Napoli Menghilang dari Hiruk-Pikuk Jendela Transfer, Allegri Penyebabnya?

Ada masa di mana Napoli begitu jor-joran tiap jendela transfer datang. Lalu sekarang mereka hilang dari hiruk-pikuk jual-beli pemain baru.

Tidak ada yang salah dengan keuangan Napoli. Presiden Aurelio De Laurentiis masih dengan gaya parlente dalam setiap kesempatan sebagai tanda kantongnya masih tebal.

Lalu, kenapa I Partinopei seperti kehilangan taji di bursa transfer? Padahal dalam beberapa musim terakhir mereka termasuk paling boros di Serie A.

Terutama ketika tim ditukangi Antonio Conte. Musim lalu saja pemain-pemain top digaet seperti Rasmus Hojlund, Noa Lang, Sam Beukema, Vanja Milenkovic-Savic, Lorenzo Lucca, dan sudah pasti Kevin De Bruyne.

Musim sebelumnya juga sama. Tercatat ada Alessandro Buongiorno, Scott McTominay, David Neres, sampai anak emas Conte, Romelu Lukaku, turut datang.

Dalam lima tahun terakhir, klub yang kesohor berkat Diego Maradona itu paling tidak mengeluarkan 80 juta euro tiap musimnya.  Tapi musim ini tak ada pengeluaran.

Bukan berarti tidak ada pemain baru yang datang. Bedanya statusnya hanya pinjaman. Itu pun cuma satu pemain, yaitu Benoit Badiashile dari Chelsea.

Napoli Terpesona Karisma Massimiliano Allegri

Tidak ada alasan pasti terkait pasifnya Napoli. Entah soal manajemen, kedalaman skuat yang dinilai sudah cukup, atau karena semua pihak sudah berserah diri pada tangan dingin Massimiliano Allegri.

Bagaimana pun, dia peramu taktik ulung, tak tenggelam di makan zaman, tak hilang di telan badai. Serius, anggapan ini tidak berlebihan.

I Partinopei sudah berkali-kali ganti pelatih dalam lima musim terakhir. Luciano Spalletti, Rudi Garcia, Walter Mazzarri, dan Antonio Conte semua dimanjakan pemain-pemain baru.

Yang artinya muncul kekhawatiran dari manajemen terkait keberlangsungan tim jika tanpa bintang anyar. Atau mereka memang tidak percaya sepenuhnya dengan deretan pelatih-pelatih itu.

Kemudian datang Massimiliano Allegri yang sudah bosan scudetto dan kenyang pengakuan, Seketika manajemen tidak khawatir lagi, dengan menutup mata dan telinga di lantai bursa mereka percaya klub di tangan yang tepat.

Bagi Allegri, yang terpernting ketenangan. Bagaimana dia tenang saat tim kalah, bagaimana dia tenang ketika pemain tampil buruk, bagaimana dia tetap tenang saat dunia tidak paham dengan taktik dan filosofi sepak bolanya.

Di luar itu semua, Aurelio De Laurentiis mungkin sudah capek. Gelontoran dana yang dikeluarkan sudah terlalu banyak. Dibayar tuntas memang lewat dua scudetto dalam empat musim terakhir dengan dua pelatih berbeda.

Tapi  Napoli musim 2026-2027 bukan semata-mata untuk juara. Mereka ingin merasakan ilmu kebal Massimiliano Allegri. Sebab cuma dia pelatih yang mengajarkan caranya menang tanpa menyerang, mencetak gol tanpa peluang, juara tanpa bintang,

 

 

banner 400x130

7 Pemain Baru Como, Jaminan Kejutkan Liga Champions?

Sejak promosi ke Serie A tiga musim lalu, Como selalu aktif di bursa transfer. Namun, kali ini mereka punya cara berbeda untuk membenahi skuat menuju Liga Champions.

Musim ini ada tujuh pemain ternama yang digaet Cesc Fabregas. Nama-nama yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam pantauan Como jika mereka tidak menembus Liga Champions.

Klub sudah membuat kejutan dengan merebut Trevoh Chalobah dari Chelsea. Ternyata dia bukan satu-satunya bintang London Barat yang datang.

Pada deadline day transfer mereka mengumumkan Robert Sanchez sebagai kiper anyar. Bisa dibilang transfer ini sebagai bentuk ambisi besar klub untuk musim 2026-2027.

Bagaimana tidak, Como sudah memiliki Jean Butez yang tampil gemilang. Dengan kata lain, Fabregas ingin memanfaatkan pengalaman Sanchez di level internasional.

