Mark van Bommel: Belgia Kalahkan Italia tanpa 11 Pemain Inti

Belgia sukses mengalahkan Italia 2-0 di laga pertama UEFA Nations League. Hasil di Olimpico membuat Mark van Bommel senang.

Sebagaimana Roberto Mancini, Mark van Bommel juga menjalani debut sebagai pelatih. Ia menggantikan Rudi Garcia yang mundur usai Piala Dunia 2026.

Berbeda dari Mancini yang melakukan banyak perubahan dalam komposisi pemain, van Bommel cenderung mempertahankan para pemain terbaik yang dimiliki.

Hanya saja ia tak bisa memainkan semuanya. Banyak penggawa Belgia yang cedera seperti Leandro Trossard, Thibaut Courtois, Jeremy Doku dan Onana.

Kendati demikian, debutnya tetap berjalan sempurna. Belgia menang 2-0 lewat gol Mika Godts dan Dodi Lukebakio di masing-masing babak.

Hasil ini jelas membanggakan. Walau secara keseluruhan ia merasa timnya belum sempurna.

“Saya 100 persen senang dan puas walau tentu saja selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik,” kata Mark van Bommel usai laga.

“Kami tidak memiliki 11 pemain inti tapi setiap pemain yang ada bisa membuat perbedaan. Beberapa tidak memiliki stamina yang bagus untuk main 90 menit,” ia menambahkan.

Mark van Bommel Bela Roberto Mancini

Bagi Belgia ini kemenangan bersejarah. Sebab untuk pertama kali sejak 1972 mereka mampu mengalahkan Italia.

Sementara itu, banyak yang membandingkan kualitas lini tengah kedua tim. Italia memainkan debutan Alessandro Romano yang ditopang para senior seperti Nicolo Barella dan Sandro Tonali.

Keputusan Mancini ini turut memancing komentar miring. Sebab dia masih punya pemain pengalaman lain di bangku cadangan seperti Davide Frattesi maupun Bryan Cristante.

Adapun Mark van Bommel tetap mengandalkan sosok senior dalam diri Kevin De Bruyne maupun Youri Tielemans. Ditanya soal koleganya di Italia, legenda asal Belanda enggan berkomentar lebih jauh.

Ia justru merasa kritik terhadap Mancini tidak adil. “Itu tidak adil bagi Roberto,” katanya lagi.

“Saya senang dengan gelandang kami. Terkait Italia, kalian harus menanyakan pertanyaan itu kepada Mancini,” tutup Mark van Bommel.

banner 400x130

Era Baru Timnas Italia: Tanpa Perubahan, Masih Suram, dan Catatan Memalukan

Era baru timnas Italia sudah dimulai. Sayang, pasukan Roberto Mancini justru kalah 0-2 di laga pertama UEFA Nations League melawan Belgia di Olimpico, Sabtu (26/9) dinihari WIB.

Debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia cuma membuktikan satu hal. Banyak muka-muka baru yang dipercaya sebagai starter.

Diego Coppola di jantung pertahanan, Alessandro Romano yang rela berganti kewarganegaraan, hingga Giorgio Scalvini yang akhirnya kembali dapat kepercayaan. Sementara dari sisi permainan sama, sulit menekan lawan, tak ada perubahan.

Tifosi pun sepertinya sudah enggan berharap lebih. Anggapan ini setidaknya terlihat dari animo di stadion. Olimpico tak penuh sesak sebagaimana timnas bermain biasanya.

Laga kompetitif pertama setelah gagal ke Piala Dunia tidak sepenuh pertandingan-pertandingan AS Roma. Walau tidak sekosong setiap Lazio yang berstatus tuan rumah.

Memeragakan formasi 4-3-3, Italia dibuat kalang kabut oleh Belgia. Bagaimana tidak, baru tujuh menit laga berjalan gawang Gianluigi Donnarumma sudah terancam oleh Charles De Ketelaere.

