Mark van Bommel: Belgia Kalahkan Italia tanpa 11 Pemain Inti

Belgia sukses mengalahkan Italia 2-0 di laga pertama UEFA Nations League. Hasil di Olimpico membuat Mark van Bommel senang.

Sebagaimana Roberto Mancini, Mark van Bommel juga menjalani debut sebagai pelatih. Ia menggantikan Rudi Garcia yang mundur usai Piala Dunia 2026.

Berbeda dari Mancini yang melakukan banyak perubahan dalam komposisi pemain, van Bommel cenderung mempertahankan para pemain terbaik yang dimiliki.

Hanya saja ia tak bisa memainkan semuanya. Banyak penggawa Belgia yang cedera seperti Leandro Trossard, Thibaut Courtois, Jeremy Doku dan Onana.

Kendati demikian, debutnya tetap berjalan sempurna. Belgia menang 2-0 lewat gol Mika Godts dan Dodi Lukebakio di masing-masing babak.

Hasil ini jelas membanggakan. Walau secara keseluruhan ia merasa timnya belum sempurna.

“Saya 100 persen senang dan puas walau tentu saja selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik,” kata Mark van Bommel usai laga.

“Kami tidak memiliki 11 pemain inti tapi setiap pemain yang ada bisa membuat perbedaan. Beberapa tidak memiliki stamina yang bagus untuk main 90 menit,” ia menambahkan.

Mark van Bommel Bela Roberto Mancini

Bagi Belgia ini kemenangan bersejarah. Sebab untuk pertama kali sejak 1972 mereka mampu mengalahkan Italia.

Sementara itu, banyak yang membandingkan kualitas lini tengah kedua tim. Italia memainkan debutan Alessandro Romano yang ditopang para senior seperti Nicolo Barella dan Sandro Tonali.

Keputusan Mancini ini turut memancing komentar miring. Sebab dia masih punya pemain pengalaman lain di bangku cadangan seperti Davide Frattesi maupun Bryan Cristante.

Adapun Mark van Bommel tetap mengandalkan sosok senior dalam diri Kevin De Bruyne maupun Youri Tielemans. Ditanya soal koleganya di Italia, legenda asal Belanda enggan berkomentar lebih jauh.

Ia justru merasa kritik terhadap Mancini tidak adil. “Itu tidak adil bagi Roberto,” katanya lagi.

“Saya senang dengan gelandang kami. Terkait Italia, kalian harus menanyakan pertanyaan itu kepada Mancini,” tutup Mark van Bommel.

banner 400x130

Era Baru Timnas Italia: Tanpa Perubahan, Masih Suram, dan Catatan Memalukan

Era baru timnas Italia sudah dimulai. Sayang, pasukan Roberto Mancini justru kalah 0-2 di laga pertama UEFA Nations League melawan Belgia di Olimpico, Sabtu (26/9) dinihari WIB.

Debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia cuma membuktikan satu hal. Banyak muka-muka baru yang dipercaya sebagai starter.

Diego Coppola di jantung pertahanan, Alessandro Romano yang rela berganti kewarganegaraan, hingga Giorgio Scalvini yang akhirnya kembali dapat kepercayaan. Sementara dari sisi permainan sama, sulit menekan lawan, tak ada perubahan.

Tifosi pun sepertinya sudah enggan berharap lebih. Anggapan ini setidaknya terlihat dari animo di stadion. Olimpico tak penuh sesak sebagaimana timnas bermain biasanya.

Laga kompetitif pertama setelah gagal ke Piala Dunia tidak sepenuh pertandingan-pertandingan AS Roma. Walau tidak sekosong setiap Lazio yang berstatus tuan rumah.

Memeragakan formasi 4-3-3, Italia dibuat kalang kabut oleh Belgia. Bagaimana tidak, baru tujuh menit laga berjalan gawang Gianluigi Donnarumma sudah terancam oleh Charles De Ketelaere.

Tak lama kemudian De Ketelaere kembali jadi ancaman. Begitu pula dengan Nicolas Raskin yang mendapat bola muntahan. Beruntung Donnarumma masih sanggup menjaga meruah negara lewat double save.

Tapi ditekan terus-menerus, kiper Manchester City kelabakan juga. Umpan presisi Kevin De Bruyne sukses dimanfaatkan Mika Godts menjadi gol.

