Aura Francesco Totti! Saat Kesetiaan Diuji oleh Teman Sendiri

Francesco Totti sudah lama pensiun. Namun, legenda hidup AS Roma tetap tidak kekurangan peminat sekali pun tak lagi bermain bola.

Francesco Totti gantung sepatu 2017 silam. Seluruh karier ia habiskan bersama Roma dengan catatan 786 penampilan dan torehan 307 gol.

Ia turut memenangkan scudetto terakhir klub musim 2000-2001, dua Supercoppa, dan dua Coppa Italia. Namanya juga abadi sebagai pemenang Piala Dunia bareng Italia 2006.

Dengan rentetan prestasi, ditambah gaya main flamboyan, nama besar, dan aura yang selalu ditunjukkan di lapangan, Totti selalu menjadi daya tarik. Termasuk pada masa pensiunnya.

Bagaimana tidak, ia masih menarik minat klub-klub Serie A tujuh tahun setelah memutuskan gantung sepatu. Ya, di usia 48 tahun ia dirayu Genoa dan Como.

Bukan sebagai direktur klub, tidak juga untuk posisi pelatih atau pun asisten. Melainkan menjadi pemain seperti yang selama puluhan tahun dilakukan.

“Saya menolak Genoa dan Como ketika berusia 48 tahun,” kata legenda berjuluk Il Curpone kepada Sky Sport Italia.

“Gilardino adalah pelatih Genoa, juara Piala Dunia sama saya. Cesc Fabregas sudah di Como, dia salah satu nama besar dalam sejarah sepak bola,” ia menambahkan.

“Gilardino berumur 42 tahun, Fabregas 37 tahun. Jadi saya masing-masing enam tahun dan 11 tahun lebih tua. Ini bukan cerita urban, ini nyata. Benar-benar gila,” sambung Francesco Totti.

Francesco Totti Tak Sanggup Main untuk Selain AS Roma

Pendekatan dan kedekatan personal yang dilakukan Genoa membuat Francesco Totti berpikir keras. Merumput lagi benar-benar ia pertimbangkan.

Apalagi Alberto Gilardino setiap hari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih tidak merayu legenda Roma sendirian. Para direktur Genoa juga rajin melakukan pendekatan.

Mulai dari menghubungi melalui telepon, bertemu langsung, hingga mengajaknya ke stadion. Cara ini membuat top skorer sepanjang masa Roma makin tergoda.

Faktor lain yang membuat sosok nomor 10 ini kepincut adalah Marassi. Ia jatuh cinta dengan stadion Luigi Ferraris yang menurutnya punya gaya Inggris klasik dengan jarak tribun dan lapangan sangat dekat.

Apa boleh buat, pada akhirnya semua kemungkinan dan pertimbangan itu sampai pada sebuah kesimpulan paling mendasar. Kesimpulan yang menggambarkan betapa besar namanya.

Kesimpulan yang membuat kita semua paham kenapa keputusan 2017 diambil dan seisi stadion menangis. Kesimpulan yang mengartikan betapa sakral lambang Serigala di dada.

“Apakah kamu ingin mengambil tanggung jawab baru atau tidak? Mereka bertanya serius. Saya butuh waktu mengambil keputusan dan saya mulai bekerja keras, sangat keras sebelum memberi jawaban,” kenangnya.

“Saya suka Marassi. Ini stadion bergaya Inggris klasik yang indah dengan fan yang penuh semangat dengan melihat pertandingan dari dekat. Anda bisa merasakan napas mereka di leher,” jawabnya lagi.

“Gilardino sering mengirimi pesan kepada saya ‘jadi?’. Pikiran saya mengatakan saya bisa menerimanya, tapi hati saya berkata tidak. Pada akhirnya saya selalu sampai pada kesimpulan yang sama, mengajukan satu pertanyaan pada diri sendiri ‘Bisakah kamu benar-benar bisa bermain untuk tim selain Roma?’,” tutup Francesco Totti.

Adu Pintar Ruben Amorim dengan Jurnalis Jelang AC Milan vs Lecce

Pemandangan menarik terjadi pada konferensi pers jelang pertandingan AC Milan vs Lecce. Ruben Amorim terlibat perdebatan sengit dengan jurnalis setempat.

Jalannya konferensi pers awalnya seperti biasa. Namun, tensi sedikit meninggi ketika salah satu jurnalis mempertanyakan pakem starting 11 AC Milan.

Sebagai informasi, Ruben Amorim selalu mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Meski formasinya cenderung sama, 3-4-2-1, selalu ada setidaknya dua pemain yang berganti peran tiap pekan.

