Fabio Capello salah satu pelatih terbaik yang pernah dilahirkan Italia. Dirinya sudah memenangkan banyak trofi, termasuk Liga Champions.
Satu-satunya gelar Liga Champions Fabio Capello menangkan musim 1993-1994. Saat itu ia masih menukangi AC Milan.
Hari itu sekaligus menjadi salah satu final Liga Champions paling ikonik. Menghadapi Barcelona, Milan menang telak 4-0.
Padahal Barcelona bertabur bintang. Mereka punya Hristo Stoickhov, Ronald Koeman, Pep Guardiola, dan Romario. Belum lagi di balik kemudi tim ada sosok mahsyur bernama Johan Cruyff.
AC Milan sendiri juga bukan tim sembarangan. Ada Franco Baresi dan Alessandro Costacurta, Demitrio Albertini serta Dejan Savicevic, hingga Daniele Massaro.
Di Athena, Barca lebih diunggulkan. Salah satu faktornya karena nama besar Johan Cruyff, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Namun, siapa sangka, di balik harumnya Cruyff, Fabio Capello menyimpan dendam. Ia membawa masa lalu semasa bermain.
Ya, itu bukan kali pertama dua sosok besar bertemu di final Liga Champions. Mereka sebelumnya pernah berjumpa saat sama-sama berstatus sebagai pemain.
Don Fabio sebagai bintang Juventus, Cruyff maestro yang dimiliki Ajax Amsterdam. Laga itu dimenangkan raksasa Belanda.
Kekalahan tersebut sebenarnya tidak menyakitkan untuk Capello. Tapi dia tidak terima dengan sikap Johan Cruyff yang seakan meremehkan dirinya dan tim.
“Saya pernah bermain di final untuk Juventus dan kami kalah dari Ajax. Tidak ada masalah dengan hasil itu. Mereka memang lebih kuat,” ujarnya.
“Tapi setelah pertandingan saya melihat Johan membawa trofi ke bus dan dia hanya melemparkannya begitu saja seakan mengatakan kami telah menang tiga gelar dan saya tidak suka itu,” kenang Don Fabio.
Pembalasan Sempurna Fabio Capello
Kenangan itulah yang dibawa Fabio Capello ketika menjadi pelatih AC Milan. Dendamnya kian besar setelah melihat perangai Johan Cruyff tak juga berubah.
Sebelum final AC Milan vs Barcelona berlangsung, legenda Italia melihat legenda Belanda berbaring santai di lapangan.
“Saya kembali tidak senang ketika melihatnya tepat sebelum final Milan vs Barcelona di Athena,” ia melanjutkan.
“Johan berbaring di lapangan dengan bola di belakang kepalanya seolah-olah dia meremehkan kami sebagai lawan,” sambungnya lagi.
“Setelah itu saya masuk ke ruang ganti dan memberi tahu para pemain kami menang 4-0 dan itu adalah penampilan sempurna,” tutup eks nakhoda timnas Inggris.
Dendam Fabio Capello semasa bermain terbalas tuntas saat dirinya menjadi pelatih. AC Milan mengalahkan Barcelona 4-0 lewat brace Daniel Massaro, Dejan Savicevic, dan Marcel Desailly.
Itu sempat menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions. Sebelum akhirnya dipecahkan Paris Saint-Germain saat menghancurkan Inter Milan 5-0 dua musim lalu.


