Tertinggal 0-1 tak membuat permainan tuan rumah membaik. Tim makin tertekan dan gagal mengembangkan permainan. Beruntung tidak ada gol tambahan di babak pertama.

Timnas Italia Membaik di Babak Kedua, tapi…

Memasuki babak kedua, timnas Italia menunjukkan perubahan. Para pemain tampil lebih berani. Riccardo Calafiori mulai keluar menyisir sisi kanan pertahanan Belgia.

Pun dengan Giovanni Di Lorenzo yang dengan skill pas-pasan, mau membantu serangan walau ngos-ngosan. Peluang emas pertama langsung didapat setelah satu menit babak kedua dimulai.

Crossing Nicolo Cambiaghi menemui Moise Kean di depan gawang. Apa daya, tendangan sang bomber yang 95 persen gol masih bisa digagalkan Sanne Lemmens.

Kepercayaan diri mulai ditunjukkan timnas Italia. Berbagai upaya dari segala sisi dicoba untuk menyamakan kedudukan.

Mulai dari sontekan Calafiori, Cambiaghi, sundulan Pio Esposito, hingga upaya Giorgio Scalvini di tengah kemelut. Namun, tak ada yang membuahkan hasil.

Di tengah kebangkitan permainan dan pola serangan yang mulai terbentuk, Roberto Mancini lupa menata pertahanan. Dodi Lukebakio yang baru masuk datang dengan serangan balik cepat.

Tak disangka, ia melepaskan tendangan melengkung ke sudut kanan gawang Donnarumma untuk menggandakan keunggulan setelah  melewati dua pemain.

Gol kedua Belgia ini sekaligus meruntuhkan semangat Azzurri. Serangan yang awalnya tertata rapi mulai berbentuk sporadis.

Pergantian pemain yang dilakukan Mancini juga tidak mengubah apa pun. Bahkan bisa dibilang pergantian ini hanya dijadikan  pelatih untuk memberi debut pada pemain-pemain yang baru dipanggil.

Seperti Issa Doumbia dan Mohamed Ali Zouma. Padahal masih ada sosok pengalaman di lini depan dalam diri Gianluca Scamacca maupun Giacomo Raspadori yang siapa tahu bisa mengubah situasi.

Pada akhirnya timnas Italia kalah 0-2 di Olimpico. Kekalahan yang sekaligus menyisakan catatan memalukan, sebab ini kali perdana mereka takluk dari Belgia di ajang resmi sejak 1972.

 

Cristiano Ronaldo Ingkar Janji Soal Pensiun dari Portugal?

Cristiano Ronaldo sempat berpikir untuk pensiun dari timnas Portugal usai Piala Dunia 2026. Tapi nyatanya nama sang mega bintang masih dipanggil.

Berita pensiun Cristiano Ronaldo sebelumnya diungkap sang kakak, Katia Aveiro, saat Piala Dunia lalu. Ia menyebut ini sebagai ajang terakhir sang adik di kancah internasional.

Kabar tersebut kemudian diperkuat oleh gestur Ronaldo ketika ditanya wartawan. Ia tidak membantah ucapan Katia dan malah memperkuat dugaan itu.

Adapun di lapangan, banyak yang menganggap kehadiran sang kapten justru menghambat permainan tim. Sehingga keputusan gantung sepatu dari negara akan tepat.

Namun, sekarang kapten timnas Portugal tetap menjadi bagian penting untuk UEFA Nations League kali ini. Yang mana Seleccao das Quinas akan menghadapi Wales, Norwegia, dan Denmark.

Bintang veteran ini memang tidak menampik soal rencana pensiun. Tapi untuk saat ini ia percaya negara masih membutuhkan jasanya.

“Saya sempat berpikir untuk gantung sepatu dari sepak bola internaional setelah Piala Dunia,” ucap Critiano Ronaldo.

“Tapi saya sudah berbicara dengan presiden, pelatih, dan akhirnya masih di sini. Saya adalah aset, bisa membantu tim,” ia menambahkan.

Ambisi Cristiano Ronaldo Incar 1000 Gol

Kendati tetap bersama timnas, banyak yang percaya waktu Cristiano Ronaldo tak lama lagi. Bisa jadi tahun depan dia akan benar-benar pensiun dari dunia sepak bola.

Terkait pembatalan usai Piala Dunia, ada yang meyakini keputusan itu karena sang kapten masih menyimpan ambisi lain.

