Mikel Oyarzabal Mainkan Sepak Bola yang Seksi

Mikel Oyarzabal jadi bintang. Ia mencetak gol kemenangan saat Spanyol kalahkan Inggris 3-2 di stadion Wembley, Minggu (27/9) dinihari WIB.

Pada laga pertama UEFA Nation League Grup C ini, Mikel Oyarzabal sejatinya bukan starter. Ia baru dimainkan pada menit ke-55 menggantikan Nico Williams.

Masuknya bomber Real Sociedad langsung mengubah jalannya laga. Spanyol yang sedang tertinggal 1-2 berhasil bangkit.

Lima menit setelah Oyarzabal di lapangan, La Furia Roja menyamakan kedudukan. Puncaknya terjadi menit ke-74 setelah sang bomber mencetak gol kemenangan.

Pengaruh besar yang ia tunjukkan membuatnya banjir pujian. Salah satunya dari legenda Manchester United, Roy Keane.

Keane menilai kehadiran sang bomber bukan sekadar soal gol kemenangan. Melainkan kesuksesannya dalam mengontrol pertandingan.

“Mikel Oyarzabal tak pernah kehilangan kendali. Dia selalu mengendalikan situasi,” kata Roy Keane kepada BBC.

“Jujur saja, jika orang-orang membicarakan sepak bola yang seksi, itulah sepak bola seksi. Saya bisa menontonnya sepanjang malam,” sambungnya.

Mikel Oyarabal Dekati Rekor David Silva

Lebih lanjut Roy Keane juga mengomentari jalannya laga Inggris vs Spanyol secara keseluruhan. Menurutnya yang membedakan kedua tim ada pada status tim tamu sebagai juara dunia dan Eropa.

“Saya rasa ada kesenjangan antara Spanyol dan Inggris. Mereka adalah juara dunia dan Eropa,” legenda Republik Irlandia menjelaskan.

Sementara itu terkait Mikel Oyarzabal, satu golnya ke gawang Inggris membuat dia kini sudah mencatatkan 31 gol sepanjang karier di timnas. Catatan ini dibukukan dari 62 pertandingan.

Dengan torehan itu, pria asli Basque hanya berjarak empat gol dari David Silva sebagai top skorer kelima timnas Spanyol.

Bukan tidak mungkin Mikel Oyarzabal bisa menyamai atau bahkan melampaui torehan Silva dalam waktu dekat.

banner 400x130

Kekacauan Inggris Saat Kalah dari Spanyol Dibela Thomas Tuchel

Timnas Inggris mengawali UEFA Nations League dengan kecewa. Anak asuh Thomas Tuchel harus menyerah 2-3 dari Spanyol di Wembley, Minggu (27/9) dinihari WIB.

Tanda-tanda kekalahan Inggris sudah terlihat sejak laga dimulai. Baru dua menit berjalan, Marc Guehi bikin kesalahan untuk mempermudah Lamine Yamal mencetak gol.

Tertinggal 0-1 sebenarnya membuat tuan rumah bermain lebih baik. Mereka lebih disiplin, terutama ketika memegang bola.

Akan tetapi Harry Kane dkk kesulitan menembus pertahanan Spanyol. Beberapa menganggap hal ini terjadi karena pendekatan permainan yang salah.

Mereka seperti meniru permainan lawan dengan umpan-umpan pendek. Cara ini, bagi banyak pengamat, salah karena tidak sesuai dengan karakteristik para pemain.

Ini pula yang memunculkan anggapan permainan The Three Lions kacau. Apalagi situasi langsung berubah ketika Tuchel mengembalikan DNA tim yang mengandalkan kekuatan dan kecepatan.

Alhasil Anthony Gordon menyamakan kedudukan setengah jam kemudian. Dan tak butuh waktu lama, tepatnya pada menit ke-40 Harry Kane membalikkan keadaan.

Pada babak kedua tuan rumah kian di atas angin. Mereka mendapat hadiah penalti menit ke-53.

Apa boleh buat, Kane yang maju sebagai algojo gagal memaksimalkan peluang emas. Ia terpeleset hingga membuat tendangannya melenceng.