Tak lama kemudian De Ketelaere kembali jadi ancaman. Begitu pula dengan Nicolas Raskin yang mendapat bola muntahan. Beruntung Donnarumma masih sanggup menjaga meruah negara lewat double save.

Tapi ditekan terus-menerus, kiper Manchester City kelabakan juga. Umpan presisi Kevin De Bruyne sukses dimanfaatkan Mika Godts menjadi gol.

Tertinggal 0-1 tak membuat permainan tuan rumah membaik. Tim makin tertekan dan gagal mengembangkan permainan. Beruntung tidak ada gol tambahan di babak pertama.

Timnas Italia Membaik di Babak Kedua, tapi…

Memasuki babak kedua, timnas Italia menunjukkan perubahan. Para pemain tampil lebih berani. Riccardo Calafiori mulai keluar menyisir sisi kanan pertahanan Belgia.

Pun dengan Giovanni Di Lorenzo yang dengan skill pas-pasan, mau membantu serangan walau ngos-ngosan. Peluang emas pertama langsung didapat setelah satu menit babak kedua dimulai.

Crossing Nicolo Cambiaghi menemui Moise Kean di depan gawang. Apa daya, tendangan sang bomber yang 95 persen gol masih bisa digagalkan Sanne Lemmens.

Kepercayaan diri mulai ditunjukkan timnas Italia. Berbagai upaya dari segala sisi dicoba untuk menyamakan kedudukan.

Mulai dari sontekan Calafiori, Cambiaghi, sundulan Pio Esposito, hingga upaya Giorgio Scalvini di tengah kemelut. Namun, tak ada yang membuahkan hasil.

Di tengah kebangkitan permainan dan pola serangan yang mulai terbentuk, Roberto Mancini lupa menata pertahanan. Dodi Lukebakio yang baru masuk datang dengan serangan balik cepat.

Tak disangka, ia melepaskan tendangan melengkung ke sudut kanan gawang Donnarumma untuk menggandakan keunggulan setelah  melewati dua pemain.

Gol kedua Belgia ini sekaligus meruntuhkan semangat Azzurri. Serangan yang awalnya tertata rapi mulai berbentuk sporadis.

Pergantian pemain yang dilakukan Mancini juga tidak mengubah apa pun. Bahkan bisa dibilang pergantian ini hanya dijadikan  pelatih untuk memberi debut pada pemain-pemain yang baru dipanggil.

Seperti Issa Doumbia dan Mohamed Ali Zouma. Padahal masih ada sosok pengalaman di lini depan dalam diri Gianluca Scamacca maupun Giacomo Raspadori yang siapa tahu bisa mengubah situasi.

Pada akhirnya timnas Italia kalah 0-2 di Olimpico. Kekalahan yang sekaligus menyisakan catatan memalukan, sebab ini kali perdana mereka takluk dari Belgia di ajang resmi sejak 1972.

 

Tinggalkan Italia Demi Jerman U-21, Nicolo Tresoldi Akui Galau

Timnas Italia memanggil banyak pemain baru. Salah satunya Nicolo Tresoldi yang disiapkan untuk jeda internasional September-Oktober.

Ini merupakan pemanggilan pertama untuk Nicolo Tresoldi. Keputusan pelatih Roberto Mancini terbilang wajar jika melihat performa sang bomber.

Bintang Club Brugge telah mencetak lima gol dari sembilan penampilan. Termasuk ketika melawan Aston Villa di Liga Champions.

Akan tetapi, ia batal perkuat timnas Italia. Namanya dicoret tim pelatih karena dirinya lebih memilih bertahan di Jerman U-21.

Menolak tanah kelahiran bukan berarti akhir dari segalanya. Pemain 22 tahun mengaku kemungkinan berseragam Gli Azzurri terbuka lebar.

Hatinya memang masih terbelah antara Jerman dan Italia. Dan untuk sekarang ia memilih fokus bersama Jerman U-21 yang akan menghadapi Piala Eropa.