Yaitu mencatatkan 1000 gol dalam karier sepak bolanya. Sebagai informasi, CR7 sudah mengemas 979 gol. Yang artinya masih ada 21 gol lagi yang harus dikejar demi mencapai milestone tersebut.

Waktu setahun cukup ideal untuk mengejar 1000 gol. Apalagi ia masih bertaji di Al Nassr. Jika torehan itu bisa diraih, maka Cristiano Ronaldo bisa gantung sepatu sesuai harapannya.

“Ini mungkin tahun terakhir saya di sepak bola dan saya ingin meninggalkan arian yang spektakuler,” tutup mantan bintang Real Madrid.

Curhat Carlo Ancelotti: Khawatirkan Masa Depan Pemain Muda Brasil

Carlo Ancelotti memberi pandangannya terhadap sepak bola Brasil beberapa tahun terakhir. Menurutnya salah satu penyebab kemunduran timnas karena jam terbang para pemain.

Ia mengeluhkan beberapa pemain tidak mendapat menit bermain yang cukup. Terutama mereka-mereka yang masih muda dan bertalenta.

Carlo Ancelotti mengambil contoh Endrick di Real Madrid. Ia percaya sang wonderkid punya kualitas dan akan berperan penting di masa depan.

Masalahnya Endrick sulit menembus tim utama Madrid. Musim ini saja ia baru main sekali dengan durasi empat menit.

Situasi tersebut jelas membuat Ancelotti gusar. Apalagi bintang 20 tahun adalah proyeksi masa depan timnas Brasil.

Selain itu, ada pula Estevao yang musim lalu inkonsisten di Chelsea dan sekarang menemui kesulitan bersama Manchester United.

“Masalah bagi anak-anak Brasil adalah mereka tidak berkembang karena tidak bermain secara teratur,” kata Carlo Ancelotti.

Lebih lanjut, nakhoda asal Italia melihat ini sebagai fenomena jamak di Brasil. Di mana pemain yang masih belia terlalu berani ambil keputusan untuk bermain di klub besar Eropa.

Bagaimana pun risikonya besar. Masa depan menjadi taruhan ketika si pemain kalah bersaing dan gagal berkembang.

“Hal itu terjadi pada Endrick dan talenta lain seperti Estevao,” ia menerangkan.

“Mereka ke Eropa saat 18 atau 19 tahun untuk main di klub besar dan tidak mendapatkan tempat. Tanpa bermain, mereka tidak bisa berkembang,” imbuhnya.

Perhatian Khusus Carlo Ancelotti untuk Endrick

Nama Endrick sudah mencuri perhatian sejak umur 16 tahun. Ia tampil luar biasa di Palmeiras hingga membuat Real Madrid kepincut.

Tanpa pikir panjang, winger muda ini menerima pinangan Madrid. Tapi penampilannya jauh dari menjanjikan hingga dipinjamkan ke Lyon musim lalu.

Selama peminjaman di Lyon, Endrick tampil luar biasa. Ia mencetak delapan gol dan delapan assist dari 21 penampilan.

Catatan ini pula yang membuat Real Madrid membawanya pulang. Rupanya situasinya sejauh ini tak kunjung berubah di ibu kota Spanyol.

Hal ini jelas jadi perhatian Carlo Ancelotti. “Kami punya beberapa talenta muda yang sangat menjanjikan,” jelasnya.

“Dan Endrick akan menjadi penting bagi Brasil di masa depan. Namun, dia perlu bermain,” tutup Carlo Ancelotti.

Belakangan beredar kabar penggawa timnas Brasil akan dipinjamkan lagi. Kemungkinan besar tujuannya kali ini adalah Italia dengan AC Milan dan AS Roma siap memberi penawaran.

Dendam Kesumat Presiden Napoli pada Spalletti: Ingat, Pelatih cuma Karyawan!

Luciano Spalletti sudah lama meninggalkan Napoli. Walau begitu perpisahan tersebut masih meninggalkan luka bagi presiden klub, Aurelio De Laurentiis.

Luciano Spalletti melatih Napoli selama dua tahun. Pada 2023 ia sukses mempersembahkan scudetto pertama klub setelah tiga dekade. Itu sekaligus gelar Serie A pertama sang nakhoda selama berkarier.

Di tengah euforia dan suka cita, sang pelatih mengambil keputusan mengejutkan. Ia mundur dari kursi pelatih, lalu tak lama setelah itu menerima pinangan timnas Italia.

