Nico Paz: Antara Kebebasan dan Pengaruh Besar Fabregas

Nico Paz kini jadi salah satu talenta paling berharga di Serie A. Sejak datang ke Como 2024 lalu performanya terus menanjak.

Ia datang dari Real Madrid dengan harga fantastis. Untuk pemain yang baru berumur 20 tahun dirinya sudah dibanderol 60 juta euro.

Como sebagai klub yang baru promosi kala itu sangat berani merogoh kocek dalam. Bagaimana pun kualitas sang wonderkid belum teruji.

Ia memang menjanjikan di akademi Real Madrid. Namun, Nico Paz gagal menembus tim utama dengan hanya bermain beberapa kali sebagai pengganti.

Akan tetapi, dengan analisis rinci, Como tak berpikir dua kali.  Era baru klub bermula sejak dia menginjakkan kaki di Sinigaglia.

Datang membawa mimpi, pemuda Argentina ingin membuktikan diri layak menjadi pilihan utama di level tertinggi.

Mimpi itu sudah jadi kenyataan. Bahkan bisa dibilang lebih cepat dari apa yang dia bayangkan. Karena dalam sekejap Paz memukau banyak pihak.

Penampilannya terus menuai decak kagum dari hari ke hari, dari musim ke musim. Dan menurutnya, ini semua berkat Cesc Fabregas.

Sebab Fabregas yang meluluhkan hatinya untuk meninggalkan kenyamanan di Real Madrid demi tantangan besar bernama Como.

“Fabregas mengajari saya hampir semuanya. Saya datang ke sini sebagai pemain muda dari Castilla,” ungkap Nico Paz.

“Saya pernah bermain beberapa kali untuk Real Madrid, tapi pada akhirnya menjadi pemain tim cadangan di divisi lebih rendah,” ia menambahkan.

“Datang ke sini dan bermain di Serie A, kasta tertinggi, memungkinkan saya berkembang dan meningkatkan diri sebagai pemain dan pribadi,” imbuhnya.

Nico Paz Diberi Kebebasan oleh Fabregas

Soal pengaruh vital dan konsistensi yang didapat bersama Como, Nico Paz menegaskan itu semua berkat Cesc Fabregas. Menurutnya sang pelatih tak hanya tahu apa yang dibutuhkan pemain.

Lebih dari itu, Fabregas memberi kebebasan dan kepercayaan. Ia selalu membebaskan Paz di lapangan, baik soal posisi maupun peran.

Kebebasan yang diberi tak lepas dari kepercayaan yang didapat. Sejak hari pertama, sang pelatih sudah berbicara banyak hal soal filosofi bermainnya dan apa yang dia butuhkan.

Dengan kata lain, mendatangkan Paz memang sudah masuk dalam rancangan besar Fabregas soal seperti apa permainan Como dan pemain macam apa yang bisa mewujudkan rencana itu.

“Semua berkat Cesc yang percaya pada saya dan membawa saya ke sini. Dia membiarkan saya bermain sesuai keinginan dan memberi saya banyak kebebasan,” pungkasnya.

“Dia mengajari saya banyak hal. Dan saya pikir pemain seperti saya bisa seperti sekarang berkat dia. Kami adalah tim yang ambisius dan ingin terus berkembang,” tutup Nico Paz.

Christian Chivu Jelang Liga Champions: Mimpi Tak Melulu Harus Dicapai

Inter Milan kembali bersiap untuk Liga Champions. Anak asuh Christian Chivu kali ini akan menjamu Club Brugge di San Siro, Rabu (14/10) dinihari WIB.

Christian Chivu dalam tekanan di Liga Champions. Inter Milan kini di papan bawah usai kalah dari Real Madrid di matchday pertama.

Tak pelak laga melawan Club Brugge wajib dimenangkan untuk membuka peluang lolos ke babak berikutnya. Apalagi Chivu ingin Inter memperbaiki capaian musim lalu.

Musim lalu laju Inter Milan terhenti di 16 besar. Dengan dua final yang dilalui klub dalam enam musim terakhir tentu apa yang diraih musim lalu mengecewakan.

Kendati demikian, Christian Chivu tak mau muluk-muluk. Ia enggan berpikir akan membawa I Nerazzurri ke final Liga Champions.