Bagi salah satu wartawan, keputusan itu menjadi penyebab performa Milan menurun belakangan. Maka dari itu ia bertanya kepada sang pelatih siapa starting 11 terbaik.

Jawaban Amorim justru membuat sesi konferensi pers menjadi menarik dan sedikit meninggi. Alih-alih menjawab dengan gamblang atau sekadar normatif, ia bertanya balik ke awak media.

“Susunan pemain inti terbaik itu seperti apa? Bagaimana menurut Anda?,” tanya peramu taktik I Rossoneri kepada wartawan tersebut.

Bukannya ciut, sang wartawan benar-benar memberi jawaban dan pandangannya. Dari lini belakang sampai ujung tombak.

“Gila, De Winter atau Gabbia dan Pavlovic di belakang. Rabiot, Modric, Chukwueze dan Moreira di lini tengah. Pulisic, Cisse, dan Ramos di depan,” jawab wartawan itu.

Ruben Amorim Skakmat Wartawan

Adu pintar keduanya berlanjut. Pelatih asal Portugal mulai mengorek sejauh mana sang pewarta memahami strategi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.

“Bagaimana menurutmu di kiri?,” tanya Ruben Amorim. “Moreira,” jawab pewarta berita itu. Sang pelatih bertanya lagi “Jika Chukwueze bermain tiga pertandingan, jika dia mengalami masalah, siapa yang akan kami tempatkan di sana?,” jurnalis itu menjawab Saelemaekers.

Amorim meneruskan, “Lini tengah bagaimana,”. “Rabiot dan Modric,” jawab sang pewarta. Dari sini mantan penggawa timnas Portugal secara tidak langsung menjawab alasan dirinya kerap gonta-ganti komposisi pemain.

“Apa yang kalian katakan tentang Modric minggu lalu? Saya membela dia di sini. Kalian membicarakan kecepatannya. Kalian melihat bahwa setiap minggu kalian punya susunan pemain inti yang berbeda,” ia menjelaskan.

“Kemudian kalian harus mengatur tiga pertandingan perminggu. Dan pergantian pemain. Sekarang apa yang kalian lakukan?,” tegasnya.

“Saya tahu ini bukan tugas kalian. Tapi yang ingin saya jelaskan adalah pendapat kalian akan berubah karena Musah bermain sangat bagus. Kita bisa membahas ini sepanjang hari,” tutup Ruben Amorim.

AC Milan melakoni tiga pertandingan terakhir tanpa kemenangan. Bahkan di laga terakhir mereka menelan kekalahan 0-2 dari Benfica di Liga Europa.

Dinihari nanti melawan Lecce adalah kesempatan terbaik I Rossoneri kembali torehkan tiga angka. Mereka bertindak sebagai tuan rumah dan Lecce selalu kalah di markas lawan musim ini.

Pidato ala Christian Chivu di Balik Kebangkitan Inter Milan di Markas AS Roma

Laju kemenangan Inter Milan terhenti di ibu kota. Anak asuh Christian Chivu harus puas berbagi angka 2-2 dengan AS Roma, Sabtu (19/9).

Kendati gagal mempertahankan rekor 100 persen menang di Serie A, satu poin La Beneamata tetap patut disyukuri. Apalagi jika melihat performa pasukan Christian Chivu di babak pertama.

Sang pelatih mengaku anak asuhnya tampil lesu.  Ia melihat para pemain terlalu gampang kehilangan bola dan membiarkan tuan rumah menikmati permainan.

Ini pula yang dibenahi di babak kedua. Meski belum sesuai ekspektasinya, namun apa yang dilakukan Yann Bisseck dkk sudah membuatnya senang.

“Sodara-sodaara Saya sudah sampaikan apa yang saya pikirkan pada pemain saat jeda. Tapi secara keseluruhan itu akan menjadi rahasia kami,” ucap Christian Chivu seperti dilansir dari Football Italia.

“Saya fokus pada babak kedua yang dalam hal sikap, ketangguhan, dan karakter sangat luar biasa. Karena di babak pertama kami sangat lambat,” ucapnya lagi.

“Kami harus membangun momentum dari itu. Saya ulangi, beberapa hal masih rahasia antara saya dan pemain. Tapi ini adalah satu poin yang bagus di tempat yang sulit,” ia menambahkan.

“Semua orang tahu apa yang tidak kami lakukan di babak pertama. Selalu ada dua fase, dengan dan tanpa bola dan kami harus bermain lebih baik tanpa bola,” lanjut eks pemain AS Roma.