Situasi ini rupanya tidak bisa diterima. Aurelio De Laurentiis merasa dikhianati dan tak mau lagi membahas apa pun tentang pria yang kini menukangi Juventus.

“Jangan suruh saya bicara soal Spalletti,” De Laurentiis menegaskan seperti dikutip Ngalcio dari Football Italia.

“Pelatih harus paham bahwa mereka adalah kolaborator yang dipanggil untuk mengarahkan orkestra yang dibentuk pemain. Mereka hanya karyawan,” ia menambahkan.

“Terkadang mereka cenderung melupakan hal itu. Apakah sudah cukup jelas?,” sambung presiden Napoli dengan nada tinggi.

Presiden Napoli Klaim Sukses tanpa Curang

Bagaimana pun, sukses Napoli 10 tahun terakhir tak lepas dari andil Luciano Spalletti. Ia yang membawa pulang scudetto setelah terakhir kali dilakukan Diego Maradona.

Tidak ada yang membantah fakta itu. Bahkan tifosi I Partinopei masih menganggap Spalletti sebagai pahlawan klub.

Sementara itu, Aurelio De Laurentiis mengaku bangga dengan apa yang sudah dilakukan. Sebagai informasi, ia adalah sosok fundamental yang telah membangkitkan klub dari kebangkrutan.

“Saya terjun langsung ke sepak bola, memenangkan dua scudetto dan lima gelar lain dalam 22 tahun,” ia mengisahkan.

“Mengembalikan antusiasme masyarakat dan menjadi tim yang terus bermain di Eropa secara beruntun,” lanjutnya.

“Saya bahkan melewati Calciopoli dan meraih sukses tanpa pernah melakukan kecurangan, itu merupakan hal mendasar bagi saya,” tutup presiden Napoli.

Tinggalkan Italia Demi Jerman U-21, Nicolo Tresoldi Akui Galau

Timnas Italia memanggil banyak pemain baru. Salah satunya Nicolo Tresoldi yang disiapkan untuk jeda internasional September-Oktober.

Ini merupakan pemanggilan pertama untuk Nicolo Tresoldi. Keputusan pelatih Roberto Mancini terbilang wajar jika melihat performa sang bomber.

Bintang Club Brugge telah mencetak lima gol dari sembilan penampilan. Termasuk ketika melawan Aston Villa di Liga Champions.

Akan tetapi, ia batal perkuat timnas Italia. Namanya dicoret tim pelatih karena dirinya lebih memilih bertahan di Jerman U-21.

Menolak tanah kelahiran bukan berarti akhir dari segalanya. Pemain 22 tahun mengaku kemungkinan berseragam Gli Azzurri terbuka lebar.

Hatinya memang masih terbelah antara Jerman dan Italia. Dan untuk sekarang ia memilih fokus bersama Jerman U-21 yang akan menghadapi Piala Eropa.

“Hati saya masih 50-50. Kedua negara ini sangat berarti bagi saya,” ucap Nicolo Tresoldi seperti dikutip dari Sky Germany.

“Saya pakai seragam Jerman dengan bangga. Saya senang di sini, saya masih ingin bermain di Euro dan setelah itu kita lihat bagaimana kelanjutannya,” ia menambahkan.

Nicolo Tresoldi: Kelahiran Italia, Besar di Jerman

Sebagai informasi, Nicolo Tresoldi lahir di Cagliari. Namun, ia pindah ke Jerman sejak kecil dan memulai karier sepak bolanya di sana.

Dia juga sudah menjalani karier di berbagai kelompok umur timnas Jerman. Maka dari itu ia lebih terikat dengan Der Panzer, setidaknya saat ini.

Tresoldi sejatinya bukan satu-satunya pemain dengan dua paspor yang dipanggil timnas Italia. Ada empat nama lainnya.

Mereka adalah Honest Ahanor, Eddy Kouadio, Issa Doumbia, dan Mohamed Ali Zoma. Bedanya keempat nama ini memenuhi panggilan Mancini.

Timnas Italia bersiap memulai era baru bersama Mancini. Tiga pertandingan melawan Krosia, Turki, dan Prancis akan menjadi ujian pertama.

Ngamuk ala Massimiliano Allegri di Tengah Keterpurukan Napoli: Tonjok Dinding

Massimiliano Allegri dalam ujian besar. Performa Napoli asuhannya mengecewakan dan sekarang situasi ruang ganti memanas.