Como Akhirnya Gaet Pemain Italia

Chelsea bukan satu-satunya klub besar yang digaet pemainnya. Dua pemain AC Milan juga tak luput dari radar Mirwan Suwarso.

Bintang muda, Mattia Liberali lebih dulu digaet dengan banderol 6 juta euro. Belakangan datang Samuele Ricci dengan status pinjaman.

Menariknya, jika musim lalu banyak yang mengkritik Como karena tidak memiliki pemain Italia, di bursa transfer kali ini klub langsung mendatangkan tiga Italiano.

Selain Liberali dan Ricci, muncul sosok Moise Kean di detik-detik terakhir jendela transfer. Sukses mendapatkan bomber timnas Italia bisa dibilang capaian bagus.

Moise Kean adalah sosok tak tergantikan di Fiorentina. Berkat performa di sana pula ia kembali jadi langgananan timnas Italia. Tapi klub berjuluk I Lariani mampu meyakinkan sang bomber untuk datang.

Apa yang dilakukan Como kali ini bisa dianggap revolusi. Sebelumnya mereka punya penilaian yang sangat selektif berbasis data dari Jamestown Analytics dalam merekrut pemain. Hal ini pernah diungkap Cesc Fabregas.

Punya owner terkaya di Serie A, manajemen tidak jor-joran. Itu rupanya selaras dengan keinginan pelatih dan pemilik klub terkait kontinuitas, stabilitas. Dengan kata lain mereka ingin “bermain aman”.

Itu pula yang membuat klub mendapatkan talenta-talenta awam seperti Nico Paz, Jean Butez, Assane Diao, Martin Baturina, hingga Anastasios Douvikas. Selain ekonomis, nama-nama tersebut mustahil di lirik klub-klub besar.

Dengan penilaian yang sama, menurut Fabregas, mereka lebih memprioritaskan pemain-pemain luar negeri dibanding talenta Italia. Ia menganggap dengan kualitas dan usia yang sama, pemain dalam negeri lebih mahal.

Como Siap Meledak di Liga Champions

Berawal dari niat sederhana  untuk menjaga stabilitas, apa yang diraih justru di luar ekspektasi semua orang. Dalam dua tahun Como sukses menembus Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Manajemen, pelatih, dan pemain mungkin belum menyusun mimpi tampil di Liga Champions. Rupanya kenyataan datang lebih cepat dan itu membuat klub berubah dan lebih sadar dengan capaian dan keuangan mereka.

Di luar pemain-pemain tenar di atas, klub yang bermarkas di stadion Giuseppe Sinigaglia juga mendapat dua bintang menjanjikan lain dari LaLiga dan Bundesliga. Pertama ada Luis Milla yang disebut Fabregas sebagai pemain underrated di Spanyol.

Kemudian Yan Couto yang membuktikan konsistensi bersama Borussia Dortmund. Jika ada yang tidak berubah dari kebijakan transfer klub adalah kuasa Fabregas sebagai pelatih. Ia tetap punya kendali penuh atas siapa yang datang dan keluar.

Berawal dari nama-nama yang google saja belum tentu tahu siapa hingga sekarang menggaet nama-nama yang malang-melintang di jagat Eropa, Como resmi mengubah haluan dan pandangan.

Klub mulai berani bermimpi lebih jauh. Dan Fabregas tak mau debut di Liga Champions berujung sia-sia. Berbekal pemain bintang yang datang dan tidak ada andalan yang hengkang, peluang tersebut sebuah kemungkinan besar.

Terakhir soal Giuseppe Sinigaglia. Manajemen melakukan sesuatu yang terasa seperti mitos di Italia. Yakni merenovasi tribun Curva Ovest hanya dalam waktu dua bulan.

Hal ini sukar terjadi. Apalagi jika kita melihat proses renovasi salah satu tribun stadion Artemio Franchi milik Fiorentina yang sudah memasuki tahun ketiga tapi tribun belum juga berdiri megah.

Siap-Siap Tifosi! Mauro Icardi akan Kembali ke Serie A

Lama meninggalkan Serie A, Mauro Icardi kemungkinan akan kembali dalam waktu dekat. Eks Inter Milan sedang dikaitkan dengan Lazio.

Saat ini Mauro Icardi berstatus free agent usai kontraknya bersama Galatasaray berakhir Juli kemarin. Celah ini pun langsung dimanfaatkan oleh Lazio.