Memang, itu mimpi besarnya. Namun, yang terpenting bagi sang pelatih adalah memberikan yang terbaik dan yang jelas lebih baik dari apa yang mereka lakukan musim lalu.

“Jika bicara tentang mimpi, Anda tidak harus selalu mencapainya. Tapi Anda harus berusaha sebaik mungkin,” ujar Chivu seperti dilansir Football Italia.

“Berbicara tentang mimpi bukan berarti kita bicara soal memenangkan semuanya. Tapi bagian dari tanggung jawab kita untuk mencoba mencapainya,” ia menambahkan.

Christian Chivu: LIga Champions Tak Bisa Dibeli

Naik turun performa Inter Milan di Liga Champions adalah bukti bahwa ajang tertinggi Eropa sulit ditaklukkan. Padahal di Serie A sendiri I Nerazzurri selalu juara.

Christian Chivu menilai Liga Champions memang ajang tersulit. Semua bisa terjadi dan hanya kerja keras serta kesempurnaan yang bisa membuat klub meraih Si Kuping Besar.

“Uang tidak bisa membeli Liga Champions. Tidak ada pemain atau pelatih yang memberi Anda jaminan itu,” ujar nakhoda asal Rumania.

“Anda perlu memiliki keberanian tapi kerja keras yang Anda lakukan adalah hal yang terpenting. Kami masih memiliki ruang untuk melakukan perbaikan,” tutup Christian Chivu.

AS Roma Sudah Ditargetkan Scudetto dalam 3 Tahun, tapi…

Capaian AS Roma menanjak sejak Gian Piero Gasperini datang sebagai pelatiih. Mereka kembali ke Liga Champions setelah absen beberapa tahun.

Musim ini AS Roma mengawali Serie A dengan luar biasa. Bersama Inter Milan mereka jadi klub yang cuma sekali gagal menang, itu pun saat keduanya bertemu di giornata kelima.

Pasukan Gasperini kini memuncaki klasemen Liga Italia dengan 13 poin. Unggul selisih gol saja dengan sang juara bertahan dan rival sekotanya, Lazio.

Artinya, Il Lupi punya peluang meraih scudetto musim ini. Kendati perjalanan menuju juara masih jauh, Gasperini tidak menampik kemungkinkan itu.

Apalagi dia sudah mencanangkan target tinggi. Yakni scudetto dalam tiga tahun sejak dirinya ambil alih tim.

“Rencana kami adalah mencapai scudetto dalam tiga tahun. Kami tidak masalah jika bisa meraihnya lebih cepat, tapi saya sadar jalannya masih panjang,” ucap allenatore AS Roma.

“Dalam sepak bola tidak ada jalan lurus atau jalur yang jelas. Akan ada pasang surut dan jika kami mampu mengatasinya, siapa tahu,” ia menambahkan.

AS Roma Puasa Gelar Sejak 2001

Kendati berstatus tim ibu kota, prestasi AS Roma tidak terlalu menonjol. Cuma tiga kali mereka juara Serie A dan terakhir dimenangkan 2001 silam.

Sudah terlalu lama I Giallorossi tak juara liga. Tapi bukan berarti dari 2001 mereka tak memenangkan apa pun.

Ada lima gelar yang diraih Roma. Dua Coppa Italia, dua Supercoppa, dan satu Conference League, yang sekaligus jadi gelar terakhir yang masuk ke lemari klub.

Kini bersama Gian Piero Gasperini AS Roma siap mengulang sukses 25 tahun silam. Mereka sudah memiliki modal bagus, start nyaris sempurna dan kedalaman skuat yang mumpuni.

Jose Mourinho Kenang Final Terakhir AS Roma dan Drama di Parkiran

Jose Mourinho punya kenangan buruk selama melatih AS Roma. Salah satunya ketika timnya kalah dari Sevilla di final Liga Europa 2023 lalu.

Laga di Budapest kala itu berlangsung sengit. AS Roma yang sempat unggul gagal mempertahankan kemenangan. Pemenang akhirnya ditentukan lewat adu penalti.

Di sinilah Il Lupi harus mengakui keunggulan Sevilla. Yang menarik, final saat itu bukan hanya soal pertandingan dan kekalahan klub ibu kota.

Lebih dari itu, muncul drama yang terjadi setelah laga. Jose Mourinho tidak senang dengan kepemimpinan wasit asal Inggris, Anthony Taylor.