Christian Chivu Tak Terkalahkan di Olimpico

Laga di Olimpico berjalan sulit untuk Inter Milan. AS Roma langsung mengambil inisiatif serangan. Hasil langsung terlihat saat laga baru berjalan enam menit.

Adalah Manu Kone yang membuat seisi stadion bergetar lewat tendangan kerasnya. Tak cukup satu gol, sang gelandang kembali mencatatkan nama di papan skor.

Kemelut di depan gawang Inter dimaksimalkan Kone untuk menggandakan keunggulan. Dua gol ini membuat namanya kini masuk buku sejarah klub.

Ia sejajar dengan Francesco Totti dan Abel Balbo yang mampu mencetak brace ke gawang Inter Milan.

Memasuki babak kedua situasi berubah. Tuan rumah memang tidak kehilangan kendali, tapi Inter Milan mulai menemukan cara terbaik.

Perubahan yang dilakukan Christian Chivu langsung membuahkan hasil. Crossing Marcus Thuram disempurnakan Lautaro Martinez menjadi gol.

Lautaro pula yang kemudian menghindari I Nerazzurri dari kekalahan lewat sontekannya 10 menit jelang laga usai. Imbang 2-2 sudah cukup untuk Christian Chivu mempertahankan rekor apik di Olimpico.

Ya, nakhoda Inter tak terkalahkan tiap tandang ke ibu kota. Baik ketika bersua AS Roma maupun Lazio, ia selalu membawa pulang poin. Dengan rincian dua kemenangan dan dua kali imbang.

 

Lazio Batalkan Transfer Mauro Icardi, Gennaro Gattuso Ungkap Penyebabnya

Lazio nyaris menggaet Mauro Icardi di bursa transfer musim panas. Namun, pelatih Gennaro Gattuso membatalkan niat itu karena alasan yang kuat.

Sebelumnya, Lazio melakukan pendekatan intensif dengan Mauro Icardi. Negosiasi dengan sang pemain pun berlangsung baik.

Peluang terjalinnya kesepakatan terbuka lebar. Apalagi Icardi berstatus tanpa klub usai kontrak di Galatasaray habis Juni lalu.

Akan tetapi, dengan beberapa pertimbangan, klub ibu kota mengurungkan niat itu. Dan pada akhirnya mereka menggaet dua bomber lain sekaligus.

Yaitu Andrea Pinamonti dari Sassuolo dan Albert Gudmundsson asal Fiorentina. Gattuso mengungkapkan ini keputusan terbaik yang dibuat manajemen.

“Mari kita selesaikan seluruh kekacauan soal Icardi ini. Dia telah mencetak 250 gol dalam kariernya dan tidak ada yang mempertanyakan kemampuannya,” ujar Gennaro Gattuso kepada Calcio Mercato.

“Kami telah membuat pilihan dan kami mengontrak Pinamonti serta Gudmundsson. Ketika Anda memberi janji kepada pemain Anda tak bisa mengingkarinya,” ia menambahkan.

“Dengan segala hormat kepada Icardi, saya telah membahasnya dengan presiden dan direktur. Tepat untuk kami berpegang pada apa yang telah disepakati,” tambah legenda AC Milan.

Lazio Jalani Awal Musim yang Nyaris Sempurna

Musim ini Lazio mendatangkan banyak pemain baru. Beberapa di antaranya sudah malang-melintang di Serie A seperti Andrea Pinamonti, Albert Gudmundsson, dan Davide Frattesi.

Ketiganya pun sudah berkontribusi makismal dengan masing-masing gol yang sudah dicetak. Terutama Frattesi yang kini jadi top skorer klub dengan tiga gol.

Optimalnya peran pemain anyar sejalan dengan meroketnya hasil yang didapat Lazio. Tidak ada yang menyangka mereka belum terkalahkan sampai pekan keempat Serie A.

Apalagi penunjukan Gennaro Gattuso sebagai pelatih menuai prokontra. Karier melatih legenda timnas Italia terbilang mengecewakan, terlebih usai gagal membawa Gli Azzurri ke Piala Dunia 2024.

I Biancoceleste kini mencatatkan tiga kemenangan dan sekali imbang. Lewat hasil positif tersebut anak asuhu Gennaro Gattuso nyaman di posisi keempat dengan 10 poin.

Malam nanti Lazio berpeluang memperpanjang peluang belum kalah di Serie A. Adam Marusic dkk akan tandang ke tim promosi, Venezia, yang baru saja memecat Giovanni Stroppa.

Jelang AS Roma vs Inter Milan, Mile Svilar Akui Kemungkinan Scudetto

Grande partita tersaji di pekan kelima Serie A. Ada AS Roma vs Inter Milan yang tersaji di stadion Olimpico, Sabtu (19/9).

