Luciano Spalletti sudah lama meninggalkan Napoli. Walau begitu perpisahan tersebut masih meninggalkan luka bagi presiden klub, Aurelio De Laurentiis.
Luciano Spalletti melatih Napoli selama dua tahun. Pada 2023 ia sukses mempersembahkan scudetto pertama klub setelah tiga dekade. Itu sekaligus gelar Serie A pertama sang nakhoda selama berkarier.
Di tengah euforia dan suka cita, sang pelatih mengambil keputusan mengejutkan. Ia mundur dari kursi pelatih, lalu tak lama setelah itu menerima pinangan timnas Italia.
Situasi ini rupanya tidak bisa diterima. Aurelio De Laurentiis merasa dikhianati dan tak mau lagi membahas apa pun tentang pria yang kini menukangi Juventus.
“Jangan suruh saya bicara soal Spalletti,” De Laurentiis menegaskan seperti dikutip Ngalcio dari Football Italia.
“Pelatih harus paham bahwa mereka adalah kolaborator yang dipanggil untuk mengarahkan orkestra yang dibentuk pemain. Mereka hanya karyawan,” ia menambahkan.
“Terkadang mereka cenderung melupakan hal itu. Apakah sudah cukup jelas?,” sambung presiden Napoli dengan nada tinggi.
Presiden Napoli Klaim Sukses tanpa Curang
Bagaimana pun, sukses Napoli 10 tahun terakhir tak lepas dari andil Luciano Spalletti. Ia yang membawa pulang scudetto setelah terakhir kali dilakukan Diego Maradona.
Tidak ada yang membantah fakta itu. Bahkan tifosi I Partinopei masih menganggap Spalletti sebagai pahlawan klub.
Sementara itu, Aurelio De Laurentiis mengaku bangga dengan apa yang sudah dilakukan. Sebagai informasi, ia adalah sosok fundamental yang telah membangkitkan klub dari kebangkrutan.
“Saya terjun langsung ke sepak bola, memenangkan dua scudetto dan lima gelar lain dalam 22 tahun,” ia mengisahkan.
“Mengembalikan antusiasme masyarakat dan menjadi tim yang terus bermain di Eropa secara beruntun,” lanjutnya.
“Saya bahkan melewati Calciopoli dan meraih sukses tanpa pernah melakukan kecurangan, itu merupakan hal mendasar bagi saya,” tutup presiden Napoli.
Massimiliano Allegri dalam ujian besar. Performa Napoli asuhannya mengecewakan dan sekarang situasi ruang ganti memanas.
Dalam lima pertandingan Serie A yang sudah berjalan Napoli hanya mengumpulkan tujuh poin. Ini catatan terburuk klub dalam 10 tahun terakhir.
Terbaru, pasukan Massimiliano Allegri ditahan Fiorentina 1-1. Hasil ini tak bisa ia terima sebab La Viola tengah terpuruk di papan bawah.
Tak pelak, tambahan satu poin di Firenze berdampak besar. Allegri melampiaskan kemarahan kepada para pemain.
Di ruang ganti usai pertandingan, sang pelatih berbicara dengan nada tinggi. Dia juga meluarkan kata-kata kasar karena kecewa dengan permainan tim.
Belum puas, mantan nakhoda AC Milan memukul dinding ruang ganti dengan sengat keras. Situasi ini cukup menegangkan di tengah inkonsistensi tim.
Amukan Allegri pun ditutup dengan sebuah ancaman. Ia menuntut Rasmus Hojlund dkk berubah secepat mungkin. Menurutnya, para pemain belum menunjukkan semangat dan keinginan bermain di level tertinggi.
Massimiliano Allegri Ribut dengan Kevin De Bruyne?
Ketegangan di Napoli juga mulai merembet ke mana-mana. CalcioNapoli melaporkan Massimiliano Allegri terlibat perselisihan dengan bintang senior, Kevin De Bruyne.