Menurutnya ada beberapa keputusan yang merugikan Roma. Protes yang dilancarkan sepanjang pertandingan pun tak digubris oleh sang pengadil.

Merasa tidak puas dan dipermainkan, nakhoda asal Portugal menunggu Taylor di parkiran stadion untuk melampiaskan amarah.

Keesokan harinya, Anthony Taylor sudah ditunggu ribuan fan di bandara. Sang wasit dihina, bahkan sampai ada ancaman soal keselamatannya.

Bagi Mourinho itu dua kejadian berbeda. Apa yang terjadi di parkiran sepenuhnya tanggung jawabnya. Tapi kejadian di bandara di luar kendalinya.

“Apa yang terjadi di bandara bukanlah tanggung jawab saya. Saya bertanggung jawab atas penghinaan yang saya berikan kepada wasit di parkiran dan saya menanggung akibatnya,” ucap Jose Mourinho.

“Saya harusnya tidak menanggung akibat dari apa yang terjadi di bandara karena itu bukan kesalahan saya dan itu merusak hubungan kami dengan pemilik klub. Karena setelah itu hubungan kami berbeda,” ia menambahkan.

Jose Mourinho akan Sambut Hangat Pemilik Roma

Di sisi lain, tengah pekan nanti akan terasa spesial untuk Jose Mourinho. Ia akan kembali ke Olimpico untuk pertama kalinya setelah dipecat Januari 2024.

Kali ini The Special One datang sebagai musuh. Ia kini menangani Real Madrid yang akan melawan AS Roma di matchday dua Liga Champions.

Dengan kata lain, ada sisi emosional yang akan dia rasakan. Bertemu lagi dengan para tifosi yang pernah menyanjungnya dan juga pemilik klub yang selalu mendukung kinerjanya.

“Saya tidak pernah secara terbuka membahas hubungan dengan keluarga Friedkin,” jelas pria asal Portugal.

“Saat kembali ke Roma dan bertemu mereka di lorong setelah laga, saya akan menyapa dengan hangat,” tutup Jose Mourinho.

Jose Mourinho Tak Sanggup Berkata Buruk Tentang AS Roma

Jose Mourinho menghabiskan waktu hampir tiga tahun di AS Roma. Dan dalam waktu dekat dia akan kembali bersua mantan klubnya sebagai pelatih Real Madrid.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan AS Roma, Jose Mourinho kembali. Ia yang kini melatih Real Madrid tandang ke Olimpico di ajang Liga Champions.

Balik ke Olimpico seperti mengenang masa-masa indah beberapa tahun lalu. Sang pelatih membuat sejarah dengan memenangkan trofi Conference League pertama untuk klub.

Kendati secara keseluruhan capaian di ibu kota Italia tidak terlalu baik, ia tetap memiliki kenangan indah. Semua hal tentang AS Roma sangat disukai.

Bahkan sosok yang dikenal dengan mulut pedasnya itu tak mampu mengeluarkan kata-kata negatif untuk mantan klub.

“Saya tidak pernah dan takkan bisa mengucapkan kata-kata buruk tentang Roma. Tak punya kata-kata negatif untuk diucapkan tentang owner,” kata Jose Mourinho.

“Saya memang membuat komentar pedas soal Tiago Pinto, yang untuk itu sudah minta maaf. Tapi ketika pergi saya ingin dengan cara yang baik dan berhasil melewatinya serta masih merasa tempat ini akan selalu menjadi rumah,” ia menambahkan.

Jose Murinho Selalu Takjub dengan Romanisti

Bisa dibilang, Jose Mourinho jatuh cinta dengan AS Roma sejak pertama kali kakinya menginjak bandara. Bagaimana tidak, kedatangannya hari itu disambut ribuan suporter.

Menurutnya pemandangan seperti itu luar biasa. Karena sambutan semewah itu dia dapat ketika dirinya belum bekerja sama sekali.

“Mereka sangat istimewa. Saya ingat hari pertama tiba di bandara dan ada seribuan orang di sana,” sambungnya kepada Corriere dello Sport.

“Saya pikir, saya belum melakukan apa pun. Kami baru tiba, belum memainkan satu pertandingan pun, belum memenangkan satu poin pun untuk mereka dan itu sungguh spesial,” tutup Jose Mourinho.