Laga AS Roma vs Inter Milan akan sangat menarik. Keduanya menjadi tim yang masih sapu bersih kemenangan di empat laga awal Serie A musim ini.

Dengan kata lain, duel keduanya akan memastikan dua hal. Salah satu di antaranya akan menelan kekalahan perdana atau laju kemenangan keduanya terhenti.

Melihat laju kencang Roma dan Inter musim ini, tak pelak pertemuan mereka di Olimpico dianggap penentu awal perebutan gelar. Anggapan ini memang tidak dibantah Mile Svilar.

Kiper AS Roma menilai capaian kedua tim luar biasa. Terutama I Nerazzurri yang tampil dominan dan selalu menjadi penantang scudetto beberapa musim terakhir.

“Ini pertandingan hebat yang sangat kami nantikan untuk bersaing melawan tim terkuat di liga, tim yang telah berada di puncak dalam beberapa tahun terakhir,” kata Mile Svilar.

“Laga penentu scudetto? Itu membuat saya tersenyum. Kami harus seimbang dan stabil, tapi kami tahu dari mana kami berasal dan tahu ke mana kami ingin pergi,” ia menambahkan.

“Ini tidak seperti musim lalu ketika kami memulai liga dengan mengatakan ‘kami ingin finis ketiga’. Sekarang, di sini, kami akan mencari tahu apakah kami benar-benar berpeluang meraih scudetto,” sambungnya.

AS Roma vs Inter Milan: Menguji Dominasi I Nerazzurri

Sama-sama meraih poin sempurna 12, head to head AS Roma vs Inter Milan tetap menunjukkan dominasi I Nerazzurri. Bagaimana tidak, dari 10 pertemuan terakhir I Nerazzurri mencatatkan delapan kemenangan.

Termasuk lima kemenangan beruntun di Olimpico. Tak hanya itu, dengan jumlah pertandingan yang sama Inter juga catatkan empat cleansheet.

Sebaliknya, AS Roma sudah terlalu lama puasa kemenangan di kandang atas La Beneamata. Terakhir kali laga dimenangkan tuan rumah terjadi 10 tahun silam.

Situasi inilah yang ingin diubah Svilar. Menurutnya, dengan kondisi tim yang tengah menanjak, ini waktu yang tepat untuk Il Lupi membalikkan momentum.

“Di kota ini kami bermain dua atau tiga kali. Kami bermain dan merasa bersemangat,” tutup penjaga gawang terbaik Serie A musim lalu.

Roberto Mancini Umumkan Skuat Baru Italia: Maldini Kembali ke Timnas

Roberto Mancini akhirnya umumkan skuat Italia untuk melakoni Nations League. Ada banyak muka baru yang dipanggil sang pelatih.

Ada tiga pertandingan yang akan dihadapi Italia dalam dua pekan ke depan. Yaitu melawan Turki, Belgia, dan Prancis.

Untuk melakoni ketiga laga pertamanya usai ditunjuk kembali sebagai nakhoda Gli Azzurri, Roberto Mancini memanggil 34 pemain. Beberapa di antaranya debutan.

Seperti Michael Kayode, Alessandro Romano, Issa Doumbia, dan Mohamed Ali Zoma. Jika ditotal ada sembilan nama baru yang akan diorbitkan.

Mereka-mereka ini memang menjalani musim baru dengan meyakinkan. Sebut saja Daniele Ghilardi, Eddy Kouadio, Issa Doumbia, Sebastiano Esposito, Massimo Pessina, Honest Ahanor, Samuele Inacio, serta Aantonio Vergara.

Beberapa nama di atas memang tidak asing di telinga. Seperti Kayode yang bermain di Brentford, Antonio Vergara andalan Napoli, atau bomber baru Sassuolo, Sebastiano Esposito.

Akan tetapi banyak pula yang baru terdengar namanya. Salah satunya Mohamed Ali Zoma yang notabene tidak berkarier di Serie A.

Ali Zoma kini bermain di Jerman. Uniknya, sang bomber adalah pemain Nuernberg yang kini berkiprah di kasta kedua Bundesliga.

Roberto Mancini Panggil Lagi Daniele Maldini dan yang Lain

Kejutan Roberto Mancini bukan hanya pemanggilan sembilan debutan. Ia juga kembali mempercayakan pemain-pemain yang sempat menghilang dari timnas Italia.

Sebut saja Daniele Maldini. Ia dipanggil lagi setelah dua tahun dan pemanggilan ini dirasa perlu sebagai bentuk peremajaan dan revolusi Gli Azzurri yang sudah tiga kali beruntun absen dari Piala Dunia.