Allegri dianggap tidak suka dengan permainan De Bruyne yang kerap berimprovisasi di lapangan dan mengabaikan instruksinya.
Adapun De Bruyne dikabarkan tidak suka dicap sebagai pembangkang. Ia berdalih hanya melakukan yang terbaik di lapangan sesuai keinginan pelatih.
Di luar itu, kesulitan I Partinopei musim ini sudah diprediksi banyak pihak. Namun, bukan Massimiliano Allegri penyebabnya.
Manajemen tidak mendatangkan satu pun pemain baru. Mereka hanya mempermanenkan status Rasmus Hojlund dan membawa pulang Noa Lang dari Galatasaray.
Dengan kata lain, Allegri hanya diwarisi pemain-pemain lama yang belum tentu mengerti filosofinya. Maka tak heran mereka kini tertahan di peringkat kesembilan dengan tujuh poin.
Liga Champions matchday pertama sudah digelar. Bagi wakil Serie A, kompetisi tertinggi Eropa berjalan menyulitkan. Terbukti, Como saja yang meraih kemenangan.
Como, si anak baru Liga Champions justru menunjukkan kelas dan kualitas. Mereka seakan mengajarkan abang-abangan seperti Inter Milan, AS Roma, dan Napoli caranya menang di laga pembuka.
Menjamu RB Leipzig di stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil percaya diri. Pengalaman pertama sepanjang sejarah baik untuk pemain dan penggemar tidak membuat ciut nyali.
Memang, para pemain sedikit demam panggung di awal. Namun, sejak gol pertama Martin Baturina lahir, semua berjalan lancar.
Atau dalam bahasa sesepuh kami, Como bermain dengan nyaman, menang dengan nyaman. RB Leipzig yang lebih berpengalaman di Liga Champions dibuat kalang-kabut.
Mereka hanya menyerang di awal dan pertengahan babak pertama. Tapi lini belakang tuan rumah masih kokoh, pun Jean Butez yang tampil bagus di bawah mistar.
Setelah Baturina, Anastasios Douvikas turut mencatatkan nama dalam buku sejarah sebagai pemain kedua I Lariani yang cetak gol di Eropa. Dua gol di babak pertama dilengkapi dengan dua gol lain di babak kedua.
Cesc Fabregas menggilir pemainnya untuk mencetak gol. Kali ini giliran Assane Diao dan Maximo Perrone menyempurnakan pesta setelah di awal babak kedua Andrija Maksimovic memperkecil angka.
Inter Milan dan Napoli Tak Berdaya di Liga Champions
Pada hari pertama, Inter Milan mengawali perjalanan tim Serie A di Liga Champions. Lawannya tidak main-main, Real Madrid si raja Eropa.
Christian Chivu yang masih bau kencur menerapkan penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki, pergerakan bola cepat dengan pergerakan pemain yang dinamis memang memanjakan mata. Seolah-olah gol hanya perkara waktu.
Yang jadi masalah, Real Madrid punya Jose Mourinho, sang master mind dengan dua gelar Liga Champions dan permainan logika seperti Rocky Gerung. Model permainan yang tampak sempurna Inter itu yang justru jadi santapan empuk Mou.
“Semakin sering memegang bola, semakin besar peluang membuat kesalahan,” filosofi ini masih dipertahankan Mourinho sampai sekarang. Terbukti, ketika Inter tengah asyik menguasai bola, Real Madrid tiba-tiba mencetak gol.
Kesalahan Curtis Jones yang dilengkapi Yann Bisseck langsung dihukum Kylian Mbappe menjadi gol. Hal serupa kembali terjadi pada gol kedua.
Kini giliran kiper Josep Martinez. Penampilan luar biasanya sepanjang 90 menit tak mampu menutup dosa yang dibuat menit ke-23.