Dalam lima pertandingan Serie A yang sudah berjalan Napoli hanya mengumpulkan tujuh poin. Ini catatan terburuk klub dalam 10 tahun terakhir.

Terbaru, pasukan Massimiliano Allegri ditahan Fiorentina 1-1. Hasil ini tak bisa ia terima sebab La Viola tengah terpuruk di papan bawah.

Tak pelak, tambahan satu poin di Firenze berdampak besar. Allegri melampiaskan kemarahan kepada para pemain.

Di ruang ganti usai pertandingan, sang pelatih berbicara dengan nada tinggi. Dia juga meluarkan kata-kata kasar karena kecewa dengan permainan tim.

Belum puas, mantan nakhoda AC Milan memukul dinding ruang ganti dengan sengat keras. Situasi ini cukup menegangkan di tengah inkonsistensi tim.

Amukan Allegri pun ditutup dengan sebuah ancaman. Ia menuntut Rasmus Hojlund dkk  berubah secepat mungkin. Menurutnya, para pemain belum menunjukkan semangat dan keinginan bermain di level tertinggi.

Massimiliano Allegri Ribut dengan Kevin De Bruyne?

Ketegangan di Napoli juga mulai merembet ke mana-mana. CalcioNapoli melaporkan Massimiliano Allegri terlibat perselisihan dengan bintang senior, Kevin De Bruyne.

Allegri dianggap tidak suka dengan permainan De Bruyne yang kerap berimprovisasi di lapangan dan mengabaikan instruksinya.

Adapun De Bruyne dikabarkan tidak suka dicap sebagai pembangkang. Ia berdalih hanya melakukan yang terbaik di lapangan sesuai keinginan pelatih.

Di luar itu, kesulitan I Partinopei musim ini sudah diprediksi banyak pihak. Namun, bukan Massimiliano Allegri penyebabnya.

Manajemen tidak mendatangkan satu pun pemain baru. Mereka hanya mempermanenkan status Rasmus Hojlund dan membawa pulang Noa Lang dari Galatasaray.

Dengan kata lain, Allegri hanya diwarisi pemain-pemain lama yang belum tentu mengerti filosofinya. Maka tak heran mereka kini tertahan di peringkat kesembilan dengan tujuh poin.

Sempat Dihubungi Nigeria, Michael Kayode Justru Tak Perlu Berpikir Terima Italia

Michael Kayode akhirnya didaulat sebagai penggawa timnas Italia. Dia mendapat panggilan pertama di era kedua kepelatihan Roberto Mancini.

Nama Michael Kayode satu tahun terakhir difavoritkan masuk skuat Italia. Terutama dalam perjuangan Gli Azzurri masuk Piala Dunia 2026.

Sayang, baik Luciano Spalletti maupun Gennaro Gattuso tak meliriknya. Padahal performa sang bek bersama Brentford menuai decak kagum.

Apalagi ia sudah melakoni berbagai pertandingan di hampir semua kelompok umur Italia. Ini pula yang membuat beberapa pihak kecewa dengan keputusan pelatih yang tak meliriknya.

Sekarang bersama Roberto Mancini, Kayode akhirnya datang ke Coverciano untuk pertama kali. Pemanggilan ini pun membuatnya merasa sangat terhormat.

Dan yang paling menarik dari pemanggilan ini adalah waktunya. Ia baru mendengar kabar gembira tersebut tepat setelah membawa Brentford menang 3-0 atas Chelsea di Premier League.

“Saya tidak tahu tentang panggilan timnas sebelum melawan Chelsea. Saya mengetahuinya saat peluit akhir berbunyi. Itu adalah emosi luar biasa, terutama setelah kemenangan besar itu,” ungkap Michael Kayode.

“Saya rasa Italia selalu menjadi timnas yang hebat dan bermain di sini adalah suatu kehormatan,” ia menambahkan.

Pada waktu bersamaan, muncul tawaran lain. Michael Kayode dihubungi timna Nigeria dalam beberapa hari terakhir.

Kendati begitu negara leluhur tak pernah masuk dalam pertimbangan. Sebab dari kecil yang dia pikirkan hanya berbaju Azzurri.

“Ini keputusan yang sangat mudah. saya sudah bermain di semua tim junior di sini. Nigeria menghubungi saya, tapi itu tidak pernah saya pikirkan,” tegasnya.

Michael Kayode Temukan Jati Diri di Inggris

Michael Kayode merupakan jebolan akademi Juventus. Namun, di usia 16 tahun ia dilepas ke klub Serie D, Gozzano.

