Mark van Bommel: Belgia Kalahkan Italia tanpa 11 Pemain Inti

Belgia sukses mengalahkan Italia 2-0 di laga pertama UEFA Nations League. Hasil di Olimpico membuat Mark van Bommel senang.

Sebagaimana Roberto Mancini, Mark van Bommel juga menjalani debut sebagai pelatih. Ia menggantikan Rudi Garcia yang mundur usai Piala Dunia 2026.

Berbeda dari Mancini yang melakukan banyak perubahan dalam komposisi pemain, van Bommel cenderung mempertahankan para pemain terbaik yang dimiliki.

Hanya saja ia tak bisa memainkan semuanya. Banyak penggawa Belgia yang cedera seperti Leandro Trossard, Thibaut Courtois, Jeremy Doku dan Onana.

Kendati demikian, debutnya tetap berjalan sempurna. Belgia menang 2-0 lewat gol Mika Godts dan Dodi Lukebakio di masing-masing babak.

Hasil ini jelas membanggakan. Walau secara keseluruhan ia merasa timnya belum sempurna.

“Saya 100 persen senang dan puas walau tentu saja selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik,” kata Mark van Bommel usai laga.

“Kami tidak memiliki 11 pemain inti tapi setiap pemain yang ada bisa membuat perbedaan. Beberapa tidak memiliki stamina yang bagus untuk main 90 menit,” ia menambahkan.

Mark van Bommel Bela Roberto Mancini

Bagi Belgia ini kemenangan bersejarah. Sebab untuk pertama kali sejak 1972 mereka mampu mengalahkan Italia.

Sementara itu, banyak yang membandingkan kualitas lini tengah kedua tim. Italia memainkan debutan Alessandro Romano yang ditopang para senior seperti Nicolo Barella dan Sandro Tonali.

Keputusan Mancini ini turut memancing komentar miring. Sebab dia masih punya pemain pengalaman lain di bangku cadangan seperti Davide Frattesi maupun Bryan Cristante.

Adapun Mark van Bommel tetap mengandalkan sosok senior dalam diri Kevin De Bruyne maupun Youri Tielemans. Ditanya soal koleganya di Italia, legenda asal Belanda enggan berkomentar lebih jauh.

Ia justru merasa kritik terhadap Mancini tidak adil. “Itu tidak adil bagi Roberto,” katanya lagi.

“Saya senang dengan gelandang kami. Terkait Italia, kalian harus menanyakan pertanyaan itu kepada Mancini,” tutup Mark van Bommel.

banner 400x130

Era Baru Timnas Italia: Tanpa Perubahan, Masih Suram, dan Catatan Memalukan

Era baru timnas Italia sudah dimulai. Sayang, pasukan Roberto Mancini justru kalah 0-2 di laga pertama UEFA Nations League melawan Belgia di Olimpico, Sabtu (26/9) dinihari WIB.

Debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia cuma membuktikan satu hal. Banyak muka-muka baru yang dipercaya sebagai starter.

Diego Coppola di jantung pertahanan, Alessandro Romano yang rela berganti kewarganegaraan, hingga Giorgio Scalvini yang akhirnya kembali dapat kepercayaan. Sementara dari sisi permainan sama, sulit menekan lawan, tak ada perubahan.

Tifosi pun sepertinya sudah enggan berharap lebih. Anggapan ini setidaknya terlihat dari animo di stadion. Olimpico tak penuh sesak sebagaimana timnas bermain biasanya.

Laga kompetitif pertama setelah gagal ke Piala Dunia tidak sepenuh pertandingan-pertandingan AS Roma. Walau tidak sekosong setiap Lazio yang berstatus tuan rumah.

Memeragakan formasi 4-3-3, Italia dibuat kalang kabut oleh Belgia. Bagaimana tidak, baru tujuh menit laga berjalan gawang Gianluigi Donnarumma sudah terancam oleh Charles De Ketelaere.

Tak lama kemudian De Ketelaere kembali jadi ancaman. Begitu pula dengan Nicolas Raskin yang mendapat bola muntahan. Beruntung Donnarumma masih sanggup menjaga meruah negara lewat double save.