Apalagi Maldini tampil mengesankan bersama Cagliari awal musim ini. Dia sudah mencetak dua gol dari empat penampilan.

Kembalinya anak Paolo Maldini juga bisa memperkaya opsi serangan yang diinginkan Roberto Mancini. Dia bisa bermain di beberapa posisi, seperti gelandang serang, sayap kiri, bahkan striker.

Selain Maldini, Nicolo Fagioli dan Nicolo Zaniolo juga kembali berseragam Italia setelah dua tahun. Nama lain yang tak kalah menarik adalah kemunculan Rolando Mandragora.

Kepindahannya ke Torino membawa berkarah. Sebab mantan kapten Fiorentina akhirnya masuk timnas lagi setelah terakhir kali 2021 silam.

Ke-34 pemain akan berkumpul di Coverciano pada Senin nanti. Adapun debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih Italia terjadi 25 September di Olimpico melawan Belgia.

Berikut daftar lengkap skuat Italia:

Kiper:
Marco Carnesecchi (Atalanta), Gianluigi Donnarumma (Manchester City), Massimo Pessina (Bologna), Guglielmo Vicario (Juventus);

Bek:
Honest Ahanor (Crystal Palace), Alessandro Bastoni (Inter), Riccardo Calafiori (Arsenal), Diego Coppola (Paris FC), Giovanni Di Lorenzo (Napoli), Federico Dimarco (Inter), Daniele Ghilardi (Roma), Michael Kayode (Brentford), Eddy Kouadio (Monza), Gianluca Mancini (Roma), Giorgio Scalvini (Atalanta);

Tengah:
Nicolò Barella (Inter), Bryan Cristante (Roma), Issa Doumbia (Sporting CP), Nicolò Fagioli (Fiorentina), Davide Frattesi (Lazio), Rolando Mandragora (Torino), Alessandro Romano (Cagliari), Sandro Tonali (Tottenham);

Penyerang:
Nicolò Cambiaghi (Bologna), Francesco Pio Esposito (Inter), Sebastiano Esposito (Sassuolo), Samuele Inacio (Borussia Dortmund), Moise Kean (Como), Daniel Maldini (Cagliari), Giacomo Raspadori (Atalanta), Gianluca Scamacca (Atalanta), Antonio Vergara (Napoli), Nicolò Zaniolo (Udinese), Mohamed Alì Zoma (Nurnberg).

Roberto De Zerbi Kena Omel Legenda Prancis: Levelnya Apa Sih?

Musim penuh pertama Roberto De Zerbi bersama Tottenham Hotspur berlangsung mengerikan. Empat pertandingan Liga Inggris yang sudah dilalui tak sekali pun dimenangkan.

Roberto De Zerbi bukan hanya fakir kemenangan. Anak asuhnya juga gagal mencetak gol di liga musim ini. Dengan rincian kalah 0-3 dari Brentford, 0-2 dari Newcastle United, dan diimbangi Nottingham Forest serta Everton tanpa gol.

Catatan ini menjadi yang paling buruk dalam sejarah Tottenham Hotspur. Dan tentu dalam karier kepelatihan De Zerbi sendiri.

Apa yang terjadi di London Utara turut mengundang komentar pedas legenda Prancis, Christophe Dugarry. Ia menyerang pelatih asal Italia dengan mempertanyakan levelnya.

“Saya tidak pernah benar-benar mengerti apa sebenarnya level De Zerbi,” kata mantan bintang AC Milan kepada RMC Sport.

“Mereka bilang dia melakukan hal luar biasa di Brighton, Sassuolo, dan klub lain. Tapi bagi saya dia masih belum menjadi jaminan untuk melatih tim besar,” sambung Dugarry.

Kontrak Roberto De Zerbi Tidak Ideal

Bukan hanya kualitas Roberto De Zerbi yang disasar Dugarry. Durasi kontrak yang ditawarkan Tottenham juga jadi sasaran.

Sebagai informasi, pelatih asli Italia itu mendapat kontrak selama lima tahun di Tottenham. Keberanian manajemen tak lepas dari keberhasilan sang allenatore menyelamatkan klub dari jurang degradasi musim lalu.

Namun, bagi Christophe Dugarry itu berlebihan. Menurutnya memberi pelatih yang belum teruji kualitasnya dengan kontrak jangka panjang sama saja seperti perampokan.

“Dia menandatangani kontrak lima tahun, apa yang kemudian telah dia lakukan adalah perampokan tanpa perlu memakai topeng. Ini luar biasa,” ucapnya lagi.