Bos AC Milan Klaim Orang Italia Alergi Perubahan

Pemilik AC Milan, Gerry Cardinale mengeluarkan unek-uneknya soal sepak bola Italia. Menurutnya akan sulit, terutama bagi Serie A, bangkit dan menyaingi Premier League.

Sudah hampir dua dekade terakhir pamor Serie A kalah dari Premier League. Terutama 10 tahun terakhir ketika AC Milan dan Inter Milan mengalami kejatuhan secara finansial dan prestasi.

Dengan masalah yang belum selesai hari ini, banyak pihak menuntut perubahan. Para pakar juga sudah memberi banyak masukan soal apa yang harus dilakukan.

Akan tetapi, upaya perubahan masih sulit terwujud. Menurut Cardinale hal ini terjadi lantaran budaya orang-orang Italia yang sulit menerima perubahan.

Padahal ia percaya satu-satunya cara agar Serie A bangkit adalah perubahan. Atau setidaknya inovasi baru untuk meningkatkan daya saing dengan kompetisi lain.

“Di Italia orang-orang agak takut terhadap perubahan dan beberapa penolakan terhadap inovasi,” ucap bos AC Milan.

“Sepak bola Italia harus berinovasi. Kita harus berubah dengan rasa urgensi dan saya ingin menjadi salah satu penggerak utama di balik perubahan itu,” sambungnya.

Bos AC Milan Punya Cara Jitu Bangkitkan Serie A

Lebih lanjut, pria asal Amerika menegaskan Serie A belum telat untuk berinovasi. Masih ada waktu untuk berubah dan mengembalikan kejayaan kompetisi seperti dulu.

Dia pun memiliki beberapa cara untuk mmeulai perubahan. Salah satunya dengan meningkatkan produk dan kualitas dari kompetisi itu sendiri.

“Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa kita perlu meningkatkan produk,’ lanjut Gerry Cardinale.

“Cara itu akan membuat sepak bola Italia lebih menarik dan diminati oleh distributor dan juga penonton skala global,” tutup pemilik AC Milan.

Serie A Seperti Hollywood: Besar, Berpuas Diri, Tak Mau Inovasi

Setiap tahunnya, Serie A makin tertinggal dari kompetisi lain. Keadaan ini rupanya tak lepas dari kesombongan karena sukses di masa lalu.

Serie A era 90-an adalah yang terbaik. Ia kiblat sepak bola dunia dan menjadi tempat berkupulnya para pemain top.

Pelan tapi pasti kesuksesan dan kebesaran Liga Italia membuat banyak pihak cepat puas. Sehingga mereka tidak melakukan apa-apa, tak membuat gebrakan baru juga.

Sementara itu, liga lain seperti Premier League terus berinovasi. Semua dilakukan untuk menarik minat sinvestor dan menjadikan kompetisinya sebagai ladang industri.

Ketika Premier League terus berbenah hingga akhirnya sebesar sekarang, Serie A justru jalan ditempat tanpa inovasi. Seakan kebesaran yang didapat selama ini tak bisa disaingi.

Kondisi ini dirasakan betul oleh bos AC Milan, Gerry Cardinale. Menurutnya inovasi harga mati untuk membuat industri sepak bola tetap hidup.

Ia juga menyandingkan masalah Liga Italia dengan dunia Hollywood. Yang mana keduanya sama-sama pernah menjadi kiblat dunia, puas dengan yang sudah dicapai, dan enggan melakukan perubahan.

“Serie A dulunya Premier League. Milan di puncak. Apa yang kemudian terjadi?,” kata Gerry Cardinale seperti dilansir dari Football Italia.

“Di industri ini jika Anda berpuas diri dan gagal berinovasi, jika tidak menjalani setiap hari dengan semangat inovasi, Anda akan hancur oleh persaingan,” ia menambahkan.

“Seperti Hollyood. Mereka menjadi lengah, mengira terlindungi, kemudian muncul DVD yang meminta lisensi konten. Sekarang Netflix lahir dan menghancurkan mereka karena teknologi berubah,” tegasnya.

Secara Hak Siar, Serie A Mulai Membaik

Dari segi hak siar, Serie A masih kalah jauh dibanding Premier League. Namun, setidaknya ada sedikit perbaikan, baik secara finansial maupun kualitas.