“Hati saya masih 50-50. Kedua negara ini sangat berarti bagi saya,” ucap Nicolo Tresoldi seperti dikutip dari Sky Germany.

“Saya pakai seragam Jerman dengan bangga. Saya senang di sini, saya masih ingin bermain di Euro dan setelah itu kita lihat bagaimana kelanjutannya,” ia menambahkan.

Nicolo Tresoldi: Kelahiran Italia, Besar di Jerman

Sebagai informasi, Nicolo Tresoldi lahir di Cagliari. Namun, ia pindah ke Jerman sejak kecil dan memulai karier sepak bolanya di sana.

Dia juga sudah menjalani karier di berbagai kelompok umur timnas Jerman. Maka dari itu ia lebih terikat dengan Der Panzer, setidaknya saat ini.

Tresoldi sejatinya bukan satu-satunya pemain dengan dua paspor yang dipanggil timnas Italia. Ada empat nama lainnya.

Mereka adalah Honest Ahanor, Eddy Kouadio, Issa Doumbia, dan Mohamed Ali Zoma. Bedanya keempat nama ini memenuhi panggilan Mancini.

Timnas Italia bersiap memulai era baru bersama Mancini. Tiga pertandingan melawan Krosia, Turki, dan Prancis akan menjadi ujian pertama.

Sempat Dihubungi Nigeria, Michael Kayode Justru Tak Perlu Berpikir Terima Italia

Michael Kayode akhirnya didaulat sebagai penggawa timnas Italia. Dia mendapat panggilan pertama di era kedua kepelatihan Roberto Mancini.

Nama Michael Kayode satu tahun terakhir difavoritkan masuk skuat Italia. Terutama dalam perjuangan Gli Azzurri masuk Piala Dunia 2026.

Sayang, baik Luciano Spalletti maupun Gennaro Gattuso tak meliriknya. Padahal performa sang bek bersama Brentford menuai decak kagum.

Apalagi ia sudah melakoni berbagai pertandingan di hampir semua kelompok umur Italia. Ini pula yang membuat beberapa pihak kecewa dengan keputusan pelatih yang tak meliriknya.

Sekarang bersama Roberto Mancini, Kayode akhirnya datang ke Coverciano untuk pertama kali. Pemanggilan ini pun membuatnya merasa sangat terhormat.

Dan yang paling menarik dari pemanggilan ini adalah waktunya. Ia baru mendengar kabar gembira tersebut tepat setelah membawa Brentford menang 3-0 atas Chelsea di Premier League.

“Saya tidak tahu tentang panggilan timnas sebelum melawan Chelsea. Saya mengetahuinya saat peluit akhir berbunyi. Itu adalah emosi luar biasa, terutama setelah kemenangan besar itu,” ungkap Michael Kayode.

“Saya rasa Italia selalu menjadi timnas yang hebat dan bermain di sini adalah suatu kehormatan,” ia menambahkan.

Pada waktu bersamaan, muncul tawaran lain. Michael Kayode dihubungi timna Nigeria dalam beberapa hari terakhir.

Kendati begitu negara leluhur tak pernah masuk dalam pertimbangan. Sebab dari kecil yang dia pikirkan hanya berbaju Azzurri.

“Ini keputusan yang sangat mudah. saya sudah bermain di semua tim junior di sini. Nigeria menghubungi saya, tapi itu tidak pernah saya pikirkan,” tegasnya.

Michael Kayode Temukan Jati Diri di Inggris

Michael Kayode merupakan jebolan akademi Juventus. Namun, di usia 16 tahun ia dilepas ke klub Serie D, Gozzano.

Dari salah satu klub besar Italia ke klub yang berkubang di Serie D, Kayode tak berkecil hati. Ia justru mampu bangkit dalam waktu singkat.

Sampai akhirnya tawaran menggiurkan dari Fiorentina datang. Di sana pula penampilannya mencuat dan sekarang mentas di Premier League.