Tapi ditekan terus-menerus, kiper Manchester City kelabakan juga. Umpan presisi Kevin De Bruyne sukses dimanfaatkan Mika Godts menjadi gol.

Tertinggal 0-1 tak membuat permainan tuan rumah membaik. Tim makin tertekan dan gagal mengembangkan permainan. Beruntung tidak ada gol tambahan di babak pertama.

Timnas Italia Membaik di Babak Kedua, tapi…

Memasuki babak kedua, timnas Italia menunjukkan perubahan. Para pemain tampil lebih berani. Riccardo Calafiori mulai keluar menyisir sisi kanan pertahanan Belgia.

Pun dengan Giovanni Di Lorenzo yang dengan skill pas-pasan, mau membantu serangan walau ngos-ngosan. Peluang emas pertama langsung didapat setelah satu menit babak kedua dimulai.

Crossing Nicolo Cambiaghi menemui Moise Kean di depan gawang. Apa daya, tendangan sang bomber yang 95 persen gol masih bisa digagalkan Sanne Lemmens.

Kepercayaan diri mulai ditunjukkan timnas Italia. Berbagai upaya dari segala sisi dicoba untuk menyamakan kedudukan.

Mulai dari sontekan Calafiori, Cambiaghi, sundulan Pio Esposito, hingga upaya Giorgio Scalvini di tengah kemelut. Namun, tak ada yang membuahkan hasil.

Di tengah kebangkitan permainan dan pola serangan yang mulai terbentuk, Roberto Mancini lupa menata pertahanan. Dodi Lukebakio yang baru masuk datang dengan serangan balik cepat.

Tak disangka, ia melepaskan tendangan melengkung ke sudut kanan gawang Donnarumma untuk menggandakan keunggulan setelah  melewati dua pemain.

Gol kedua Belgia ini sekaligus meruntuhkan semangat Azzurri. Serangan yang awalnya tertata rapi mulai berbentuk sporadis.

Pergantian pemain yang dilakukan Mancini juga tidak mengubah apa pun. Bahkan bisa dibilang pergantian ini hanya dijadikan  pelatih untuk memberi debut pada pemain-pemain yang baru dipanggil.

Seperti Issa Doumbia dan Mohamed Ali Zouma. Padahal masih ada sosok pengalaman di lini depan dalam diri Gianluca Scamacca maupun Giacomo Raspadori yang siapa tahu bisa mengubah situasi.

Pada akhirnya timnas Italia kalah 0-2 di Olimpico. Kekalahan yang sekaligus menyisakan catatan memalukan, sebab ini kali perdana mereka takluk dari Belgia di ajang resmi sejak 1972.

 

Tinggalkan Italia Demi Jerman U-21, Nicolo Tresoldi Akui Galau

Timnas Italia memanggil banyak pemain baru. Salah satunya Nicolo Tresoldi yang disiapkan untuk jeda internasional September-Oktober.

Ini merupakan pemanggilan pertama untuk Nicolo Tresoldi. Keputusan pelatih Roberto Mancini terbilang wajar jika melihat performa sang bomber.

Bintang Club Brugge telah mencetak lima gol dari sembilan penampilan. Termasuk ketika melawan Aston Villa di Liga Champions.

Akan tetapi, ia batal perkuat timnas Italia. Namanya dicoret tim pelatih karena dirinya lebih memilih bertahan di Jerman U-21.

Menolak tanah kelahiran bukan berarti akhir dari segalanya. Pemain 22 tahun mengaku kemungkinan berseragam Gli Azzurri terbuka lebar.

Hatinya memang masih terbelah antara Jerman dan Italia. Dan untuk sekarang ia memilih fokus bersama Jerman U-21 yang akan menghadapi Piala Eropa.

“Hati saya masih 50-50. Kedua negara ini sangat berarti bagi saya,” ucap Nicolo Tresoldi seperti dikutip dari Sky Germany.

“Saya pakai seragam Jerman dengan bangga. Saya senang di sini, saya masih ingin bermain di Euro dan setelah itu kita lihat bagaimana kelanjutannya,” ia menambahkan.

Nicolo Tresoldi: Kelahiran Italia, Besar di Jerman

Sebagai informasi, Nicolo Tresoldi lahir di Cagliari. Namun, ia pindah ke Jerman sejak kecil dan memulai karier sepak bolanya di sana.