Ketertarikan Lazio bukan isapan jempol. Perwakilan Icardi mengonfirmasi kebenaran tersebut tapi belum ada kesepakatan antara dua belah pihak.

Ada beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan mantan penggawa timnas Argentina. Salah satunya soal lingkungan. Ia ingin bermain di kota yang menawarkan keindahan.

“Mauro sedang mengevaluasi proyek terbaik untuknya. Pilihannya lebih kepada gaya hidup daripada ekonomi,” ucap agennya, Letterio Pino kepada Sky Sport Italia.

“Dia ingin memilih kota yang indah dan tempat menakjubkan untuk dirinya bermain bola. Lazio sedang mendekatinya dengan intens dan itu sedang kami pertimbangkan,” ia menambahkan.

Mauro Icardi dan Lazio Saling Membutuhkan

Jika Mauro Icardi benar-benar pindah, ini akan menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Sang bomber butuh menit bermain dan level tertinggi usai kehilangan tempat utama di Galatasaray musim lalu.

Pun bagi Lazio yang punya masalah akut di lini serang. Sejak kehilangan Ciro Immobile, klub kesulitan menemukan striker handal.

Memang, saat ini mereka sudah mendapatkan Andrea Pinamonti. Namun, kehadirannya belum cukup untuk ambisi klub yang ingin bersaing untuk spot Eropa musim ini.

Apalagi klub ibu kota juga akan ditinggal Boulaye Dia. Sehingga pilihan Gennaro Gattuso di lini depan kian terbatas.

Dan tentu saja kembalinya Mauro Icardi di Serie A sangat ditunggu. Karena ia pernah menorehkan tinta emas bersama Inter Milan selama enam musim.

Kerinduan pada Serie A Kembali Dijawab ANTV

Ada era ketika menonton Serie A kita tidak membutuhkan paket berbayar atau koneksi internet yang harus stabil sampai peluit panjang berbunyi. Kita cukup menyalakan televisi, pasang antena, dan secangkir kopi untuk menunggu malam berganti dinihari.

Ini bukan tulisan berbayar, bukan pula titipan. Ini hanya wujud syukur ketika Serie A yang dianggap meredup sinarnya tapi tetap menjadi daya tarik televisi, dengan ANTV sebagai aktor utamanya.

Sudah dua musim terakhir ANTV menyiarkan Serie A. Bedanya, musim lalu start mereka sedikit terlambat. Kompetisi sudah berjalan 13 giornata barulah ANTV menyiarkan liga Italia. AC Milan vs Lazio jadi laga pertama yang disiarkan TV nasional setelah sekian lama.

Musim ini, kompetisi baru melalui satu giornata, TV yang bermarkas di Kuningan, Jakarta Selatan, sudah membuat pengumuman. Memang, sampai tulisan ini terbit, belum jelas pertandingan apa yang akan debut di ANTV.

Yang pasti, keputusan ANTV adalah sedikit bukti bahwa Serie A tak pernah mati. Pamor yang kian tergerus zaman, level kompetisi yang stagnan, nyatanya tidak melunturkan kecintaan para tifosi. Kesetiaan ini yang bisa jadi penyebab TV tetap memandang Liga Italia lebih dari sekadar sepak bola.

Serie A, Masa Lalu, dan Masa Kini

Ada nilai historis, ada kenangan masa kecil, dan ada harapan untuk kembali seperti dulu. Inilah yang terus dijaga lewat pertandingan-pertandingan tiap pekannya.

Apalagi ANTV bukan pemain baru dalam menayangkan Liga Italia. Mereka sudah menemani kita sedari kecil ketika Chiesa masih Enrico dan Thuram masih berwujud Lilian.

Atau saat calcio masih terpandang, masih di atas liga-liga lainnya secara pamor dan kualitas. Mungkin itulah alasan kembalinya Serie A ke layak kaca lebih dari sekadar hak siar.

Ia selayaknya pertemuan antara dua waktu. Waktu dulu ketika kita masih belia dan Serie A seperti pusat semesta sepak bola. Dan waktu sekarang saat kita tua pelan-pelan, punya pekerjaan dan Liga Italia, dengan sisa-sisa kejayaannya, seperti lahir kembali di layar kaca.

Tentu saja kita berharap ada perbaikan kualitas dari pihak TV. Dari siaran musim lalu, harus diakui ada hal kecil yang sedikit mengganggu. Salah satunya suara dan vibes pertandingan yang cukup minim terdengar.