Gerry Cardinale juga menilai apa yang dilakukan DAZN sebagai pemilik hak siar global Liga Italia sudah bagus. Walau ia berharap akan ada perbaikan lagi.

“Kita lihat saja bagaimana nanti. Saya rasa DAZN sudah melakukan pekerjaan yang hebat,” ia menambahkan.

‘Kita punya banyak hal yang harus dilakukan  dan banyak prioritas yang harus difokuskan sebelum memikirkan hal ini,” tutup pemilik AC Milan.

Bagi Cesc Fabregas, Sepak Bola Berubah Gara-Gara Conte

Cesc Fabregas melihat sepak bola sudah banyak berubah. Dan bagi pelatih Como, sosok pertama yang mengubah itu adalah Antonio Conte.

Cesc Fabregas pernah bekerja sama dengan Antonio Conte. Kebersamaan mereka berlangsung dari 2016 sampai 2018.

Saat itu pria asal Spanyol bermain untuk Chelsea. Adapun Conte sebagai pelatihnya. Pengalaman singkat tersebut rupanya mempengaruhi banyak hal.

Terutama pandangan sang gelandang terhadap sepak bola. Ia tidak pernah melihat pelatih seperti Conte sepanjang kariernya.

Yang mana, nakhoda Italia sangat detail terhadap sesuatu. Bahkan ketika semua tampak baik-baik saja, ia bisa memiliki penilaian lain.

“Pertama kali saya lihat sepak bola berubah ketika bertemu Conte di Chelsea. Saya sudah 29 tahun, memenangkan banyak gelar,” ujar Cesc Fabregas.

“Tapi Wenger tidak banyak bekerja pada taktik di Arsenal meski dia salah satu terbaik di dunia. Begitupula Del Bosque. Dengan Conte saya melihat perubahan itu. Dia fokus pada detail,” ujarnya lagi.

“Itu mengejutkan dan membebani saya karena saya tidak mengerti kenapa seorang harus memberi tahu saya ke mana harus mengoper bola. Tidak ada yang pernah melakukan itu sebelumnya,” sambungnya.

Cesc Fabregas: Main Bagus Tidak Cukup

Lebih lanjut, Cesc Fabregas menegaskan detail yang ditunjukkan Conte memang membuahkan hasil. Hal-hal sepele yang diajarkan langsung memberikan dampak.

Akan tetapi dia sedikit heran dengan sisi perfeksionis mantan pelatihnya itu. Bahwa bermain bagus tidak cukup untuk Antonio Conte.

“Setelah 10 hari latihan bek sayap mengoper bola dan saya langsung mengirimnya ke Diego Costa dan dia mencetak gol,” kenangnya.

“Saya pikir kami sudah bermain bagus, tapi di akhir laga Conte marah bahwa ada hal-hal yang perlu dilakukan secara berbeda,” tutup Cesc Fabregas.

Cesc Fabregas Curhat Soal Program Aneh Klub dan Akui Tak Tahu Ada Tim Como

Cesc Fabregas sukses membawa Como jadi kekuatan baru di Serie A. Tapi siapa sangka sebelum semua ini terjadi pengetahuannya tentang klub nol besar.

Cesc Fabregas mengakhiri karier sebagai pemain di Como. Pada 2023 ia diangkat sebagai pelatih, lalu membawa klub promosi ke Serie A dan puncaknya musim lalu kala menembus Liga Champions untuk pertama kalinya.

Yang lucu adalah apa yang terjadi sebelum kedatangan legenda Spanyol. Ia mengaku tidak tahu ada klub di Como kendati sering berlibur ke sana.

Tak cuma itu, ketika pertama kali ditunjuk sebagai pelatih, Fabregas mengatakan proyek klub cukup aneh. Untungnya ia tetap menjalankan proyek tersebut dan kini sukses besar.

“Proyek Como dimulai dengan cara yang agak aneh. Saya memiliki beberapa proposal, tapi saya rasa itu keputusan yang tepat. Kadang Anda hanya perlu mengikuti intuisi sendiri,” ucap Cesc Fabregas.

“Lucunya saya sudah beberapa kali berlibur ke Como, tapi tidak pernah tahu ada klub sepak bola di sini,” sambungnya.