Kegagalan ini menjadi titik balik. Permainan Inggri kembali kacau dan akhirnya dihukum lagi oleh Spanyol tujuh menit kemudian.

Kali ini Alex Baena yang membobol jala James Trafford. Puncaknya terjadi 15 menit sebelum laga berakhir ketika Mikel Oyarzabal memastikan angka menjadi 3-2 untuk La Furia Roja.

Inggris Disebut sudah Main Bagus

Usai pertandingan, Thomas Tuchel menolak anggapan kekacauan dalam permainan Inggris. Menurutnya tim justru tampil bagus.

Ia mengklaim peluang anak asuhnya lebih banyak. Tak hanya itu, sisi pertahanan juga disebut sangat baik, kecuali pada gol ketiga yang harusnya bisa dihindari.

“Pertahanan dan blok yang kami buat sangat rapat, itu bagus sekali, kecuali gol ketiga di mana kami kebobolan dari tengah. Itu harusnya tidak terjadi,” ucap Tuchel kepada BBC.

“Secara ofensif kami bermain dengan struktur yang jelas. Kami mencoba melakukan pergantian sisi, menempatkan bek sayap ke depan untuk membuat perbedaan dan itu berhasil,” ia menambahkan.

Tuchel juga mengakui yang membedakan Inggris dan Spanyol di Wembley dinihari tadi hanya satu. Yaitu penyelesaian akhir.

“Kami tidak melihat perbedaan kecuali dalam hal eksekusi teknis. Dalam 20 meter terakhir mereka lebih unggul,” tutup pelatih asal Jerman.

Mark van Bommel: Belgia Kalahkan Italia tanpa 11 Pemain Inti

Belgia sukses mengalahkan Italia 2-0 di laga pertama UEFA Nations League. Hasil di Olimpico membuat Mark van Bommel senang.

Sebagaimana Roberto Mancini, Mark van Bommel juga menjalani debut sebagai pelatih. Ia menggantikan Rudi Garcia yang mundur usai Piala Dunia 2026.

Berbeda dari Mancini yang melakukan banyak perubahan dalam komposisi pemain, van Bommel cenderung mempertahankan para pemain terbaik yang dimiliki.

Hanya saja ia tak bisa memainkan semuanya. Banyak penggawa Belgia yang cedera seperti Leandro Trossard, Thibaut Courtois, Jeremy Doku dan Onana.

Kendati demikian, debutnya tetap berjalan sempurna. Belgia menang 2-0 lewat gol Mika Godts dan Dodi Lukebakio di masing-masing babak.

Hasil ini jelas membanggakan. Walau secara keseluruhan ia merasa timnya belum sempurna.

“Saya 100 persen senang dan puas walau tentu saja selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik,” kata Mark van Bommel usai laga.

“Kami tidak memiliki 11 pemain inti tapi setiap pemain yang ada bisa membuat perbedaan. Beberapa tidak memiliki stamina yang bagus untuk main 90 menit,” ia menambahkan.

Mark van Bommel Bela Roberto Mancini

Bagi Belgia ini kemenangan bersejarah. Sebab untuk pertama kali sejak 1972 mereka mampu mengalahkan Italia.

Sementara itu, banyak yang membandingkan kualitas lini tengah kedua tim. Italia memainkan debutan Alessandro Romano yang ditopang para senior seperti Nicolo Barella dan Sandro Tonali.

Keputusan Mancini ini turut memancing komentar miring. Sebab dia masih punya pemain pengalaman lain di bangku cadangan seperti Davide Frattesi maupun Bryan Cristante.

Adapun Mark van Bommel tetap mengandalkan sosok senior dalam diri Kevin De Bruyne maupun Youri Tielemans. Ditanya soal koleganya di Italia, legenda asal Belanda enggan berkomentar lebih jauh.

Ia justru merasa kritik terhadap Mancini tidak adil. “Itu tidak adil bagi Roberto,” katanya lagi.

“Saya senang dengan gelandang kami. Terkait Italia, kalian harus menanyakan pertanyaan itu kepada Mancini,” tutup Mark van Bommel.