Padahal atmosfer stadion dan gemuruh tifosi bagian penting dari sepak bola, terutama bagi kita penonton layar kaca. Musim ini semoga saja atmosfer stadion nyaring terdengar.

Semoga saja ANTV tetap mempertahankan, setidaknya tiga pertandingan dalam sepekan. Baik itu Grande Partita atau tidak itu bukan soal. Setidaknya, keanggunan Bryan Cristante tetap bisa kita lihat tiap Senin dinihari.

 

 

Rekap Serie A Giornata 1: Sesuai Rencana, Tim-Tim Besar Tancap Gas

Serie A giornata pertama selesai digelar. Tidak ada kejutan pada laga pembuka. Tim-tim besar seperti Inter Milan, AC Milan, Napoli, Juventus, dan AS Roma meraih kemenangan.

Hari pertama dibuka pesta Inter Milan di Giuseppe Meazza. Ditantang tim promosi Monza, sang juara bertahan menang mudah.

Pengalaman seumur jagung Christian Chivu sudah cukup membuktikan kedekatan Ivan Juric pada rezim memang menyesatkan.

Baru giornata pertama, Hakan Calhanoglu sudah menjadi kandidat gol terbaik Serie A musim ini lewat tendangan roket. Gol pembuka itu sekaligus mengawali kemenangan 4-1 Inter atas Monza.

Berselang satu gol Piotr Zielinsi, Pio Esposito langsung menantang Calhanoglu untuk kategori gol terbaik. Backheel sang bomber membuat kiper Monza kalang kabut. Yann Bisseck kemudian menutup pesta dengan tendangannya menit ke-63.

Di Marassi, ilmu hitam Massimiliano Allegri langsung memunculkan malapetaka untuk lawan. Nyaris bobol dengan cara konyol di babak pertama, Napoli justru mencetak gol pembuka ketika laga berjalan 82 menit.

Kevin De Bruyne menandai kelasnya usai memanfaatkan kemelut depan gawang Genoa. Lalu Antonio Vergara menggenapi kemenangan 2-0 tiga menit jelang bubar.

Serie A Cocok untuk Ruben Amorim?

Awalnya banyak yang meragukan kapasitasnya. Di Manchester United dia dicacap gagal dengan segala drama dan agree or disagree perkara strategi. Kedatangannya ke AC Milan juga dipercayai akan bernasib sama.

Situasi di Milan dan United sedikit banyaknya sama. Salah satunya sama-sama punya masalah internal.

Tapi Ruben Amorim membuktikan selama lingkungan kerja tidak toxic, ia bisa pegang kendali. Inilah yang dibuktikan ketika AC Milan tandang ke Torino.

Memang, butuh waktu satu jam lebih empat menit untuk membuktikan magis tiga bek ala Amorim membuahkan hasil. Menariknya, bukan Goncalo Ramos yang kesohor itu yang memecah kebuntuan.

Melainkan sosok muda bernama Alphadjo Cisse. Ada ungkapan” Tidak semua ilmu didapat di sekolah”, ini pula yang didapat Ruben Amorim ketika tiba-tiba menjadikan Alphadje Cisse starter.

Hasilnya tidak main-main, keputusan sang pelatih justru menjadi debut impian untuk remaja 19 tahun. Gol itu membuat Milan menggila, terbukti tiga menit setelahnya Adrien Rabiot menggandakan skor.

Sebelum laga usai, perhatian tertuju pada Che Adams. Ia mencetak gol hiburan Torino  lewat cara, yang entah bagaiman caranya, bola setinggi itu ditendang dan gol.

Serie A Ditutup Pesta AS Roma

Selain Inter Milan yang bertemu tim promosi, musuh bebuyutannya, Juventus, juga demikian. Juve bersua Frosinone di Benito Stirpe.

Sebagaimana Juventus yang melekat dalam ingatan kita, jika bisa menang satu gol, kenapa harus repot dan main njelimet bikin banyak gol. Adala Gleison Bremer yang jadi pahlawan melalui sundulan kepala mematikan.

Di tempat lain, Atalanta dan Lazio yang sama-sama ditukangi pelatih baru sukses meraup tiga poin. Pasukan Maurizio Sarri menyudahi perlawanan Sassuolo. Adapun tim besutan Gennaro Gattuso mempermalukan Bologna.

Laga di Renato Del’Ara cukup melegakan bagi Davide Frattesi. Setelah luntang-lantung di Inter Milan, sampai dicap pemain medioker di timnas, ia jadi manusia merdeka di ibu kota. Langsung membuka kran gol hanya enam menit setelah masuk lapangan.