Cesc Fabregas Bicara Tentang Kapten Como

Sejak dari Serie B sampai sekarang bersaing di papan atas Serie A, Como sudah banyak berubah dari sisi skuat. Apalagi musim ini mereka membeli banyak pemain.

Di tengah gempuran muka-muka baru, ada satu nama lawas yang tetap dipertahankan Cesc Fabregas. Dia adalah kapten tim, Lucas Da Cunha yang sudah ada sejak Januari 2023.

Bagi Fabregas, kaptennya itu sosok luar biasa. Meski secara kualitas tidak terlalu istimewa, mentalitasnya sudah teruji dan itu yang paling penting.

“Da Cunha punya mentalitas dan semangat luar biasa. Dia pantas dapat semua pujian. Saya lebih suka pemain dengan bakat biasa saja tapi punya semangat sangat besar,” tutup jebolan akademi Barcelona.

Fabio Capello, AC Milan, dan Dendam Kesumatnya pada Johan Cruyff

Fabio Capello salah satu pelatih terbaik yang pernah dilahirkan Italia. Dirinya sudah memenangkan banyak trofi, termasuk Liga Champions.

Satu-satunya gelar Liga Champions Fabio Capello menangkan musim 1993-1994. Saat itu ia masih menukangi AC Milan.

Hari itu sekaligus menjadi salah satu final Liga Champions paling ikonik. Menghadapi Barcelona, Milan menang telak 4-0.

Padahal Barcelona bertabur bintang. Mereka punya Hristo Stoickhov, Ronald Koeman, Pep Guardiola, dan Romario. Belum lagi di balik kemudi tim ada sosok mahsyur bernama Johan Cruyff.

AC Milan sendiri juga bukan tim sembarangan. Ada Franco Baresi dan Alessandro Costacurta, Demitrio Albertini serta Dejan Savicevic, hingga Daniele Massaro.

Di Athena, Barca lebih diunggulkan. Salah satu faktornya karena nama besar Johan Cruyff, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Namun, siapa sangka, di balik harumnya Cruyff, Fabio Capello menyimpan dendam. Ia membawa masa lalu semasa bermain.

Ya, itu bukan kali pertama dua sosok besar bertemu di final Liga Champions. Mereka sebelumnya pernah berjumpa saat sama-sama berstatus sebagai pemain.

Don Fabio sebagai bintang Juventus, Cruyff maestro yang dimiliki Ajax Amsterdam. Laga itu dimenangkan raksasa Belanda.

Kekalahan tersebut sebenarnya tidak menyakitkan untuk Capello. Tapi dia tidak terima dengan sikap Johan Cruyff yang seakan meremehkan dirinya dan tim.

“Saya pernah bermain di final untuk Juventus dan kami kalah dari Ajax. Tidak ada masalah dengan hasil itu. Mereka memang lebih kuat,” ujarnya.

“Tapi setelah pertandingan saya melihat Johan membawa trofi ke bus dan dia hanya melemparkannya begitu saja seakan mengatakan kami telah menang tiga gelar dan saya tidak suka itu,” kenang Don Fabio.

Pembalasan Sempurna Fabio Capello

Kenangan itulah yang dibawa Fabio Capello ketika menjadi pelatih AC Milan. Dendamnya kian besar setelah melihat perangai Johan Cruyff tak juga berubah.

Sebelum final AC Milan vs Barcelona berlangsung, legenda Italia melihat legenda Belanda berbaring santai di lapangan.

“Saya kembali tidak senang ketika melihatnya tepat sebelum final Milan vs Barcelona di Athena,” ia melanjutkan.

“Johan berbaring di lapangan dengan bola di belakang kepalanya seolah-olah dia meremehkan kami sebagai lawan,” sambungnya lagi.

“Setelah itu saya masuk ke ruang ganti dan memberi tahu para pemain kami menang 4-0 dan itu adalah penampilan sempurna,” tutup eks nakhoda timnas Inggris.

Dendam Fabio Capello semasa bermain terbalas tuntas saat dirinya menjadi pelatih. AC Milan mengalahkan Barcelona 4-0 lewat brace Daniel Massaro, Dejan Savicevic, dan Marcel Desailly.

Itu sempat menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions. Sebelum akhirnya dipecahkan Paris Saint-Germain saat menghancurkan Inter Milan 5-0 dua musim lalu.