Dari salah satu klub besar Italia ke klub yang berkubang di Serie D, Kayode tak berkecil hati. Ia justru mampu bangkit dalam waktu singkat.

Sampai akhirnya tawaran menggiurkan dari Fiorentina datang. Di sana pula penampilannya mencuat dan sekarang mentas di Premier League.

Awalnya pemain 22 tahun bergabung dengan Brentford dengan status pinjaman. Pada 2025 klub mempermanenkan statusnya dengan mahar 17 juta euro.

Keputusan bertahan terbukti benar. Ia tampil konsisten, dan yang paling penting performanya terus berkembang di Inggris.

“Saya melihat peluang besar di sini. Saya pikir hampir semua orang punya ambisi main di Premier League, jadi saya manfaatkan kesempatan sebaik mungkin,” ia menjelaskan.

“Saya sangat bangga. Saya habikan banyak waktu di Fiorentina dan pengalaman di sana sangat fantastis. Saya berutang banyak pada mereka,” kata Michael Kayode lagi.

“Memiliki kesempatan berada di timnas sangat berarti. Kami berasal dari liga yang berbeda dan saya pikir keberamaan di sini baik untuk tim,” tutup talenta berdarah Nigeria.

Aura Francesco Totti! Saat Kesetiaan Diuji oleh Teman Sendiri

Francesco Totti sudah lama pensiun. Namun, legenda hidup AS Roma tetap tidak kekurangan peminat sekali pun tak lagi bermain bola.

Francesco Totti gantung sepatu 2017 silam. Seluruh karier ia habiskan bersama Roma dengan catatan 786 penampilan dan torehan 307 gol.

Ia turut memenangkan scudetto terakhir klub musim 2000-2001, dua Supercoppa, dan dua Coppa Italia. Namanya juga abadi sebagai pemenang Piala Dunia bareng Italia 2006.

Dengan rentetan prestasi, ditambah gaya main flamboyan, nama besar, dan aura yang selalu ditunjukkan di lapangan, Totti selalu menjadi daya tarik. Termasuk pada masa pensiunnya.

Bagaimana tidak, ia masih menarik minat klub-klub Serie A tujuh tahun setelah memutuskan gantung sepatu. Ya, di usia 48 tahun ia dirayu Genoa dan Como.

Bukan sebagai direktur klub, tidak juga untuk posisi pelatih atau pun asisten. Melainkan menjadi pemain seperti yang selama puluhan tahun dilakukan.

“Saya menolak Genoa dan Como ketika berusia 48 tahun,” kata legenda berjuluk Il Curpone kepada Sky Sport Italia.

“Gilardino adalah pelatih Genoa, juara Piala Dunia sama saya. Cesc Fabregas sudah di Como, dia salah satu nama besar dalam sejarah sepak bola,” ia menambahkan.

“Gilardino berumur 42 tahun, Fabregas 37 tahun. Jadi saya masing-masing enam tahun dan 11 tahun lebih tua. Ini bukan cerita urban, ini nyata. Benar-benar gila,” sambung Francesco Totti.

Francesco Totti Tak Sanggup Main untuk Selain AS Roma

Pendekatan dan kedekatan personal yang dilakukan Genoa membuat Francesco Totti berpikir keras. Merumput lagi benar-benar ia pertimbangkan.

Apalagi Alberto Gilardino setiap hari menanyakan hal tersebut. Sang pelatih tidak merayu legenda Roma sendirian. Para direktur Genoa juga rajin melakukan pendekatan.

Mulai dari menghubungi melalui telepon, bertemu langsung, hingga mengajaknya ke stadion. Cara ini membuat top skorer sepanjang masa Roma makin tergoda.

Faktor lain yang membuat sosok nomor 10 ini kepincut adalah Marassi. Ia jatuh cinta dengan stadion Luigi Ferraris yang menurutnya punya gaya Inggris klasik dengan jarak tribun dan lapangan sangat dekat.

Apa boleh buat, pada akhirnya semua kemungkinan dan pertimbangan itu sampai pada sebuah kesimpulan paling mendasar. Kesimpulan yang menggambarkan betapa besar namanya.

Kesimpulan yang membuat kita semua paham kenapa keputusan 2017 diambil dan seisi stadion menangis. Kesimpulan yang mengartikan betapa sakral lambang Serigala di dada.