Pada akhirnya, Senin kembali datang tanpa diundang. Dia merebut hari-hari tenang para pekerja yang belum puas merebahkan badan dan pikiran.

Senin kembali menyibukkan dunia, memacetkan jalanan. Tapi untungnya dunia masih punya AS Roma yang memberi harapan.

Bahwa tidak semua senin menakutkan. Dengan AS Roma, Senin menjadi menyenangkan, Senin menjadi awal dari harapan panjang yang dipanjatkan.

Menjamu Fiorentina di Olimpico, Roma berpesta. Pesta yang bukan sekadar tiga poin. Lebih dari itu, pesta ini dipersembahkan untuk mereka-mereka yang lelah bekerja dan bermacet-macetan di Gatsu maupun Margonda Raya.

Dua sosok vital menjadi bintang. Donyell Malen mencatatkan hat-trick pertama di giornata pertama Serie A. Hebatnya, semua gol sang bomber berasal dari assist Paulo Dybala.

Trigol Malen membuatnya total sudah mencetak 17 gol dari 19 laga Serie A. Yang luar biasa, tidak ada pemain Il Lupi lain yang mampu menorehkan catatan serupa sejak era tiga poin lahir di sepak bola.

Satu gol lain dicetak pemain muda yang gitu-gitu aja, Niccolo Pisilli empat menit jelang bubaran. Menang 4-0, AS Roma berada di puncak klasemen Serie A dengan tiga poin. Dengan kata lain, perolehan poin mereka sama seperti tujuh tim lainnya.

Pidato Kenegaraan Bapak Bangsa Ngalcio

Saudara-saudara tifosi sebangsa dan setanah air,
Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga bintang-bintang sepakbola di seluruh dunia meningkat pasca Piala Dunia.

Suku bunga global tinggi bisa naik. Nilai tukar berbagai negara tertekan dan ketegangan geopolitik mengganggu bursa transfer apalagi setelah sang jenderal Kylian Mbappe bersitegang dengan Senator Paraguay Celeste Amarilla. Namun, di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur karena Italia tidak terlibat.

Di tengah kondisi ekonomi tim-tim Serie A yang tidak baik-baik saja dalam 13 tahun terakhir, inflasi masih tetap terkendali. Dukungan tifosi tetap kuat.

Yang lebih penting, Federasi kita bekerja optimal. Hingga akhir Juli 2026, gelar Piala Dunia kita masih terbanyak dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Ini suatu kebanggaan.

Belanja kita arahkan untuk menjaga persaingan di turnamen, memperkuat kedalaman skuad, dan menggerakkan ekonomi. Walau belanja klub tumbuh, aturan FFP tetap terjaga. Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada tifosi dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal.

Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian, kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara belanja pemain dan menjaga anggaran, kita melakukan kedua-duanya. Membeli Goncalo Ramos dengan harga 70 juta Euro adalah buktinya.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliaken, dunia melihat dan memantau sikap kita. Pada tanggal 11 Juli 2026, salah satu legenda kita yang kesohor, Paolo Maldini, kami tunjuk sebagai direktur Teknik untuk memimpin proyek kebangkitan timnas kita.

Ini menjadi sorotan dunia terhadap suatu tindakan federasi untuk memperbaiki struktur manajemen timnas. Dunia bahkan menilai Italia memiliki prospek menjelang Piala Dunia berikutnya, padahal turnamen tahun ini saja belum selesai (ketika teks pidato ini diketik) itu penilaian mereka terhadap kita.

Mereka juga menilai bahwa upaya federasi memusatkan pengelolaan sumber daya pemain muda kita dan menutup kebocoran di sektor sumber daya dan mineral dapat meningkatkan penerimaan negara serta devisa ekspor.

Mereka secara khusus menilai positif peran Danantara dan potensi PT Danantara Sumberdaya Italia (DSI) dalam memberantas praktik-praktik under-invoicing dan transfer pricing yang sesungguhnya adalah praktik penipuan. Itu dari pandangan pengamat-pengamat, pakar-pakar dari Barat.

Pidato Program Unggulan

Sidang yang terhormat,
Kita menerima penilaian-penilaian ini sebagai pengingat bahwa kredibilitas dibangun oleh konsistensi, kerja keras, dan kesungguhan. Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan, dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliakan,
Capaian semester pertama tahun 2026 adalah pijakan kita dalam menyusun RAPBN tahun 2027.

Untuk itu, arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja sinergis dan semakin solid.

Transformasi ekonomi pada aktivitas didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat.

Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja semakin solid. Transformasi ekonomi pada aktivitas ekonomi yang bernilai tambah tinggi harus terus diperkuat.

Program-program unggulan harus berjalan efektif, program perlindungan sosial harus andal, pemberdayaan bagi UMKM harus terus digairahkan. Dukungan untuk petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja yang rentan juga harus diperkuat.

RAPBN tahun 2027 kita fokuskan untuk delapan Program Kerja Prioritas Nasional atau PKPN, yaitu: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, industrialisasi, infrastruktur, perumahan, ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.

Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi. Untuk menjalankan seluruh agenda tersebut, belanja negara tahun 2027 direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%. Inflasi akan kita jaga pada kisaran 2,5%. Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%.

Pidato Pengakuan Terhadap Como

[batuk sambil melirik Buna]

Mohon izin.

Rasio Gini kita targetkan membaik menjadi 0,362 sampai 0,367 dari target tahun ini 0,377 sampai 0,380, dan Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575. Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten.

Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan, perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan.

Saudara-saudara sekalian,
Angka-angka APBN kita sangat bergantung dengan angka-angka makroekonomi kita. Angka-angka makroekonomi kita sangat bergantung dari kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik kita.

Saya mendapat laporan sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita.

Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026 yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa-desa kita, perlu kita pastikan berhasil. Saya minta agar saudara sekalian, wakil rakyat, dan seluruh elemen masyarakat yang sedang mendengarken pidato saya saat ini tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya.

Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan. Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran.

Sebagaimana fokus di atas dan setelah semua yang saya sampaiken terkait kondisi negara, kita bisa jadikan capaian Como musim 2025-2026 adalah pijakan kita dalam menyusun rencana untuk Serie A di musim 2026-2027. Untuk itu, arsitektur tim-tim Serie A didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong prestasi di Eropa.

Kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan manajemen harus bekerja sinergis dan semakin solid. Kita contoh bagaimana dari sebatang Djarum Super yang dihisap seorang mandor di negara yang konon sering disebut bangsa yang besar itu bisa memberikan dampak bagi kemajuan sebuah klub di negara yang juga konon sebagai bangsa yang besar di sepakbola.

Bentornato Serie A: Giornata Pembuka, Awal dari Semua Cerita

Tiga bulan lamanya sejak musim 2025-2026 berakhir, Serie A kembali menyapa. Ia datang untuk memulai musim baru, musim yang diharapkan lebih menarik dan menegangkan dari sebelumnya.

Musim lalu Inter Milan hampir tanpa perlawanan. Mereka sudah memastikan scudetto beberapa pekan sebelum giornata pamungkas digelar. Tapi bukan berarti musim lalu Serie A kurang persaingan.

Demi mengisi spot Liga Champions, banyak klub saling sikut Pada akhirnya nama besar AC Milan dan Juventus takluk dari rasa lapar AS Roma serta modernisasi yang diusung Como.

Bagi AS Roma, sukses kembali ke Liga Champions adalah jawaban dari doa-doa di sepertiga malam yang dipanjatkan Gianluca Mancini.

Sementara untuk Como ini awal baru. Mereka adalah bukti meski pemiliknya orang Indonesia, tapi bisa berkibar dengan cara dan tata kelola yang sangat tidak Indonesia.

Serie A Menunggu Konsistensi Como

Hanya saja, biasanya klub-klub kejutan seperti Como punya musuh besar, yaitu konsistensi. Sudah banyak korban dari konsistensi itu yang menghancurkan para kuda hitam di musim selanjutnya.

Di Premier League ada Leicester City yang babak belur usai juara. LaLiga punya Girona yang nyaris degradasi usai sebelumnya menembus empat besar.

Serie A sebenarnya bisa jadi berbeda. Karena contoh yang paling dekat adalah Atalanta. Mereka kuda hitam yang konsisten, sejak tembus Liga Champions untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu, La Dea tak pernah absen dari kompetisi Eropa.

Apalagi Como menatap musim ini dengan sangat serius. Ikut Liga Champions membuat manajemen sedikit mengubah penilaian dalam meminang pemain.

Jika selama ini mereka mencari pemain-pemain muda belum matang atau yang sudah melewati masa emas, Como sekarang lebih selektif. Klub tak mau cuma numpang lewat di Eropa dan jatuh lebih cepat di Serie A.

Untuk itu, Trevoh Chalobah yang sudah mapan bersama Chelsea didatangkan. Pun Yan Couto yang terbiasa main di Liga Champions bareng Borussia Dortmund.