Kritik terhadap Roberto De Zerbi wajar terjadi. Karena selama ini ia dicap sebagai pelatih bermasa depan cerah dengan keberhasilan meningkatkan level Sassuolo maupun Brighton.

Apalagi bersama Tottenham dia sudah dibekali banyak sekali pemain baru. Ya, De Zerbi telah menghabiskan dana tak kurang dari 350 juta euro untuk mengarungi musim 2026-2027.

Yang terjadi kemudian justru mengecewakan. Spurs tak pernah menang dan gagal mencetak gol dalam waktu lebih dari 400 menit.

 

4 Giornata Serie A tanpa Skor 0-0, Sejarah pun Tercipta

Serie A giornata keempat sudah tuntas terlaksana. Ada satu kesamaan yang terjadi dari pekan ini dengan sebelumnya, yaitu tidak ada laga yang berakhir 0-0.

Pekan keempat Serie A dibuka Venezia vs Fiorentina. Enam gol tercipta di Pier Luigi Penzo untuk kemenangan perdana La Viola 4-2.

Laga penutup pun berkesudahan dengan banjir gol. Sempat tertinggal 0-2 dari Udinese, Inter Milan berbalik menang 5-3 di Giuseppe Meazza.

Bukan hanya Venezia vs Fiorentina dan Inter Milan vs Udinese yang menghasilkan banyak gol. Laga lain seperti Lecce vs Monza (3-2), Lazio vs AC Milan (2-2), dan Sassuolo vs Juventus (3-2) juga demikian.

Jika ditotal, dari 10 pertandingan giornata keempat melahirkan 39 gol. Produktivitas merata dari setiap tim juga memunculkan satu fakta menarik.

Seperti yang disebut di atas, tidak ada satu pertandingan pun yang berakhir tanpa gol. Hebatnya lagi, ini berlangsung dari pekan pembuka sampai sekarang.

Fakta ini sekaligus menjadi sejarah. Untuk pertama kalinya empat giornata awal Serie A tidak ada pertandingan yang berkesudahan 0-0.

Baik Serie A dan Serie B Beda dengan Premier League dan LaLiga

Gol demi gol yang tercipta di Serie A menunjukkan beberapa hal. Salah satunya soal permainan terbuka nan menghibur yang mulai diperagakan. Juga anggapan Catenaccio yang mulai tidak relevan.

Apalagi bukan hanya kasta tertinggi yang selalu menghadirkan gol. Empat giornata Serie B yang sudah berjalan pun demikian.

Beberapa beranggapan bahwa fenomena ini muncul karena perubahan pendekatan yang dilakukan wasit. Seperti membiarkan permainan mengalir lebih cepat, tidak gampang meniup peluit yang menghambat jalannya laga, hingga minimnya penggunaan VAR.

Menurut catatan, tidak ada peninjauan ulang VAR dalam 31 pertandingan Serie A sejauh ini. Tak heran, perubahan ini membuat kasta tertinggi Italia sudah menghasilkan 121 gol sampai laga Inter Milan vs Udinese.

Yang terjadi di Italia berbeda jauh dengan Premier League maupun La Liga. Sama-sama sudah  berjalan empat pekan, Liga Inggris sudah menghasilkan empat pertandingan 0-0, adapun Liga Spanyol tiga kali.

 

 

Liga Champions: Como Membanggakan, AS Roma Malu-Malu, 2 Lainnya Begitu

Liga Champions matchday pertama sudah digelar. Bagi wakil Serie A, kompetisi tertinggi Eropa berjalan menyulitkan. Terbukti, Como saja yang meraih kemenangan.

Como, si anak baru Liga Champions justru menunjukkan kelas dan kualitas. Mereka seakan mengajarkan abang-abangan seperti Inter Milan, AS Roma, dan Napoli caranya menang di laga pembuka.

Menjamu RB Leipzig di stadion Giuseppe Sinigaglia, I Lariani tampil percaya diri. Pengalaman pertama sepanjang sejarah baik untuk pemain dan penggemar tidak membuat ciut nyali.

Memang, para pemain sedikit demam panggung di awal. Namun, sejak gol pertama Martin Baturina lahir, semua berjalan lancar.

Atau dalam bahasa sesepuh kami, Como bermain dengan nyaman,  menang dengan nyaman. RB Leipzig yang lebih berpengalaman di Liga Champions dibuat kalang-kabut.

Mereka hanya menyerang di awal dan pertengahan babak pertama. Tapi lini belakang tuan rumah masih kokoh, pun Jean Butez yang tampil bagus di bawah mistar.