Maksud hati menggocek Federico Valverde, Martinez justru tergocek masa lalu Ionut Radu. Bola berhasil direbut Valverde yang tanpa daya upaya menggandakan keunggulan tuan rumah.
Sebenarnya Inter Milan tidak fakir peluang. Hanya saja tembok kokoh Real Madrid sebesar Thibaut Courtois.
Free kick Hakan Calhanoglu ditahan, sontekan Lautaro Martinez ditepis, upaya Marcus Thuram digagalkan, hingga peluang bunuh diri Ibrahima Konate juga terhenti di tangan Courtois.
Meski pada akhirnya kiper kebanggaan Belgia dibuat tak berkutik oleh Carlos Augusto. Yang lucunya, tak lama setelah itu Augusto ditarik keluar.
Dari Selatan Italia, Napoli dipaksa bertahan oleh Arsenal. Tak berniat mengembangkan permainan, Massimiliano Allegri yang baru menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Menyerang ala Allegri” akhirnya harus melihat timnya kebobolan saat laga tersisa 15 menit.
Martin Odegaard memecah kebuntuan. Gol yang sudah cukup membuat finalis musim lalu mencuri tiga poin dari Napoli.
Liga Champions: AS Roma Tertahan di Comebacknya
Dari Turki, cerita sedikit berbeda di alami AS Roma. Tim ibu kota Italia tertahan di ibu kota Turki usai melakoni perlawanan alot dari Fenerbahce dan fansnya.
Comeback setelah lama menepi dari Liga Champions membuat Roma masih malu-malu kucing. Para pemain seperti sungkan untuk langsung tancap gas.
sumber foto: asroma.com
Apalagi Turki bukan tanah yang nyaman untuk tetamu. Bayangkan saja, setiap Brian Cristante dan kolega menguasai bola, siulan fan berdengung kencang di seisi Sukru Saracoglu.
Demi mengurangi perasaan tak enak itu, GOD nya lini tengah Roma, pemain yang akan mengawali kebangkitan Italia era Roberto Mancini, metronom dalam arti sesungguhnya, Brian Cristante, muncul dari sudut tak terduga.
Tendangan terukurnya menusuk sudut kanan gawang Fenerbahce kawalan Ederson. Cara Cristante mencetak gol efeknya tidak main-main untuk kehidupan, bikin frekuensi bumi jadi kacau.
Bagi tim, gol ini melahirkan ketenangan dalam permainan. Tapi sepertinya mereka masih pikir-pikir untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan segala kerendahan hati para pemain mencoba menjadi tamu yang baik sebagaimana ajaran nabi, sembari menguji mentalitas Mile Sivlar di bawah mistar.
Dasarnya orang baik tidak selalu mendapat perlakuan baik, itulah yang dialami Roma. Di awal babak kedua mereka kebobolan oleh mantan calon pemain AC Milan, Archie Brown.
Sebagaimana Paolo Maldini yang tertipu dengan pergerakan Brown di bursa transfer, Gianluca Mancini pun terkecoh di lapangan. Archie Brown mampu melepaskan diri sebelum dengan ketenangan tinggi menceploskan bola ke gawang.
Skor 1-1 membuat laga Fenerbahce vs AS Roma kembali hidup. Disaat bersamaan, tekanan fans tuan rumah terhadap tim tamu semakin menjadi.
Beruntung jantung pertahanan masih sangat kokoh. Terutama Svilar yang berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas mantan bomber Lazio, Vedat Muriqi.
Serie A baru giornata ketiga. Tapi aura rivalitas sudah kental terasa lewat dua grande partita antara Inter Milan vs Napoli dan Juventus vs AC Milan.
Laga Inter Milan vs Napoli tentu dinantikan. Kedua klub terlibat persaingan sengit menuju scudetto musim lalu. Pada akhirnya I Partinopei yang ketika itu berstatus juara bertahan harus rela tahtanya direbut I Nerazzurri.