Upaya AC Milan dan Juventus Kembali Bersaing di Serie A

Yang jadi pertanyaan, apakah napas baru yang dihadirkan Como atau rasa lapar AS Roma bisa menenggelamkan AC Milan dan Juventus? Jawabannya belum tentu.

Sepak bola Italia selalu tentang sejarah, tentang apa yang diagungkan di masa lalu, tentang kelas yang tak pernah berubah. Ini pula yang membuat haram hukumnya mencoret Milan maupun Juve dari persaingan.

Lagi pula kedua klub sudah berbenah, terutama I Rossoneri yang kembali melakukan pergantian pelatih. Secara sadar dan berani mereka menunjuk Ruben Amorim, pelatih muda yang kadung dicap gagal dan keras kepala di Manchester United.

Masalahnya Amorim berasal dari Portugal. Dan AC Milan tidah hanya gagal bersama dua allenatore Portugal sebelumnya, Paulo Fonseca dan Sergio Conceicao. Kerja sama mereka selalu berakhir problematik.

Adapun Juventus rupanya masih percaya pada Luciano Spalletti. Manajemen sempat diisukan akan membawa pulang Antonio Conte.

Nyatanya Spalletti masih di balik kemudi. Selain pelatih, yang cukup menjadi pertanyaan adalah keseriusan manajemen dalam mengembalikan kejayaan klub, dilihat dari aktivitas transfer.

Randal Kolo Muani yang sempat dibuang ke Tottenham kembali didatangkan. Jhon Lucumi juga digaet serta dua bintang muda yang belum teruji betul kualitasnya, Kerim Alajbegovic dan Jeff Ekhator.

Yang terbilang oke adalah memboyong Guglielmo Vicario untuk menggantikan Michele Di Gregorio. Lalu membajak Zeki Celik dari AS Roma untuk menenangkan hati para penggemar.

Serie A  Masih Terapkan Arisan Pelatih

Serie A musim 2026-2027 kembali menghadirkan pelatih-pelatih baru. Tercatat ada sembilan klub ditangani nakhoda anyar,

Yang perlu dicatat, dalam konteks Serie A, biasanya pelatih-pelatih barunya “Dia lagi, dia lagi”. Sebab allenatore Italia hanya berputar di situ-situ saja.

Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya arisan pelatih. Setiap klub seperti sudah digilir. Seperti Atalanta yang kini mendapat giliran ditukangi Maurizio Sarri.

Napoli yang akhirnya merasakan ilmu hitam nan terlarang milik Massimiliano Allegri, Lazio kepincut Gennaro Gattuso, sampai masih ada klub yang percaya dengan Ivan Juric, itulah Monza.

Namun, tak semua mengikuti tren arisan pelatih. Ada juga yang memilih cara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Seperti Torino dan Sassuolo. Mereka mengikat Ignazio Abate maupun Alberto Aquilani yang masih muda.

Kemudian Bologna. Mereka membawa pulang Domenico Tedesco ke tanah kelahiran usai separuh hidup dihabiskan di tanah perantauan.

Apa pun itu, Liga Italia akan kick off nanti malam, menghadirkan empat pertandingan. Di awali Udinese vs Como dan Inter Milan vs Monza yang main barengan.

Semoga saja Serie A musim ini berjalan menarik, baik persaingan papan atas maupun papan bawah. Malam ini cerita baru akan dimulai, malam-malam menegangkan kembali menemani, dan kita siap menjadi saksi.

 

,

Inter Milan Ukir Sejarah di Bursa Transfer

Inter Milan tancap gas untuk memperkuat tim jelang musim 2026-2027 bergulir. Mereka cukup aktif di bursa transfer lewat pergerakan-pergerakan tepat sasaran.

Cepatnya langkah yang diambil tak lepas dari beberapa pemain yang pergi. Ya, Inter Milan ditinggal salah satu bintangnya, Denzel Dumfries, yang tak kuasa menahan godaan bernama Real Madrid.

Dumfries bukan satu-satunya bek yang angkat kaki. Dua veteran kenyang asam garam, sama-sama datang dari Lazio, Stefan de Vrij dan Francesco Acerbi juga keluar. Kontrak habis yang dibarengi usia mendekati kepala empat membuat kerja sama tak mungkin diperbaharui.

Palang pintu terakhir I Nerazzurri tak mau ketinggalan. Yann Sommer yang dianggap mulai melambat refleksnya  dilepas. Mereka pergi secara permanen, kecuali Davide Frattesi yang dipinjam ke Lazio dengan opsi tebus di akhir musim.