Era Baru Timnas Italia: Tanpa Perubahan, Masih Suram, dan Catatan Memalukan

Era baru timnas Italia sudah dimulai. Sayang, pasukan Roberto Mancini justru kalah 0-2 di laga pertama UEFA Nations League melawan Belgia di Olimpico, Sabtu (26/9) dinihari WIB.

Debut kedua Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia cuma membuktikan satu hal. Banyak muka-muka baru yang dipercaya sebagai starter.

Diego Coppola di jantung pertahanan, Alessandro Romano yang rela berganti kewarganegaraan, hingga Giorgio Scalvini yang akhirnya kembali dapat kepercayaan. Sementara dari sisi permainan sama, sulit menekan lawan, tak ada perubahan.

Tifosi pun sepertinya sudah enggan berharap lebih. Anggapan ini setidaknya terlihat dari animo di stadion. Olimpico tak penuh sesak sebagaimana timnas bermain biasanya.

Laga kompetitif pertama setelah gagal ke Piala Dunia tidak sepenuh pertandingan-pertandingan AS Roma. Walau tidak sekosong setiap Lazio yang berstatus tuan rumah.

Memeragakan formasi 4-3-3, Italia dibuat kalang kabut oleh Belgia. Bagaimana tidak, baru tujuh menit laga berjalan gawang Gianluigi Donnarumma sudah terancam oleh Charles De Ketelaere.

Tak lama kemudian De Ketelaere kembali jadi ancaman. Begitu pula dengan Nicolas Raskin yang mendapat bola muntahan. Beruntung Donnarumma masih sanggup menjaga meruah negara lewat double save.

Tapi ditekan terus-menerus, kiper Manchester City kelabakan juga. Umpan presisi Kevin De Bruyne sukses dimanfaatkan Mika Godts menjadi gol.

Tertinggal 0-1 tak membuat permainan tuan rumah membaik. Tim makin tertekan dan gagal mengembangkan permainan. Beruntung tidak ada gol tambahan di babak pertama.

Timnas Italia Membaik di Babak Kedua, tapi…

Memasuki babak kedua, timnas Italia menunjukkan perubahan. Para pemain tampil lebih berani. Riccardo Calafiori mulai keluar menyisir sisi kanan pertahanan Belgia.

Pun dengan Giovanni Di Lorenzo yang dengan skill pas-pasan, mau membantu serangan walau ngos-ngosan. Peluang emas pertama langsung didapat setelah satu menit babak kedua dimulai.

Crossing Nicolo Cambiaghi menemui Moise Kean di depan gawang. Apa daya, tendangan sang bomber yang 95 persen gol masih bisa digagalkan Sanne Lemmens.

Kepercayaan diri mulai ditunjukkan timnas Italia. Berbagai upaya dari segala sisi dicoba untuk menyamakan kedudukan.

Mulai dari sontekan Calafiori, Cambiaghi, sundulan Pio Esposito, hingga upaya Giorgio Scalvini di tengah kemelut. Namun, tak ada yang membuahkan hasil.

Di tengah kebangkitan permainan dan pola serangan yang mulai terbentuk, Roberto Mancini lupa menata pertahanan. Dodi Lukebakio yang baru masuk datang dengan serangan balik cepat.

Tak disangka, ia melepaskan tendangan melengkung ke sudut kanan gawang Donnarumma untuk menggandakan keunggulan setelah  melewati dua pemain.

Gol kedua Belgia ini sekaligus meruntuhkan semangat Azzurri. Serangan yang awalnya tertata rapi mulai berbentuk sporadis.

Pergantian pemain yang dilakukan Mancini juga tidak mengubah apa pun. Bahkan bisa dibilang pergantian ini hanya dijadikan  pelatih untuk memberi debut pada pemain-pemain yang baru dipanggil.

Seperti Issa Doumbia dan Mohamed Ali Zouma. Padahal masih ada sosok pengalaman di lini depan dalam diri Gianluca Scamacca maupun Giacomo Raspadori yang siapa tahu bisa mengubah situasi.

Pada akhirnya timnas Italia kalah 0-2 di Olimpico. Kekalahan yang sekaligus menyisakan catatan memalukan, sebab ini kali perdana mereka takluk dari Belgia di ajang resmi sejak 1972.

 

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.