Duel kedua tim diprediksi akan berlangsung ketat. Terutama jika melihat dari head to head keduanya. Dari lima pertemuan terakhir hanya sekali laga Inter Milan vs Napoli hasilkan pemenang.
Itu terjadi musim lalu di Naples untuk kemenangan tuan rumah 3-1. Namun, jika melihat dari tujuh laga terakhir di Giuseppe Meazza Inter bisa sedikit jemawa tanpa menelan kekalahan.
Yang jelas, grande partita Serie A ini selalu menghasilkan gol. Tercatat dalam 10 tahun terakhir hanya sekali laga ini berakhir 0-0.
Sementara itu, laga ini juga mempertemukan pelatih muda dan tua. Christian Chivu yang membawa Inter scudetto musim lalu baru berumur 45 tahun.
Tak hanya itu, Chivu masih seumur jagung di dunia kepelatihan. Ia melatih level profesional pertengahan musim 2024-2025 ketika menyelamatkan Parma dari degradasi.
Sebaliknya, Massimiliano Allegri yang menangani Napoli sudah mengenyam asam garam Serie A. Ia sudah melatih sejak 2003 silam.
Berbekal pengalaman segudang, prestasi tak perlu ditanya lagi. Scudetto datang sendiri selama Allegri menghendaki. Terbukti ketika ia menukangi AC Milan dan Juventus.
Kini sosok 60 tahun ingin menorehkan tinta emas lain. Juara lagi bersama Napoli walau kemungkinan ini cukup berat mengingat I Partinopei tak punya tradisi angkat piala sesering Milan atau Juve.
Serie A Hadirkan Duel Klasik Juventus vs AC Milan
Inter Milan vs Napoli bukan satu-satunya grande partita pekan ini. Di Turin ada duel klasik antara Juventus vs AC Milan.
Duel sengit kedua tim kali ini terasa berbeda. Baik Juventus maupun AC Milan terlempar dari persaingan gelar musim lalu.
Tak cuma itu. Pada akhirnya mereka juga sama-sama tercampakkan dari empat besar dan kompak menepi dari ajang bergengsi bernama Liga Champions.
Apa pun itu situasinya, duel Juve vs Milan tak pernah kehilangan nilai. Mereka tetap menghadirkan gengsi, harga diri, dan nama besar walau hasil akhir sering antiklimaks.
Bagaimana tidak, dari enam pertemuan terakhir empat diantaranya berakhir tanpa gol. Tapi jika melihat awal musim ini bisa jadi skor kacamata tak kejadian lagi.
Baik Juve dan Milan menjalani start sempurna. Tuan rumah yang baru sibuk di bursa transfer jelang deadline day selalu menang tanpa kebobolan.
Pun dengan I Rossoneri yang punya nyawa baru di bawah kendali Ruben Amorim. Enam angka diraih dengan mudah dari para lawan.
Dan sebagaimana Inter Milan vs Napoli, duel Juventus vs AC Milan juga mempertemukan pelatih beda generasi. Si Nyonya Tua tetap percaya pada Luciano Spalletti yang nyaris 70 tahun.
Sementara Amorim baru tahun ini menginjak kepala empat. Meski demikian, pengalaman pria Portugal tak bisa dianggap remeh juga.
Ia sudah berkarier di tiga kompetisi berbeda. Juara di Sporting Lisbon, belajar – walau gagal – bersama Manchester United, dan sekarang mencoba bangkit bareng Milan.
Ssrsrsrsaa…ssrsrssa… saudara-saudara, menarik dinanti siapa pemenang di grande partita Serie A kali ini. Apakah para tetua membuktikan kelas, atau malah yang muda menunjukkan kualitas.
Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.
Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.
Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.
Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.
Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.
Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya. Tapi musim ini tak ada pengeluaran.
Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.
Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri
Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.
Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.
I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.
Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.
Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.
Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.
Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.
Tapi Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,