Hampir semua bangku kosong yang ditinggal sudah terisi. Inter meneruskan romantisme dengan Lazio di jendela transfer lewat suksesor Yann Sommer bernama Ivan Provedel. Sebuah langkah yang dianggap banyak pihak jitu mengingat Provedel membuktikan konsistensinya (di luar cedera yang beberapa kali diderita).

Inter Milan Boyong 3 Pemain Inggris

Yang menarik adalah pengganti Dumfries, Acerbi, dan Frattesi. Untuk tiga pengganti, radar sang juara bertahan tertuju pada satu negara. Baik Djed Spence, John Stones, maupun Curtis Jones sama-sama dari Inggris.

Demi menggaet Spence, klub hanya nge-spend dana tak kurang dari 30 juta euro. Angka yang murah untuk pemain Inggris, apalagi berlabel timnas dan tampil gemilang di Piala Dunia 2026. Mungkin jika yang membeli Spence masih klub Premier League, Tottenham Hotspur akan membanderolnya sekitar 60 juta euro.

Sang bek kanan juga tak perlu waktu lama untuk beradaptasi di Italia. Ia pernah merasakan ringkihnya Serie A ketika dipinjamkan ke Genoa dua tahun lalu dan mencicipi 16 laga.

Sempat kesulitan mencari pengganti Maicon, scouting Inter Milan kini jitu mencari calon bek kanan hebat. Denzel Dumfries memberi gaya baru dalam sesi bertahan dan menyerang tim sepeninggal Achraf Hakimi yang eksplosif. Dengan kualitas dan atribut permainan yang hampir sama, Djed Spence punya peluang untuk mengulang sukses itu.

Lalu ada John Stones, bek tangguh yang sudah menang segalanya bersama Manchester City. Termasuk trofi Liga Champions saat mengalahkan Inter di Istanbul.

Masalahnya, manajemen sepertinya hanya punya proyek jangka pendek untuk bek tengah. Bagaimana tidak, mereka mengganti Acerbi yang sudah uzur dengan Stones yang kepala tiga.

Usianya sudah 32 tahun, tempat utamanya di Manchester City juga mulai tergusur musim lalu. Walau begitu, banyak yang percaya Stones tetap bisa memberi dampak untuk klub.

Inter Milan Berjodoh dengan Jebolan Premier League

Di pramusim dirinya sudah menyumbang satu gol, apalagi beberapa transfer terakhir La Beneamata dari Premier League selalu berakhir manis. Seperti Romelu Lukaku, Ashley Young, Manuel Akanji, hingga Christian Eriksen.

Faktor itu mungkin membuat manajemen menutup mata soal menit bermain John Stones musim lalu. Sejarah sudah mencatat dan bek 32 tahun sudah teruji secara kualitas dan pengalaman.

Paling anyar muncul nama Curtis Jones. Isu gelandang Liverpool menguat pertama kali sejak dirinya dan Alessandro Bastoni saling follow di Instagram beberapa hari lalu. Tak lama setelah itu, Fabrizio Romano dengan mantranya mengucap “Here We Go”.

Sekarang Jones sudah resmi berbaju I Nerazzurri dengan mahar 30 juta euro. Sukses menggaet Jones cukup mengejutkan sebab latar belakang sang gelandang yang akamsi Liverpool.

Darah The Reds sudah mengalir deras dalam tubuhnya sejak lahir. Kendati tidak selalu jadi pilihan utama dan cenderung mendapat cemooh dari fan Liverpool di tanah air, tidak ada tanda-tanda kuat dia akan pergi.

Hingga akhirnya Inter Milan yang butuh pengganti Frattesi dan meminimalisir kerja Henrikh Mkhitaryan yang akan berusia 150 tahun perlu mengambil langkah bijak. Datangkan Curtis Jones sekarang. Atau tidak selamanya.

Apa pun itu, bagaimana pun kiprah Djed Spence, John Stones, dan Curtis Jones musim ini, tetap saja kehadiran mereka menjadi sejarah baru. Karena untuk pertama kalinya di era modern ada klub Serie A yang menggaet tiga pemain Inggris sekaligus dalam satu jendela transfer.

Sebelumnya paling banyak dua pemain Inggris yang datang dalam satu jendela transfer. Itu pun terjadi era 80-an silam ketika AC Milan meminang Mark Hateley dan Ray Wilkins 1984 silam.

 

 

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.