Setelah Baturina, Anastasios Douvikas turut mencatatkan nama dalam buku sejarah sebagai pemain kedua I Lariani yang cetak gol di Eropa. Dua gol di babak pertama dilengkapi dengan dua gol lain di babak kedua.

Cesc Fabregas menggilir pemainnya untuk mencetak gol. Kali ini giliran Assane Diao dan Maximo Perrone menyempurnakan pesta setelah di awal babak kedua Andrija Maksimovic memperkecil angka.

Inter Milan dan Napoli Tak Berdaya di Liga Champions

Pada hari pertama, Inter Milan mengawali perjalanan tim Serie A di Liga Champions. Lawannya tidak main-main, Real Madrid si raja Eropa.

Christian Chivu yang masih bau kencur menerapkan penguasaan bola. Umpan dari kaki ke kaki, pergerakan bola cepat dengan pergerakan pemain yang dinamis memang memanjakan mata. Seolah-olah gol hanya perkara waktu.

Yang jadi masalah, Real Madrid punya Jose Mourinho, sang master mind dengan dua gelar Liga Champions dan permainan logika seperti Rocky Gerung. Model permainan yang tampak sempurna Inter itu yang justru jadi santapan empuk Mou.

“Semakin sering memegang bola, semakin besar peluang membuat kesalahan,” filosofi ini masih dipertahankan Mourinho sampai sekarang. Terbukti, ketika Inter tengah asyik menguasai bola, Real Madrid tiba-tiba mencetak gol.

Kesalahan Curtis Jones yang dilengkapi Yann Bisseck langsung dihukum Kylian Mbappe menjadi gol. Hal serupa kembali terjadi pada gol kedua.

Kini giliran kiper Josep Martinez. Penampilan luar biasanya sepanjang 90 menit tak mampu menutup dosa yang dibuat menit ke-23.

Maksud hati menggocek Federico Valverde, Martinez justru tergocek masa lalu Ionut Radu. Bola berhasil direbut Valverde yang tanpa daya upaya menggandakan keunggulan tuan rumah.

Sebenarnya Inter Milan tidak fakir peluang. Hanya saja tembok kokoh Real Madrid sebesar Thibaut Courtois.

Free kick Hakan Calhanoglu ditahan, sontekan Lautaro Martinez ditepis, upaya Marcus Thuram digagalkan, hingga peluang bunuh diri Ibrahima Konate juga terhenti di tangan Courtois.

Meski pada akhirnya kiper kebanggaan Belgia dibuat tak berkutik oleh Carlos Augusto. Yang lucunya, tak lama setelah itu Augusto ditarik keluar.

Dari Selatan Italia, Napoli dipaksa bertahan oleh Arsenal. Tak berniat mengembangkan permainan, Massimiliano Allegri yang baru menerbitkan buku berjudul “Sepak Bola Menyerang ala Allegri” akhirnya harus melihat timnya kebobolan saat laga tersisa 15 menit.

Martin Odegaard memecah kebuntuan. Gol yang sudah cukup membuat finalis musim lalu mencuri tiga poin dari Napoli.

Liga Champions: AS Roma Tertahan di Comebacknya

Dari Turki, cerita sedikit berbeda di alami AS Roma. Tim ibu kota Italia tertahan di ibu kota Turki usai melakoni perlawanan alot dari Fenerbahce dan fansnya.

Comeback setelah lama menepi dari Liga Champions membuat Roma masih malu-malu kucing. Para pemain seperti sungkan untuk langsung tancap gas.

sumber foto: asroma.com

Apalagi Turki bukan tanah yang nyaman untuk tetamu. Bayangkan saja, setiap Brian Cristante dan kolega menguasai bola, siulan fan berdengung kencang di seisi Sukru Saracoglu.

Demi mengurangi perasaan tak enak itu, GOD nya lini tengah Roma, pemain yang akan mengawali kebangkitan Italia era Roberto Mancini, metronom dalam arti sesungguhnya, Brian Cristante, muncul dari sudut tak terduga.

Tendangan terukurnya menusuk sudut kanan gawang Fenerbahce kawalan Ederson. Cara Cristante mencetak gol efeknya tidak main-main untuk kehidupan, bikin frekuensi bumi jadi kacau.

Bagi tim, gol ini melahirkan ketenangan dalam permainan. Tapi sepertinya mereka masih pikir-pikir untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya. Dengan segala kerendahan hati para pemain mencoba menjadi tamu yang baik sebagaimana ajaran nabi, sembari menguji mentalitas Mile Sivlar di bawah mistar.