Awalnya pemain 22 tahun bergabung dengan Brentford dengan status pinjaman. Pada 2025 klub mempermanenkan statusnya dengan mahar 17 juta euro.

Keputusan bertahan terbukti benar. Ia tampil konsisten, dan yang paling penting performanya terus berkembang di Inggris.

“Saya melihat peluang besar di sini. Saya pikir hampir semua orang punya ambisi main di Premier League, jadi saya manfaatkan kesempatan sebaik mungkin,” ia menjelaskan.

“Saya sangat bangga. Saya habikan banyak waktu di Fiorentina dan pengalaman di sana sangat fantastis. Saya berutang banyak pada mereka,” kata Michael Kayode lagi.

“Memiliki kesempatan berada di timnas sangat berarti. Kami berasal dari liga yang berbeda dan saya pikir keberamaan di sini baik untuk tim,” tutup talenta berdarah Nigeria.

Roberto Mancini Umumkan Skuat Baru Italia: Maldini Kembali ke Timnas

Roberto Mancini akhirnya umumkan skuat Italia untuk melakoni Nations League. Ada banyak muka baru yang dipanggil sang pelatih.

Ada tiga pertandingan yang akan dihadapi Italia dalam dua pekan ke depan. Yaitu melawan Turki, Belgia, dan Prancis.

Untuk melakoni ketiga laga pertamanya usai ditunjuk kembali sebagai nakhoda Gli Azzurri, Roberto Mancini memanggil 34 pemain. Beberapa di antaranya debutan.

Seperti Michael Kayode, Alessandro Romano, Issa Doumbia, dan Mohamed Ali Zoma. Jika ditotal ada sembilan nama baru yang akan diorbitkan.

Mereka-mereka ini memang menjalani musim baru dengan meyakinkan. Sebut saja Daniele Ghilardi, Eddy Kouadio, Issa Doumbia, Sebastiano Esposito, Massimo Pessina, Honest Ahanor, Samuele Inacio, serta Aantonio Vergara.

Beberapa nama di atas memang tidak asing di telinga. Seperti Kayode yang bermain di Brentford, Antonio Vergara andalan Napoli, atau bomber baru Sassuolo, Sebastiano Esposito.

Akan tetapi banyak pula yang baru terdengar namanya. Salah satunya Mohamed Ali Zoma yang notabene tidak berkarier di Serie A.

Ali Zoma kini bermain di Jerman. Uniknya, sang bomber adalah pemain Nuernberg yang kini berkiprah di kasta kedua Bundesliga.

Roberto Mancini Panggil Lagi Daniele Maldini dan yang Lain

Kejutan Roberto Mancini bukan hanya pemanggilan sembilan debutan. Ia juga kembali mempercayakan pemain-pemain yang sempat menghilang dari timnas Italia.

Sebut saja Daniele Maldini. Ia dipanggil lagi setelah dua tahun dan pemanggilan ini dirasa perlu sebagai bentuk peremajaan dan revolusi Gli Azzurri yang sudah tiga kali beruntun absen dari Piala Dunia.

Apalagi Maldini tampil mengesankan bersama Cagliari awal musim ini. Dia sudah mencetak dua gol dari empat penampilan.

Kembalinya anak Paolo Maldini juga bisa memperkaya opsi serangan yang diinginkan Roberto Mancini. Dia bisa bermain di beberapa posisi, seperti gelandang serang, sayap kiri, bahkan striker.

Selain Maldini, Nicolo Fagioli dan Nicolo Zaniolo juga kembali berseragam Italia setelah dua tahun. Nama lain yang tak kalah menarik adalah kemunculan Rolando Mandragora.

Kepindahannya ke Torino membawa berkarah. Sebab mantan kapten Fiorentina akhirnya masuk timnas lagi setelah terakhir kali 2021 silam.