“Apakah kamu ingin mengambil tanggung jawab baru atau tidak? Mereka bertanya serius. Saya butuh waktu mengambil keputusan dan saya mulai bekerja keras, sangat keras sebelum memberi jawaban,” kenangnya.

“Saya suka Marassi. Ini stadion bergaya Inggris klasik yang indah dengan fan yang penuh semangat dengan melihat pertandingan dari dekat. Anda bisa merasakan napas mereka di leher,” jawabnya lagi.

“Gilardino sering mengirimi pesan kepada saya ‘jadi?’. Pikiran saya mengatakan saya bisa menerimanya, tapi hati saya berkata tidak. Pada akhirnya saya selalu sampai pada kesimpulan yang sama, mengajukan satu pertanyaan pada diri sendiri ‘Bisakah kamu benar-benar bisa bermain untuk tim selain Roma?’,” tutup Francesco Totti.

Adu Pintar Ruben Amorim dengan Jurnalis Jelang AC Milan vs Lecce

Pemandangan menarik terjadi pada konferensi pers jelang pertandingan AC Milan vs Lecce. Ruben Amorim terlibat perdebatan sengit dengan jurnalis setempat.

Jalannya konferensi pers awalnya seperti biasa. Namun, tensi sedikit meninggi ketika salah satu jurnalis mempertanyakan pakem starting 11 AC Milan.

Sebagai informasi, Ruben Amorim selalu mengubah susunan pemain di setiap pertandingan. Meski formasinya cenderung sama, 3-4-2-1, selalu ada setidaknya dua pemain yang berganti peran tiap pekan.

Bagi salah satu wartawan, keputusan itu menjadi penyebab performa Milan menurun belakangan. Maka dari itu ia bertanya kepada sang pelatih siapa starting 11 terbaik.

Jawaban Amorim justru membuat sesi konferensi pers menjadi menarik dan sedikit meninggi. Alih-alih menjawab dengan gamblang atau sekadar normatif, ia bertanya balik ke awak media.

“Susunan pemain inti terbaik itu seperti apa? Bagaimana menurut Anda?,” tanya peramu taktik I Rossoneri kepada wartawan tersebut.

Bukannya ciut, sang wartawan benar-benar memberi jawaban dan pandangannya. Dari lini belakang sampai ujung tombak.

“Gila, De Winter atau Gabbia dan Pavlovic di belakang. Rabiot, Modric, Chukwueze dan Moreira di lini tengah. Pulisic, Cisse, dan Ramos di depan,” jawab wartawan itu.

Ruben Amorim Skakmat Wartawan

Adu pintar keduanya berlanjut. Pelatih asal Portugal mulai mengorek sejauh mana sang pewarta memahami strategi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.

“Bagaimana menurutmu di kiri?,” tanya Ruben Amorim. “Moreira,” jawab pewarta berita itu. Sang pelatih bertanya lagi “Jika Chukwueze bermain tiga pertandingan, jika dia mengalami masalah, siapa yang akan kami tempatkan di sana?,” jurnalis itu menjawab Saelemaekers.

Amorim meneruskan, “Lini tengah bagaimana,”. “Rabiot dan Modric,” jawab sang pewarta. Dari sini mantan penggawa timnas Portugal secara tidak langsung menjawab alasan dirinya kerap gonta-ganti komposisi pemain.

“Apa yang kalian katakan tentang Modric minggu lalu? Saya membela dia di sini. Kalian membicarakan kecepatannya. Kalian melihat bahwa setiap minggu kalian punya susunan pemain inti yang berbeda,” ia menjelaskan.

“Kemudian kalian harus mengatur tiga pertandingan perminggu. Dan pergantian pemain. Sekarang apa yang kalian lakukan?,” tegasnya.

“Saya tahu ini bukan tugas kalian. Tapi yang ingin saya jelaskan adalah pendapat kalian akan berubah karena Musah bermain sangat bagus. Kita bisa membahas ini sepanjang hari,” tutup Ruben Amorim.

AC Milan melakoni tiga pertandingan terakhir tanpa kemenangan. Bahkan di laga terakhir mereka menelan kekalahan 0-2 dari Benfica di Liga Europa.

Dinihari nanti melawan Lecce adalah kesempatan terbaik I Rossoneri kembali torehkan tiga angka. Mereka bertindak sebagai tuan rumah dan Lecce selalu kalah di markas lawan musim ini.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.