Juventus dan Problematikanya: Dulu Koleksi Striker Ganas, Kini…

banner 468x60

Juventus telan kekalahan pertama musim ini. Tandang ke markas Sassuolo mereka harus tunduk secara dramatis dengan skor 2-3.

Di luar itu, satu hal positif yang bisa dilihat dari Juventus musim ini adalah keberhasilan selalu mencetak gol. Termasuk dinihari kemarin saat dua kali membobol jala Sassuolo di babak kedua lewat kaki Edon Zhegova.

banner 336x280

Sayangnya, di balik produktivitas musim ini, tak satu pun berasal dari striker. Laga pembuka melawan Frosinone gol Juve malah berkat bek andalannya, Gleison Bremer.

Pun saat ditahan AC Milan di stadion Allianz. Tuan rumah butuh Federico Gatti untuk menyelamatkan diri dari kekalahan. Sedangkan kemenangan 2-0 atas Parma dipersembahkan dua gelandangnya, Nico Gonzalez dan Teun Koopmeiners.

Fakta ini tentu ironis. Ketika dua bek sudah mencatatkan nama di papan skor, para bomber masih belum mampu berbuat apa-apa.

Padahal Si Nyonya Tua sudah menggaet dua striker baru. Nick Woltemade dari Newcastle United dan Randal Kolo Muani si anakĀ  hilang. Belum lagi sosok ghaib, Arkadiusz Milik, yang namanya baru masuk line up tiap pramusim datang atau ketika kompetisi tersisa satu pertandingan.

Dari ketiga nama yang ada, Randal Kolo Muani paling memalukan. Didatangkan kembali setelah musim lalu dipinjamkan ke Tottenham, catatannya 0 besar. Bagaimana tidak, sebelum kekalahan dari Sassuolo, ia pemilik 0 gol, 0 assist, bahkan 0 peluang.

Kekalahan pertama musim ini juga berawal dari kesalahannya. Maksud hati ingin melepas tendangan, bola di kaki Randal Kolo Muani direbut Nemanja Matic yang langsung mengumpan ke arah Armand Lauriente dan dituntaskan Vasille Adzic menjadi gol.

Juventus Dulu Sampai Punya Ronaldo

Selain itu, untuk klub sebesar Juventus, menggaet Woltemade juga patut dipertanyakan. Bagaimana bisa tim yang dituntut bangkit dari keterpurukan, dengan lini depan yang menjadi masalah utama, justru mendatangkan striker cadangan Newcastle United.

Dengan kata lain, bukan hanya produktivitas para striker yang dipertanyakan, melainkan soal kualitas. Musim lalu pun ceritanya sama ketika klub menggaet Lois Openda dan Jonathan David.

Alhasil sekarang baik Openda dan David dibuang ke Prancis dan Spanyol. Apa yang dialami Juve hari ini bisa dibilang sebagai titik mundur klub.

Sebab selama ini klub asal Turin dikenal tempatnya para bomber ganas beraksi. Tak perlu jauh-jauh ke era 90-an apalagi sebelumnya, sejak 2000-an saja mereka punya Filippo Inzaghi, David Trezeguet, Zlatan Ibrahimovic, Vincenzo Iaquinta, Carlos Tevez, Mario Mandzukic, Gonzalo Higuain, dan tentu Cristiano Ronaldo.

Mereka-mereka ini bukan cuma menawarkan kualitas dan nama besar. Ada konsistensi yang diberikan, ada gol yang dijanjikan tiap pertandingan, ada trofi yang sudah siap digenggam.

Kini, insting itu hilang. Sebenarnya, harapan meneruskan tren sempat berlanjut pada tahun-tahun pertama kehadiran Dusan Vlahovic.

Masalahnya, situasi Vlahovic menjaga konsistensi juga sulit. Prestasi menurun membuat manajemen mulai kerap gonta-ganti pelatih. Cara ini mau tak mau membuat gaya bermainĀ  berubah dan turut memengaruhi peran sang bomber.

Yang terjadi dua musim terakhir adalah bukti. Di mana Vlahovic lebih sering mengawali laga dari bangku cadangan dibanding mencetak gol.

Sekarang saat bomber Serbia hengkang dari Turin, seketika keganasan di depan gawang kembali. Empat gol sukses dibukukan dari tiga laga bareng Besiktas.

Kembalinya produktivitas Dusan Vlahovic menunjukkan satu hal. Jika dulu siapa pun striker yang datang bisa otomatis sukses di Juventus, kini sebaliknya.

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *