Catat! Jadwal Serie A: AC Milan Lawan Kryptonitenya, Juventus Uji Kelayakan Cagliari

Dua minggu tanpa Serie A, akhir pekan kita kali ini akan kembali berwarna. Liga yang hampir punah memasuki giornata keenam yang akan dimulai nanti malam.

Untuk membuka Serie A, laga Genoa vs Fiorentina hadir lebih dulu. Bisa dibilang ini pertandingan dua tim pesakitan.

Genoa masih di zona degradasi. Sementara Fiorentina yang sudah ganti pelatih dari Fabio Grosso ke Paolo Vanoli mulai bangkit dengan keluar dari zona merah.

Laga menarik sejatinya baru berlangsung Minggu. Dua tim dalam tren menanjak, Como dan AS Roma akan saling sikut di Giuseppe Sinigaglia.

Bisa dibilang laga tersebut sebagai pemanasan untuk keduanya jelang bertemu lawan raksasa di Liga Champions. Como kedatangan Manchester United dan Roma menjamu Real Madrid.

Yang tak kalah menarik adalah pertemuan Sassuolo vs AC Milan. Banyak yang mennganggap tuan rumah akan kesulitan musim ini ketika ditinggal Fabio Grosso.

Apalagi Alberto Aquilani sebagai pengganti belum pengalaman di Serie A. Namun, sejauh ini Sassuolo tetap stabil di 10 besar.

Sementara AC Milan datang dengan status tak terkalahkan musim ini. Para pemain juga mulai memahami keinginan Ruben Amorim, yang apa pun ceritanya, lagi kalah, menang, skuat tidak memungkinkan, main tiga bek wajib hukumnya.

Pertemuan Sassuolo vs AC Milan juga memunculkan satu fakta menarik. Bahwa Il Neroverdi kryptonitenya I Rossoneri.

Ya, Milan sering kesulitan tiap melawan Sassuolo. Musim lalu saja mereka gagal mengalahkan tuan rumah, dengan rincian sekali kalah dan imbang.

Bahkan dalam 10 pertemuan terakhir Christian Pulisic dkk cuma menang tiga kali. Yang paling memalukan tentu saja kekalahan 2-5 di San Siro yang terjadi 2023 lalu.

Serie A Giornata 6: Juventus Tandang ke Cagliari

Usai AC Milan bertemu kryptonitenya, laga Cagliari vs Juventus akan memanaskan dinihari Anda. Kali ini, pertemuan keduanya patut dinanti.

Sebab Cagliari tengah jadi sorotan. Mereka bertengger di papan atas, tiga tingkat di atas Juventus. Ini sekaligus jadi capaian tertinggi dalam sejarah klub.

Untuk pertama kalinya tim Sardinia bertengger di urutan keempat Serie A dengan 12 poin. Tertinggal satu angka saja dari AS Roma si pemuncak klasemen.

Adapun Juve yang masih mencari bentuk permainan terbaik mulai bangkit dengan memenangkan dua laga terakhir. Karena kedua tim beda kelas, tak perlu lah kita spill head to head keduanya.

Menarik dinanti, apakah Juve akan mengembalikan Cagliari ke tempatnya di papan bawah, atau justru tuan rumah melanjutkan kejutan dan membuat situasi Luciano Spalletti kian terjepit.

Jadwal Lengkap Serie A Giornata 6:

Sabtu 10 Oktober
Genoa vs Fiorentina (20.00 WIB)
Inter Milan vs Parma (23.00 WIB)

Minggu 11 Oktober
Napoli vs Frosinone (01.45 Dinihari WIB)
Como vs AS Roma (17.30 WIB)
Lazio vs Monza (20.00 WIB)
Lecce vs Bologna (20.00 WIB)
Sassuolo vs AC Milan (23.00 WIB)

Senin 12 Oktober
Cagliari vs Juventus (01.45 Dinihari WIB)
Atalanta vs Venezia (23.30 WIB)

Selasa 13 Oktober
Torino vs Udinese (01.45 Dinihari WIB)

banner 400x130

Bos AC Milan Klaim Orang Italia Alergi Perubahan

Pemilik AC Milan, Gerry Cardinale mengeluarkan unek-uneknya soal sepak bola Italia. Menurutnya akan sulit, terutama bagi Serie A, bangkit dan menyaingi Premier League.

Sudah hampir dua dekade terakhir pamor Serie A kalah dari Premier League. Terutama 10 tahun terakhir ketika AC Milan dan Inter Milan mengalami kejatuhan secara finansial dan prestasi.

Dengan masalah yang belum selesai hari ini, banyak pihak menuntut perubahan. Para pakar juga sudah memberi banyak masukan soal apa yang harus dilakukan.

Akan tetapi, upaya perubahan masih sulit terwujud. Menurut Cardinale hal ini terjadi lantaran budaya orang-orang Italia yang sulit menerima perubahan.

Padahal ia percaya satu-satunya cara agar Serie A bangkit adalah perubahan. Atau setidaknya inovasi baru untuk meningkatkan daya saing dengan kompetisi lain.

“Di Italia orang-orang agak takut terhadap perubahan dan beberapa penolakan terhadap inovasi,” ucap bos AC Milan.

“Sepak bola Italia harus berinovasi. Kita harus berubah dengan rasa urgensi dan saya ingin menjadi salah satu penggerak utama di balik perubahan itu,” sambungnya.

Bos AC Milan Punya Cara Jitu Bangkitkan Serie A

Lebih lanjut, pria asal Amerika menegaskan Serie A belum telat untuk berinovasi. Masih ada waktu untuk berubah dan mengembalikan kejayaan kompetisi seperti dulu.

Dia pun memiliki beberapa cara untuk mmeulai perubahan. Salah satunya dengan meningkatkan produk dan kualitas dari kompetisi itu sendiri.

“Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa kita perlu meningkatkan produk,’ lanjut Gerry Cardinale.

“Cara itu akan membuat sepak bola Italia lebih menarik dan diminati oleh distributor dan juga penonton skala global,” tutup pemilik AC Milan.

Fabio Capello, AC Milan, dan Dendam Kesumatnya pada Johan Cruyff

Fabio Capello salah satu pelatih terbaik yang pernah dilahirkan Italia. Dirinya sudah memenangkan banyak trofi, termasuk Liga Champions.

Satu-satunya gelar Liga Champions Fabio Capello menangkan musim 1993-1994. Saat itu ia masih menukangi AC Milan.

Hari itu sekaligus menjadi salah satu final Liga Champions paling ikonik. Menghadapi Barcelona, Milan menang telak 4-0.

Padahal Barcelona bertabur bintang. Mereka punya Hristo Stoickhov, Ronald Koeman, Pep Guardiola, dan Romario. Belum lagi di balik kemudi tim ada sosok mahsyur bernama Johan Cruyff.

AC Milan sendiri juga bukan tim sembarangan. Ada Franco Baresi dan Alessandro Costacurta, Demitrio Albertini serta Dejan Savicevic, hingga Daniele Massaro.

Di Athena, Barca lebih diunggulkan. Salah satu faktornya karena nama besar Johan Cruyff, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Namun, siapa sangka, di balik harumnya Cruyff, Fabio Capello menyimpan dendam. Ia membawa masa lalu semasa bermain.

Ya, itu bukan kali pertama dua sosok besar bertemu di final Liga Champions. Mereka sebelumnya pernah berjumpa saat sama-sama berstatus sebagai pemain.

Don Fabio sebagai bintang Juventus, Cruyff maestro yang dimiliki Ajax Amsterdam. Laga itu dimenangkan raksasa Belanda.

Kekalahan tersebut sebenarnya tidak menyakitkan untuk Capello. Tapi dia tidak terima dengan sikap Johan Cruyff yang seakan meremehkan dirinya dan tim.

“Saya pernah bermain di final untuk Juventus dan kami kalah dari Ajax. Tidak ada masalah dengan hasil itu. Mereka memang lebih kuat,” ujarnya.

“Tapi setelah pertandingan saya melihat Johan membawa trofi ke bus dan dia hanya melemparkannya begitu saja seakan mengatakan kami telah menang tiga gelar dan saya tidak suka itu,” kenang Don Fabio.

Pembalasan Sempurna Fabio Capello

Kenangan itulah yang dibawa Fabio Capello ketika menjadi pelatih AC Milan. Dendamnya kian besar setelah melihat perangai Johan Cruyff tak juga berubah.

Sebelum final AC Milan vs Barcelona berlangsung, legenda Italia melihat legenda Belanda berbaring santai di lapangan.

“Saya kembali tidak senang ketika melihatnya tepat sebelum final Milan vs Barcelona di Athena,” ia melanjutkan.

“Johan berbaring di lapangan dengan bola di belakang kepalanya seolah-olah dia meremehkan kami sebagai lawan,” sambungnya lagi.

“Setelah itu saya masuk ke ruang ganti dan memberi tahu para pemain kami menang 4-0 dan itu adalah penampilan sempurna,” tutup eks nakhoda timnas Inggris.

Dendam Fabio Capello semasa bermain terbalas tuntas saat dirinya menjadi pelatih. AC Milan mengalahkan Barcelona 4-0 lewat brace Daniel Massaro, Dejan Savicevic, dan Marcel Desailly.

Itu sempat menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions. Sebelum akhirnya dipecahkan Paris Saint-Germain saat menghancurkan Inter Milan 5-0 dua musim lalu.

Adu Pintar Ruben Amorim dengan Jurnalis Jelang AC Milan vs Lecce

Pemandangan menarik terjadi pada konferensi pers jelang pertandingan AC Milan vs Lecce. Ruben Amorim terlibat perdebatan sengit dengan jurnalis setempat.

Jalannya konferensi pers awalnya seperti biasa. Namun, tensi sedikit meninggi ketika salah satu jurnalis mempertanyakan pakem starting 11 AC Milan.

Sebagai informasi, Ruben Amorim selalu mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Meski formasinya cenderung sama, 3-4-2-1, selalu ada setidaknya dua pemain yang berganti peran tiap pekan.

Bagi salah satu wartawan, keputusan itu menjadi penyebab performa Milan menurun belakangan. Maka dari itu ia bertanya kepada sang pelatih siapa starting 11 terbaik.

Jawaban Amorim justru membuat sesi konferensi pers menjadi menarik dan sedikit meninggi. Alih-alih menjawab dengan gamblang atau sekadar normatif, ia bertanya balik ke awak media.

“Susunan pemain inti terbaik itu seperti apa? Bagaimana menurut Anda?,” tanya peramu taktik I Rossoneri kepada wartawan tersebut.

Bukannya ciut, sang wartawan benar-benar memberi jawaban dan pandangannya. Dari lini belakang sampai ujung tombak.

“Gila, De Winter atau Gabbia dan Pavlovic di belakang. Rabiot, Modric, Chukwueze dan Moreira di lini tengah. Pulisic, Cisse, dan Ramos di depan,” jawab wartawan itu.

Ruben Amorim Skakmat Wartawan

Adu pintar keduanya berlanjut. Pelatih asal Portugal mulai mengorek sejauh mana sang pewarta memahami strategi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.

“Bagaimana menurutmu di kiri?,” tanya Ruben Amorim. “Moreira,” jawab pewarta berita itu. Sang pelatih bertanya lagi “Jika Chukwueze bermain tiga pertandingan, jika dia mengalami masalah, siapa yang akan kami tempatkan di sana?,” jurnalis itu menjawab Saelemaekers.

Amorim meneruskan, “Lini tengah bagaimana,”. “Rabiot dan Modric,” jawab sang pewarta. Dari sini mantan penggawa timnas Portugal secara tidak langsung menjawab alasan dirinya kerap gonta-ganti komposisi pemain.

“Apa yang kalian katakan tentang Modric minggu lalu? Saya membela dia di sini. Kalian membicarakan kecepatannya. Kalian melihat bahwa setiap minggu kalian punya susunan pemain inti yang berbeda,” ia menjelaskan.

“Kemudian kalian harus mengatur tiga pertandingan perminggu. Dan pergantian pemain. Sekarang apa yang kalian lakukan?,” tegasnya.

“Saya tahu ini bukan tugas kalian. Tapi yang ingin saya jelaskan adalah pendapat kalian akan berubah karena Musah bermain sangat bagus. Kita bisa membahas ini sepanjang hari,” tutup Ruben Amorim.

AC Milan melakoni tiga pertandingan terakhir tanpa kemenangan. Bahkan di laga terakhir mereka menelan kekalahan 0-2 dari Benfica di Liga Europa.

Dinihari nanti melawan Lecce adalah kesempatan terbaik I Rossoneri kembali torehkan tiga angka. Mereka bertindak sebagai tuan rumah dan Lecce selalu kalah di markas lawan musim ini.

Ruben Amorim Makin ke Sini Makin Omon-Omon?

Setelah tak terkalahkan di Serie A, AC Milan harus merasakan hasil negatifnya di Europa League. Anak asuh Ruben Amorim dipermalukan Benfica 0-2  di San Siro.

Datang dengan lima kemenangan jadi bukti bahwa Benfica bukan lawan sepele. Ruben Amorim yang secara historis lebih mengenal mereka pun tak sanggup melawan determinasi klub asal Portugal tersebut.

Hasil tersebut memunculkan pertanyaan, apakah eks Sporting Lisbon tahu bagaimana harus memperlakukan Milan? Karena pada saat ini ia baru mendapatkan dua kemenangan dua imbang, dan satu kekalahan.

Bahkan dua hasil imbang itu terjadi pada laga besar. Walau kala melawan Juventus, upaya mengambil poin penuh harus sirna gara-gara gol injury time Federico Gatti.

Tidak lupa juga ketika kontra Lazio di Olimpico. Pada babak pertama AC Milan hanya bisa terdiam oleh dua gol dari Matteo Cancellieri dan Tijjani Noslin.

Meski pada akhirnya respon cepat ditunjukkan di babak kedua. Pergantian pemain jitu dilakukan, alhasil mereka menyamakan kedudukan melalui brace Diego Moreira.

Konsistensi serta kolektivitas ala Amorim mulai perlu dipertanyakan setelah tiga pertandingan terakhir. Apakah Milan asuhannya saat ini penantang serius di Serie A? Atau malah sekadar omon omon belaka?

Bukan tanpa sebab anggapan omon-omon muncul. Sang pelatih kerap membicarakan niatnya mengubah Milan menjadi tim yang lebih dominan terutama dalam fase menyerang.  Yang mana itu bukan gaya yang biasa diterapkan oleh pelatih Italia kebanyakan.

Kinerja Ruben Amorim akan Dievaluasi 

Bahkan menurut informasi yang diungkap oleh Jurnalis Italia, Nico Schira, bahwa hasil yang kurang memuaskan AC Milan berpotensi akan diadakannya pertemuan antara pelatih dan Gerry Cardinale sang pemilik klub.

“Diperkirakan akan ada panggilan telepon hari ini antara pemilik Gerry Cardinale dan pelatih Ruben Amorim untuk menganalisis dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah AC Milan serta mengatasi kesulitan-kesulitan yang terungkap dalam pertandingan-pertandingan terbaru”,” demikian laporan Nico Schira.

Ruben Amorim di AC Milan
sumber foto: acmilan/Instagram

Kabar  ini menjadi pertanyaan di lingkup Milanello. Karena Cardinale lah sosok paling dekat dan lantang akan mendukung penuh arah serta ide Milan kedepan di bawah arahan eks pelatih Manchester United tersebut.

Kebingungan saat ini kembali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Sergio Conceicao. Saat ditanya mengenai masa-masa ia menakhodai I Rossoneri serta tanggapan tentang Amorim.

“Saya berada di Milan selama enam bulan dan segalanya berjalan. Saya tidak akan mengatakan dengan baik, tetapi kami berhasil memenangkan Piala Super dan mencapai final Coppa Italia.” kenang Conceicao kepada DAZN beberapa waktu lalu.

“Amorim baru-baru ini menyebutkan bahwa Milan telah memenangkan dua gelar liga dalam 20 tahun dan itu benar. Salah satu dari dua trofi terbaru mereka adalah milik saya [merujuk pada Supercoppa Italiana].” ia menambahkan.

“Dan sudah dipastikan bahwa pelatih bukanlah masalahnya. Jelas, saya juga bertanggung jawab dan saya tidak ingin menghindar dari tanggung jawab saya, tetapi kita sekarang telah melihat Allegri dan seluruh tim manajemen jatuh.” tambahnya lagi.

Lalu dengan segelintir kritik dan tanda tanya di dalam klub, apakah Amorim masih bisa mengelola AC Milan sesuai dengan gaya dan kata-katanya? Atau hanya seperti kisah-kisah pelatih lama yang banyak bercerita ketimbang hasil nyata?

 

Aspirasi Tifosi by Mr Sam

Alphadjo Cisse: Rising Star AC MIlan dengan Segala Kisahnya

Mencetak gol pertama di debut bisa jadi kebetulan. Tapi membobol jala Juventus adalah mentalitas. Itulah yang dimiliki Alphadjo Cisse, wonderkid AC Milan yang baru.

Nama Alphadjo Cisse masih asing terdengar. Maklum saja, ini perdana dia menembus tim utama.

Uniknya, kesuksesan Cisse menembus skuat AC Milan tak lepas dari unsur kesengajaan. Pelatih Ruben Amorim sedang bereksperimen untuk mempersiapkan tim menuju musim baru.

Semua pemain dicoba, beberapa dari primavera dipanggil. Rising star 19 tahun termasuk yang konsisten diberi kesempatan selama pramusim.

Banyak yang berpikir, mungkin Cisse juga berpikir, kesempatannya hanya selama pramusim. Namun, Amorim melihatnya lebih dalam lagi.

Dengan segala pertimbangan dan keterbatasan skuat, Amorim tetap menyertakan Cisse. Apa yang kemudian terjadi benar-benar di luar dugaan.

Giornata satu Serie A musim 2026-2027, tandang ke Torino, Alphadjo Cisse langsung mengisi starting 11. Serentak semua orang bertanya-tanya “siapa anak ini? Bisa apa dia?”..

Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu wajar terjadi. Di Italia, memberi kepercayaan kepada pemain muda di laga pembuka adalah hal tak biasa. Butuh kualitas dan mentalitas pemain serta keberanian pelatih.

Alphadjo Cisse: Asal Guinea Lahir di Treviso

Berasal dari Guinea, ia lahir di Treviso, Italia. Tepatnya di San Liberale, sebuah tempat pinggiran kota yang dibangun pada tahun 1858 untuk menumbuhkan rasa reinkarnasi dan menawarkan perlindungan kepada mereka yang kehilangan rumah selama perang.

Ia tak sekadar lahir di sini. Dia juga hidup dan menjadi titik awal ceritanya di sepak bola dengan Polisportiva Indomita 21 sebagai klub pertama. Lalu pindah ke Castelfranco Veneto, klub yang sama tempat Yunus Musah bermain ketika kecil dulu.

Alphadjo Cisse kecil sudah menjadi daya tarik. Bayangkan saja, umur 11 tahun dia mampu mencetak gol langsung dari tendangan sudut.

Alphadjo Cisse rising star AC Milan
sumber foto: gazzetta.it

Berawal dari momen itu, Cisse kecil jadi magnet dalam tim. Pemain dan pelatih butuh magisnya, butuh gol-gol yang bisa datang dari sudut mana pun.

“Dalam satu pertandingan, pelatih bilang padanya bahwa dia hanya bisa mencetak gol dengan tendangan salto. Kemudian dia bikin tiga gol secara akrobatik,” kenang Marco Pinzi, presiden Indomita 21.

Menjadi mutiara sedari kecil seperti sudah takdir untuk pemain bernomor 70. Ia bukan sekadar bermain, bukan hanya ingin menjadi hebat di masa depan.

Lebih dari itu, Cisse ingin mengubah hidupnya dan keluarga, membalas jasa kedua orang tua. Ceritanya di Italia berawal dari keputusan orang tuanya meninggalkan Guinea.

Saloussy Cisse, sang ayah, melihat kehidupan di Guinea tidak baik. Tidak bisa baginya mempertaruhkan masa depan keluarga jika tetap bertahan di tanah kelahiran.

Keputusan berani diambil. Ia pindah ke Italia, dari satu kota ke kota lainnya sebelum menetap di Treviso hingga hari ini. Untuk menghidupi keluarga, Saloussy bekerja sebagai buruh pabrik dari jam 4 pagi sampai 5 sore.

Saloussy tak langsung pulang setelah jam 5. Ada kewajiban lain yang harus ditunaikan, yaitu mengantar Alphadjo Cisse main bola. Sementara sang ibu, Habibatou, bekerja sebagai pelayan hotel.

“Mereka mencari kehidupan yang lebih baik dan pindah ke Italia. Mencoba berbagai kota sebelum menetap di Treviso, tempat saya lahir,” ucap Cisse kepada Gazzetta dello Sport.

“Saya biasa pergi kelapangan bersama ayah naik bus setelah berjalan jauh. Orang tua saya tidak pernah membuat saya merasa rendah diri,” sambungnya.

Debut Alphajdo Cisse tanpa Kehadiran Orang Tua

Alphadjo Cisse kemudian menemukan klub lebih mapan. Ia menembus tim primavera Verona 2020 lalu. Sempat dipinjamkan ke Catanzaro, ia kembali ke Marc Antonio Bentegodi sebelum menjadi milik AC Milan seutuhnya Februari 2026.

Karier yang baru dia jalani berasal dari perjuangan dan pengorbanan panjang. Gol ke gawang Torino adalah hasil dari keringat dan doa-doa orang tersayang, meski momen sakral itu tak pernah masuk dalam mimpinya.

“Saya mungkin tak pernah membayangkan bisa debut untuk Milan dan mencetak gol, bahkan dalam mimpi sekali pun,” ujar sang rising star waktu itu.

Sudah menancapkan tinta emas di kasta tertinggi sepak bola Italia, Cisse dan keluarga tetap sosok bersahaja. Tidak ada kehidupan yang tiba-tiba berubah, tidak ada keistimewaan, bahkan pada hari spesial itu tidak ada saksi mata atas sejarah yang dia buat.

Faktor jarak, kewajiban terhadap perusahaan memaksa ayah, ibu, beserta kakak dan adik Cisse tak bisa hadir di stadion Olimpico Torino. Sebagai informasi, Treviso-Turin berjarak 420 km, menempuh waktu kurang lebih lima jam perjalanan.

adapun laga Torino vs AC Milan berlangsung malam hari. Dengan kata lain, mustahil bagi Saloussy dan Habibatou datang langsung karena harus bekerja pukul 4 pagi.

Kendati begitu, Cisse tak berkecil hati. Ia tetap bersyukur dan penuh bangga menunjukkan gol itu kepada keluarga.

Lagi pula ini baru awal, awal dari perjalanan panjang. Awal dari mimpi besar mengubah kehidupan keluarga dan membalas jasa orang tua.

“Saya ingin membelikan keluarga saya rumah baru. Dan saya harap secepat mungkin punya kemampuan untuk membuat ayah dan ibu berhenti bekerja,” tutur Alphadjo Cisse.

Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan: Duel Pelatih Muda dan Tua

Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.

Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.

Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.

Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.

Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.

Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.

Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.

Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.

Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.

Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei  tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.

Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan

Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.

Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.

Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.

Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.

Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol.  Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.

Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.

Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.

Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.

Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.

Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.

Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.

 

 

Akhir Prematur Rafael Leao di AC Milan

Rafael Leao dan AC Milan akhirnya berpisah. Setelah tarik ulur negosiasi, sang winger benar-benar memutuskan pergi musim ini.

Rafael Leao sudah sepakat ke Galatasaray. Transfer ini membuat raksasa Turki harus mengeluarkan dana sekitar 45 juta euro. Angka tersebut belum termasuk bonus 2 juta euro yang harus dibayarkan pada akhir musim.

Kepindahan ini bisa dibilang menguntungkan semua pihak. AC Milan mendapat dana segar, apalagi dalam klausul tercantum mereka akan mendapatkan sekitar 20 persen dari hasil penjualan Leao di masa depan.

Bagi Galatasaray tentu ini menambah kekuatan lini serang. Mereka kian bertabur bintang karena sebelumnya sudah memiliki Victor Osimhen dan Leroy Sane. Pun untuk Leao, kepindahan ini membuat pundi-pundinya makin tebal.

Menurut laporan di Italia, ia mendapat gaji seebsar 12 juta euro permusim. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari yang didapatkan bersama Milan selama ini.

Leao pergi dari Milan sebenarnya tinggal menunggu waktu. Masa depannya sudah jadi tanda tanya sejak paruh kedua dua musim lalu.

Rafael Leao Korban Perubahan Sistem Bermain

Saat itu ia tidak nyaman dengan perubahan peran yang diminta Sergio Conceicao, pelatih kala itu. Eks Sporting Lisbon diminta untuk bermain lebih dalam dan turun ke bawah membantu pertahanan.

Pada akhir musim ia sudah mempertimbangkan hengkang. Terlebih muncul tawaran menggiurkan dari Chelsea.

Niat itu kemudian diurungkan seiring dipecatnya Conceicao dan masuknya Massimiliano Allegri selaku pengganti. Situasi sempat membaik, Leoa kembali jadi tumpuan di sisi kiri serangan.

Namun, situasi berubah lagi perlahan. Pemain Portugal beberapa kali dicadangkan, belum lagi muncul kritikan datang dari beberapa legenda, Roberto Donadoni salah satunya.

Donadoni menuntut Rafael Leao mengubah perangainya dan lebih adaptif dengan strategi pelatih. Kata Roberto Donadoni, itu satu-satunya cara agar Leao bertahan dan bangkit bersama Milan.

Apa daya, situasinya tidak sesimpel sebelumnya, Leao kadung putus asa dengan berbagai perubahan yang sangat cepat dalam tim. Sehingga keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama.

Rafael Leao Ucapkan Salam Perpisahan untuk AC Milan

“Saya mengucapkan selamat tinggal kepada rekan setim setelah tujuh tahun bersama. Klub selalu membantu, membuat mengerti apa artinya berada di level tertinggi,” ucap Rafael Leao kepada Sky Sport Italia.

“Saya memilih penghormatan yang berbeda, untuk mengucapkan selamat tinggal di lapangan sekali lagi di depan tifosi, mereka yang telah membantu saya, terutama di momen tidak baik,” ia menambahkan.

“Saya akan tercatat dalam sejarah klub, karena saya tahu apa yang sudah kami raih di sini. Milan akan selalu tersimpan dalam hati, yang bisa saya lakukan hanyalah berterima kasih,” imbuhnya.

Selama berseragam I Rossoneri, pemain 27 tahun bagian penting dari sukses klub merengkuh scudetto musim 2021-2022 dan Supercoppa Italia dua tahun kemudian. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri akhir cerita sang bintang terbilang prematur.

Performanya menurun, peran di lapangan berkurang, kepercayaan pelatih sempat menghilang, dan dapat kritik tajam dari legenda.

Rafael Leao juga tidak pindah ke klub raksasa Eropa seperti yang digadang-gadang sebelumnya. Tapi setidaknya, winger murah senyum ini tidak nyasar sampai Saudi Arabia.

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

Bentornato Serie A: Giornata Pembuka, Awal dari Semua Cerita

Tiga bulan lamanya sejak musim 2025-2026 berakhir, Serie A kembali menyapa. Ia datang untuk memulai musim baru, musim yang diharapkan lebih menarik dan menegangkan dari sebelumnya.

Musim lalu Inter Milan hampir tanpa perlawanan. Mereka sudah memastikan scudetto beberapa pekan sebelum giornata pamungkas digelar. Tapi bukan berarti musim lalu Serie A kurang persaingan.

Demi mengisi spot Liga Champions, banyak klub saling sikut Pada akhirnya nama besar AC Milan dan Juventus takluk dari rasa lapar AS Roma serta modernisasi yang diusung Como.

Bagi AS Roma, sukses kembali ke Liga Champions adalah jawaban dari doa-doa di sepertiga malam yang dipanjatkan Gianluca Mancini.

Sementara untuk Como ini awal baru. Mereka adalah bukti meski pemiliknya orang Indonesia, tapi bisa berkibar dengan cara dan tata kelola yang sangat tidak Indonesia.

Serie A Menunggu Konsistensi Como

Hanya saja, biasanya klub-klub kejutan seperti Como punya musuh besar, yaitu konsistensi. Sudah banyak korban dari konsistensi itu yang menghancurkan para kuda hitam di musim selanjutnya.

Di Premier League ada Leicester City yang babak belur usai juara. LaLiga punya Girona yang nyaris degradasi usai sebelumnya menembus empat besar.

Serie A sebenarnya bisa jadi berbeda. Karena contoh yang paling dekat adalah Atalanta. Mereka kuda hitam yang konsisten, sejak tembus Liga Champions untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu, La Dea tak pernah absen dari kompetisi Eropa.

Apalagi Como menatap musim ini dengan sangat serius. Ikut Liga Champions membuat manajemen sedikit mengubah penilaian dalam meminang pemain.

Jika selama ini mereka mencari pemain-pemain muda belum matang atau yang sudah melewati masa emas, Como sekarang lebih selektif. Klub tak mau cuma numpang lewat di Eropa dan jatuh lebih cepat di Serie A.

Untuk itu, Trevoh Chalobah yang sudah mapan bersama Chelsea didatangkan. Pun Yan Couto yang terbiasa main di Liga Champions bareng Borussia Dortmund.

Upaya AC Milan dan Juventus Kembali Bersaing di Serie A

Yang jadi pertanyaan, apakah napas baru yang dihadirkan Como atau rasa lapar AS Roma bisa menenggelamkan AC Milan dan Juventus? Jawabannya belum tentu.

Sepak bola Italia selalu tentang sejarah, tentang apa yang diagungkan di masa lalu, tentang kelas yang tak pernah berubah. Ini pula yang membuat haram hukumnya mencoret Milan maupun Juve dari persaingan.

Lagi pula kedua klub sudah berbenah, terutama I Rossoneri yang kembali melakukan pergantian pelatih. Secara sadar dan berani mereka menunjuk Ruben Amorim, pelatih muda yang kadung dicap gagal dan keras kepala di Manchester United.

Masalahnya Amorim berasal dari Portugal. Dan AC Milan tidah hanya gagal bersama dua allenatore Portugal sebelumnya, Paulo Fonseca dan Sergio Conceicao. Kerja sama mereka selalu berakhir problematik.

Adapun Juventus rupanya masih percaya pada Luciano Spalletti. Manajemen sempat diisukan akan membawa pulang Antonio Conte.

Nyatanya Spalletti masih di balik kemudi. Selain pelatih, yang cukup menjadi pertanyaan adalah keseriusan manajemen dalam mengembalikan kejayaan klub, dilihat dari aktivitas transfer.

Randal Kolo Muani yang sempat dibuang ke Tottenham kembali didatangkan. Jhon Lucumi juga digaet serta dua bintang muda yang belum teruji betul kualitasnya, Kerim Alajbegovic dan Jeff Ekhator.

Yang terbilang oke adalah memboyong Guglielmo Vicario untuk menggantikan Michele Di Gregorio. Lalu membajak Zeki Celik dari AS Roma untuk menenangkan hati para penggemar.

Serie A  Masih Terapkan Arisan Pelatih

Serie A musim 2026-2027 kembali menghadirkan pelatih-pelatih baru. Tercatat ada sembilan klub ditangani nakhoda anyar,

Yang perlu dicatat, dalam konteks Serie A, biasanya pelatih-pelatih barunya “Dia lagi, dia lagi”. Sebab allenatore Italia hanya berputar di situ-situ saja.

Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya arisan pelatih. Setiap klub seperti sudah digilir. Seperti Atalanta yang kini mendapat giliran ditukangi Maurizio Sarri.

Napoli yang akhirnya merasakan ilmu hitam nan terlarang milik Massimiliano Allegri, Lazio kepincut Gennaro Gattuso, sampai masih ada klub yang percaya dengan Ivan Juric, itulah Monza.

Namun, tak semua mengikuti tren arisan pelatih. Ada juga yang memilih cara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Seperti Torino dan Sassuolo. Mereka mengikat Ignazio Abate maupun Alberto Aquilani yang masih muda.

Kemudian Bologna. Mereka membawa pulang Domenico Tedesco ke tanah kelahiran usai separuh hidup dihabiskan di tanah perantauan.

Apa pun itu, Liga Italia akan kick off nanti malam, menghadirkan empat pertandingan. Di awali Udinese vs Como dan Inter Milan vs Monza yang main barengan.

Semoga saja Serie A musim ini berjalan menarik, baik persaingan papan atas maupun papan bawah. Malam ini cerita baru akan dimulai, malam-malam menegangkan kembali menemani, dan kita siap menjadi saksi.

 

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.