Ngamuk ala Massimiliano Allegri di Tengah Keterpurukan Napoli: Tonjok Dinding

Massimiliano Allegri dalam ujian besar. Performa Napoli asuhannya mengecewakan dan sekarang situasi ruang ganti memanas.

Dalam lima pertandingan Serie A yang sudah berjalan Napoli hanya mengumpulkan tujuh poin. Ini catatan terburuk klub dalam 10 tahun terakhir.

Terbaru, pasukan Massimiliano Allegri ditahan Fiorentina 1-1. Hasil ini tak bisa ia terima sebab La Viola tengah terpuruk di papan bawah.

Tak pelak, tambahan satu poin di Firenze berdampak besar. Allegri melampiaskan kemarahan kepada para pemain.

Di ruang ganti usai pertandingan, sang pelatih berbicara dengan nada tinggi. Dia juga meluarkan kata-kata kasar karena kecewa dengan permainan tim.

Belum puas, mantan nakhoda AC Milan memukul dinding ruang ganti dengan sengat keras. Situasi ini cukup menegangkan di tengah inkonsistensi tim.

Amukan Allegri pun ditutup dengan sebuah ancaman. Ia menuntut Rasmus Hojlund dkk  berubah secepat mungkin. Menurutnya, para pemain belum menunjukkan semangat dan keinginan bermain di level tertinggi.

Massimiliano Allegri Ribut dengan Kevin De Bruyne?

Ketegangan di Napoli juga mulai merembet ke mana-mana. CalcioNapoli melaporkan Massimiliano Allegri terlibat perselisihan dengan bintang senior, Kevin De Bruyne.

Allegri dianggap tidak suka dengan permainan De Bruyne yang kerap berimprovisasi di lapangan dan mengabaikan instruksinya.

Adapun De Bruyne dikabarkan tidak suka dicap sebagai pembangkang. Ia berdalih hanya melakukan yang terbaik di lapangan sesuai keinginan pelatih.

Di luar itu, kesulitan I Partinopei musim ini sudah diprediksi banyak pihak. Namun, bukan Massimiliano Allegri penyebabnya.

Manajemen tidak mendatangkan satu pun pemain baru. Mereka hanya mempermanenkan status Rasmus Hojlund dan membawa pulang Noa Lang dari Galatasaray.

Dengan kata lain, Allegri hanya diwarisi pemain-pemain lama yang belum tentu mengerti filosofinya. Maka tak heran mereka kini tertahan di peringkat kesembilan dengan tujuh poin.

banner 400x130

Aura Francesco Totti! Saat Kesetiaan Diuji oleh Teman Sendiri

Francesco Totti sudah lama pensiun. Namun, legenda hidup AS Roma tetap tidak kekurangan peminat sekali pun tak lagi bermain bola.

Francesco Totti gantung sepatu 2017 silam. Seluruh karier ia habiskan bersama Roma dengan catatan 786 penampilan dan torehan 307 gol.

Ia turut memenangkan scudetto terakhir klub musim 2000-2001, dua Supercoppa, dan dua Coppa Italia. Namanya juga abadi sebagai pemenang Piala Dunia bareng Italia 2006.

Dengan rentetan prestasi, ditambah gaya main flamboyan, nama besar, dan aura yang selalu ditunjukkan di lapangan, Totti selalu menjadi daya tarik. Termasuk pada masa pensiunnya.

Bagaimana tidak, ia masih menarik minat klub-klub Serie A tujuh tahun setelah memutuskan gantung sepatu. Ya, di usia 48 tahun ia dirayu Genoa dan Como.

Bukan sebagai direktur klub, tidak juga untuk posisi pelatih atau pun asisten. Melainkan menjadi pemain seperti yang selama puluhan tahun dilakukan.

“Saya menolak Genoa dan Como ketika berusia 48 tahun,” kata legenda berjuluk Il Curpone kepada Sky Sport Italia.

“Gilardino adalah pelatih Genoa, juara Piala Dunia sama saya. Cesc Fabregas sudah di Como, dia salah satu nama besar dalam sejarah sepak bola,” ia menambahkan.

“Gilardino berumur 42 tahun, Fabregas 37 tahun. Jadi saya masing-masing enam tahun dan 11 tahun lebih tua. Ini bukan cerita urban, ini nyata. Benar-benar gila,” sambung Francesco Totti.

Francesco Totti Tak Sanggup Main untuk Selain AS Roma

Pendekatan dan kedekatan personal yang dilakukan Genoa membuat Francesco Totti berpikir keras. Merumput lagi benar-benar ia pertimbangkan.

Apalagi Alberto Gilardino setiap hari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih tidak merayu legenda Roma sendirian. Para direktur Genoa juga rajin melakukan pendekatan.

Mulai dari menghubungi melalui telepon, bertemu langsung, hingga mengajaknya ke stadion. Cara ini membuat top skorer sepanjang masa Roma makin tergoda.

Faktor lain yang membuat sosok nomor 10 ini kepincut adalah Marassi. Ia jatuh cinta dengan stadion Luigi Ferraris yang menurutnya punya gaya Inggris klasik dengan jarak tribun dan lapangan sangat dekat.

Apa boleh buat, pada akhirnya semua kemungkinan dan pertimbangan itu sampai pada sebuah kesimpulan paling mendasar. Kesimpulan yang menggambarkan betapa besar namanya.

Kesimpulan yang membuat kita semua paham kenapa keputusan 2017 diambil dan seisi stadion menangis. Kesimpulan yang mengartikan betapa sakral lambang Serigala di dada.

“Apakah kamu ingin mengambil tanggung jawab baru atau tidak? Mereka bertanya serius. Saya butuh waktu mengambil keputusan dan saya mulai bekerja keras, sangat keras sebelum memberi jawaban,” kenangnya.

“Saya suka Marassi. Ini stadion bergaya Inggris klasik yang indah dengan fan yang penuh semangat dengan melihat pertandingan dari dekat. Anda bisa merasakan napas mereka di leher,” jawabnya lagi.

“Gilardino sering mengirimi pesan kepada saya ‘jadi?’. Pikiran saya mengatakan saya bisa menerimanya, tapi hati saya berkata tidak. Pada akhirnya saya selalu sampai pada kesimpulan yang sama, mengajukan satu pertanyaan pada diri sendiri ‘Bisakah kamu benar-benar bisa bermain untuk tim selain Roma?’,” tutup Francesco Totti.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.