harapan untuk kembali seperti dulu. Inilah yang terus dijaga lewat pertandingan-pertandingan tiap pekannya.

Apalagi ANTV bukan pemain baru dalam menayangkan Liga Italia. Mereka sudah menemani kita sedari kecil ketika Chiesa masih Enrico dan Thuram masih berwujud Lilian.

Atau saat calcio masih terpandang, masih di atas liga-liga lainnya secara pamor dan kualitas. Mungkin itulah alasan kembalinya Serie A ke layak kaca lebih dari sekadar hak siar.

Ia selayaknya pertemuan antara dua waktu. Waktu dulu ketika kita masih belia dan Serie A seperti pusat semesta sepak bola. Dan waktu sekarang saat kita tua pelan-pelan, punya pekerjaan dan Liga Italia, dengan sisa-sisa kejayaannya, seperti lahir kembali di layar kaca.

Tentu saja kita berharap ada perbaikan kualitas dari pihak TV. Dari siaran musim lalu, harus diakui ada hal kecil yang sedikit mengganggu. Salah satunya suara dan vibes pertandingan yang cukup minim terdengar.

Padahal atmosfer stadion dan gemuruh tifosi bagian penting dari sepak bola, terutama bagi kita penonton layar kaca. Musim ini semoga saja atmosfer stadion nyaring terdengar.

Semoga saja ANTV tetap mempertahankan, setidaknya tiga pertandingan dalam sepekan. Baik itu Grande Partita atau tidak itu bukan soal. Setidaknya, keanggunan Bryan Cristante tetap bisa kita lihat tiap Senin dinihari.

 

 

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

Pidato Kenegaraan Bapak Bangsa Ngalcio

Saudara-saudara tifosi sebangsa dan setanah air,
Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga bintang-bintang sepakbola di seluruh dunia meningkat pasca Piala Dunia.

Suku bunga global tinggi bisa naik. Nilai tukar berbagai negara tertekan dan ketegangan geopolitik mengganggu bursa transfer apalagi setelah sang jenderal Kylian Mbappe bersitegang dengan Senator Paraguay Celeste Amarilla. Namun, di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur karena Italia tidak terlibat.

Di tengah kondisi ekonomi tim-tim Serie A yang tidak baik-baik saja dalam 13 tahun terakhir, inflasi masih tetap terkendali. Dukungan tifosi tetap kuat.

Yang lebih penting, Federasi kita bekerja optimal. Hingga akhir Juli 2026, gelar Piala Dunia kita masih terbanyak dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Ini suatu kebanggaan.

Belanja kita arahkan untuk menjaga persaingan di turnamen, memperkuat kedalaman skuad, dan menggerakkan ekonomi. Walau belanja klub tumbuh, aturan FFP tetap terjaga. Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada tifosi dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal.

Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian, kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara belanja pemain dan menjaga anggaran, kita melakukan kedua-duanya. Membeli Goncalo Ramos dengan harga 70 juta Euro adalah buktinya.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliaken, dunia melihat dan memantau sikap kita. Pada tanggal 11 Juli 2026, salah satu legenda kita yang kesohor, Paolo Maldini, kami tunjuk sebagai direktur Teknik untuk memimpin proyek kebangkitan timnas kita.

Ini menjadi sorotan dunia terhadap suatu tindakan federasi untuk memperbaiki struktur manajemen timnas. Dunia bahkan menilai Italia memiliki prospek menjelang Piala Dunia berikutnya, padahal turnamen tahun ini saja belum selesai (ketika teks pidato ini diketik) itu penilaian mereka terhadap kita.

Mereka juga menilai bahwa upaya federasi memusatkan pengelolaan sumber daya pemain muda kita dan menutup kebocoran di sektor sumber daya dan mineral dapat meningkatkan penerimaan negara serta devisa ekspor.

Mereka secara khusus menilai positif peran Danantara dan potensi PT Danantara Sumberdaya Italia (DSI) dalam memberantas praktik-praktik under-invoicing dan transfer pricing yang sesungguhnya adalah praktik penipuan. Itu dari pandangan pengamat-pengamat, pakar-pakar dari Barat.

Pidato Program Unggulan

Sidang yang terhormat,
Kita menerima penilaian-penilaian ini sebagai pengingat bahwa kredibilitas dibangun oleh konsistensi, kerja keras, dan kesungguhan. Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan, dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliakan,
Capaian semester pertama tahun 2026 adalah pijakan kita dalam menyusun RAPBN tahun 2027.

Untuk itu, arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja sinergis dan semakin solid.

Transformasi ekonomi pada aktivitas didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat.

Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja semakin solid. Transformasi ekonomi pada aktivitas ekonomi yang bernilai tambah tinggi harus terus diperkuat.

Program-program unggulan harus berjalan efektif, program perlindungan sosial harus andal, pemberdayaan bagi UMKM harus terus digairahkan. Dukungan untuk petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja yang rentan juga harus diperkuat.

RAPBN tahun 2027 kita fokuskan untuk delapan Program Kerja Prioritas Nasional atau PKPN, yaitu: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, industrialisasi, infrastruktur, perumahan, ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.

Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi. Untuk menjalankan seluruh agenda tersebut, belanja negara tahun 2027 direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%. Inflasi akan kita jaga pada kisaran 2,5%. Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%.

Pidato Pengakuan Terhadap Como

[batuk sambil melirik Buna]

Mohon izin.

Rasio Gini kita targetkan membaik menjadi 0,362 sampai 0,367 dari target tahun ini 0,377 sampai 0,380, dan Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575. Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten.

Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan, perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan.

Saudara-saudara sekalian,
Angka-angka APBN kita sangat bergantung dengan angka-angka makroekonomi kita. Angka-angka makroekonomi kita sangat bergantung dari kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik kita.

Saya mendapat laporan sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita.

Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026 yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa-desa kita, perlu kita pastikan berhasil. Saya minta agar saudara sekalian, wakil rakyat, dan seluruh elemen masyarakat yang sedang mendengarken pidato saya saat ini tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya.

Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan. Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran.

Sebagaimana fokus di atas dan setelah semua yang saya sampaiken terkait kondisi negara, kita bisa jadikan capaian Como musim 2025-2026 adalah pijakan kita dalam menyusun rencana untuk Serie A di musim 2026-2027. Untuk itu, arsitektur tim-tim Serie A didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong prestasi di Eropa.

Kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan manajemen harus bekerja sinergis dan semakin solid. Kita contoh bagaimana dari sebatang Djarum Super yang dihisap seorang mandor di negara yang konon sering disebut bangsa yang besar itu bisa memberikan dampak bagi kemajuan sebuah klub di negara yang juga konon sebagai bangsa yang besar di sepakbola.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.