Dasarnya orang baik tidak selalu mendapat perlakuan baik, itulah yang dialami Roma. Di awal babak kedua mereka kebobolan oleh mantan calon pemain AC Milan, Archie Brown.

Sebagaimana Paolo Maldini yang tertipu dengan pergerakan Brown di bursa transfer, Gianluca Mancini pun terkecoh di lapangan. Archie Brown mampu melepaskan diri sebelum dengan ketenangan tinggi menceploskan bola ke gawang.

Skor 1-1 membuat laga Fenerbahce vs AS Roma kembali hidup. Disaat bersamaan, tekanan fans tuan rumah terhadap tim tamu semakin menjadi.

Beruntung jantung pertahanan masih sangat kokoh. Terutama Svilar yang berkali-kali menyelamatkan gawang, termasuk menggagalkan peluang emas mantan bomber Lazio, Vedat Muriqi.

Adapun AC Milan dan Juventus belum bertanding.

Bisa Apa Aston Villa dan Crystal Palace Setelah Digembosi?

Bagaimana nasib Aston Villa dan Crystal Palace di Premier League musim ini? Terutama setelah kedua klub kehilangan banyak pemain vital.

Apa yang dialami Aston Villa bisa dibilang nahas. Sukses juara Liga Europa harusnya menjadi gerbang daya tarik pemain-pemain bintang datang. Atau setidaknya jaminan pemain pentingnya tidak hengkang.

Kenyataannya malah terbalik. The Villans kehilangan banyak sosok penting. Dua motor serangan, Morgan Rogers dan Ollie Watkins pergi. Satu ke Chelsea satu lagi menyeberang ke Arab Saudi.

Belum lagi nama-nama lain seperti Ezri Konsa, Youri Tielemans, Lucas Digne, hingga kiper andalan, Emi Martinez. Mereka-mereka yang pergi memang sudah ada pengganti.

Namun, tetap saja bukan perkara mudah membuat tim tetap stabil ketika kehilangan pemain sebanyak itu. Dengan kata lain Aston Villa melakukan perjudian besar.

Setali tiga uang dengan Villa, Crystal Palace pun bernasib sama. Duo pelari di sisi kanan dan kiri permainan, Maxence Lacroix dan Daniel Munoz membelot ke Chelsea serta Nottingham Forest.

Pun dengan Brennan Johnson dan Borna Sosa. Lebih parah lagi, Palace tak cuma ditinggal pemain andalan. Pelatihnya, Oliver Glasner, lebih dulu pergi setelah melakoni dua tahun penuh sukses dengan torehan tiga piala.

Aston Villa dan Crystal Palace Awali Kompetisi dengan Buruk

Pemain-pemain tersebut tak hanya menghasilkan konsistensi untuk Aston Villa maupun Crystal Palace. Mereka juga melahirkan trofi.

Bersama nama-nama di atas The Villans dua kali menembus Liga Champions. Hingga puncaknya musim lalu ketika mengangkat trofi Liga Europa.

Palace bersama Munoz dan Lacroix di bawah tangan dingin Glasner sampai menjadi mimpi buruk Liverpool tiap musimnya. Sampai akhirnya mereka melenggang ke singgasana juara FA Cup, Community Shield, dan Conference League.

Jika ditarik sedikit ke belakang, baik Unai Emery maupun Oliver Glasner butuh kerja keras dan kontinuitas dalam melambungkan klub. Artinya, sukses Villa dan Palace bukan urusan membalikkan telapak tangan.

Emery dengan pengalamannya butuh waktu menjadikan Rogers dan Watkins berada di level berbeda. Glasner perlu kerja keras membuat Palace yang sekadar jadi pelengkap tim ibu kota sampai menjadi penantang serius, bahkan di level Eropa.

Dengan apa yang sudah dibangun dan sukses yang didapat, Unai Emery harus mereset ulang Aston Villa. Nama-nama baru yang datang belum menjamin apa-apa di awal.

Terbukti di dua laga pertama Premier League Villa terpuruk. Mereka selalu kalah tanpa sekali pun mencetak gol.

Yang terjadi di Crystal Palace lebih sulit. Pelatih baru, Pierre Sage, belum bisa menjanjikan apa pun. Ia bahkan masih meraba-raba mengingat ini pertama kali dirinya berkarier di Premier League.

Alhasil Palace menelan dua kekalahan di dua pertandingan. Kehilangan Munoz dan Lacroix juga menyisakan lubang besar di belakang dengan enam kebobolan sebagai buktinya.

Maka, menarik ditunggu apakah dongeng Aston Villa dan Crystal Palace akan berakhir musim ini. Atau secara perlahan mereka bisa bangkit seiring musim berjalan.