Ke-34 pemain akan berkumpul di Coverciano pada Senin nanti. Adapun debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih Italia terjadi 25 September di Olimpico melawan Belgia.

Berikut daftar lengkap skuat Italia:

Kiper:
Marco Carnesecchi (Atalanta), Gianluigi Donnarumma (Manchester City), Massimo Pessina (Bologna), Guglielmo Vicario (Juventus);

Bek:
Honest Ahanor (Crystal Palace), Alessandro Bastoni (Inter), Riccardo Calafiori (Arsenal), Diego Coppola (Paris FC), Giovanni Di Lorenzo (Napoli), Federico Dimarco (Inter), Daniele Ghilardi (Roma), Michael Kayode (Brentford), Eddy Kouadio (Monza), Gianluca Mancini (Roma), Giorgio Scalvini (Atalanta);

Tengah:
Nicolò Barella (Inter), Bryan Cristante (Roma), Issa Doumbia (Sporting CP), Nicolò Fagioli (Fiorentina), Davide Frattesi (Lazio), Rolando Mandragora (Torino), Alessandro Romano (Cagliari), Sandro Tonali (Tottenham);

Penyerang:
Nicolò Cambiaghi (Bologna), Francesco Pio Esposito (Inter), Sebastiano Esposito (Sassuolo), Samuele Inacio (Borussia Dortmund), Moise Kean (Como), Daniel Maldini (Cagliari), Giacomo Raspadori (Atalanta), Gianluca Scamacca (Atalanta), Antonio Vergara (Napoli), Nicolò Zaniolo (Udinese), Mohamed Alì Zoma (Nurnberg).

Pidato Kenegaraan Bapak Bangsa Ngalcio

Saudara-saudara tifosi sebangsa dan setanah air,
Kita memasuki tahun 2026 dalam keadaan dunia yang tidak menentu, yang tidak mudah. Harga bintang-bintang sepakbola di seluruh dunia meningkat pasca Piala Dunia.

Suku bunga global tinggi bisa naik. Nilai tukar berbagai negara tertekan dan ketegangan geopolitik mengganggu bursa transfer apalagi setelah sang jenderal Kylian Mbappe bersitegang dengan Senator Paraguay Celeste Amarilla. Namun, di tengah tekanan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur karena Italia tidak terlibat.

Di tengah kondisi ekonomi tim-tim Serie A yang tidak baik-baik saja dalam 13 tahun terakhir, inflasi masih tetap terkendali. Dukungan tifosi tetap kuat.

Yang lebih penting, Federasi kita bekerja optimal. Hingga akhir Juli 2026, gelar Piala Dunia kita masih terbanyak dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Ini suatu kebanggaan.

Belanja kita arahkan untuk menjaga persaingan di turnamen, memperkuat kedalaman skuad, dan menggerakkan ekonomi. Walau belanja klub tumbuh, aturan FFP tetap terjaga. Ini adalah bukti bahwa keberpihakan kepada tifosi dapat berjalan bersama dengan disiplin fiskal.

Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian, kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara belanja pemain dan menjaga anggaran, kita melakukan kedua-duanya. Membeli Goncalo Ramos dengan harga 70 juta Euro adalah buktinya.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliaken, dunia melihat dan memantau sikap kita. Pada tanggal 11 Juli 2026, salah satu legenda kita yang kesohor, Paolo Maldini, kami tunjuk sebagai direktur Teknik untuk memimpin proyek kebangkitan timnas kita.

Ini menjadi sorotan dunia terhadap suatu tindakan federasi untuk memperbaiki struktur manajemen timnas. Dunia bahkan menilai Italia memiliki prospek menjelang Piala Dunia berikutnya, padahal turnamen tahun ini saja belum selesai (ketika teks pidato ini diketik) itu penilaian mereka terhadap kita.

Mereka juga menilai bahwa upaya federasi memusatkan pengelolaan sumber daya pemain muda kita dan menutup kebocoran di sektor sumber daya dan mineral dapat meningkatkan penerimaan negara serta devisa ekspor.

Mereka secara khusus menilai positif peran Danantara dan potensi PT Danantara Sumberdaya Italia (DSI) dalam memberantas praktik-praktik under-invoicing dan transfer pricing yang sesungguhnya adalah praktik penipuan. Itu dari pandangan pengamat-pengamat, pakar-pakar dari Barat.

Pidato Program Unggulan

Sidang yang terhormat,
Kita menerima penilaian-penilaian ini sebagai pengingat bahwa kredibilitas dibangun oleh konsistensi, kerja keras, dan kesungguhan. Dunia tidak hanya menilai apa yang kita umumkan, dunia menilai apa yang benar-benar kita laksanakan.

Pimpinan dan Anggota Dewan yang saya hormati dan saya muliakan,
Capaian semester pertama tahun 2026 adalah pijakan kita dalam menyusun RAPBN tahun 2027.

Untuk itu, arsitektur RAPBN tahun 2027 didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat. Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja sinergis dan semakin solid.

Transformasi ekonomi pada aktivitas didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan sejahtera lebih cepat.

Sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara harus bekerja semakin solid. Transformasi ekonomi pada aktivitas ekonomi yang bernilai tambah tinggi harus terus diperkuat.

Program-program unggulan harus berjalan efektif, program perlindungan sosial harus andal, pemberdayaan bagi UMKM harus terus digairahkan. Dukungan untuk petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja yang rentan juga harus diperkuat.

RAPBN tahun 2027 kita fokuskan untuk delapan Program Kerja Prioritas Nasional atau PKPN, yaitu: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi, industrialisasi, infrastruktur, perumahan, ketahanan terhadap bencana, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa, serta penurunan kemiskinan.

Delapan prioritas tersebut didukung oleh penguatan pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, dan diplomasi ekonomi. Untuk menjalankan seluruh agenda tersebut, belanja negara tahun 2027 direncanakan sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2027 ditargetkan mencapai 6%, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4%. Inflasi akan kita jaga pada kisaran 2,5%. Suku bunga SBN 10 tahun diperkirakan 6,9%.

Pidato Pengakuan Terhadap Como

[batuk sambil melirik Buna]

Mohon izin.

Rasio Gini kita targetkan membaik menjadi 0,362 sampai 0,367 dari target tahun ini 0,377 sampai 0,380, dan Indeks Modal Manusia meningkat menjadi 0,575. Angka-angka tersebut akan kita jaga dengan reformasi fiskal yang holistik dan konsisten.

Pendapatan negara kita dorong lebih optimal, kebocoran penerimaan harus diminimalisasi, efisiensi belanja harus terus kita lanjutkan, perlindungan sosial didorong semakin tepat sasaran, serta pembiayaan yang inovatif dan berkelanjutan terus dikembangkan.

Saudara-saudara sekalian,
Angka-angka APBN kita sangat bergantung dengan angka-angka makroekonomi kita. Angka-angka makroekonomi kita sangat bergantung dari kualitas data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik kita.

Saya mendapat laporan sudah lebih dari 10 tahun kita belum melakukan rebasing atau pembaharuan cara kita menghitung berapa sebenarnya aktivitas ekonomi yang terjadi di negara kita.

Oleh karena itu, sensus ekonomi yang sekarang dijalankan sampai akhir bulan Agustus 2026 yang dilakukan oleh 251.000 petugas sensus, bekerja di seluruh desa-desa kita, perlu kita pastikan berhasil. Saya minta agar saudara sekalian, wakil rakyat, dan seluruh elemen masyarakat yang sedang mendengarken pidato saya saat ini tidak hanya mengisi formulir sensus dengan sejujur-jujurnya, tapi juga mengajak semua orang untuk ikut mengisi dengan sejujur-jujurnya.

Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan. Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran.

Sebagaimana fokus di atas dan setelah semua yang saya sampaiken terkait kondisi negara, kita bisa jadikan capaian Como musim 2025-2026 adalah pijakan kita dalam menyusun rencana untuk Serie A di musim 2026-2027. Untuk itu, arsitektur tim-tim Serie A didesain tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendorong prestasi di Eropa.

Kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan manajemen harus bekerja sinergis dan semakin solid. Kita contoh bagaimana dari sebatang Djarum Super yang dihisap seorang mandor di negara yang konon sering disebut bangsa yang besar itu bisa memberikan dampak bagi kemajuan sebuah klub di negara yang juga konon sebagai bangsa yang besar di sepakbola.

Manuver Tunggal Giovanni Malago dan Polemik Berkelanjutan Italia

Polemik belum menjauh dari timnas Italia. Seperti sebelumnya, aktor utama tetap sama, yaitu presiden FIGC, Giovanni Malago.

Giovanni Malago yang baru ditunjuk sebagai presiden FIGC sebelumnya membuat keputusan kontroversial. Dia memveto penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih Italia.

Sang presiden tidak terima Pirlo sebagai representatif perusahaan judi asal Rusia. Alasan ini membuat FIGC yang masih berbulan madu bareng Paolo Maldini dan Leonardo Araujo harus pisah jalan. Maldini selaku Direktur Teknis dan berwenang penuh dalam penunjukan pelatih baru merasa tak dihargai.

Alhasil, dia langsung ankat kaki dari federasi usai hanya 17 hari bertugas. Keputusan ini diikuti oleh koleganya, Leonardo. Huru-hara ini rupanya tidak membuat Malago kapok.

Lagi-lagi, tanpa peduli pendapat orang-orang berkepentingan di federasi, tak memikirkan baik-buruk dan citra Italia di mata dunia ia mengangkat Diana Bianchedi sebagai Ketua Delegasi timnas Italia. Bianchedi menggantikan posisi Gianluigi Buffon yang mengundurkan diri beberapa waktu lalu.

Awalnya, keputusan ini seakan menuju perubahan besar. Sebab Bianchedi bukan dari kalangan sepak bola. Ia adalah mantan atlet Anggar, peraih dua medali emas Olimpiade dan kini berstatus Wakil Ketua CONI (Komite Olimpiade Italia).

Banyak yang berharap Gli Azzurri bisa bangkit dari keterpurukan. Apalagi selama di CONI Bianchedi membuat beberapa gebrakan, salah satunya dengan terpilihnya Milan sebagai tuan rumah Olimpiade musim dingin baru-baru ini.

Dengan kata lain, wanita yang juga sarjana kedokteran ini memiliki konsep dan target. Tak lama kemudian, publik dikejutkan oleh fakta mencengangkan di balik terpilihnya Diana Bianchedi.

Corriere della Sera melaporkan bahwa Malago tidak melibatkan Roberto Mancini selaku pelatih baru Gli Azzurri dan Claudio Ranieri sebagai Direktur Teknik yang baru. Selain itu, dirinya juga tidak berkonsultasi lebih dulu dengan CONI.

Kegilaan suksesor Gabriele Gravina tak sampai di situ. Diana Bianchedi sendiri bahkan tidak tahu menahu soal penunjukan tersebut.

pengumuman Bianchedi dilakukan Malago pada Minggu (9/8) siang. Calon suksesor Buffon baru dihubungi pada pagi hari yang sama. Sore nya, CONI yang juga baru mengetahui peresmian ini langsung bereaksi keras.

Presiden CONI, Luciano Buonfiglio tidak merestui keputusan sepihak Giovanni Malago. Alasannya jelas, Bianchedi masih menjabat sebagai wakilnya dan menurut peraturan pejabat CONI dilarang rangkap jabatan.

Sampai hari ini belum ada kejelasan soal ini. Yang jelas Bianchedi belum menandatangani kontrak apa pun dengan FIGC dan Malago sedang berlibur.

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.