Dia juga sudah menjalani karier di berbagai kelompok umur timnas Jerman. Maka dari itu ia lebih terikat dengan Der Panzer, setidaknya saat ini.

Tresoldi sejatinya bukan satu-satunya pemain dengan dua paspor yang dipanggil timnas Italia. Ada empat nama lainnya.

Mereka adalah Honest Ahanor, Eddy Kouadio, Issa Doumbia, dan Mohamed Ali Zoma. Bedanya keempat nama ini memenuhi panggilan Mancini.

Timnas Italia bersiap memulai era baru bersama Mancini. Tiga pertandingan melawan Krosia, Turki, dan Prancis akan menjadi ujian pertama.

Sempat Dihubungi Nigeria, Michael Kayode Justru Tak Perlu Berpikir Terima Italia

Michael Kayode akhirnya didaulat sebagai penggawa timnas Italia. Dia mendapat panggilan pertama di era kedua kepelatihan Roberto Mancini.

Nama Michael Kayode satu tahun terakhir difavoritkan masuk skuat Italia. Terutama dalam perjuangan Gli Azzurri masuk Piala Dunia 2026.

Sayang, baik Luciano Spalletti maupun Gennaro Gattuso tak meliriknya. Padahal performa sang bek bersama Brentford menuai decak kagum.

Apalagi ia sudah melakoni berbagai pertandingan di hampir semua kelompok umur Italia. Ini pula yang membuat beberapa pihak kecewa dengan keputusan pelatih yang tak meliriknya.

Sekarang bersama Roberto Mancini, Kayode akhirnya datang ke Coverciano untuk pertama kali. Pemanggilan ini pun membuatnya merasa sangat terhormat.

Dan yang paling menarik dari pemanggilan ini adalah waktunya. Ia baru mendengar kabar gembira tersebut tepat setelah membawa Brentford menang 3-0 atas Chelsea di Premier League.

“Saya tidak tahu tentang panggilan timnas sebelum melawan Chelsea. Saya mengetahuinya saat peluit akhir berbunyi. Itu adalah emosi luar biasa, terutama setelah kemenangan besar itu,” ungkap Michael Kayode.

“Saya rasa Italia selalu menjadi timnas yang hebat dan bermain di sini adalah suatu kehormatan,” ia menambahkan.

Pada waktu bersamaan, muncul tawaran lain. Michael Kayode dihubungi timna Nigeria dalam beberapa hari terakhir.

Kendati begitu negara leluhur tak pernah masuk dalam pertimbangan. Sebab dari kecil yang dia pikirkan hanya berbaju Azzurri.

“Ini keputusan yang sangat mudah. saya sudah bermain di semua tim junior di sini. Nigeria menghubungi saya, tapi itu tidak pernah saya pikirkan,” tegasnya.

Michael Kayode Temukan Jati Diri di Inggris

Michael Kayode merupakan jebolan akademi Juventus. Namun, di usia 16 tahun ia dilepas ke klub Serie D, Gozzano.

Dari salah satu klub besar Italia ke klub yang berkubang di Serie D, Kayode tak berkecil hati. Ia justru mampu bangkit dalam waktu singkat.

Sampai akhirnya tawaran menggiurkan dari Fiorentina datang. Di sana pula penampilannya mencuat dan sekarang mentas di Premier League.

Awalnya pemain 22 tahun bergabung dengan Brentford dengan status pinjaman. Pada 2025 klub mempermanenkan statusnya dengan mahar 17 juta euro.

Keputusan bertahan terbukti benar. Ia tampil konsisten, dan yang paling penting performanya terus berkembang di Inggris.

“Saya melihat peluang besar di sini. Saya pikir hampir semua orang punya ambisi main di Premier League, jadi saya manfaatkan kesempatan sebaik mungkin,” ia menjelaskan.

“Saya sangat bangga. Saya habikan banyak waktu di Fiorentina dan pengalaman di sana sangat fantastis. Saya berutang banyak pada mereka,” kata Michael Kayode lagi.

“Memiliki kesempatan berada di timnas sangat berarti. Kami berasal dari liga yang berbeda dan saya pikir keberamaan di sini baik untuk tim,” tutup talenta berdarah Nigeria.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.